
Kai, Rajen dan Shanum keluar dari rumah dengan mengendap, sesekali Kai melirik ke kanan dan kiri melihat para penjaga yang sedang berjaga
Shanum gemetar mengikuti langkah Kaivan di depannya, pegangan tangan kecilnya mengerat di tangan Kaivan.
Kaivan bernafas lega saat mereka sudah keluar dari rumah lewat pintu belakang.
"Kita harus berlari mulai dari sini" ucap Kaivan menatap Rajen dan Shanum "Kalian siap?"
Rajen mengangguk begitupun Shanum.
"Ayo!"
Ketiga anak itu kemudian mulai berlari, namun siapa sangka sebelum mereka mencapai gerbang salah satu penjaga yang sedang buang air kecil melihat mereka
"Hei! mau kemana kalian?" teriak penjaga bertubuh gemuk
"Kak Kai, Shanum takut"
Kaivan mengeratkan pegangannya lalu menarik Shanum kembali berlari, dan di ikuti Rajen
"Ayo cepetan mereka nanti nangkap kita!" Seru Kaivan
"Berhenti kalian brengsek!"
Penjaga gemuk itu masuk kedalam rumah untuk membangunkan teman temannya, lalu kembali mengejar ketiga anak itu
"Sha, ayo cepat kita harus segera berlari sebelum mereka menangkap kita!" seru Kaivan
"Ak- aku sud- sudah tidak kuat lagi kak" Nafas Shanum sudah tidak beraturan karena terlalu Kelelahan
Rajen berjongkok di depan Shanum "Ayo Sha, naik ke punggung ku aku akan menggendong mu"
"Nggak usah, biar gue yang gendong Shanum" Kaivan berjongkok lalu menggendong tubuh kecil Shanum di punggung nya.
Mereka kembali berlari dengan Kaivan menggendong Shanum.
"Sialan! kemana larinya mereka?" ucap salah satu penjaga.
"Larinya cepat banget, bos Beni bakal ngamuk kalau tau ketiga anak itu kabur" jawab penjaga berambut panjang
Mereka kemudian kembali mencari Kaivan dan teman temannya.
Sementara itu Kaivan, Rajen dan Shanum sudah bersembunyi di sebuah rumah kosong yang tak jauh dari pemakaman, rumah itu sudah lama tidak berpenghuni.
"Kai, lo tau darimana tempat ini?" tanya Rajen
Kaivan yang masih duduk untuk beristirahat menatap Rajen "Gue udah lama mengatur semuanya, kalau kita cuma terus lari yang ada para penjaga itu nangkap kita kembali"
"Jadi lo udah tau rumah kosong ini?" tanya Rajen lagi
Kaivan mengangguk ia kemudian menatap Shanum yang ia baringkan di kursi kayu panjang, Kaivan mendekati Shanum dan mengelus rambutnya
"Sha, kamu nggak apa apa kan?" tanya Kaivan lembut
Shanum mengerjap "Nggak kak, makasih ya udah bawa Shanum dan kak Rajen pergi dari rumah om Beni"
Kaivan tersenyum dan mengangguk. "Ya udah kamu tidur lagi, besok pagi kita pergi dari rumah ini"
...........
Keesokan paginya Kaivan, Rajen dan Shanum pergi dari rumah kosong itu, mereka tidak mungkin tinggal di rumah itu, karena tempat Beni tidak jauh dari rumah itu, hanya saja para penjaga tidak tahu jika Kaivan bersembunyi di sana.
"Brengsek! Kalian ngapain saja ha? Ngejar tiga bocah saja kalian nggak becus!" amuk Beni kepada anak buahnya
"Maaf bos kita benar benar kehilangan jejak Kaivan dan teman temannya"
"Tutup mulutmu bajingan, pokoknya gue nggak mau tau, kalian harus cari Kaivan, Rajen dan Shanum bagaimana pun caranya" titah Beni dengan penuh amarah
"Baik bos"
........
"Kakak kita mau kemana?" tanya Shanum pda Kaivan
"Aku nggak tau Sha, tapi yang pasti kita bakal pergi dari kota ini" jawab Kaivan
"Tapi Kai, caranya gimana kita aja nggak punya duit" ucap Rajen
Kaivan mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan lima puluhan dari kantong celananya
"Gue udah nyimpen hasil curian gue kemarin" Kaivan memperlihatkan duitnya pada Rajen
"Tentu saja, gue nggak mau tinggal di rumah itu buat jadi budaknya Beni"ucap Kaivan tersenyum miring
Ketiga anak itu pergi ke terminal dan menaiki bus yang akan membawa mereka pergi dari kota yang menyiksa mereka selama beberapa tahun ini.
Kaivan duduk di kursi paling belakang, mereka bertiga masih berusaha bersembunyi dari anak buah Beni yang menjaga di terminal, untuk mengawasi anak anak yang mengemis atau mencopet sama seperti yang di kerjakan Kaivan.
Ketiganya bernafas lega saat bus melaju dan meninggalkan terminal. Dan beberapa jam kemudian ketiganya tiba di terminal xxx
Kaivan, Rajen dan Shanum duduk di kursi taman dekat terminal
"Jen, lo jagain Shanum disini gue mau beli makan sama minum dulu" ucap Kaivan
"Iya, lo hati hati"
Namun ketika Kaivan berdiri tangannya di tarik oleh Shanum
"Kakak jangan lama lama ya" ucap Shanum
Kaivan tersenyum kembali mengelus sayang kepala Shanum
"Iya, aku mau beliin kamu makanan dulu ya"
Kaivan melepaskan tangannya lalu pergi dari taman menuju warung yang jaraknya agak lumayan jauh dari taman.
Setelah membeli beberapa makanan dan juga minuman Kaivan kembali berjalan, namun seseorang yang sedang berlari menabraknya membuat belanjaan Kaivan terjatuh dan berhamburan di tanah
"Woi, kalau jalan liat liat dong!" bentak Kaivan kepada laki laki itu.
Laki laki itu menoleh sekilas namun saat ingin mendekati Kaivan laki laki itu melihat di belakang Kaivan beberapa orang yang mengejar nya mulai mendekat. Ia kemudian melanjutkan larinya dan menghiraukan Kaivan
Kaivan yang tidak terima dengan sikap laki laki paruh baya itu pun mengejarnya.
Karena Kaivan yang sudah gesit jika berkaitan dengan berlari ia dengan mudah mengejar laki laki paruh baya itu.
"Hei tunggu pak, kau harus ganti rugi makanan saya" ucap Kaivan
Laki laki paruh baya itu berhenti di samping toko, ia mengatur nafasnya yang tersengal dan menatap Kaivan
"Sa- saya minta maaf nak"
"Saya tidak mau tau, pokoknya an--" Ucapan Kaivan terhenti saat ia melihat darah mengalir di bagian perut laki laki itu
"Wah wah rupanya kau disini tua bangka" ucap lelaki dengan suara beratnya membuat Kaivan dan laki laki paruh baya itu menoleh kearahnya
Laki laki dengan bertubuh kekar itu mendekati Kaivan, lengannya di penuhi tatto, dan juga wajahnya yang terlihat sangar. Lalu laki laki paruh baya yang terluka itu berdiri dan mencoba melindungi Kaivan
"Apa maumu Derrick? kau hanya membuang waktu jika berurusan dengan ku"
Derrick tersenyum miring matanya menatap tajam laki laki paruh baya yang biasa ia panggil dengan sebutan Javier itu.
"Aku menginginkan semua bisnis dan usahamu, termasuk menghancurkan keluargamu tua bangka" jawab Derrick dengan penuh amarah
Javier tertawa pelan rasa sakit di perutnya membuat nya semakin lemah karena darah terus mengalir
"Meskipun aku mati, tapi anakku Marcel tidak akan pernah melepas mu Derrick"
Derrick mengetatkan rahangnya ia kemudian mengambil pistol dari balik bajunya dan mengarahkannya kepada Javier
Kaivan yang melihat itu membelalakkan matanya, meskipun ia sering melihat Beni menembak anak buahnya yang berbuat salah, namun kali ini Kaivan merasa terkejut dan sedikit takut, ia kemudian melirik apapun yang bisa menolongnya dari situasi itu.
Derrick menarik pelatuk pistol nya dan bersiap menembak dan dor...
Peluru Derrick meleset, ternyata Kaivan melempar lengannya dengan batu yang lumayan besar, Derrick lengah ia tidak menyadari kehadiran Kaivan
"Brengsek, siapa kau ha?" tanya Derrick marah
Kaivan dengan gesit mengambil pistol yang terjatuh tak jauh darinya dan mengarahkannya kepada Derrick
"Apa apaan kau, kembalikan pistol ku anak sialan" sentak Derrick
"Tidak!" bentak Kaivan
Derrick berjalan mendekati Kaivan tangannya mengepal dengan amarah yang ingin melenyapkan anak ingusan di depannya dan juga musuh bebuyutan nya.
Kaivan berjalan mundur dan tanpa di duga ia menarik pelatuk dan...
Dor! Dor! Dor!
Tubuh besar Derrick tumbang dengan mudah, karena tembakan Kaivan yang tepat di jantungnya sebanyak tiga kali, membuatnya kehilangan nyawanya dalam sekejap. Javier yang melihat itu terdiam ia tidak menyangka jika anak laki laki di depannya mampu membunuh Derrick sang bos mafia.