
Suatu hari,
Ketika Lisa kecil kembali hendak mengantarkan pakaian bersih kepada si pemiliknya, seperti biasa ia akan berjalan melewati jalan setapak yang langsung terhubung dengan kawasan hunian elit itu.
Di tengah jalan, tepatnya di dekat kebun bambu milik seorang tuan tanah, Lisa kecil melihat seorang gadis seumurannya, tengah duduk berjongkok sambil memeluk kedua lututnya.
Wajahnya tersembunyi di antara lutut dan dada, namun bisa terlihat jelas bahwa dia sedang menangis.
Tubuhnya berguncang, dan terdengar isakan kecil dari tubuh gadis tersebut.
Sekilas, Lisa bisa melihat jika dia bukan berasal dari lingkungan tempat tinggalnya. Pakaiannya terlihat bagus dan bersih. Sangat berbeda dengan anak-anak lain di perkampungan tersebut, yang selalu memakai pakaian yang terlihat kumal dan lusuh.
Kulitnya pun puti bersihh, tidak seperti dirinya yang dekil, bagai Mannequin yang dilapisi debu.
Lisa kecil mendekatinya, lalu kemudian ia berjongkok di hadapannya. Barang bawaannya ia letakkan di samping.
"Hei...," sapa Lisa sambil mengguncang tubuh gadis itu.
Sang gadis kecil pun mengangkat wajahnya. Air mata jelas terlihat memenuhi pipi bulatnya.
"Hiks... Hiks...," suara sesenggukan menandakan jika ia telah lama menangis seorang diri di tempat itu.
"Kamu sedang apa di sini sendirian? Kamu pasti bukan berasal dari sini bukan?" tanya Lisa kecil kepada anak tertersebut.
"Hiks... Hiks... Aku... aku tersesat. Hiks... Hiks...," jawab gadis kecil itu sambil terisak.
Lisa lalu mengulurkan tangannya dan mengusap-usap lembut puncak kepala gadis kecil itu.
"Dimana rumah kamu?" tanya Lisa kecil kepadanya.
Si gadis kecil menggeleng pelan. Ia pun bingung di mana rumahnya sendiri, karena dia baru beberapa hari yang lalu pindah ke wilayah tersebut.
"Tadi kamu datang dari arah mana? Kenapa tiba-tiba bisa sampai sini?" tanya LiLisa kecil lagi.
"Aku lupa. Hiks... tadi, aku cuma sedang bermain dan mengejar seekor anak kucing, Hiks... lalu... lalu tiba-tiba, anak kucingnya menghilang entah kemana, Hiks … Hiks … Hiks...," ungkap gadis kecil itu kembali menangis.
Lisa kecil menepuk-nepuk pundak anak itu, mencoba menenangkannya.
"Kamu tadi dari arah sana, atau arah sana?" tanya Lisa kecil sambil menunjuk ke kedua arah yang berlawanan.
Gadis kecil yang tersesat itu pun lalu menghentikan tangisnya, dan mulai berpikir sejenak. Ia melihat ke kanan dan kirinya, mencoba mengingat-ingat dari mana ia datang.
"Sepertinya, aku datang dari arah sana," ucapnya sambil menunjuk ke sebuah arah, namun masih merasa ragu.
"Apa amu yakin?" tanya Lisa kecil.
Gadis itu mencoba memastikan ucapan anak kecil di depannya.
"Ehm …," Gadis kecil itu pun mengangguk sambil menatap Lisa dengan tatapan tegas.
Lisa kecil bangkit berdiri, dan mengulurkan tangannya ke arah si gadis kecil.
Gadis itu mendongak.
"Ayo, aku akan antar kamu pulang," ajak Lisa
Gadis kecil itu seketika tersenyum lebar, dan segera meraih uluran tangan Lisa kecil.
"Kamu tau rumahku?" tanya gadis kecil itu.
"Nanti kita akan cari bersama-sama. Tapi, aku harus mengantarkan ini terlebih dulu ke suatu tempat," jawab Lisa, sambil menunjukkan kantung berisikan cucian bersih di tangannya.
"Ehm …," gadis kecil itu pun mengangguk dan berjalan riang mengikuti langkah Lisa kecil, sambil mengayun-ayunkan genggaman tangan keduanya.
"Aku Lisa. Siapa namamu?" tanya Lisa kecil sambil memperkenalkan dirinya.
"Namaku Jessica, panggil saja Jessy." Gadis itu menjawab sambil tersenyum ke arah Lisa kecil.
Untuk pertama kalinya, Lisa tersenyum riang sambil bergandengan tangan dengan anak seusianya.
Setibanya di tempat tujuan, Lisa seperti biasa akan terlebih dahulu menuju ke sisi rumah, dan mengetuk pintu samping rumah langganan binatu ibunya.
Setelah selesai mengantarkannya, Lisa pun pergi dengan kembali membawa setumpuk cucian kotor yang akan ia serahkan kepada sang ibu di rumah.
Ia terlebih dulu pulang membawa serta gadis kecil tadi dan mengantarkan baju-baju kotor itu. Namun saat pulang, ia tak mendapati ibunya di rumah.
Mungkin sedang ke kedai, pikir Lisa.
Ia pun lalu meletakkan bawaannya di dalam, dan ia kembali pergi.
"Apa tadi rumahmu?" tanya Jessy kecil.
Lisa hanya mengangguk tanpa berucap.
Jessy kecil menoleh ke belakang, sambil terus memperhatikan rumah yang tadi ia singgahi sebentar.
Lalu kemudian menoleh dan menatap wajah Lisa dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kedua gadis kecil itu memperhatikan satu persatu bagian depan dari setiap rumah yang mereka lewati.
"Apa kamu ingat seperti apa ciri-ciri rumahmu?" tanya Lisa kecil saat mereka telah berjalan cukup jauh, namun Jessy kecil tak juga menemukan rumahnya.
"Aku hanya ingat, di halaman depannya ada sebuah ayunan dan juga sebuah kolam ikan," sahut Jessy
Lisa pun kembali melihat kanan dan kirinya.
"Ayunan dan kolam ikan? Kalau begitu kita harus mengintip ke dalam gerbang," gumam Lisa.
"Maafkan aku. Kau jadi ikut kesusahan karena aku," ucap Jessy kecil tertunduk.
"Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan orang tua kamu saja. Mereka pasti sedang khawatir karena anaknya tiba-tiba menghilang," sahut Lisa.
Jessy kecil mendongak dan menatap mata gadis di depannya.
"Jadi, kau menolong aku karena memikirkan kekhawatiran orang tuaku? Bukan karena kau kasihan padaku?" tanya Jessy kecil.
"Memangnya kau mau dikasihani?" tanya Jessy tegas dengan wajah datarnya.
Jessy kecil diam. Dia tak mengerti maksud Lisa.
Lisa menghela nafas kasar. Ia tak mau menjelaskan apapun kepada gadis kecil, yang sudah pasti tak akan mengerti apa yang dia maksud.
"Ayo kita cari lagi?" ajak liLisa sambil kembali menggandeng tangan Jessy.
Lama mereka berjalan, hingga keduanya tiba di jalan yang berada paling ujung, yang hanya berisikan sebuah rumah besar, tepat berada di dalam pekarangannya.
Tembok pagarnya dipenuhi sulur tumbuhan yang merambat dan menjulang tinggi hingga tak nampak apapun dari luar. Gerbangnya pun begitu besar dan megah, yang terbuat dari perpaduan besi dan lempengan kayu.
"Tinggal ini rumah yang tersisa. Kamu yakin tidak melewatkannya tadi?" tanya liLisa memastikan.
Jessy hanya menggeleng pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Ingin mencoba melihat yang terakhir?" tanya Lisa.
Jessy menatap jalanan sepi di depannya, lalu kemudian memandang Lisa dan mengangguk.
"Ayo,"
Mereka berdua pun kembali berjalan dan semakin mendekat ke depan gerbang rumah besar itu.
Saat tiba di depan, Lisa mencoba melihat kedalam melalui celah pagar depan.
"Ada ayunan," gumamnya.
"Hei, siapa di situ?" teriak seorang penjaga keamanan yang tengah berjaga di posnya.
Ia berteriak ke arah Lisa, karena melihat seorang anak kecil sedang mengintip dari luar pagar.
Lisa sontak mundur, dan berbalik hendak lari. Namun, ia segera tersadar jika ia sedang membantu Jessy untuk menemukan rumahnya.
Akhirnya, Lisa kecil pun kembali berbalik dan berusaha berani menghadapi si penjaga yang tadi meneriakinya.
"KAMI HANYA INGIN MENCARI ALAMAT, TUAN!" Lisa berteriak kepada si penjaga yang masih berdiri di dalam pagar, sambil berkacak pinggang menghadapi kedua gadis kecil itu.
"Di sini hanya ada satu rumah. Cari di tempat lain saja," penjaga itu pun mengusir Lisa kecil.
"Tapi kami mencari rumah yang terdapat ayunannya. Bukanlah di dalam ada satu?" seru Lisa tak gentar.
"Di dalam ada ayunan?" bisik Jessy yang sedari tadi bersembunyi di belakang badan Lisa.
Lisa kecil hanya mengangguk tanpa menoleh ke belakang.
"JESSY!"
Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar sebuah suara berteriak memanggil gadis kecil yang tengah bersembunyi di balik punggung Lisa.
Seketika, kedua gadis kecil itu pun menoleh.
"Kakak?!" gumam Jessy
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih