DESIRE

DESIRE
Bab 73



Malam hari, tepatnya pukul tujuh malam, Mona tengah bersiap untuk pergi ke Heaven valley. Dia sangat rindu dengan suasana tempat yang telah menjadi rumah sekaligus keluarganya selama kurun waktu empat tahun ini.


ia tampak mengenakan dress terusan hitam dengan panjang di atas lutut serta taburan manik-manik, dan tali bahu tipis, dipadu dengan blazer hitam tanpa kancing, juga sebuah tas tangan dengan warna senada.


Tak lupa sepatu boot pendek yang menunjang penampilannya nanti malam. Rambut hitamnya ia biarkan tergerai lurus, dan sebuah kalung dengan liontin berbentuk lingkaran yang semakin menambah cantik dirinya.


Make up bold andalannya selalu menghiasi wajah cantik itu, yang selalu memesona siapa saja yang melihatnya.


"Perfect!" ucapnya yang mengagumi penampilannya kala itu.


Sebuah pesan masuk, dan Mona pun segera membukanya. Rupanya, taksi yang ia pesan sebelumnya telah sampai di depan lobi.


Ia pun mengirimkan pesan kepada Arthur dan mengabarkan bahwa dia baru akan pergi ke tempat Madame Queen.


Setelah itu, si ratu es pun mengenakan blazernya tanpa memasukkan ke dua lengan ke dalam, dan hanya menyampirkan di pundak saja.


Ia lalu kemudian berjalan menuju lift, dan turun ke lantai bawah menuju lobi apartemen.


Sesampainya di sana, ia melihat dua buah mobil telah terparkir di depan. Tampak seorang petugas gedung apartemen itu keluar dari salah satu mobil tersebut, dan berjalan melewati Mona.


Mona pun lalu mengirim pesan kepada supir taksi pesanannya.


Namun, baru saja ia selesai menekan tombol kirim, tiba-tiba saja seseorang datang menghampiri, dan menepuk pundak Mona dari belakang.


Mona seketika menoleh dan melihat orang tersebut.


"Hai, Nona Mona. Masih ingat aku?" tanya orang itu.


Mona mengerutkan alisnya dan mencoba mengingat-ingat siapa yang sedang berada di depannya.


"Ehm…," gumam Mona yang terus mencoba mengingatnya.


"Kemarin saat di mall," ucap orang itu lagi memberi petunjuk.


"Oh… Tuan Gerald?" tebak Mona seolah tengah menjawab pertanyaan sebuah kuis.


"Ah… kau masih ingat rupanya. Mau ke mana malam-malam begini?" tanya Gerald yang melihat penampilan Mona yang begitu menawan dan seksi.


"Hanya ingin mencari hiburan saja. Anda sendiri, sedang apa di sini?" tanya Mona kepada Gerald.


"Oh… kebetulan aku ada teman di sini, dan kami baru saja membicarakan bisnis kecil-kecilan. Ehm… bagaimana kalau aku antarkan kau saja. Kebetulan, aku juga sedang penat," ucap Gerald mencoba membujuk Mona.


"Ehm… maaf, tapi aku sudah memesan taksi tadi," ucap Mona menolak dengan halus.


"Maaf, apa Anda yang memesan taksi saya, Nona?" tanya seseorang yang adalah sang supir taksi.


"Atas nama Mona?" tanya Gerald mendahului Mona.


"Iya," sahut si supir taksi itu.


Gerald mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribu, dan menyerahkannya kepada supir taksi tersebut.


"Ambillah. Nona Mona tidak jadi naik taksi Anda. Ini sebagai ganti rugi karena telah menunggunya," ucap Gerald.


"Terimakasih, Tuan," sahut si supir taksi.


Supir itu pun kemudian pergi meninggalkan Mona dan Gerald yang masih berdiri di depan lobi.


Mona menoleh dan menghadap ke arah Gerald, sambil melipat kedua lengannya di depan dada, dengan kepala yang sedikit miring.


"Baiklah… Anda sudah berhasil mengusir taksi ku. Jadi, mana mobilmu, Tuan?" tanya Mona sambil tersenyum dengan kedua alis yang terangkat ke atas.


Gerald melangkah maju dan meraih gagang pintu mobil yang terparkir tepat di depan mereka.


"Silakan, Nona," ucapnya mempersilakan Mona masuk.


Sekilas, Mona mengulas sebuah senyum dan berjalan menuju mobil Gerald.


"Terimakasih," ucapnya yang kemudian masuk ke dalam.


Pria itu nampak berlari kecil menuju kursi kemudi setelah sebelumnya menutup pintu dari sisi Mona.


Mobil pun melaju membelah jalanan ibu kota menuju Heaven valley.


Sementara dari kejauhan, ada seseorang yang memperhatikan kepergian mereka, dan segera mengambil ponselnya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Di kantor, Arthur yang masih menyelesaikan urusannya dengan setumpuk berkas-berkas laporan, tiba-tiba mendapat telepon masuk dari seseorang.


"Halo," sapanya.


"Halo, Tuan," sahut orang di seberang.


"Ya, Will. Ada apa?" tanya Arthur.


"Maaf, Tuan. Nona Mona sudah pergi dengan seseorang ketika saya baru keluar dari toilet tadi. Sepertinya mereka sangat akrab," ucap William.


"Apa? Laki-laki atau perempuan?" tanya Arthur tak sabaran.


"Ehm… sepertinya laki-laki, Tuan." William menjawab.


"Kemana mereka sekarang?" tanya Arthur yang seolah hilang ingatan.


"Bukannya Anda mengatakan bahwa Nona Mona akan pergi ke Heaven valley?" ucap William mengingatkan.


"Apa kau tak mengikuti mereka?" tanya Arthur kesal.


"Maaf, Tuan. Saya tidak mengikuti mereka. Anda tidak memerintahkan hal itu tadi," sahut William tanpa merasa bersalah.


"Hah… Will... Kenapa kau tidak mengikuti mereka? Lagipula kenapa kau harus ke kamar mandi segala, hah! Ah… sudahlah. Kau cepat ke kantor lagi, urus semua ini sebagai hukumanmu. Cepat!" perintah Arthur.


William hanya bisa pasrah. Tuannya itu jika sudah kesal, tak ada waktu baginya untuk istirahat. Arthur selalu menghukumnya dengan kerja lembur jika sedang kesal dengan sang asisten.


"Baik, Tuan," ucap William lemas.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Ditempat lain, tepatnya di dalam mobil Gerald.


Mona dan Gerald mencoba berbicara dan mengakrabkan diri.


"Ehm… Kau cantik sekali malam ini, Nona," ucap Gerald di sela waktu mengemudinya.


"Tidak. Ini biasa saja. Anda terlalu memujiku, Tuan," sahut Mona yang menatap sekilas pria disampingnya.


"Aku masih penasaran, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Tapi di mana itu?" tutur Gerald sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya di setang bundar.


"Bukankah kemarin saat di mall," ucap Mona mencoba menjawab.


Namun, Gerald menggeleng.


"Tidak. Bukan kemarin, tapi sebelum itu," ujarnya.


Mona pun mengangkat sebelah alisnya.


"Ehm… apa sebelumnya Anda pergi ke Heaven valley?" tanya Mona mencoba menerka.


"Heaven valley? Apa itu?" tanya Gerald sambil menoleh sekilas ke arah Mona dan kembali fokus ke depan.


"Ehm… itu nama sebuah klub malam yang terkenal di kota ini, dan kita sedang menuju ke sana," jawab Mona.


"Ehm… yah, sekitar dua minggu lalu, saat aku baru beberapa hari di negara ini, aku diajak temanku untuk have fun di suatu tempat hiburan malam. Tapi aku tak tau nama tempat itu," papar Gerald.


"Oh…," gumam Mona menanggapi penuturan pria di sebelahnya.


Mungkin memang dia pernah melihat ku di sana. Yah... di mana lagi pria bisa melihat ku kalau bukan di sana. Mungkinkah dia salah satu pria yang pernah tidur dengan ku? batin Mona menerka-nerka.


"Ehm... oh, iya. Ngomong-ngomong, panggil aku Gerry," ucap Gerald.


"Yah, baiklah, Gerry. Panggil aku Mona," sahut Mona dengan seulas senyum di bibirnya yang merona.


"Oke, Deal. Ingat, jangan panggil aku Tuan lagi," seru Gerald.


Mona hanya mengedikkan bahunya, menanggapi seruan pria itu.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih