DESIRE

DESIRE
Bab 74



Heaven valley.


Mona yang baru saja tiba bersama dengan Gerald, masuk ke dalam dan langsung menarik perhatian setiap pengunjung yang datang.


Rekan seprofesinya dan juga Elliott yang ada di balik meja bar pun turut memperhatikan kedatangan wanita cantik nan seksi itu.


"Ehm... maaf, Tuan Gerald...," ucap Mona.


"Gerry. Panggil aku Gerry. Bukankah tadi kita sudah sepakat sewaktu di dalam mobil," ucap Gerald.


"Oke, maaf. Maksudku Gerry, kita berpisah di sini saja. Aku ada urusan lain," ujar Mona yang tersenyum kemudian berlalu meninggalkan pria yang baru ia kenal itu.


Namun, Gerald terus memperhatikan ke mana wanita itu pergi. Bahkan, setiap orang yang menyapa pun tak luput dari perhatiannya.


"Hai, Mona. Bagaimana kabar mu? Lama sekali kau tak kemari," sapa Marcella yang kebetulan sedang berada di lantai dansa.


"Kabarku baik. Kau sendiri? Bagaimana dengan sekolah adikmu?" tanya Mona.


"Aman. Thanks untuk bantuan mu yang waktu itu," ucap Marcella kepada teman seprofesinya.


"Jangan sungkan seperti itu. Bukankah kita saling mengenal." Mereka terlihat tertawa bersama.


"Baiklah. Aku akan pergi ke tempat Elliott dulu. Bye," pamit Mona yang kemudian berlalu dari tempat Marcella berada.


Dari kejauhan, Gerald yang masih memperhatikan Mona pun tersenyum dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya, ketika melihat di mana wanita itu berada.


"Dari awal, kau memang sudah memikatku. Jadi, aku akan terus mengikutimu ke mana pun kau pergi," gumamnya.


Pria itu kemudian berjalan menuju ke bar yang ada di seberang panggung DJ. Ia duduk di sebelah wanita cantik berbaju hitam, yang selalu memikat hatinya.


"Tuan... ehm... maksudku, Gerry. Kenapa kau mengikutiku kemari?" tanya Mona yang terkejut karena pria itu terus mengikutinya.


"Hei, aku tidak ngikutin mu, Nona. Aku hanya ingin memesan minuman saja. Apa tidak boleh?" Kilah Gerald.


"Oh... baiklah. Kalau begitu silakan. Elliott ini adalah bartender terbaik di sini," ucap Mona sambil melirik sekilas ke arah Elliott.


"Benarkah?" tanya Gerald menoleh ke arah Elliott.


"Dia terlalu memuji, Tuan. Kemampuan saya biasa saja," ucap Elliott merendah.


"Ckk! Tidak perlu merendah seperti itu." Mona mencebik menyindir sikap Elliott.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memesan yang ringan saja. Aku tidak sedang dalam kondisi patah hati, jadi aku tak ingin mabuk malam ini," tutur Gerald.


"Baik, Tuan." Elliott pun mulai meracikkan minuman untuk tamunya tersebut.


"Wah... sepertinya kau sedang bahagia sekarang." Mona mengejek pria di sampingnya


"Bukankah sangat menyenangkan bisa bertemu dan berbincang bersama wanita cantik sepertimu, Mona." Gerald menatap wanita yang mempesonanya itu lekat-lekat.


"Yah... aku memang selalu menyenangkan untuk para pria. Betulkan, Ell?" Ucap Mona yang melempar tanya kepada sang bartender.


"Yah, selalu menjadi pusat perhatian," ucap Elliott yang tengah sibuk dengan racikannya.


"Wah... sepertinya, sainganku banyak juga. Apa kau sering kemari?" tanya Gerald.


"Kau terlalu terlihat baru di kota ini, Gerald." Mona terkekeh mendengar ucapan pria itu.


"Yah... aku memang baru sekitar dua minggu di sini. Bukankah sudah ku beri taukan tadi saat di mobil," jawab Gerald, bersamaan dengan Elliott yang menyajikan minuman pesanannya.


"Di mana kau sebelumnya?" tanya Mona yang semakin tertarik dengan pria asing ini.


"Aku bekerja di sebuah perusahaan yang mendesign bangunan-bangunan, hingga mengawal pembangunannya," papar Gerald.


Bagus. Sepertinya dia mulai tertarik denganku, batin Gerald senang.


"Yah, bisa dibilang begitu," sahut Gerald.


"Lalu, sedang apa kamu di sini?" tanya Mona sambil menopang kepalanya dengan kepalan tangan, sambil menatap ke arah Gerald.


"Kebetulan sedang ada perusahaan yang mencari seorang perancang bangunan, untuk proyek pembuatan pusat perbelanjaan, dan aku mengajukan diri. Sekarang sudah masuk tahap seleksi final, dan tadi sebelum bertemu denganmu, aku diberitahu jika rancangan ku terpilih," ucap Gerald.


"Wah... keren! Kalau begitu, malam ini kau harus mentraktirku," ucap Mona.


"Bukan masalah besar," sahut Gerald sambil menyesap minumannya.


"Ehm… Berarti kau sudah sering merancang-rancang bangunan? Seru sekali, pasti bisa juga membuat rumah sesuai yang kau mau," ucap Mona dengan mata berbinar.


"Yah, bisa saja. Kalau nanti aku punya seorang pendamping, akan ku buatkan rumah impian untuknya," ucap Gerald dengan tatapan lurus ke dalam manik hitam Mona.


Interaksi kedua orang itu pun, tak luput dari perhatian Elliott yang sedari tadi berada di dekat mereka berdua.


Tanpa mereka sadari, ada orang lain juga yang tengah menyaksikan kedekatan Mona dengan Gerald. Orang itu tampak mengepalkan tangannya ketika melihat hal tersebut.


"Menyebalkan," gumamnya yang kemudian berbalik dan pergi dari sana.


Sementara itu, Gerald dan Mona mulai terlihat begitu akrab berbincang seputar kehidupan masing-masing. Namun, lebih banyak Mona yang menanyakan seputar Gerald, dan selalu mengalihkan topik ketika menyinggung dirinya.


"Wah... benar kah kau sudah pernah pergi keliling dunia? Itu sangat menyenangkan. Kau tau, aku ingin sekali bisa pergi kemana pun yang aku mau. Bertemu banyak orang yang tak mengenal ku," tutur Mona.


"Benarkah? Kalau begitu, ikutlah dengan ku saat aku kembali ke Paris nanti," ucap Gerald.


"Terimakasih, Gerry. Tapi aku tidak yakin bisa pergi. Ada yang masih harus ku urus di sini," sahut Mona.


Terdengar sebuah kekecewaan ketika Mona mengatakan hal itu, dan Gerald pun menyadarinya.


Pria itu mengulurkan sebelah tangannya, dan menyentuh pundak Mona. Ia mengusapnya lembut seakan menenangkan hati wanita cantik itu.


"Tidak perlu terburu-buru. Aku juga masih lama berada di sini. Mungkin kau bisa mempersiapkannya dari sekarang, kalau kau mau," ucap Gerald.


Mona pun tersenyum mendengar kata-kata pri itu.


"Kau benar, Gerry. Tidak perlu terburu-buru. Semua bisa diusahakan," ujar Mona.


Mereka berdua terlihat begitu akrab, hingga membuat seseorang yang baru saja tiba di tempat hiburan malam tersebut terlihat emosi.


Orang itu berjalan dengan cepat menuju ke arah bar, di mana Gerald dan Mona berada.


Begitu sampai di sana, dia langsung menyingkirkan tangan Gerald yang masih berada di atas pundak mulus Mona dengan kasar. Tatapannya tajam, dengan rahangnya yang mengeras.


Elliott yang sedari tadi sibuk dengan urusannya pun, terkejut dengan kehadiran orang itu.


"Jangan sentuh wanitaku!"


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih