DESIRE

DESIRE
Bab 38



Mona terlihat berjalan kembali ke arah bar Elliott, dan duduk dengan anggun pada salah satu kursi di depannya.


"Ell, tolong ambilkan minuman ku," pinta Mona.


Elliott pun mengambilkan mojito yang sempat dititipkan oleh Mona tadi kepadanya.


Wanita itu pun lanjut menikmati minuman segarnya tersebut, sembari memandang ke segala penjuru Heaven valley.


"Mona," terdengar suara seseorang yang memangilnya.


Dia pun sontak menoleh. Rupanya sudah ada seorang ladies berdiri di belakang.


"Ehm… ad apa?" tanya Mona kepada teman sesama ladies-nya.


"Mommy mencari mu. Dia bilang, tamu mu sudah dateng, dan menunggu di ruangannya sejak tadi," seru sang ladies.


"Benarkah? Celaka, aku terlambat," Mona buru-buru menyesap mojitonya hingga tinggal sedikit, lalu segera bergegas menuju lantai atas.


Orang yang sedari tadi memperhatikan Mona, kini bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari tempat hiburan malam itu.


Mona menyusuri lorong dan berpapasan dengan Shasa. Dia baru saja keluar dari salah satu kamar panas, yang berjejer di sepanjang lorong tersebut.


"Hai, Sha," sapa Mona.


"Oh… hai, Mona." Sisi nampak gugup ketika melihat kehadiran Mona di sana.


Entah kenapa, Mona pun merasa aneh dengan gelagat temannya yang tak biasa itu.


"Sha, kau kenapa? Sakit?" tanya Mona.


Shasa adalah salah satu teman yang sangat dekat dengan Mona. Dia masuk ke Heaven valley selang enam bulan dari Mona. Bisa dibilang, dia adalah junior dari wanita dingin itu.


Shasa selalu saja menempel pada Mona, diawal-awal masa debutnya di tempat Madame Queen. Mona tidak mempermasalahkannya sama sekali, selama ladies tersebut tak mengusik urusan pribadinya.


"Ehm… tidak. A... aku... aku baik-baik saj. Mungkin hanya terlalu lelah," sahutnya dengan senyum yang sangat jelas terlihat dipaksakan.


"Kalau sakit, lebih baik minta libur dulu saja. Atau mau ku bantu katakan pada mommy? Kebetulan aku juga mau ke atas." Mona menawarkan bantuan.


Namun, Shasa nampak enggan.


"Tidak perlu. Aku... aku baik-baik saja. Ya sudah, aku ke sana dulu," ucap Shasa yang lalu berjalan pergi.


Mona memperhatikan wanita dengan pakaian seksi itu, berjalan menjauhi dirinya. Langkahnya jelas terlihat lunglai, seperti tak bersemangat.


"Sudahlah. Kalau memang tidak mau cerita ya jangan paksa," gumam Mona pada diri sendiri, sembari mengedikkan bahunya.


Wanita cantik dan molek itu pun melanjutkan perjalanannya menuju lantai dua, di mana Madame Queen dan tamu istimewanya telah menunggu.


Sesampainya di depan pintu kantor sang mu*ci*kari, Mona mengetuk pintu terlebih dulu sebagai bentuk sopan santun, agar mendapat kesan baik dari tamunya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk," seru Madame Queen dari dalam ruangan.


Mona pun membuka pintu, dan melangkah masuk ke dalam. Tak lupa ia kembali menutupnya, dan berjalan dengan meliuk-liukkan tubuhnya yang begitu menggoda, mengibarkan baju bagian bawahnya yang memperlihatkan belahan tinggi dan memampangkan kaki jenjangnya.


Di dalam sana, ia melihat Madame Queen tengah duduk di sofa single yang menghadap ke arah pintu, dan di seberang wanita tua itu, hadir seorang pria yang tengah duduk membelakangi Mona.


Pria yang kemungkinan besar adalah calon tamunya, terlihat begitu rapi dengan memakai setelan jas hitam, lengkap dengan dasi dan sepatu pantofel.


Aneh. Dia ingin mem-booking-ku, atau mau mau pergi bekerja? Kenapa dia rapi sekali? Jangan-jangan, dia adalah orang yang kaku, batin Mona yang menilai sekilas pria itu dari penampilannya.


Mona kini telah sampai di depan Madame Queen, dan berdiri tepat di samping pria yang tengah duduk santai itu.


"Mommy memanggilku?" tanya Mona dengan suara yang dibuat selembut mungkin.


"Mona, kenalkan ini adalah Tuan William Herschel. Beliau ini yang akan mengantarkan mu kepada tamu VVIP kita," seru Madame Queen.


Mona menoleh ke arah pria itu, dan memiringkan kepalanya dengan tatapan menyelidik.


Jadi bukan dia? Tapi kenapa tidak asing? Seperti pernah melihatnya. Tapi, di mana? batin Mona.


"Halo, Nona Mona. Perkenalkan, saya William Herschel. Anda bisa memanggil saya dengan William. Saya yang ditugaskan untuk menjemput dan mengantarkan Anda ke tempat bos saya berada." William pun berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Mona.


Wanita cantik nan seksi itu pun menjabat tangan yang terulur ke arahnya.


Ternyata benar, bukan pria balok ini yang akan menjadi tamu ku? Syukur lah, batin Mona.


"Nyonya, bisa saya membawa Nona Mona ini sekarang? Tuan saya sudah menunggu sejak tadi," ucap William setelah melepas tautan tangan mereka.


"Yah, silakan," jawab Madame Queen.


"Mari, Nona." William mempersilakan Mona untuk berjalan mendahuluinya.


"Jaga sikapmu, Sayang. Layani tamu kita dengan baik," pesan Madame Queen.


"Baik, Mom." Mona pun melangkah pergi meninggalkan wanita tua menor itu, dan diikuti oleh William yang berada tak jauh di belakangnya.


Mereka berjalan menuju ke pintu belakang, di mana sudah ada sebuah mobil sedan hitam yang tengah terparkir di sana.


William berjalan mendahului Mona, dan membukakan pintu belakang mobil untuk wanita cantik itu.


"Silakan, Nona." William mempersilakan wanita cantik itu masuk.


Mona pun segera mengikuti perkataannya, dan duduk dengan tenang di dalam sana.


William malam ini berperan sebagai pemandu dan juga supir pribadi, di mana dia akan mengantarkan Mona ke tempat pertemuannya dengan sang tamu istimewa, serta memberikan penjelasan-penjelasan tentang hak dan kewajibannya selama masa kerja sama ini.


"Nona, silakan Anda bisa baca-baca isi surat kontrak yang akan mengikat Anda selama masa kerja sama dengan bos saya," ucap William sambil memberikan sebuah berkas sekitar sepuluh lembar, dengan banyak poin-poin di dalamnya.


"Sebanyak ini? Apa ini semua aturan yang harus ku patuhi?" tanya Mona.


"Selain peraturan, di situ juga ada hak Anda yang akan dipenuhi oleh bos saya," jelas William.


"Oh… baiklah." Mona membaca-baca sekilas namun tak semuanya.


William lalu mulai menyalakan mesin mobil, dan melajukannya membelah jalanan ibu kota yang begitu ramai.


Di sisi lain, Mona yang diminta untuk mempelajari baik-baik surat perjanjiannya dengan sang tamu istimewa, justru hanya membaca di lembar pertama saja, dan itu pun tak seluruhnya. Ia sangat malas untuk membaca tulisan dengan font 12 yang sangat banyak itu.


"Hah… di mana aku harus tanda tangan?" tanya Mona.


William mengintip dari kaca spion, dan melihat jika Mona hanya membolak balikkan lembar demi lembar kertas-kertas tersebut.


"Apa Anda sudah membaca semuanya dengan benar?" tanya William memastikan.


"Yah… aku rasa semua surat perjanjian atau kontrak itu sama saja. Aku harus menuruti perkataan orang yang memiliki uang, dan mereka akan memberikan bayaran yang besar. Benar bukan?" jawab Mona sarkas.


Hem… rupanya ini wanita yang selalu mengusik pikiran Tuan muda. Pantas saja... dia ini memang terlihat berbeda dengan wanita-wanita lain yang selalu merayunya, batin William.


"Anda silakan membubuhkan tanda tangan di lembar terakhir, tepat di atas nama Anda," ujar William.


Mona pun lalu membuka lembar terakhir, dan di sana sudah ada materai yang tertempel di kolom tanda tangannya.


Tanpa pikir panjang, Mona pun segera membubuhkan tanda tangan di atas materai itu, yang menandakan jika surat perjanjian dan kontak itu sah secara hukum.


Mona lalu meletakkan setumpuk kertas tersebut beserta pulpen yang diberikan William tadi di sampingnya, dan kembali melakukan kebiasaannya, di mana wanita itu akan memandang ke arah luar mobil dan menikmati pemandangan malam kota metropolitan.


"Kita akan ke mana, Will? Boleh aku panggil 'Will' saja?" tanya Mona.


"Tentu, Nona. Kita akan pergi ke sebuah restoran. Bos saya sudah menunggu Anda di sana untuk dinner romantis berdua," tutur William.


"Baiklah. Memang perlu mengisi perut sebelum bertempur di atas ranjang," gumam Mona lirih.


Sayup-sayup, William mendengar hal itu dan hanya tersenyum tipis.


Untuk ukuran seorang pe*la*cur, dia benar-benar sangat dingin. Pantas saja bos merasa tertantang, batinnya lagi.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih