DESIRE

DESIRE
Bab- 3



Kaivan berdiri mematung dengan tangan gemetar, ia tidak menyangka sudah membunuh seseorang di usianya yang masih 12 tahun.


Javier dengan tertatih mendekati Kaivan ia tahu jika anak itu pasti tertekan, Javier menarik pelan bahu Kaivan dan menatap matanya yang ternyata memerah dan siap mengeluarkan cairan bening.


"Sa- saya sudah bu- bunuh orang" ucap Kaivan terbata


Javier memeluk Kaivan dan menepuk pundaknya "Tenang lah dia pantas mati, kau anak yang pemberani"


"Tapi.."


Ucapan Kaivan terhenti ketika segerombolan orang mulai mendekat, Kaivan melepas pelukan Javier dan menatap orang orang yang berpakaian serba hitam di depannya


"Maafkan kami tuan besar, kami terlambat" ucap salah satu anak buah Javier sambil menunduk


Javier memejamkan matanya lalu berkata "Sudahlah biar Marcel yang akan menghukum kalian, sekarang bawa aku pergi dari sini bersama anak ini"


"Tidak, saya tidak mau ikut" Tolak Kaivan lalu mulai pergi dari hadapan Javier


Namun baru beberapa langkah tubuh Kaivan ambruk, ternyata salah satu anak buah Javier menyuntikan sesuatu ke leher Kaivan membuat Kaivan kehilangan kesadaran.


"Bawa dia ke mobil, mulai sekarang dia milikku" ucap Javier tidak terbantahkan ia lalu melirik mayat Derrick "Bawa mayat Derrick ke mansion, Marcel akan sangat senang melihatnya"


"Baik tuan besar"


...........


"Kak Kai kok belum datang ya?" tanya Shanum


Rajen menatap jalanan mencari Kaivan "Entahlah Sha, ini sudah sejam sejak dia pergi, tapi dia belum kembali juga"


"Shanum lapar kak" rengek Shanum dengan mata berkaca kaca


"Sabar Sha, mungkin sebentar lagi Kai datang" ucap Rajen lembut


Rajen dan Shanum menunggu beberapa jam tapi Kaivan tidak datang juga.


"Sha, kita cari Kaivan ya, kamu masih kuat jalan kan?"


Shanum mengangguk meskipun tenaga gadis kecil itu sudah mulai lemah, tapi dia harus mencari Kaivan.


Rajen memegang tangan Shanum dan berjalan mencari Kaivan. Akan tetapi sudah hampir sore mereka berdua belum juga menemukan Kaivan.


"Kak Kai ngga ada dimana mana kak, apa kak Kai pergi ninggalin kita?" tanya Shanum sedih


Rajen menghela nafas ia pun bingung kenapa Kai tiba tiba menghilang, jika memang Kai ingin meninggalkannya bersama Shanum, tidak mungkin Kai akan mengajaknya kabur bersama.


"Jangan berpikir yang aneh aneh Sha, mungkin saja Kaivan tersesat di suatu tempat dan sedang mencari kita, ehm gimana kalau kita kembali ketaman, bisa saja Kaivan sudah ada di sana" ajak Rajen


Shanum kembali mengangguk sungguh tubuh kecilnya sudah benar benar lemah, karena belum di isi apa apa sejak pagi, dan ketika mereka kembali berjalan Shanum tiba tiba pingsan.


"Sha, Shanum kamu kenapa?" Rajen panik melihat Shanum terjatuh dan tidak sadarkan diri


"Tolong! Tolong!" Rajen berteriak ia berharap ada seseorang yang mau menolong mereka


Dan tidak lama kemudian seorang perempuan datang mendekati Rajen dan Shanum


"Dia kenapa nak, apa yang terjadi?" tanya wanita itu


"Saya tidak tau bu, Shanum tiba tiba pingsan" jawab Rajen dengan suara bergetar


"Baiklah kita bawa adik kamu ke rumah sakit sekarang" Wanita itu menggendong tubuh lemah Shanum dan diikuti Rajen


Wanita itu membawa Shanum ke mobilnya dan melaju ke rumah sakit, wanita itu menyetir sementara Rajen duduk di kursi belakang sambil memangku kepala Shanum


"Sha, bangun Sha" Rajen menangis dia benar benar takut jika terjadi sesuatu pada Shanum belum lagi Kaivan tidak dia tau keberadaannya.


"Sabar sayang, adik kamu pasti baik baik saja" ucap wanita itu menenangkan Rajen


Tidak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit xxx. Wanita itu menggendong tubuh Shanum masuk kedalam.


"Dokter Intan, ada apa? siapa yang ada bawa?" tanya seorang perawat perempuan


"Aku menemukan mereka di pinggir jalan, kita harus memberikan pertolongan secepatnya pada gadis kecil ini" ucap Intan


"Baik Dok"


"Kamu tunggu disini dulu ya dek, biar Dokter Intan merawat adik kamu dulu" ucap perawat itu pada Rajen


"Tapi, apa Shanum bakal baik baik saja sus?" tanya Rajen


"Iya semoga saja adik kamu baik baik saja"


...............


Sementara itu di sebuah mansion besar Kaivan perlahan membuka kedua matanya, kepalanya sedikit sakit, ia melirik ruangan yang bernuansa hitam itu dan sepertinya ia berada di sebuah kamar besar, lalu tak lama seseorang membuka pintu


"Kau sudah sadar?" tanya Javier ia sudah terlihat baik baik saja, dengan pakaian casual nya


"Saya dimana?" tanya Kaivan


"Kau berada di mansion milik putraku"


Kaivan berdiri "Saya mau pergi, Rajen dan Shanum nungguin saya"


Javier menahan Kaivan "Apa kau tidak ingin tinggal di mansion ini?"


"Tidak, saya hanya ingin menemui teman teman saya"


"Baiklah aku akan mengantarmu bertemu teman temanmu, tapi pertama tama katakan siapa namamu"


"Kaivan Danendra"


"Usiamu?"


"12 tahun"


"Kedua orang tuamu?"


Kaivan menatap tajam kedua mata Javier, Kaivan merasa sensitif jika seseorang menanyakan kedua orang tuanya.


"Dimana orang tuamu?" tanya Javier lagi


"Mati"


Hanya satu kata yang keluar dari mulut Kaivan, namun Javier mempu menangkap nada amarah dendam di dalamnya, Javier tersenyum miring sepertinya ide untuk mengangkat Kaivan sebagai tangan kanan putranya bukanlah ide buruk, meskipun usia Kaivan baru 12 tahun tetapi anak laki laki itu sudah bisa di jadikan sebagai seorang calon Mafia.


"Apakah kau punya saudara?" tanya Javier kembali


"Saya hanya punya Rajen dan Shanum di dunia ini" jawab Kaivan sedikit kesal, ia merasa bapak tua didepannya hanya mengulur waktunya saja


"Kalau begitu aku akan memperkenalkan mu dengan putra ku dan juga keluarga kecilnya, masuklah!"


Pintu kembali terbuka dan seorang laki laki berpakaian jas formal masuk bersama seorang wanita yang terlihat sangat cantik bergelayut di lengan laki laki itu, di ikuti seorang gadis kecil sambil memeluk bonekanya


"Nah Ayah perkenalkan kalian pada Kaivan Danendra seorang anak laki laki pemberani yang menolong Ayah, dan juga berhasil membunuh Derrick" ucap Javier berdiri di samping Kaivan


"Hai Kaivan perkenalkan nama saya Jesika prayoga, istri dari Marcel Antonio Prayoga, dan juga putri kecil kami, Jesslyn Antonio Prayoga" ucap Jesika memperkenalkan diri wanita yang berusia 30 tahun itu terlihat sangat cantik dan juga ramah


"Saya mengucapkan terimakasih karena kau sudah menolong Ayah ku, dan juga membunuh musuh terbesar ku, akan kuberikan apapun yang kau minta sebagai imbalan nya" ucap Marcel dengan suara bas nya. Ia sama sama memancarkan aura sangar dan menakutkan sama seperti Derrick


"Ayah akan memberikan hadiah kepada Kaivan dengan mengangkatnya sebagai cucu tertua di mansion kita, bagaimana?" ucap Javier menatap Marcel


Jesika tersenyum ia sangat bahagia mendengar ucapan sang mertua, ia kemudian berjalan ke arah Kaivan yang masih berdiri di samping Javier, wanita anggun itu memeluk Kaivan


"Kamu mau kan jadi anaknya tante?"


Kaivan masih terdiam, ia menatap Marcel yang juga menatapnya


"Saya tidak mau"