
Wanita itu kemudian membaca keterangan di lembar kertas terakhir. Netranya membulat seketika kala mendapati sebuah kenyataan yang mengejutkan tentang kondisi dirinya saat ini.
Dia kembali menatap foto hitam putih itu lekat-lekat. Lingkar matanya mulai memerah, dan genangan sedikit demi sedikit terbentuk di pelupuk matanya.
"Tidak mungkin. Ini… ini pasti salah," gumamnya yang begitu lirih hampir berbisik, dengan sebelah telapak tangan yang membekap mulutnya sendiri.
Lelehan bening luruh di pipi Mona. Dia seakan tak percaya tentang apa yang ia lihat saat ini.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Di tempat lain.
Di sebuah perusahaan brand fashion ternama, nampak seorang wanita dengan mengenakan dress hijau berkerah lebar dan beraksen kotak, tengah duduk di belakang meja kerjanya dengan tatapan kesal.
"Kenapa kalian mengurus seorang wanita saja tidak pernah becus, hah," teriaknya kepada Broga, sang pengawal.
"Maaf, Nyonya. Ada dua pria yang datang dan menyelamatkan wanita itu. Bahkan setelahnya, sepasukan orang datang dan membereskan orang-orang suruhan kita. Tempat itu sekarang sudah dijaga ketat oleh aparat kepolisian. Sepertinya, penolong wanita itu bukan orang sembarangan," papar Broga.
Wanita yang tak lain adalah Valeria, istri mendiang Joshua, tak percaya jika rencana jahat yang ia rancang untuk Mona, selalu saja berhasil digagalkan seseorang.
Kurang ajar! Ku kira setelah Joshua mati, tak ada lagi yang akan melindunginya. kenapa anak Eliza itu sangat beruntung, batin Valeria.
Nampak tangannya mengepal erat, hingga kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.
Tidak… Tidak… aku tidak boleh kalah dari anak jal*ng itu. Aku harus cari tau siapa kedua pria yang menolongnya, dan menggali sesuatu yang bisa menghancurkannya, Valeria kembali berdialog dalam hati, dengan sebelah sudut bibirnya yang terangkat ke atas, membentuk sebuah senyuman yang sangat mengerikan.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Siang hari, Mona dikejutkan dengan kedatangan Elliott dan Madame Queen.
"Monaaaa!" panggil Madame Queen dengan hebohnya dan menghampiri Mona.
Wanita tua menor itu langsung memeluk ladies-nya yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidur pasien.
"Ehm… Mom, sesak. Aku tidak bisa nafas," keluh Mona sambil menepuk-nepuk punggung wanita tua itu.
Madame Queen pun mengurai pelukannya, dan menangkup kedua pipi Mona dengan keras, hingga bibir wanita itu maju karena terhimpit kedua pipinya.
"Apa kau sungguh tak apa, Hah?" tanya Madame Queen sambil membolak balikkan kepala Mona ke kiri dan kanan.
"Mum, uku tuk pupu. Kuu busu lupuskun uku sukurung," ucap Mona dengan pelafalan yang aneh, karena ulah sang mucikari.
Elliott menahan tawa saat melihat perilaku bosnya yang kekanakan, begitu pun Arthur yang gemas melihat interaksi keduanya.
"Kamu benar-benar tak apa? Hei anak muda, dia benar-benar tak apa bukan?" tanya Madame Queen kepada Mona dan juga Arthur bersamaan.
Akhirnya, Mona yang kesal dengan kelakuan bosnya pun langsung menurunkan paksa tangan yang sedari tadi menempel di pipinya.
"Mom, aku benar-benar tak apa. Kalau tak percaya, tanya saja pada dokter," keluh Mona sambil memegangi kedua pipinya yang terasa sakit karena ulah Madame Queen.
"Hah… syukurlah. Aku sangat terkejut saat tadi pagi Ell memberitahuku bahwa kau pergi ke tempat itu, Mona." Madame Queen mengusap-usap dadanya, sambil berjalan menuju sofa dan duduk di sana.
"Elliott?" ucap Mona dengan alis yang berkerut menatap heran ke arah bartender itu.
Dia menoleh ke arah Elliott, yang kini sedang tidak bertugas dan menemani bosnya berkunjung untuk menjenguk Mona.
Penampilannya sangat berbeda dengan ketika sedang berada di belakang meja bar dan meracik minuman.
Rambut gondrongnya yang khas dan selalu diikat ke atas, kali ini ia biarkan tergerai. Style-nya yang selalu memakai kemeja putih dengan lengan yang dilipat sesiku, lengkap dengan rompi ala bartender, kini cenderung lebih santai dengan kemeja biru gelap berlengan pendek.
"Kenapa melihat ku seperti itu? Aku hanya mengatakan yang ku tau saja," ucap Elliott sebelum ditanya oleh Mona.
"Darimana kau tau kalau aku pergi ke sana?" tanya Mona penasaran.
"Teman mu yang memberi tau kita bertiga," sahut Arthur sambil menyuapi Mona sesendok salad buah yang ia belikan sebelumnya bersama dengan sarapan.
"Teman? siapa?" tanya Mona kepada kedua pria itu.
"Ema," jawab Elliott yang juga duduk di sofa bersama Madame QuQueen.
"Ema?" tanya Mona terheran mendengar nama temannya itu disebut.
"Iya Ema. Dia yang memberitahu ku, Tuan Peterson, dan juga Tuan Holes kalau kau ke Grand moon …," ucap Elliott.
"Tunggu! Apa? Gerald? Gerald juga tau masalah ini?" tanya Mona semakin tak percaya mendengar penuturan ElElliott.
"Dia bahkan ikut Tuan Peterson menyusul mu ke sana," tutur Elliott.
Mona menoleh ke arah Arthur, tetapi pria itu diam dan kembali menyuapkan sesendok salad ke mulut wanita cantik itu.
"Kak, kenapa kau tak memberi tahuku kalau Gerald juga ikut?" tanya Mona.
"Untuk apa?" jawab Arthur ketus.
"Aku kan juga perlu mengucapkan terima kasih kepadanya," ucap Mona sambil menoleh ke kanan dan kirinya mencari sesuatu.
"Cari apa?" tanya Arthur datar sambil kembali menyuapi Mona.
"Cari hand phone lah. Aku mau mengucapkan terimakasih padanya ," sahut Mona.
"Hand phone mu habis baterai semalam. Masih di charge," jawab Arthur ketus.
"Ya sudah, kalau begitu tolong ambilkan." Mona pun merengek.
"Nanti saja. Makan dulu," seru Arthur yang masih saja ketus.
"Iissshhh… Kakak!" rengek Mona.
Arthur seolah tak peduli dengan rengekan wanitanya itu. Dia lebih memilih untuk terus menyuapinya hingga mulut wanitanya penuh dengan makanan, sedangkan Mona makan dengan merengut kesal.
Elliott meng*lum senyumnya sedangkan Madame Queen memijat keningnya kala melihat Arthur yang cemburu, sedangkan Mona yang sama sekali tidak peka.
Saat itu, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Semua menoleh, dan melihat jika pintu terbuka dari luar.
Nampak seorang pria datang dengan membawa sebuket bunga mawar, dan juga sekeranjang buah di tangannya.
"Selamat siang," sapanya.
"Gerald!" panggil Mona yang terlihat begitu antusias.
"Hai, Mona. Apa kabarmu?" tanya Gerald sambil berjalan menuju ke arah wanita itu.
"Sudah lumayan membaik," jawab Mona dengan senyum yang terlihat ramah.
Dia tak tau jika pria di sampingnya itu kesal bukan main melihat wanitanya begitu akrab dengan pria lain.
"Ehem... bukankah sudah ku katakan, Tuan Holes. Anda tidak perlu lagi datang kemari," ucap Arthur pada akhirnya.
"Kak," keluh Mona yang tak suka dengan sikap Arthur kepada Gerald.
"Apa?" Sahut Arthur judes.
"Isshhh... niat dia kan baik, mau menjenguk aku. Masa begitu saja tidak boleh sih, Kak," gerutu Mona.
"Hah... terserah," ucap Arthur.
Pria itu kemudian beranjak dari duduknya, dan berjalan keluar. Ia melewati Gerald dan sempat melempar tatapan tajam ke arah pria itu.
Gerald tak menanggapi. Dia pun kembali tersenyum kepada Mona dan juga kembali menyapa yang ada di dalam sana.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih