DESIRE

DESIRE
Bab 37



Seharian ini, Mona sangat sibuk dengan agenda perawatan tubuhnya.


Ia meminta full body service kepada Miss Donita, untuk membuatnya kembali tampil sempurna di depan sang tamu istimewa.


Mona memulainya dengan perawatan rambut. Seorang stylist memulainya dengan mencuci rambut Mona, dan kemudian mengolesi masker ke atasnya.


Setelah itu, ia menutup kepala wanita cantik tersebut dengan penutup kepala, untuk menjaga masker agar tidak berceceran kemana-mana.


Kemudian, Mona diajak ke dalam ruang spa. Ia membuka seluruh pakaian dan menggantinya dengan sebuah kemben khusus, serta cela*na dalam sekali pakai yang disediakan di tempat tersebut.


Seorang terapis memintanya untuk naik ke atas tempat tidur dan menelungkupkan tubuhnya, serta memposisikan dirinya senyaman mungkin.


Terapis itu mulai mengoles scrab ke seluruh tubuh Mona, untuk membuang sel-sel kulit mati yang membuatnya nampak kusam.


Setelah itu, barulah ia memberi pijatan dengan dibaluri minyak zaitun, untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku, karena aktifitas sehari-hari.


Selesai mendapat pijatan, Mona kemudian diminta untuk berendam di dalam bak yang berisi air dengan taburan kelopak bunga mawar, untuk membuang sisa-sisa scrub, minyak zaitun dan untuk memberi sensasi segar pada tubuhnya, serta menenangkan syaraf-syarafnya yang tegang.


Setelah dirasa cukup, Mona pun bilas dengan air bersih, lalu kemudian seorang stylist membilas rambutnya. Sesuai permintaan Mona, ia ingin agar rambutnya di-blow saja, agar terlihat lebih natural.


Selama seharian penuh, Mona menghabiskan waktu dan uangnya di tempat perawatan tubuh dan kecantikan milik Miss Donita, hanya demi tampil sempurna di hadapan tamu pentingnya malam ini.


Kini, Mona telah sampai di apartemen. Saat ia hendak masuk ke dalam, pandangannya kembali tertuju pada pintu yang berada di samping unitnya, yang selalu saja tertutup rapat.


Sedetik kemudian, Mona menggelengkan kepala, dan memijat pelipis kanannya.


"Apa yang sedang aku pikirkan?" gumamnya.


Ia lalu membuka pintu dan masuk ke dalam unitnya.


Waktu sudah sangat sore, jam menunjukkan hampir pukul 6, dan Mona harus bergegas untuk bersiap-siap pergi ke Heaven Valley.


Menurut Madame Queen, tamu pentinnya itu sangat tidak suka menunggu. Jadi, mau tak mau Mona harus sudah stand by di sana sebelum orang tersebut datang.


Mona membuka semua pakaiannya, dan menggantinya dengan bath robe, sebelum memulai ritual make up-nya.


Seperti biasa, make up bold selalu menjadi andalannya, dengan pengaplikasian eyeliner yang tebal, dan polesan lipstik yang merah merona.


"Selesai," ucapnya ketika baru saja memulas bibir seksinya dengan lipstik berwarna merah maroon.


Kemudian, Mona berjalan menuju walk in closet, dan mulai memilih baju yang akan ia kenakan. Semua bajunya nampak sangat seksi, namun terlihat kurang berkelas.


"Semuanya terlihat murahan," gumamnya.


Ia lalu teringat dengan sebuah gaun yang dibelinya di Negara K, ketika pergi bersama Joshua beberapa waktu yang lalu.


Mona mengambil sebuah paper bag yang tergeletak di sudut lemari, dan mengeluarkan isinya.


Nampak sebuah gaun berwarna hitam, dengan panjang menjuntai hingga ke tungkai kaki.


Terdapat belahan yang cukup tinggi hingga mencapai paha, dengan bagian dada yang sangat terbuka, serta tali bahu yang melingkar ke belakang leher.


"Nice," gumamnya.


Mona pun lalu membuka bath robe yang tengah ia kenakan dan menggantinya dengan pakaian tersebut.


Dengan ditambah aksesoris gelang emas dan juga cincin, serta tas hitam bertali rantai dengan warna gold, turut menunjang penampilan paripurna Mona malam itu.


Heels dengan warna senada, turut menambah kesan seksinya.


"Perfect," puji Mona pada dirinya sendiri, kala menatap pantulannya dari cermin.


Ia pun lalu bersiap untuk pergi. Seperti biasa, Mona akan memakai jasa taksi online saat pergi dan pulang kerja, agar lebih nyaman ketika dia harus pulang dalam kondisi mabuk berat, atau pasca hang over.


Mona berjalan ke luar. Ketika telah berada di luar dan mengunci pintu apartemennya, lagi-lagi pandangan matanya tertuju pada pintu di sampingnya.


"Hah…," hanya helaan nafas yang terdengar dari bibir seksi itu.


Mona merasa aneh, kenapa dirinya selalu saja menoleh ke arah tersebut, meskipun ia tak merasa menginstruksikan matanya untuk menatap ke sana.


Layaknya sebuah magnet yang selalu bisa menarik benda logam, seperti itu lah Mona yang dengan spontan menoleh ke arah apartemen milik Arthur.


Wanita itu kemudian berjalan menuju lift dan turun ke lobi, di mana taksinya telah menunggu.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Heaven valley, tempat yang selalu ramai, bahkan semakin ramai saat mendekati pagi.


Orang-orang berdatangan hanya untuk sekedar mencari hiburan dan kesenangan sesaat. Menyalurkan hasratnya yang menggebu bersama para wanita malam.


"Waw… apa ada acara spesial malam ini?" tanya Elliott saat melihat penampilan Mona yang sangat berbeda dari biasanya.


"Aku mendapatkan seorang tamu VVIP malam ini. Jadi, tentu saja aku harus terlihat lebih berkelas," ucap Mona dengan gaya sombongnya.


"Wah… VVIP lagi? Apa ini The Next Josh?" tanya Elliott.


Mona tak menyahut, dan hanya mengedikkan bahunya saja.


"Beri aku sesuatu yang ringan, seperti biasa." pesan Mona.


"Oke," sahut Elliott.


Pria itu pun lalu meracikkan sebuah minuman untuk Mona. Sesuatu yang beral*ko*hol namun tidak terlalu pekat.


"Ini mojito untukmu. Dingin dan menyegarkan," ucap Elliott sembari menyajikan minuman kepada Mona.


"Thanks," sahut Mona tersenyum.


Wanita cantik itu pun lalu menyesap minumannya, sambil menikmati suasana Heaven valley malam ini.


Netranya menangkap seorang pelanggan mabuk, yang tengah merangkul pelayan wanita yang bukan seorang penghibur.


Wanita itu merasa risih, dan mencoba lepas dari rangkulan pria mabuk tersebut.


"Ell, simpan ini untuk ku," seru Mona yang kemudian berjalan menuju bilik tempat kekacauan itu berada.


Benar saja, si pelayan wanita mulai menangis ketakutan, dengan terus berusaha lepas dari jeratan pria itu.


Mona berdiri dan bersandar pada pintu bilik, dan melipat kedua lengannya ke depan dada.


"Tolong aku," ucap si pelayan hampir tanpa suara, yang masih bisa dimengerti Mona lewat gerak bibir dan wajahnya yang mengiba.


Mona pun berjalan menghampiri si pria mabuk. Ia mulai mengalihkan perhatian pria itu agar mau melihat ke arahnya.


"Tuan, boleh ku temani Anda minum?" katanya sambil menuangkan minuman ke dalam gelas.


Pria itu pun menoleh, dan melihat kehadiran wanita cantik di sisinya. Seketika, rangkulannya pada si pelayan pun terlepas, dan beralih menyerang Mona.


Dengan isyarat matanya, Mona memerintahkan pelayan itu untuk segera pergi dari tempat tersebut.


Si pelayan pun segera pergi, dengan memegangi kemeja atasnya yang telah sedikit terbuka, akibat ulah pria tadi.


Sementara di dalam bilik, pria itu mengendus leher jenjang Mona yang halus dan wangi, hasil perawatan khusus yang akan ia persembahkan kepada tamu VVIP-nya.


"Tuan, aku sudah menuangkan minuman untuk mu. Minumlah dulu, hem," rengek Mona yang membuat pria itu tergelak.


Dia pun menyambar gelas yang tengah di pegang oleh Mona, dan meneguknya hingga tandas, lalu meletakkan gelas itu dengan keras ke atas meja.


"Ayo kita bermain, cantik," ucapnya dengan seringai serigala.


Mona tersenyum dengan sebelah sudut bibir yang terangkat.


Ketika pria itu hendak mendekatkan wajahnya ke wajah Mona, tiba-tiba saja pria itu ambruk di pundak si wanita cantik.


"Heh… game over," seru Mona sembari mendorong tubuh pria itu kebelakang, hingga ia jatuh terlentang di atas sofa.


Mona berdiri, dan membenahi gaunnya yang sempat kusut akibat ulah pria tdi.


"Hari ini, aku sangat lelah seharian melakukan perawatan demi tamu VVIP ku. Jadi, jangan coba sentuh aku sedikit pun, Tuan. Karena hari ini, hargaku sangat mahal," ucap Mona yang kemudian pergi berlalu dari tempat itu.


Mona tak menyadari, jika ada sepasang mata yang terus memperhatikan tingkahnya sedari tadi dengan tatapan dingin, dari seberang lantai dansa.


"Heh… dasar rubah licik,"


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih