DESIRE

DESIRE
Bab 50



"Turunkan saya, Tuan. Hei, turunkan saya!" pekik Mona di sepanjang perjalanan dari ruangan Madame Queen menuju ke lorong cinta.


Semua teman-teman Mona yang menyaksikan pun, mulai bergosip tentang keganasan dari tamu VVIP yang sedang pelacur itu layani, berdasarkan kiss*mark yang sempat ia tunjukkan pada Marcella.


"Eh, apa benar yang kau katakan tadi?" tanya salah seorang temannya.


"Serius. Mona sendiri yang memperlihatkan dadanya yang merah-merah karena tamunya itu," sahut Marcella, yang membuat semuanya ber 'wah' ria.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sepanjang perjalanan, dari Heaven valley hingga ke apartemen The royal blossom, Mona dan Arthur saling bungkam seperti tengah terjadi perang dingin.


Mona terus memalingkan wajahnya, sedangkan Arthur fokus memandang ke depan sambil mengemudikan mobilnya.


Setibanya di parkiran The royal blossom, Mona langsung keluar, sesaat setelah mobil berhenti, bahkan mesinnya pun masih dalam keadaan menyala.


Hal itu membuat Arthur buru-buru mematikan mobilnya, dan berlari ke arah wanita yang telah jauh meninggalkannya di depan.


Ia berlari menyusul Mona yang telah berada di dalam lift, dengan pintu lift yang hampir saja tertutup.


Beruntung, tangannya sempat mencegah agar pintu itu tak tertutup rapat dan ia pun masuk menyusul Mona.


Pria itu lalu mendorong tubuh Mona, dan menghimpitnya di dinding lift.


"Apa Anda akan menghukum saya di sini, Tuan?" tanya Mona dengan tatapan menantang, mendongak ke atas menghadap langsung ke wajah Arthur.


Arthur menatap tak kalah tajam ke arah Mona. Ia pun semakin mendekatkan wajahnya, dan memiringkan kepalanya.


Mata Mona terus memperhatikan bibir Arthur yang semakin mendekat ke arahnya, membuat ia mundur hingga kepalanya menempel sepenuhnya pada dinding lift.


Terpaan nafas pria itu semakin terasa di kulitnya, dan membuat Mona mulai meremang. Namun, wanita itu terus menguatkan dirinya agar tak sampai goyah dengan hal kecil seperti itu.


Ketika bibir Arthur telah menempel di bibir Mona, pintu lift tiba-tiba terbuka, membuat pria tersebut harus menyudahi apa yang belum ia mulai.


Arthur menarik lengan Mona, dan menyeret wanita tersebut yang terseok-seok menuju ke apartemen miliknya. Secepat kilat, ia membuka pintu dengan key card dan mendorong Mona masuk ke dalam.


Ia lalu menutup pintu, dan memastikannya terkunci.


Mona masih diam, hingga Arthur kembali menarik lengannya dan menghempaskannya di atas sofa yang berada di ruang tengah.


Arthur maju dan mencengkeram kedua pipi Mona.


"Bukankah sudah ku bilang untuk baik-baik di rumah. Kenapa kau malah bermain ke klub malam itu, hah?" bentak Arthur.


"Apa saya tidak boleh mencari kesenangan saya sendri, Tuan? Anda sudah melanggar hak pribadi saya," pekik Mona yang tak kalah lantang.


"Baiklah, kalau begitu, aku pun akan meminta hak ku," tutur Arthur.


Arthur mengulurkan tangan ke samping, dan meraih sebuah tuas. Perlahan, sandaran sofa mulai turun dan membuat benda yang tadinya berbentuk tempat duduk, kini lebih mirip sebuah tempat tidur.


"Ah…," pekik Mona.


Wanita itu pun terhempas ke belakang, dan jatuh tepat di bawah Arthur yang mengungkungnya.


"Terima hukumanmu malam ini, Nona," Arthur pun memulai aksinya.


Dia berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya, sambil masih berada di atas Mona.


Ia mulai melepas gesper, untuk mengikat tangan wanita itu seperti sebelumnya. Namun, bukan Mona namanya jika dia harus masuk kembali ke dalam perangkap yang sama dua kali.


Kali ini, Arthur harus menerima serangan balasan dari Mona yang langsung membuat pertahannya runtuh.


Sentuhan bibir Mona yang melahap teripang daratnya, membuat pria itu lemah. Dia sampai merasa getaran aneh di sekujur tubuh yang membuat sendinya seolah lemas.


Sekuat tenaga dia mencoba melawan, namun rongga mulut Mona yang hangat, membuatnya mabuk kepayang. Wanita itu mendongak dan melihat ekspresi Arthur. Dia menyeringai di balik mulutnya yang penuh.


Mira melepaskan milik pria itu dan mengusapnya naik turun dengan jemari lentiknya sambil tersenyum mengejek.


Tak mau kalah, Arthur pun balas menerkam Mona. Dia turun ke bawah dan menarik lapisan tipis yang menutupi area inti wanita tersebut.


Mona memekik saat lagi-lagi Arthur menyobek pakaian d*lamnya dengan kasar. Tanpa peringatan lagi, pria tersebut langsung melahap milik Mona, dan membuat wanita itu kembali terbang ke nirwana.


Sensasi menggelitik menjalar di sekujur tubuhnya, merasakan kenikmatan yang diciptakan dari permainan lidah Arthur di dalam liangnya.


Dia terus merintih dan mendes*h, sambil merem*s rambut pria itu, membuat Arthur semakin gencar mempermainkan milik Mona.


Setelah merasakan paha Mona menegang dan muncul sensasi berkedut di bawah sana, Arthur menjauhkan wajah, dan memposisikan teripang darat monster miliknya di depan milik Mona.


Mona lebih dulu sampai pada batasnya, dan tak lama diikuti Arthur yang ditandai dengan sebuah erangan panjang, dibarengi hentakan bertubi-tubi, menabrak dinding rahim Mona. Pria itu pun ambruk di atas tubuh wanita tersebut tanpa melepas miliknya.


Setelah mencapai pelepasannya, untuk beberapa saat, Arthur masih betah berada di atas tubuh Mona, dengan kepalanya yang berada di pundak wanita itu dan masih mengendus leher jenjang Mona.


Nafas keduanya terengah engah, setelah pertempuran panas yang mereka lakukan tadi.


Mona masih memeluk kepala Arthur dengan erat, sambil sesekali mengusap lembut surai hitamnya.


Dadanya naik turun, seiring helaan nafas yang masih memburu, mencoba untuk kembali normal.


Namun, suasana tenang nan romantis setelah bercinta itu, tiba-tiba berubah gaduh, saat Mona merasakan ada yang aneh di area sensitifnya.


"Minggir. Tarik teripang darat Anda dari saya," seru Mona yang mendorong Arthur, hingga laki-laki itu pun berguling dan membaringkan dirinya di samping wanita tersebut.


Mona segera bangun, dan duduk di atas sofa yang telah menjadi kasur, sambil bersandar di dinding. Ia menekuk kakinya ke atas dan membukanya lebar-lebar. Hal itu itu sontak membuat Arthur ikut bangun dan duduk menghadap ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Arthur yang melihat Mona tengah memandangi miliknya sendiri.


Mona menyentuh pinggiran lembahnya, dan mencium lendir yang menempel di tangan.


"Kenapa ini bisa ada di sini? Apa Anda tak memakai pengaman?" tanya Mona menatap Arthur tajam.


Arthur pun menunduk dan memegangi miliknya. Dia lalu menepuk keningnya sambil nyengir kuda.


"Maaf, aku lupa." Arthur mengumbar senyum kakunya, yang langsung mendapat pukulan keras dari Mona.


"Dasar breng*sek! Bagaimana kalau saya hamil, hah?" teriak Mona sambil memukuli badan Arthur yang masih telanjang.


"Itu mudah saja. Kita tinggal nikah. Bagaimana?" jawab Arthur dengan entengnya, sambil kedua lengannya menjadi tameng dari amukan si ratu es.


"Enak saja. Memangnya bisa segampang itu, tiba-tiba menikah begitu saja. Tidak mau!" seru Mona yang masih kesal dan terus memukuli Arthur.


Namun, Arthur akhirnya bisa menangkap kedua tangan Mona yang sedari tadi memukulinya, dan kemudian menahannya.


Mona berontak, dan berusaha menarik kembali tangannya dari cengkeraman Arthur, namun pria tersebut memeganginya dengan sangat kuat.


"Dengarkan aku baik-baik. Kalau kau hamil, aku akan bertanggung jawab penuh atas dirimu dan anak yang kau kandung. Karena itu juga ada dalam perjanjian. Tapi, jika sampai kau hamil dan dengan sengaja kau menggugurkannya, maka aku tak akan segan-segan untuk membuat hidupmu lebih menderita," ucap Arthur dengan tatapan seriusnya.


"Lalu, tentang tak pakai pengaman…," tanya Mona.


"Itu juga ada dalam perjanjian. Jika sampai terjadi kontak fisik, pihak kedua boleh memakai jasa pihak pertama tanpa pengaman," potong Arthur.


"Anda bohong. Anda pasti bohong bukan! Itu semua tidak ada di dalam perjanjian. Ini pasti cuma akal-akalan Anda saja," ujar Mona yang meragukan omongan Arthur.


"Kalau tak percaya, silakan saja kau baca ulang surat perjanjian kita, Nona Mona." Arthur lalu melepaskan tangan Mona, dan kembali berbaring di sampingnya.


Mona tertegun, memikirkan perkataan dari Arthur. Tanpa sengaja, ia mengulurkan tangannya dan mengusap lembut perutnya yang rata.


Tidak. Ini tidak boleh terjadi, batin Mona sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan segera bangkit berdiri.


Arthur yang masih berbaring pun, setengah bangun, dan melihat Mona yang berlari ke arah lantai atas.


"Mau kemana kau?" tanya Arthur.


"Mandi," sahut Mona yang langsung menghilang di balik pintu kamar Arthur.


Pria itu lalu kembali berbaring, dan meraih ponsel yang ada di saku celananya. Ia membuka galeri foto, dan melihat potret dari sebuah kalender yang terdapat tanda lingkaran di salah satu tanggalnya.


"Pffffttt! Setakut itu kah kau, Lisa. Tenang, aku sudah melihat kalender mu. Sekarang, bukanlah masa subur untukmu, jadi kau akan baik-baik saja," ucap Arthur sambil menahan tawanya.


Ia kemudian bangkit, dan berjalan menuju kamarnya di lantai atas menyusul Mona, membiarkan semua pakaian mereka tergeletak begitu saja di tempat tadi.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like πŸ‘, komen πŸ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih