DESIRE

DESIRE
Bab 106



Mona menunggu di dalam ruang kerja Arthur, dan dia pun mulai merasa bosan. Wanita itu memilih untuk berjalan berkeliling di sekitar, sambil melihat-lihat sebesar apa perusahaan calon suaminya itu.


"Wah… dia benar-benar sultan. Aku dapat jackpot sungguhan. Hehehe…," ujarnya yang terkekeh.


Mona menuju ke ujung lorong di mana terdapat sebuah taman rooftop, tempat dulu Arthur melarikan diri saat mengetahui bahwa Gerald adalah arsitek yang akan menangani proyek eropanya.


"Hem… indah sekali di sini." Mona melangkah semakin ke tengah taman, dan berjalan menuju ke sebuah kursi yang ada di bagian tengahnya.


Mona menatap ke sekeliling. Namun, pandangan matanya terkunci melihat sesosok pria yang berdiri di ambang pintu keluar yang menuju ke arah taman rooftop tersebut.


"Siapa?" gumam Mona sambil memicingkan matanya.


Sosok itu nampak membuka tudung kepala yang sedari tadi menghalangi pandangan Mona untuk melihat lebih jelas wajah pria tersebut.


Saat pria itu telah membuka Hoodie-nya, dia pun nampak menyeringai ke arah wanita.


"Tidak!" pekik Mona tertahan saat melihat siapa orang itu sebenarnya.


Matanya membulat seketika, dan ia pun segera bangkit berdiri. Mona melihat pria itu mulai melangkah ke dalam area taman, dan semakin mendekatinya.


Wanita itu perlahan mundur, dengan tatapan yang terkunci pada pria yang terus menyeringai itu, dan membuat Mona merasa ketakutan.


Si pria misterius terus saja mendekat ke arah Mona dan betapa senangnya ia melihat wanita itu gemetar hanya dengan melihat keberadaannya di tempat tersebut.


Mona mundur, hingga dirinya tak sadar jika dia sudah sampai di pinggir pagar pembatas taman itu. Mona menoleh ke belakang, dan melihat kalau dia sedang berada di ketinggian. Wanita itu sudah tak bisa lari lagi dan terpaksa harus mengahadapi pria misterius tersebut.


"Tidak! Tidak mungkin!" gumam Mona seraya menggelengkan kepalanya.


"Heh… lama tidak ketemu ya, adik kecilku," sapa pria yang tak lain adalah Jeffrey, kakak tiri Mari.


"Ka … kau… mau apa kau ke sini hah?" tanya Mona yang berusaha menutupi kepanikannya.


Satu-satunya orang yang bisa membuat Mona ketakutan setengah mati, adalah sang kakak yang sudah tega menjualnya lima tahun silam demi membayar hutang judinya.


Padahal, saat itu harusnya menjadi saat terakhir Mona bertemu dengan sang ibu. Namun, Jeffrey dengan tega justru membuat wanita itu tak memiliki kesempatan terakhir dengan ibunya.


"Aku? ya aku ke sini hanya ingin melihat mu," jawab Jeffrey yang terus menatap tajam ke arah Mona, seolah tengah mengulitinya.


Tangan Jeffrey terulur, dan hendak menyentuh wajah Mona. Namun, wanita itu segera menepisnya dengan kasar.


"Wow… wow… galak juga sekarang kau ya, Lisa. Atau aku harus memanggilmu Mona? Seorang pelacur yang terkenal," sindir Jeffrey dengan kata yang begitu menusuk.


"Apa maumu, Kak. Kenapa kau muncul lagi di depan ku? Kau sendiri yang bilang supaya aku jangan mengganggu mu lagi. Kenapa sekarang, kau malah yang datang padaku sampai kemari?" cecar Mona yang semakin gemetar, karena Jeffrey terus melangkah lebih dekat ke arahnya.


"Aku lihat, kalau hidup mu sekarang benar-benar mewah, Lisa. Tidak salah bukan, kalau aku meminta jatah sedikit dari mu, hah," jawab Jeffrey terang-terangan.


"Gila! Kau gila, Kak. Kau tak ada hak untuk mengatur hidup ku lagi ya!" pekik Mona.


"Oh… jadi, kau lebih sayang harta mu? Kalau begitu, aku akan ambil anak yang ada di perut mu itu. Hehehehe…," ucap Jeffrey menyeringai.


Mona menatap ngeri ke arah sang kakak yang hanya berjarak kurang dari sejengkal. Matanya membulat sempurna, saat Jeffrey mengeluarkan sebuah benda dari balik jaketnya.


"Kak! Kau mau apa dengan benda itu? Kau jangan macem-macem, Kak!" teriak Mona yang ketakutan saat Jeffrey membolak-balikkan pisau yang ia pegang.


Mona semakin mundur. Namun, dia semakin menempel pada pagar dan tidak bisa lari ke manapun. Jeffrey nampak mengayunkan pisau ke perut Mona, dan tepat pada saat itu, seperti ada seseorang yang menarik wanita tersebut.


"Mona! Mona! Bangun, Mona!" panggil Arthur.


"Ehm… tidak… jangan… jangan…," gumam Mona yang tertidur di sofa ruang kerja Arthur.


Namun, saat didekati, nampak jika ia tengah mengigau. Peluh dingin bercucuran dan keningnya berkerut seperti sedang ketakutan.


Arthur pun mencoba membangunkannya.


"Mona! Mona!" panggi Arthur dengan menepuk-nepuk pipi wanita itu.


"Tidak… tidak… TIDAAAAAK!" pekik Mona yang membuatnya seketika membuka matanya.


Mona bangun. Nafasnya terdengar memburu. Degup jantungnya tak beraturan, dan keringatnya mengalir deras dari pelipisnya.


Arthur mengambilkan air minum yang ada di meja kerjanya, dan membawakan untuk Mona.


"Minum dulu," seru Arthur yang menyerahkan gelas itu ke tangan Mona.


Wanita itu pun meneguknya hingga tandas. Pandangannya kosong. Wajahnya tampak ketakutan, dan tangannya menggenggam erat gelas yang dipegangnya.


"Mona, kamu kenapa? Mimpi buruk itu lagi?" tanya Arthur yang memegangi tangan wanitanya.


Mona menggeleng. Dia menolehkan wajahnya dan menatap mata Arthur dengan berkaca-kaca.


"Kak... Aku takut," ucap Mona.


Air matanya lolos begitu saja di pipinya. Arthur pun menariknya masuk ke dalam pelukan, dan menepuk-nepuk punggung wanita itu, sambil sesekali menciumi puncak kepalanya.


"Tenanglah. Sudah ada aku. Kamu tak usah takut lagi," ucap Arthur.


"Dia… dia mau mengambil anakku!" ucap Mona dalam pelukannya.


"Tidak ada yang yang akan mengambil anak kita. Kita akan jaga dia sama, hem," sahut Arthur dengan lembutnya.


Melihat kondisi Mona yang seperti ini, Arthur pun memutuskan untuk kembali ke apartemennya, dan meninggalkan sisa pekerjaannya kepada William.


Pria itu sampai harus meminta jasa driver, karena Mona tak mau melepas pelukannya. Bahkan sepanjang perjalanan dari ruangannya hingga ke lobi kantor, Arthur menggendong wanitanya ala bridal, karena Mona ingin terus memeluk dirinya.


Sesampainya di apartemen, Arthur kembali menggendong Mona hingga ke unitnya. Dia tak mungkin menolak wanita yang terlihat begitu ketakutan tersebut.


Setelah masuk ke dalam, Arthur pun membaringkan Mona di atas tempat tidur. Namun, Mona terus memeluk Arthur hingga pria itu pun ikut merebahkan dirinya di samping si ratu es.


Mona masih tampak ketakutan. Dia terus menyembunyikan wajahnya di dalam dada Arthur.


Apa sebenarnya yang dia mimpikan? Kenapa bisa segemetar ini? batin Arthur bertanya-tanya.


Arthur mencoba menuntun wajah Mona agar mau menatapnya. Namun, wanita itu terus bersembunyi dan semakin membenamkan wajahnya dalam-dalam.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih