DESIRE

DESIRE
Bab 33



Pagi hari sekitar pukul tujuh, Mona baru saja pulang dari Heaven valley, setelah semalaman bergumul dengan para lelaki hidung belang yang tergoda untuk menikmati tubuh indahnya.


Ia nampak terburu-buru masuk ke dalam, dan segera menuju ke kamar tidurnya. Ia berhenti sejenak di depan pintu, sambil mengatur nafasnya yang berkejaran.


Mona membuka pintu dengan perlahan, sambil melongokkan kepalanya terlebih dahulu, untuk memastikan kondisi di dalam sana.


"Gelap," gumamnya.


Ia pun melangkah masuk, dan meraih saklar lampu yang berada di balik pintu kamarnya.


"Hah…," terdengar helaan nafas lega, ketika netranya tak menangkap keberadaan pria menyebalkan, yang semalam sempat membuatnya emosi.


"Syukurlah, akhirnya dia sudah pergi," ucap Mona sambil menghempaskan tubuhnya ke atas kasur king size miliknya.


Namun, indra penciumannya menangkap aroma yang membuat Mona sempat terpaku semalam. Wangi maskulin bercampur aroma bunga mawar, yang berasal dari tubuh Arthur, yang sempat berbaring di sana.


Wanita itu memejamkan mata, dan menghirup dalam-dalam, seolah ingin menyimpannya seorang diri.


"Hah… kenapa bau ini sangat menenangkan?" gumamnya sambil tidur menyamping, dan membenamkan wajahnya di bantal, yang sempat dipakai oleh Arthur.


Karena lelahnya, ditambah dengan aroma yang ditinggalkan Arthur yang membuat syaraf tegang Mona mengendur, wanita itu pun akhirnya terlelap tanpa membersihkan diri dan berganti pakaian terlebih dulu.


Siang hari menjelang sore sekitar pukul tiga, Mona baru saja bangun. Ia mendapati dirinya yang masih terbalut baju yang semalam ia pakai, dengan wajah yang terasa begitu kaku akibat lupa membersihkan make up tebalnya.


"Ah… si*al. Aku harus segera mandi. Tubuhku sangat lengket," keluhnya.


Dengan malas, Mona pun melangkah menuju kamar mandi, dan tak lupa juga ia menyambar sebuah bath robe yang ada di sudut ruangan.


Mona duduk di sisi bath tube, sambil mengisinya dengan air hangat. Tak lupa, ia juga mencampurkan minyak esensial aroma bunga untuk menemaninya berendam.


Ia merasa sangat lelah, dan butuh me-rileks-kan tubuhnya.


Setelah siap, wanita itu pun membuka bajunya, dan melemparkannya ke dalam keranjang laundry.


Saat itu, ia melihat pakaian Arthur yang masih berada di sana.


"Hah… setelah kejadian menyebalkan semalam, aku masih harus bertemu dengannya lagi untuk mengembalikan benda-benda itu," keluh Mona, sambil menghela nafas panjang.


Akhirnya, Mona pun masuk ke dalam bak mandi, dan menenggelamkan seluruh badannya, hingga hanya tersisa bagian kepalanya saja.


Ia menyandarkan tengkuknya di bibir bath tube, dan memejamkan mata sembari menghirup aroma dari minyak esensial yang ia tuangkan.


Sekitar setengah jam, Mona kemudian keluar dari sana, dan menuju ke bawah shower. Ia membilas tubuh, dan menyelesaikan acara mandinya.


Seusai itu, Mona keluar dengan hanya mengenakan bath robe, dan berjalan menuju dapur, sembari mengeringkan rambutnya dengan menggunakan sebuah handuk kecil.


Ia mengambil sekantung teh hijau kemasan, dan memasukkannya ke dalam cangkir. Lalu kemudian, ia menyeduhnya dengan air panas.


Setelah itu, Mona kembali masuk ke dalam kamar, dan berjalan menuju balkon, tempat favoritnya di apartemen itu.


Dengan masih menggunakan jubah mandi, dan sebuah handuk kecil di kepalanya, Mona duduk bersandar di kursi santainya, sambil menyesap teh hijau buatannya sendiri.


"Apa kau baru saja bangun?"


Terdengar sebuah suara yang sontak membuat Mona menegakkan tubuhnya, dan melihat ke kanan dan kiri.


Matanya menangkap sebuah tangan yang terulur ke arahnya dari arah balkon samping unitnya, sambil memegang sekaleng bir dingin.


"Hah… dia lagi." Mona mendengus kesal.


Dia sudah bisa menebak siapa orang yang telah menganggu waktu santainya itu.


"Apa tidurmu nyenyak, Nona Mona?" tanya Arthur, sang tetangga baru.


Pria itu tengah berada di balkon apartemennya sendiri, dan tak bisa mengintip ke arah balkon Mona, karena terjeda oleh dua buah tembok sekat yang terpisah dengan ruang kosong, sehingga membuat sesama tetangga tak bisa saling lompat atau mengganggu privasi tetangga lainnya.


Hal itu lah yang membuat Arthur hanya bisa menyapa Mona, tanpa memperlihatkan dirinya.


Mona pun kembali bersandar, dan menyesap teh hijaunya.


"Kebetulan, aku mendengar suara pintu bergeser. Aku sempat melihat tipe pintu kamar mu yang terhubung ke balkon. Jadi aku tau jika kau sedang ada di situ," jawab Arthur.


"Oh…," sahut Mona singkat.


"Jam berapa kau pulang?" tanya Arthur.


"Bukan urusan Anda, Tuan." Mona menjawab dengan ketus.


"Baiklah. Lalu, kapan kau akan mengembalikan pakaianku yang tertinggal?" tanya Arthur, dengan suara yang sengaja dikencangkan.


Mona melotot, dan bangkit menuju tepi pembatas.


"Tolong kecilkan suara mu, Tuan. Tetangga yang lain bisa salah paham nanti," seru Mona sambil mencondongkan dirinya ke arah luar, hingga ia bisa melihat Arthur yang tengah berdiri dan bersandar di pagar pembatas seperti dirinya.


"Oh, maaf. Aku memang sengaja… hahahhaa…," kelakar Arthur yang membuat Mona memutar bola matanya akibat jengah.


Mona lalu memundurkan kepalanya, agar tak terlalu menjorok keluar.


"Nanti akan saya bawa ke binatu terlebih dulu. Setelah bersih, akan saya kembalikan kepada Anda," ucap Mona sembari memandang lurus ke depan.


Arthur menoleh, dan memandangi wanita yang kini menjadi tetangganya itu. Ia mengagumi pesona Mona dalam diam.


Wah… apa dia sengaja mau menggodaku, dengan hanya mengenakan bath robe dan rambut yang masih setengah basah itu? Hah… tahan, ini belum saatnya, batin Arthur, yang merasa terusik dengan penampilan Mona saat itu.


Arthur lalu membuang pandangannya ke depan, dan meneguk bir dingin kalengan yang ia genggam.


"Sebaiknya kau masuk dan pakai pakaian mu, Nona. Hari sudah semakin sore dan udara mulai dingin sebentar lagi. Kau bisa saja masuk angin, jika masih memakai jubah mandi seperti itu di balkon," ucap Arthur sembari menoleh ke arah Mona di ujung kalimatnya.


Mona pun menoleh dan pandangan mereka bertemu. Dia mengulas senyum tipis, lalu kemudian meneguk kembali teh hijau yang tersisa di dalam cangkirnya.


"Ah… kebetulan teh saya juga sudah habis. Kalau begitu, saya permisi, Tuan," ucap Mona menoleh dan tersenyum sekilas ke arah tetangga barunya itu.


Wanita tersebut pun lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya, dan menutup rapat pintu geser yang menghubungkan kamar tidur dengan balkon.


Mona kemudian berganti pakaian, dan berencana untuk keluar membeli beberapa kebutuhan pribadi dan juga dapurnya yang sudah mulai habis.


Sore itu, Mona keluar dengan mengenakan out fit casual. Sebuah kemeja kotak-kotak hijau hitam yang dipakai tanpa menautkan kancing-kancingnya, serta dipadu inner hitam, dan celana jeans berwarna army dengan aksen robek-robek di bagian lututnya.


Rambutnya yang biasa ia ikat, kali ini ia kepang satu dengan poni yang dibiarkan menyamping. Ditambah aksesoris sebuah topi hitam, dan kaca mata berwarna serupa yang menempel di kerah baju dalamnya.


Ia keluar dari apartemen dan segera berjalan menuju ke area parkir basement.


Seperti biasa, ia selalu menggunakan lift langsung dari unitnya menuju ke tempat mobilnya berada.


Saat itu, ia berjalan keluar dari lift seperti biasa, dan menuju ke tempat mobilnya terparkir.


Mona tak merasa takut ataupun curiga sama sekali, dengan keadaan basement yang terbilang sepi di waktu sore hari, di mana biasanya para penghuni mulai ramai berdatangan dari tempat mereka bekerja.


Dari kejauhan, dia sudah bisa melihat mobil sport mahalnya. Namun, langkahnya terhenti kala seseorang tiba-tiba membekap mulutnya dengan menggunakan sebuah sapu tangan.


Mona berontak, namun tenaganya kalah kuat. Dia pun semakin melemah, dan ditengah antara sadar dan tidak, ia mendengar sebuah ke gaduhan, dan merasakan dirinya terjatuh ke lantai.


Tepat sebelum ia benar-benar tak sadarkan diri, Mona mendengar seseorang berteriak memanggil nama lamanya.


"LISA!"


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih