
"Ehm... maaf, toilet ada sebelah mana ya?" tanya Mona.
"Sebelah sana, di ujung lorong. Mari saya antar," ucap si resepsionis.
"Ah... tidak usah. Saya bisa sendiri," tolak Mona.
"Tidak apa-apa. Saya takut Anda akan tersesat, Nona," ucap si petugas itu.
Aneh. Kenapa aku merasa seperti sedang dikawal? batin Mona yang semakin curiga dengan sikap si petugas itu.
Dia pun akhirnya masuk ke dalam salah satu bilik toilet yang ada sana. Dia segera mengambil ponselnya, bermaksud untuk menghubungi Arthur.
Namun, ponselnya justru kehabisan daya, sehingga dia pun tak tau lagi harus meminta tolong dengan cara apa.
Sial! Bagaimana kalau mereka malah meminta dia ditukar sama ku, batin Mona bergidik ngeri.
Mona pernah mendengar cerita dari salah satu seniornya, jika tempat itu adalah tempat yang paling mengerikan untuk wanita, bahkan pelacur sekalipun.
Para ladies di Heaven valley, diwanti-wanti agar jangan sampai pergi ke Grand moon, apapun alasannya, setelah apa yang terjadi dengan salah satu senior mereka yang berakhir di rumah sakit jiwa yang diakibatkan oleh trauma yang berat.
Dug! Dug! Dug!
Pintu toilet tempat Mona berada di gedor dengan keras dari luar, karena dia terlalu lama berada di dalam sana.
"Nona, Anda baik-baik saja bukan. Cepatlah keluar," teriak petugas resepsionis itu.
"Ehm... iya. Tolong tunggu sebentar lagi," ucap Mona.
Dia pun lalu kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas, dan berpura-pura menekan tombol siram yang berada di atas closet.
Mona pun kemudian bersiap untuk keluar, meski rasanya dia begitu tegang memikirkan kemungkinan buruk yang bisa saja menimpanya di tempat mengerikan itu.
Ceklek!
Pintu terbuka, dan betapa terkejut Mona saat melihat beberapa pria telah berada di depan pintu toiletnya.
"Ma... mau apa kalian? Ini... ini toilet wanita bukan," ucap Mona terbata sambil melirik ke arah pintu, di mana simbol perempuan jelas tergantung di sana.
"Kami sedang menunggumu, cantik. Ikutlah bersama kami. Kita akan senang-senang malam ini," ungkap salah satu pria tersebut.
Mona mundur selangkah, karena merasa ngeri dengan tatapan para pria yang menghadangnya di depan pintu.
Terlihat si petugas resepsionis juga berada di sana, sambil tersenyum mengejek ke arah Mona.
"Selesaikan urusan kalian. Aku akan kembali ke depan," ucapnya, kemudian pergi meninggalkan Mona seorang diri.
"Tunggu! Kau mau ke mana? Hei... jangan tinggalkan aku di sini," teriak Mona saat si petugas itu menghilang di balik pintu.
Mona kembali memandang ke arah pria-pria yang berjumlah sekitar enam atau tujuh orang. Mereka mulai berjalan mendekat, tetapi Mona dengan cepat masuk dan kembali menutup pintu bilik toilet rapat-rapat dan menguncinya.
"BUKA! HEI, BUKA PINTUNYA!" teriak salah satu pria di luar.
Mona mundur hingga dia merapat ke dinding di belakangnya. Dia nampak panik. Untuk pertama kalinya, Mona merasa ketakutan saat berhadapan dengan para lelaki.
Tak bisa dipungkiri, cerita tentang Grand moon memang bak cerita horor di kalangan wanita penghibur. Sehingga, Mona yang selalu dingin dan tak berekspresipun seketika menjadi ketakutan.
Celaka. Bagaimana ini. Aku harus segera lari dari sini. Tapi bagaimana pula dengan temanku, batin Mona.
Di tengah ketakutannya, tiba-tiba saja pintu berhasil didobrak, dan dua orang pria meringsek masuk dan menyeret Mona untuk keluar.
"Lepas! Aku tidak mau ikut dengan kalian. Lepaskan aku!" pekik Mona meronta.
Wanita itu terus melakukan perlawanan. Mona sadar kekuatannya tak akan mampu melawan semua pria itu, tapi dia terus mencari cara agar bisa lepas dari mereka.
Mona terus meronta, dan akhirnya dia pun berpikir untuk menggigit salah satu lengan pria yang meyeretnya dengan keras.
"Aaaarrrgghhh...," teriak orang itu yang seketika melepaskan cengkramannya dari tangan Mona.
PLAK!
Sangkin kerasnya tamparan tersebut, Mona pun terhuyung dengan telinganya yang terasa berdengung. Dia pun mulai hilang keseimbangan, dan kembali diseret oleh pria-pria itu .
Kini, mereka telah tiba di depan salah satu kamar di penginapan. Mona masih bisa melihat dengan jelas, bahwa kamar itu bernomor 305. kamar yang sama dengan yang diberitahukan oleh temannya melalui telepon.
Ini kan... jangan-jangan…, batin Mona yang mulai curiga dengan perkataan sang teman.
Dia diseret masuk ke dalam kamar tersebut, dan seketika dilempar begitu saja di atas tempat tidur yang cukup besar.
"Ah…," pekik Mona yang terkejut karena tiba-tiba dihempaskan dengan keras.
Belum juga bisa bangun, dua orang pria maju dan memegangi kedua lengan Mona. Salah satunya nampak menggigit sebuah alat suntik, dan tengah mengikatkan tali di lengan atas wanita itu.
"Mau apa kalian? Lepaskan aku!" ronta Mona.
Dia semakin panik. Ingatannya akan kejadian lima tahun lalu, saat dia dijual oleh sang kakak, kembali terngiang.
Mona semakin ketakuatan, dan tubuhnya seketika gemetar.
"TIDAK! TIDAK! TIDAK!" pekik Mona saat pria itu menyuntikkan cairan bening ke dalam tubuhnya.
Setengah tabung cairan telah berhasil masuk ke tubuh Mona, pria itu pun mendorong wanita tersebut hingga terhuyung dan jatuh terlentang.
Terdengar suara tawa yang mengerikan keluar dari mulut para pria maniak yang telah mengelilingi ranjang tempat Mona berada.
Dosis obat yang disuntikkan kepada Mona cukup besar, hingga efeknya langsung terasa dalam hitungan waktu yang singkat.
"Panas… tolong… panas banget…," rintih Mona yang terus menggeliat di atas tempat tidur.
Seorang pria naik dan mendekati Mona yang nampak menarik-narik pakaiannya.
"Mau ku bantu, hah? Hahahaha…," serunya dengan tawa yang disambut oleh semua yang ada di sana.
Mona mencoba agar tetap sadar, namun efek obat itu sangat kuat, hingga dia tak bisa lagi berpikir waras. Sensitifitasnya semakin meningkat. Satu sentuhan kecil pun bisa membuatnya terbakar.
Satu persatu pria-pria itu maju dan menyerang Mona. Mereka melepas kain penutup tubuh wanita malang tersebut. Namun, dengan kesadarannya yang menipis, Mona terus memegangi sisa baju yang menutupi dirinya, sementara celananya telah lebih dulu lepas entah ke mana, dan menyisakan kain tipis segi tiga yang melindungi area intimnya.
Dengan kasar, mereka merobek-robek atasan yang dipakai Mona hingga semua koyak, dan tersisa separuh lengan saja.
Mona kini telah sepenuhnya berada dibawah kendali obat. Dia sudah tak mampu mempertahankan helai demi helai yang masih melekat di tubuhnya.
Tolong! Siapa pun, tolong aku, batin Mona yang terus berharap ada yang datang menolongnya.
Beberapa pria itu terus mencumbui Mona, dan meninggalkan jejak merah di kulit mulusnya.
"Tidak, jangan…," rintih Mona lirih.
"Mulutmu mengatakan jangan, tapi tubuhmu mengatakan silakan. Nona, kau munafik sekali," ucap seorang pria yang sudah bersiap di bawah sana.
Dia membuka lebar kedua kaki Mona dan menekuknya ke atas. Ia meraih kain segi tiga yang tersisa, dan hendak menariknya hingga robek.
Kak, tolong aku!
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih