DESIRE

DESIRE
Bab 109



"Lalu, kenapa kau terus mengatakan kalau dia sudah kembali? Memang siapa dia? Dan kembali dari mana?" tanya Arthur yang semakin penasaran.


Seketika, Mona membuka matanya. Dia kembali teringat dengan sosok yang mirip Jeffrey, yang mengawasinya saat berada di taman rooftop kantor Arthur.


Tanpa terasa, rangkulannya berubah menjadi cengkeraman yang membuat pria itu merasa kesakitan.


"Awwww… Mona. Kenapa kamu merem*s lenganku?" pekik Arthur yang merasa sakit akibat tindakan Mona yang di luar kendali.


"Em… ma… maaf, Kak. Aku tak sengaja," ucap Mona.


Wanita itu hendak berdiri, namun segera ditahan oleh lengan Arthur yang kembali melingkar di perut wanita itu.


"Mona, kau percaya padaku kan? Apapun masa lalumu, aku akan tetap menerima mu, hem," ucap Arthur.


Dia meletakkan dagunya di ceruk leher Mona, hingga membuat wanita itu sempat merasa geli. Namun, kecemasannya mengusir semua rasa yang lain.


"A… aku… aku benar-benar tak apa, Kak." Mona nampak gemetar hanya dengan memikirkan Jeffrey yang bisa saja telah kembali dan akan mengusik hidupnya lagi.


Arthur melepaskan pinggang Mona, dan meraih kedua pundak wanita itu. Ia menghadapkan si ratu es tepat ke arahnya.


Pria itu mengamati setiap jengkal lekuk wajah Mona dan jelas terlihat ketakutan di sana. Tak ada lagi ceria dan tingkah nakal yang selama ini dia tunjukkan.


"Mona, aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu. Aku akan diam jika itu memang tak begitu serius. Tapi, aku melihatmu sangat cemas karena hal ini," ucap Arthur dengan tatapan yang menghujam Mona.


Bibirnya terasa kelu untuk mengungkapkan apa yang menjadi kegelisahannya tersebut. Dia hanya ingin meyakinkan dirinya jika semua itu hanya bayangannya saja.


"Mona, katakan siapa 'dia' yang sudah kembali itu?" desak Arthur.


Mona menatap lurus ke arah manik mata Arthur yang hitam. Terlihat jelas kekhawatiran di sana yang bisa ia rasakan.


"Di… dia… ka… Kak Jeffrey, Kakak tiriku," ucap Mona pada akhirnya.


"Jeffrey? Kakak tiri?" tanya Arthur yang terus mencari tau.


"Ehm… dia lah orang yang sudah menjualku lima tahun lalu demi untuk membayar hutang judinya," jawab Mona.


Arthur terus mengejar mata Mona yang berlarian ke sana kemari. Wanita itu benar-benar merasa cemas. Hanya dengan menyebutkan namanya saja, sudah mampu membuatnya ketakutan.


Kakak tiri? Jadi, dia selama ini punya saudara tiri? Lalu, ke mana orang itu? Kenapa membiarkan Lisa hidup sendirian? tanya Arthur dalam hati.


Arthur menuntun kepala Mona untuk kembali bersandar di dadanya, dan kedua lengannya saling menautkan selimut agar kembali menutupi tubuh mereka.


"Di mana dia selama ini?" tanya Arthur.


Mona menggeleng pelan.


"Aku tak tau, Kak. Dia tiba-tiba menghilang setelah hari itu. Bahkan, saat pemakaman ibu pun, dia sama sekali tidak terlihat," ucap Mona.


Arthur bisa merasakan jika wanita yang ada dalam dekapannya itu gemetar. Isaknya terdengar lirih dan tertahan. Pria itu pun mengeratkan pelukannya pada si ratu es yang tengah rapuh saat ini.


"Lalu, dari mana kamu tau dia sudah kembali?" tanya Arthur.


Mona menghentikan tangisnya dan menyisakan isakan kecil.


Apa aku beritahu saja ya, kalau aku bertemu Kak Jeffrey di kantornya? batin Mona.


Karena tak kunjung mendapat jawaban, Arthur pun kembali bertanya.


"Apa lewat mimpimu?" tanya Arthur lagi.


"Ehm… benar, lewat mimpi," Mona menyahut seolah diberi pilihan jawaban oleh Arthur.


Sebaiknya, aku rahasiakan saja dulu. Aku juga belum yakin kalau itu dia. Semoga saja aku salah orang, batin Mona.


Arthur melonggarkan pelukannya, dan membuat Mona menegakkan duduknya. Mereka pun saling tatap.


Pria itu nampak membingkai wajah Mona yang masih terlihat cemas, dengan tatapan yang begitu lembut dan menenangkan. Senyumnya pun membuat Mona sedikit bisa bernapas karena merasakan keberadaan Arthur yang bisa diandalkan di sisinya.


"Kamu tenang yah. Aku tau mimpimu itu selalu membuat mu gelisah. Jadi mulai sekarang, kau hanya boleh memimpikan ku saja. Mengerti," ucap Arthur.


Meskipun terdengar konyol, tapi perkataan Arthur mampu menenangkan hati Mona.


Arthur pun kemudian mengecup kening Mona, lalu turun ke kedua mata wanita itu, menyesap jejak aliran bening yang ada di pipinya, dan berakhir di bibir ranum Mona.


Si ratu es dengan sendirinya, melingkarkan lengannya di leher Arthur. Dia membuka mulutnya, dan ******* bibir bawah pria itu, hingga kecupan tadi berubah menjadi ciuman yang hangat dan dalam.


Mereka pun saling menyesap manisnya rasa kasih yang tercurah. Arthur mendobrak barisan gigi putih Mona dengan lidah, mengajak wanita itu untuk ikut membelit di dalam sana.


Mona merem*s rambut belakang Arthur, seiring pagutan mereka yang semakin lama semakin liar.


Arthur pun tak bisa menahan tangannya untuk tetap diam. Dia telah menjalar ke depan, menelusup ke dalam kaus dan menangkup buah dada Mona yang tak memakai penutup, lalu mengusapnya dengan lembut dari balik kausnya.


"Eeehhhhmmmm…," l*nguhan terdengar dari mulut Mona yang penuh dengan bibir Arthur.


Arthur menarik pelan ujung mungil itu, dan membuat Mona semakin merintih di sela pagutannya.


Pria itu pun meninggalkan bibir seksi itu, dan membiarkannya terbuka karena sentuhan yang ia ciptakan di puncak bukit sintal Mona. Dia pun menyusuri leher jenjang nan mulus itu, sambil sesekali menyesap dan meninggalkan jejak merah di sana.


"Aaaahhhhh… Kak…," des*h Mona, saat merasakan rem*san di buah dadanya.


"Apa sudah tanya Dokter Stella, hem?" tanya Arthur dengan suara serak, karena susah payah menahan h*sratnya.


"Eeehhhmmmm… belum, Kak… Aaaaaahhhhh…," sahut Mona yang kembali mendes*h karena ulah tangan Arthur yang masih bertengger di puncak.


"Kenapa, Mona? Aku sangat merindukanmu. Apa kita tidak bisa melakukannya sama sekali," bujuk Arthur yang terus menjil*ti cuping telinga Mona, hingga wanita itu menggeliat geli dengan sensasi yang menjalar hingga ke pangkal pahanya.


"Eeeehhhhmmmm… bisa saja… aaaahhhhhh…asal pelan-pelan…," jawab Mona yang juga mendambakan lebih dari sekedar sentuhan.


Arthur nampak menyeringai. Dia pun seketika melepas tangannya dari dua bulatan padat itu, dan mengangkat Mona, membawanya masuk ke dalam.


Dia merebahkan Mona di atas ranjang, dan kembali memagut bibir ranumnya hingga terasa kebas.


Arthur menarik ke atas kaus yang dipakai Mona, dan melepas sesaat pagutannya untuk meloloskan benda itu dari tubuh si ratu es.


Dia pun kembali menyesap bibir yang nampak pucat namun begitu memabukkan, dan dengan cepat melepaskan celana tidur yang ia pakai, hingga tersisa underwear-nya saja.


Mona pun membantu prianya untuk membuka kancing piyama yang dipakai Arthur hingga semua terlepas, dan membuat perut kotak-kotaknya terpampang jelas di hadapannya.


Arthur melepas pagutannya dan memandangi wajah Mona yang telah memerah, dengan tatapan sayu, dipenuhi kabut g*irah.


"Apa aku boleh mulai?" tanya Arthur memastikan wanitanya siap.


Namun, Mona yang sudah dipenuhi h*sratnya, tak mampu lagi menjawab. Dia hanya menatap Arthur sambil menggigit bibir bawahnya, dan beralih menatap sesuatu yang masih terbungkus di antara selangk*ngannya.


"Aku anggap itu jawaban 'ya', Sayang. Bersiaplah," ucap Arthur dengan seringainya.


Arthur dia pun melepas penutup terakhir di tubuh mereka, lalu turun dari atas Mona. Wanita itu mengubah posisinya hingga memunggungi prianya.


Arthur berbaring dengan posisi yang sama, dan menempelkan dadanya ke punggung Mona. Ia mengangkat sebelah kaki Mona dan menumpukannya ke atas pinggul, dan mengarahkan monsternya ke milik Mona.


"Eehhhhhhmmm… pel… aaaan… kaaaak… aaaaahhhhh…," ucap Mona saat merasakan teripang monster Arthur mulai melesak masuk sedikit demi sedikit.


"Eeehhhhmmmm… ini sangat sempit, Sayang… Aaahhhh…." Arthur terus mendorong miliknya hingga bisa masuk sepenuhnya ke dalam lembah Mona yang telah basah.


Ia membenamkan bibirnya di pundak wanita itu, sambil sesekali memberikan hisapan dan meninggalkan jejak cintanya.


Suara-suara indah menggema dan saling sahut di antara keduanya, kala Arthur mulai memacu miliknya di dalam Mona.


Kedua tangan Arthur menyusup ke depan, dan menangkup kedua gunung itu, lalu merem*snya hingga Mona semakin menggila dibuatnya.


"Eehhhhhmmmm… kak…,"


Arthur semakin liar, saat miliknya terasa terjepit di antara b*kong sintal Mona yang membuat ingin mempercepat gerakannya, namun ditahan oleh Mona.


"Pelan, Kak… aaaahhhh… pelan …," seru Mona di tengah des*hannya.


"Maaf, Sayang. Ini terlalu nikmat hingga aku lupa… uuuugggghhhh…," sahut Arthur yang kembali melambatkan ritmenya.


Pria itu melepas salah satu gunung kembar Mona, dan merayap ke bawah. Ia mengusap lembut perut rata wanitanya, dan masuk menelusup ke celah lembah yang basah.


Dia menemukan buah kecil yang terjepit di sana, dan memainkannya dengan jemarinya. Mona semakin merintih-rintih merasakan nikmat yang tiada tara.


Kakinya menegang, dan membuat Arthur merasa semakin terjepit oleh lembah Mona.


"Kak… aaaahhhhh… aku… aku… eeeeehhhhhmmm…," ucap Mona yang sudah melayang ke nirwana.


"Lepaskan, sayang. Lepaskan… aaaaarrrrggggh…," sahut Arthur.


Mona semakin menegang, seiring jemari Arthur yang makin liar memainkan buah mungil di antara lembahnya itu.


"Aaaahhhhhhh…," Mona pun sampai pada puncaknya, seiring denyutan yang terasa semakin merem*s monster Arthur, dan membuat pria itu memacu sedikit kencang, hingga ia pun menegang dan sampai pada puncaknya.


"Aku datang, Sayang… aaaarrrrgghhhh… aaaarrrgghhh… eeeeeeehhhhmmm…," Arthur menciumi tengkuk Mona yang berkeringat, dan menyingkirkan rambut wanita itu dari leher jenjangnya.


Dia kemudian memeluk Mona dari belakang dan menetralkan degupan jantungnya yang begitu kencang.


Begitu pun Mona. Napasnya memburu, dan membuatnya sulit menelan saliva karena mulutnya terbuka sedari tadi selama mereka bercinta.


"I love you, mommy-nya lil baby," ucap Arthur.


"Me too, honey," sahut Mona.


Arthur menarik selimut yang ada di kakinya hingga bisa diraih tangannya dan menarik benda tersebut hingga menutupi tubuh keduanya. Mereka berdua pun terkulai lemas bersama, dan kembali terlelap di pagi yang cerah itu.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih