
"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali." Arthur kemudian keluar dengan membawa botol air mineral yang tersisa.
Mona menoleh ketika pintu baru saja tertutup, dan memandangi kepergian pria itu. Matanya membulat kala melihat Arthur berjalan menuju sudut parkiran yang kosong, dan menuang air ke telapak tangan dan mengusapkannya ke wajah serta rambut.
"Aneh. Baru kali ini ku lihat orang kaya seperti dia melakukan hal jorok semacam itu. Dia benar-benar sesuatu," gumam Mona sambil terus melihat apa yang tengah dilakukan oleh Arthur.
Setelah itu, Arthur membuang botol kosong ke dalam tempat sampah, dan berjalan menuju ke dalam mall.
Mona memilih bersandar di kursi, dengan memundurkan sandarannya agar sedikit rebahan, dan memejamkan kedua matanya.
Tak berselang lama, sekitar dua puluh menit, Arthur kembali masuk ke dalam mobil, dan membangunkan Mona yang sempat tertidur.
Wanita itu terbangun kerena merasakan kehadiran seseorang di sampingnya.
"Ehm... Anda sudah kembali?" tanya Mona sambil mengusap sudut bibirnya, dan meregangkan badan.
"Ehm... Apa tidurmu nyenyak?" tanya Arthur.
Mona membetulkan posisinya, dan menegakkan kembali sandaran kursi yang menjadi tempat tidurnya.
"Lumayan," sahut Mona datar.
"Ayo kita pulang," ajak Arthur sambil menyalakan mesin mobilnya.
Mona menengok ke samping dan belakang, seolah tengah mencari sesuatu.
"Apa yang Anda beli tadi?" tanya Mona.
"Bahan-bahan untuk membuat sup. Aku akan memasakkannya untuk mu setelah kita sampai di tempatku," ucap Arthur tersenyum ke arah Mona.
"Tidak... tidak... biar di tempak saya saja," seru Mona.
"Baiklah. Terserah kau saja. Di manapun tidak masalah untukku," sahut Arthur, yang kemudian menjalankan mobilnya, membelah lalau lintas padat ibu kota.
Setelah kurang lebih lima belas menit berkendara, kini mereka telah tiba di apartemen The royal blossom.
Mona keluar sebelum Arthur sempat membukakan pintu untuknya, dan membuat pria tersebut berjalan memutar ke arah bagasi belakang.
"Anda sedang apa, Tuan?" tanya Mona yang melihat Arthur tak langsung menyusulnya menuju ke arah lift.
"Kau duluan saja. Aku aka membawa ini ke atas bersamaku," ucap Arthur dari balik kap mobil belakang.
Mona pun berjalan menghampiri Arthur, dan melihat barang belanjaan yang cukup banyak untuk ukuran sop ayam sederhana.
"Sebanyak ini?" tanya Mona.
"Sekalian untuk persediaan, kalau-kalau kau nanti mabuk lagi," sindir Arthur.
"Cckk! Berikan padaku. Biar saya bantu." Mona mencebik
Namun ia pun lalu meraih sebuah kantung berisikan beberapa minuman kaleng yang disodorkan oleh Arthur, sedangkan pria itu membawa kantung yang lebih berat.
Keduanya pun segera naik ke atas menuju apartemen Mona, seperti yang sudah disetujui tadi.
Sesampainya di sana, Mona dan Arthur meletakkan semuanya di dapur.
"Kau mandilah dulu, sambil aku menyiapkan semuanya," ucap Arthur sambil mengeluarkan semua barang-barang belanjaan dari kantung dan meletakkannya di atas meja makan.
"Baiklah," sahut Mona yang berlalu menuju ke lantai atas.
Tak berselang lama, Mona kini telah kembali ke dapur, dengan pakaian rumahannya.
Sebuah kaus dengan kerah longgar yang memperlihatkan bahu mulus dan tali bra-nya, dan dipadu dengan hot pants yang mempertontonkan kaki jenjang milinya.
Rambutnya ia cepol ke atas, dan menyisakan anak rambut yang menjuntai alami ke bawah.
Ia pun lalu duduk di kursi makan, sambil mengangkat kedua kakinya naik. Ia kemudian memeluk kedua lututnya, sembari melihat Arthur yang tengah sibuk memasak.
Kelihatannya, dia cukup lihai juga bekerja di dapur. Aku semakin penasaran dengan rasanya, batin Mona sambil terus menatap ke arah Arthur.
"Apa kau punya kaldu jamur?" tanya pria tersebut tanpa menoleh ke arah Mona.
Wanita itu pun lalu segera berdiri, dan berjalan menuju ke arah dapur.
"Sepertinya ada di rak atas," jawab Mona yang berusaha meraih pintu rak di atasnya.
Bertepatan dengan itu, Arthur pun mengulurkan tangannya, hingga tak sengaja dagu Arthur membentur kening Mona.
"Aw...," pekik Mona yang membuat Arthur segera memegangi kepala wanita itu.
Pandangan mereka bertemu, dan sejenak mereka membeku. Sepersekian detik kemudian, Mona yang pertama kali melengos, membuang muka ke samping, dan membuat Arthur berdehem, lalu melepaskan tangannya dari wajah Mona.
Mona kembali mengulurkan tangannya, dan menyerahkan sebotol kaldu jamur yang diminta oleh Arthur.
"Kalau kau membutuhkan bumbu masak, cari saja di lemari atas," ucap Mona yang kemudian pergi menuju ruang tengah.
Ia memilih untuk menghindari Arthur, dan menyaksikan acara televisi.
Sekitar sepuluh menit kemudian, semerbak aroma sup ayam yang mengepul dari arah dapur, membuat Mona mematikan TV-nya dan berjalan ke arah meja makan.
"Apa sudah siap?" tanya Mona yang duduk, dengan kedua lengannya bertumpu di atas meja, dan menyangga kedua pipinya sambil melihat ke arah Arthur.
"Sudah. Bisa tolong ambilkan mangkuk dan juga sendok?" tanya Arthur sambil membawa panci berisikan sop buatannya menuju ke meja makan.
Mona berjalan ke arah lemari di bawah dapur, dan mengambil dua buah mangkuk, sendok serta garpu. Tak lupa, ia juga mengambil dua buah mug keramik.
Mona menatanya untuk Arthur dan juga untuk dirinya sendiri. Tak lupa, ia pun menuangkan air dari dispenser ke dalam masing-masing mug, dan kemudian kembali duduk di tempatnya.
Arthur telah memasak sup ayam dan juga telur dadar gulung sebagai pelengkap sarapan menjelang makan siang mereka.
Pria itu lalu menuangkan sup, dan mengambilkan potongan paha ayam ke dalam mangkuk milik Mona, dan ke dalam mangkuknya.
"Ayo makan," ajak Arthur.
Mona pun lalu menyendok sedikit kaldu dari supnya.
"Ehm... enak. Anda pandai memasak juga ternyata," ucap Mona memuji keahlian dapur Arthur.
"Aku sudah biasa hidup sendiri. Jadi, sudah tentu harus bisa memasak bukan," jawab Arthur sedikit menyombongkan diri.
"Cck! Sombongnya mulai kambuh," gumam Mona.
Arthur tak menimpali, namun hanya tersenyum tipis saat mendengarnya. Dia dan Mona pun makan dengan tenang, tanpa ada perbincangan apapun lagi.
Ia tak mau merusak momen kebersamaannya itu, dengan pertanyaan-pertanyaan konyol seputar masa lalunya, yang hanya akan membuat Mona emosi dan semakin menjauhi dirinya.
Saat di tengah acara makan, terdengar bunyi dering dari handphone Arthur, yang berada di atas meja makan.
Pria itu pun lalu mengangkatnya langsung di depan Mona.
"Halo, Will. Ada apa?" tanyanya.
Ketika Arthur sedang berbicara dengan William dari sambungan telepon, Mona diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Ia memperhatikan bagaimana pria itu berbicara dengan sang asisten pribadi.
"Baiklah. Aku akan ke sana setengah jam lagi," ucap Arthur yang lalu menutup panggilannya.
Dia kemudian kembali menyantap sup ayam buatannya sendiri.
"Makanlah semua. Jika masih ada sisa, kau bisa memanaskannya kembali nanti. Aku harus segera ke kantor. Ada hal penting yang perlu di urus," ucap Arthur kepada Mona, yang masih mengaduk-aduk sup di depannya.
"Apa peduliku," ucap Mona dingin.
Arthur lagi-lagi hanya bisa bersabar menghadapi sifat Mona yang bak gunung es. Terlalu angkuh dan juga keras.
Setelah menghabiskan supnya, Arthur pun menaruh piring kotornya di wastafel, sambil mencuci tangannya.
"Aku tak akan mengajakmu makan siang. Tapi nanti malam, kau akan ku jemput untuk makan bersama di luar," ucap Arthur sembari berjalan ke arah Mona.
Pria tersebut nampak berjalan kembali ke arah meja makan, menghampiri Mona yang masih asik dengan makanannya.
"Baik-baik di rumah, mengerti," seru pria itu sembari mengusap lembut puncak kepala Mona dan mengecupnya sekilas, hingga membuat wanita itu pun merasakan debaran aneh.
Mona menghentikan gerakan tangannya yang sejak tadi terus mengaduk-aduk makanannya, lalu menoleh ke arah Arthur yang tengah berjalan menuju pintu keluar, dengan tatapan yang sulit diartikan.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐, komen ๐, atau beri dukungan lainnya
terimakasih