
Nampak sebuah mobil sedan hitam, telah berhenti tepat di belakang mereka. Jendela belakangnya terbuka dan seorang anak laki-laki yang mengenakan seragam sekolah menengah, terlihat menyembulkan kepalanya ke luar.
"Jessy," panggilnya.
Kedua gadis yang tengah berdiri di luar gerbang pun seketika menoleh ke belakang, melihat siapa yang berteriak itu.
"Kakak," gumam Jessy.
Lisa menoleh ke arah Jessy, karena mendengar ucapannya tadi.
Kakak? batin Lisa.
"Kakak...," pekik Jessy kecil kemudian dan berlari ke arah mobil sedan hitam itu, meninggalkan Lisa yang menatapnya dengan datar.
Anak laki-laki bernama tersebut sekilas menatap Lisa, dan kemudian beralih kembali kepada sang adik.
"Kamu bagaimana bisa berada di luar?" tanya anak laki-laki itu yang keluar dari dalam mobil dan menghampiri sang adik.
Jessy menghambur memeluk sang kakak laki-lakinya.
"Aku tadi tersesat, Kak," ucap Jessy.
Tangisnya kembali pecah saat telah berada di dalam pelukan sang kakak.
Anak laki-laki itu lalu membalas pelukan sang adik dan menepuk-nepuk pelan punggung Jessy kecil.
Sementara itu, Lisa masih berdiri di tempatnya, dan terus memandangi interaksi kedua kakak beradik tersebut dengan tatapan datar.
Sang supir kemudian membunyikan klakson, pertanda meminta untuk segera dibukakan gerbang agar dia dan majikannya bisa masuk.
Penjaga keamanan yang tadi sempat berdebat dengan Lisa, segera membukakan pintu gerbang dan membiarkan mobil sedan hitam masuk.
Lisa menyingkir dari depan sana, saat si penjaga itu mulai membuka gerbang besar.
"Ayo kita pulang," ajak si kakak laki-laki, sambil merangkul pundak sang adik.
Jessy menahan langkah kakaknya, dan menoleh ke arah di mana Lisa masih berdiri.
Sang kakak laki-laki itu pun turut memperhatikan gadis, yang masih berdiri di tempat semula.
"Apa dia temanmu?" tanya sang kakak kepada Jessy kecil.
Gadis itu pun mengangguk cepat.
"Kalau begitu, ajak dia masuk bersama kita," seru sang kakak.
Jessy pun seketika mengembangkan senyumnya. Dia segera menarik tangan Lisa kecil yang sedari tadi terdiam.
"Ayo, kita masuk," ajak Jessy.
Mereka bertiga pun berjalan ke dalam pekarangan rumah besar, dengan Jessy yang menggandeng tangan kedua orang du sampingnya.
Begitu melangkahkan kakinya melewati gerbang, Lisa dibuat terkesima dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
Matanya berbinar menyaksikan betapa cantiknya bunga-bunga yang berjejer membentuk sebuah barisan di sisi kiri dan kanan, sepanjang jalan menuju ke sebuah bangunan utama di depan sana.
Terdapat sebuah ayunan yang berada tepat di depan kolam ikan, dengan corong air mancur di tengahnya.
Pandangannya terhenti saat ia melihat seorang tukang kebun, yang tengah memugar tanaman di dalam pot yang telah penuh sesak oleh akar, agar tanaman itu bisa berkembang lebih baik lagi.
Dia begitu tertarik dengan kegiatan yang tengah tukang kebun itu lakukan, hingga Lisa menghentikan langkahnya dan terus memandangi orang itu.
"Lisa," panggil Jessy kecil yang telah sampai di depan pintu.
Ia menoleh ke belakang, dan mendapati bahwa Lisa tidak ada di sana. Ia pun mengedarkan pandangan dan melihat teman barunya itu sedang berdiri di tengah jalan.
Lisa yang merasa terpanggil pun menoleh. Ia sekali lagi menatap ke arah tukang kebun itu dan tersenyum, lalu kemudian berlari kecil menuju di mana Jessy berada.
"Kamu sedang apa di sana?" tanya Jessy heran.
"Tidak ada. Hanya ingin melihat bunga saja," sahut Lisa seadanya.
"Ayo masuk," ajak sang kakak, sambil terus menggandeng adiknya dengan posesif.
Mereka pun masuk ke dalam bangunan yang berdiri megah di tengah hamparan taman bunga, yang baru saja Lisa lewati.
Begitu masuk, Lisa disambut dengan sebuah foto keluarga yang sangat besar tergantung di tembok, tepat di hadapannya.
Entah kenapa, matanya mendadak perih dan setetes bening meluncur begitu saja dari sana tanpa ia sadari.
Ia seolah terhipnotis oleh foto tersebut, di mana di dalamnya nampak seorang pria dewasa bersama dengan wanita dewasa yang mungkin adalah istrinya, duduk sambil memeluk seorang anak perempuan yang terlihat seperti Jessy, dan seorang anak laki-laki yang berdiri di belakang mereka, sambil memeluk Jessy kecil dari belakang. Mereka terlihat begitu bahagia.
Sangat berbeda dengan dirinya, yang terlahir di tengah keluarga yang tak berada. Mempunyai ayah yang kejam dan kerap kali menyiksa sang ibu, juga seorang kakak tiri yang sama sekali tak peduli dengan kesusahan yang tengah mereka alami.
"Ibu," ucapnya lirih.
Jessy menoleh ketika ia tak sengaja mendengar gumaman Lisa.
Lisa pun segera mengusap lelehan bening itu, dan menyembunyikan kesedihannya dengan tersenyum.
"Aku tidak apa-apa. Hanya debu halus yang tak sengaja masuk ke mata ku," jawab Lisa berbohong.
"Ayo kita ke kamar ku. Kak, tidak apa-apa bukan?" ucap Jessy kecil dua arah, mengajak Lisa dan bertanya pada sang kakak.
Kakaknya hanya mengangguk pelan. Anak laki-laki itu tak banyak bicara, namun sedari tadi dia selalu memperhatikan gerak gerik Lisa.
Kedua gadis kecil itu kemudian berjalan menuju lantai atas, di mana kamar Jessy berada.
Lisa kembali dibuat takjub dengan apa yang ia lihat saat itu.
Luas sekali. Rumahku saja kalah besar dengan kamar ini, gumamnya dalam hati.
"Ayo, Lisa. Kita bermain dengan boneka. Apa kau suka bermain rumah-rumahan?" ajak Jessy.
Lisa kecil tersadar dari rasa takjubnya, dan berjalan menghampiri teman barunya itu. Dia hanya menyahut pertanyaan Jessy dengan anggukan meskipun tak tau pasti apa yang ditanyakan.
Dia memandangi kumpulan boneka-boneka besar, lengkap dengan rumah-rumahannya yang berada di sebuah sudut kamar bernuansa serba pink itu.
Lisa melihat ke kanan dan kiri, memilih boneka mana yang akan ia ambil. Ia mencari boneka yang sudah usang atau bahkan yang sudah rusak untuk ia mainkan. Tapi, dia kembali dibuat bingung karena semuanya masih sangat bagus.
Kebiasaan hidup di tempat kumuh, membuatnya enggan untuk menyentuh benda-benda yang masih terlihat bagus. Sang pemilik akan mengira bahwa ia akan mencurinya, jika sampai melihat Lisa memegang benda tersebut.
Terlebih lagi, Lisa yang selalu terkucil dan hanya bisa mengais mainan bekas yang sudah sangat rusak, kemudian dibuang oleh pemiliknya.
Jessy melihat temannya itu diam saja dan hanya melihat-lihat boneka miliknya yang berjumlah puluhan bahkan mungkin mencapai ratusan itu.
"Kamu tidak suka bermain dengan boneka? Bukankah tadi kau mengangguk saat ku ajak?" tanya Jessy kecil.
"Suka... Aku suka dengan boneka," jawab Lisa singkat sambil matanya terus mencari-cari boneka mana yang harus ia ambil.
"Lalu, kenapa kau diam saja sejak tadi? Ayo ambil satu, lalu kita bermain bersama," seru Jessy yang mulai merasa kesal, karena Lisa sejak tadi terus diam, dengan bola mata yang mengabsen satu persatu koleksi bonekanya.
"Ehm … apa kau masih menyimpan boneka lamamu?" tanya Lisa kemudian.
"Ini semua boneka lamaku. Minggu ini Mommy belum membelikan ku boneka baru lagi," jawabnya enteng, sambil menyisir rambut boneka besar seukuran bayi, yang ia dudukkan di depannya.
"Hah … Kau membeli boneka baru setiap minggu?" tanya Lisa tak percaya.
"Ehm …," sahut Jessy kecil hanya mengangguk sambil terus sibuk dengan bonekanya.
"Kalau begitu, apa aku boleh ambil yang mana saja?" tanya Lisa ragu-ragu.
Jessy menatap Lisa, lalu kemudian ia tersenyum dan mengangguk.
Lisa kecil pun tersenyum senang. Ia mengambil asal boneka yang ada di hadapannya. Sebuah boneka barbie berukuran besar, dengan gaun biru langit yang berkilauan, dan rambut emas yang menjuntai panjang hingga pinggangnya.
Ia kemudian duduk bersimpuh di atas karpet yang membentang di area bermain Jessy. Untuk pertama kalinya, ia bisa merasakan bagaimana rasanya bermain bersama dengan seorang teman seusianya dengan tenang.
Dia bahkan bisa memainkan mainan sebagus itu, tanpa perlu merasa takut dituduh akan mencurinya. Lisa dan Jessy tertawa riang dan saling sahut, seolah mereka menjelma menjadi boneka yang dipegang masing-masing.
Sudah satu jam mereka bermain, namun kegembiraan itu tak pernah surut sama sekali. Hingga sebuah suara teriakan dari luar kamar, mengalihkan perhatian kedua gadis kecil itu.
"Jessy... Jessy...,"
Terdengar suara seorang wanita memanggil-manggil nama Jessy kecil.
"Mommy? Mommy…," sahut Jessy seraya beranjak dari tempatnya, dan segera berlari menuju pintu, meninggalkan Lisa yang masih tertegun di tempat.
Pintu pun terbuka, dan terlihat seorang wanita cantik yang adalah Mommy Jessy, telah berdiri di depan sana sambil membawa beberapa paper bag di kedua tangannya.
"Sayangnya Mommy... apa yang kau lakukan hari ini, Nak? Apa kau bosan di rumah?" tanya wanita itu sambil membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan sang putri.
"Ehm...," Jessy menggeleng cepat.
"Aku sedang, Mom. Lihatlah," ucap Jessy kecil tersenyum riang, sambil menunjukkan boneka di tangannya.
Mommy Jessy kemudian melihat ke dalam kamar, dan matanya tak sengaja menangkap keberadaan seorang gadis berpakaian lusuh dan dekil, tengah duduk di dalam kamar putri kecilnya.
Wanita itu kemudian menegakkan kembali tubuhnya, dan berjalan memasuki kamar Jessy, dengan kedua tangan yang penuh dengan shopping bag.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih