
Matahari semakin merangkak naik. Kini, Mona tengah menyiapkan sarapan di dapur, sedangkan Arthur masih bersusah payah memakai pakaiannya di lantai atas.
"Benar tidak mau ku bantu, Kak?" tanya Mona yang berteriak dari bawah.
"Tidak usah," sahut Arthur.
Mona pun kembali menyibukkan diri di dapur, sambil menunggu Arthur selesai berpakaian. Wanita itu masih memakai pakaian pria tersebut, karena dia belum pulang ke apartemennya sejak semalam.
Dengan rambut yang masih setengah basah, Mona berkutat di dapur sejak tadi menyiapkan beberapa menu sarapan sederhana yang biasa ia buat.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Arthur datang dan memeluknya dari belakang, membuat Mona hampir menjatuhkan spatula yang tengah ia pegang.
"Kak, kau ini mengagetkanku saja," gerutu Mona.
"Ehm… maaf," ucap Arthur sambil meletakkan dagunya di pundak wanita cantik itu.
Mona kembali fokus memasak, dan mengabaikan Arthur yang memeluknya dengan posesif, sambil sesekali menciumi leher jenjangnya.
Tiba-tiba, Mona tertegun dan menghentikan gerakannya. Ia teringat kembali akan kenangannya bersama Joshua.
Arthur yang menyadari keanehan Mona pun, lalu menegakkan badannya dan menyentuh pundak wanita itu.
"Kau kenapa, hem?" tanya Arthur dengan lembut, sambil membalikan badan Mona agar menghadap ke arahnya.
Ia melihat jika wanita itu tampak muram kembali. Arthur segera mematikan kompor yang menyala, dan mengajak Mona untuk duduk di kursi yang berada di meja makan.
Arthur berlutut di depan Mona, sambil menggenggam kedua tangan wanita itu. Ia menatap wajah cantik Mona yang pias tanpa sapuan make up sedikit pun.
"Ada apa, Mona. Apa aku berbuat salah lagi?" tanya Arthur yang terus memandang wajah cantik di hadapannya.
Mona menggeleng pelan. Dia mengerjap-kerjapkan mata agar genangan di pelupuk matanya tak luruh.
"Aku… aku hanya teringat dengan Josh, Kak." Mona masih menutup matanya, dan sesekali menghela nafas berat.
Arthur bangkit berdiri dan memeluk Mona dari samping. Ia menepuk-nepuk lembut punggung wanita itu.
"Aku tau kalian telah bersama cukup lama, dan pasti sudah banyak hal yang kalian lakukan berdua," ucap Arthur.
Pria itu lalu mengurai pelukannya dan membungkuk, mensejajarkan kepalanya dengan Mona, kemudian menangkup kedua pipi wanita itu.
"Tapi, sekarang ada aku di sini. Kita bisa lakukan banyak hal bersama mulai saat ini, dan menggantikan semua kenanganmu dengan Tuan Chou. Aku sangat yakin, dia tak akan keberatan dengan hal ini," ucap Arthur.
"Apa aku berhak hidup bahagia, setelah apa yang terjadi dengannya?" tanya Mona yang masih menyalahkan dirinya perihal kematian pria tua malang itu.
"Mona, Tuan Chou mengorbankan dirinya, semata-mata agar kau bisa tetap melanjutkan hidupmu, bukan untuk membuatmu merasa bersalah seperti sekarang ini. Dia akan bahagia di sana, kalau kau juga bahagia."
"Tapi, kalau kau masih terus bersedih dan menyalahkan diri begini, dia pasti menyesal telah meninggalkanmu. Apa kau mau dia pergi tidak dengan tenang, hem?" ucap Arthur mencoba memberi pengertian kepada Mona.
Mona nampak tersenyum tipis mendengarkan perkataan Arthur, bak mentari yang mengusir awan hitam.
Dia yang beberapa hari ini terus muram dan meratapi kematian Joshua, kini bisa ceria kembali karena ada Arthur yang selalu peduli dan berada di sampingnya.
"Kau benar, Kak. Terimakasih," ucap Mona dengan senyum yang semakin mengembang di bibirnya, meski air mata sempat lolos dari sudut matanya.
Arthur mendekatkan wajahnya ke wajah Mona, dan menempelkan kening mereka. Nafas keduanya saling beradu dan menerpa kulit masing-masing.
"Kau harus ingat, ada aku yang selalu ada di sampingmu. Mengerti?" seru Arthur.
"Ehm…," Mona mengangguk pelan, dan mereka pun saling tersenyum.
"Baiklah. Sekarang kau duduk saja di sini, biar aku yang melanjutkan memasak," ucap Arthur yang kembali berdiri tegap di hadapan Mona.
"Tidak perlu. Aku ingin membantu mu juga, Kak," ucap Mona yang juga berdiri dari duduknya.
"Ya sudah. Ayo," ajak Arthur.
Keduanya pun menyelesaikan acara memasak yang sempat terhenti, dan melanjutkannya dengan sarapan bersama di apartemen Arthur.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Pagi hari di tempat lain, tepatnya di sebuah ruangan bercat putih dan interior serba gold yang menunjukkan sebuah kesan mewah, nampak seorang wanita cantik tengah duduk bersandar di head board, dengan mengenakan gaun malam seksi, ditemani oleh seorang pria yang tengah tertidur dalam posisi tengkurap, dengan bertelanjang dada dan bagian bawah yang tertutupi selimut.
Wanita itu nampak tengah memegangi segelas sampanye, dengan sebelah tangannya yang mengusap-usap kepala si pria yang tertidur itu.
"Maaf, Nyonya. Ini saya, Broga," ucap orang yang mengetuk pintu.
"Masuklah," perintah si wanita tadi
Pria bernama Broga itu pun masuk, akan tetapi segera memalingkan wajahnya kala mendapati sang majikan tengah berpenampilan seksi, dengan di temani oleh seorang pria.
"Ada apa? Apa ada kabar dari pengacara pria tua itu?" tanya si wanita itu sambil menyesap sampanye di tangannya.
"Maaf, Nyonya. Kami belum berhasil menemukan keberadaan pengacara Tuan Chou. Kemungkinan, dia sekarang tidak berada di dalam negeri," tutur Broga.
Wanita cantik yang tengah berpakaian seksi itu tak lain adalah istri mendiang Joshua, Valeria.
Wanita yang selalu menghangatkan ranjangnya dengan di temani pria-pria penghibur, dan bukan suaminya sendiri.
"Sejak kapan kerja kalian jadi tidak becus begini, hah? Aku tidak mau tau, segera temukan keberadaan pengacara itu," perintah Valeria, sambil kembali menyesap minumannya.
"Baik, Nyonya," sahut Broga.
"Lalu, bagaimana dengan pela*cur itu?" tanya Valeria.
"Dia sekarang berada di sini, Nyonya," jawab Broga.
"Bawa dia masuk. Aku ingin bicara dengannya secara langsung," perintah Valeria.
Broga pun berbalik, dan berjalan keluar. Tak lama kemudian, dia kembali bersama seorang wanita yang terlihat ketakutan.
"Ini dia orangnya, Nyonya," ucap Broga.
Valeria menoleh, dan menatap lurus ke arah wanita yang datang bersama Broga itu.
"Jadi, kau orangnya. Bagaimana kabar ibumu? Aku dengar, dia akan segera dioperasi akhir pekan ini. Benar begitu?" tanya Valeria yang turun dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju ke arah wanita asing tersebut.
Tubuhnya yang hanya terbalut pakaian tipis yang cenderung menerawang, membuat Broga terus memalingkan wajahnya dan tak berani menatap sang nyonya.
Valeria terus berjalan mendekati wanita itu, dan kini telah berdiri di hadapannya. si wanita asing terus menunduk karena merasa terintimidasi oleh Valeria.
"Lakukan tugasmu sebelum akhir pekan. Kalau tidak, ibumu tidak akan pernah bisa dioperasi, dan dia… akan mati." Valeria membuat wanita itu sontak berlutut.
"Saya mohon, Nyonya. Beri saya kesempatan sekali lagi. Saya janji, saya akan lakukan apa yang Anda perintahkan," ucapnya sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya didepan wajah sembari memohon.
Valeria membungkukkan badan, dan mendekatkan wajahnya ke wajah si wanita itu.
"Kalau begitu, cepat lakukan sesuai apa yang aku perintahkan. Pastikan, kalau anak pela*cur itu hancur... sehancur hancurnya. Mengerti!" ucap Valeria kepada wanita asing tersebut.
Wanita itu mendongak, dan berhadapan langsung dengan wajah licik Valeria. Dia ragu untuk melakukan hal tersebut. Dia bahkan sempat menolaknya karena takut.
Namun keadaannya yang sangat mendesak dikarenakan kondisi sang ibu semakin menurun, membuatnya mau untuk menerima tugas mengerikan itu.
"Ba… baik, Nyo… nya," ucapnya terbata.
"Bagus," seru Valeria.
Wanita cantik nan licik itu lalu kemudian kembali menegakkan badannya, dan berjalan menuju ke ranjang.
"Bawa dia pergi," ucapnya sambil naik ke atas tempat tidur.
Broga pun melakukan tugasnya membawa pergi wanita asing itu, dan meninggalkan Valeria kembali berdua dengan pria yang tengah terbaring.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih