DESIRE

DESIRE
Bab 43



Di dalam sebuah taksi, Mona tengah duduk memandang ke arah luar. Tangannya sibuk menyeka air mata yang terus saja terjun bebas di pipinya, meski ia dengan sekuat tenaga menahannya.


"Breng*sek! Kenapa tidak mau berhenti juga?" gerutu Mona di tengah tangisnya.


Meski air mata meleleh di pipi, dengan hidung yang sudah sangat memerah, namun Mona sama sekali tak mau mengeluarkan suara tangisnya.


Wanita keras kepala itu sangat menjaga harga dirinya, agar tak pernah jatuh di depan orang lain, terutama lawan-lawannya.


Meski tubuhnya tak bisa bohong, namun bibirnya terus saja merutuki dirinya yang terlihat b*doh, karena menangisi pria asing yang baru beberapa hari lalu bertemu dengannya.


Dengan mata yang sembab, hidung yang memerah dan berlendir, serta pundak yang terlihat berguncang, namun bibir Mona selalu saja mengumpat dengan tangannya yang terus menyeka lelehan bening di pipinya.


"Air mata si*alan. Kenapa tidak mau berhenti juga hah!" rutuknya dengan suara yang mulai terdengar serak.


Saat dilanda kegalauan yang amat membingungkannya, Mona teringat akan Joshua, pria yang beberapa hari ini seakan menghilang dari hidupnya.


Pria paruh baya itu tak lagi menghubunginya, bahkan hanya sekedar untuk menanyakan kabar pun tidak, apalagi menemuinya.


Mona lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya, dan mencari nomor kontak Joshua di sana.


Ia segera menekan tombol hijau, dan menunggu sambungan terhubung.


Panggilan pertama tersambung, namun tidak ditanggapi oleh Joshua. Mona pun melakukan panggilan lagi. Namun, panggilan kedua, nomor Joshua justru mendadak tidak aktif.


"Aneh. Bukanlah tadi masih aktif?" gumam Mona sambil menyeka ingus yang keluar dari hidung mancungnya.


Wanita itu pun mencoba kembali menghubungi teman prianya, yang telah menemani dan mendukung kehidupannya selama empat tahun belakangan, semenjak ia terjun ke dunia sesat penuh dosa ini.


Namun sama saja. Nomor ponsel Joshua masih tidak aktif. Akhirnya, Mona pun mengirimkan pesan chat kepada Joshua.


[Aku butuh uang satu miliyar. Apa kau bisa mentransfernya besok?]


Mona pun segera menekan tombol send.


Ia lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas, dan kembali memandang ke luar jendela. Pikirannya teringat akan Arthur yang terus saja menggangunya, seolah sengaja ingin mendekati dirinya.


"Tidak... Tidak akan semudah itu. Kalian yang telah membuat ku seperti ini. Kalian yang telah menanamkan kebencian di hatiku. Sekarang, kau mau aku menerima kehadiran mu begitu saja?" batin Mona.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Di sebuah gedung tinggi dengan jumlah lantai mencapai enam puluh sembilan, seorang pria paruh baya nampak tengah berdiri menghadap ke arah luar dari dalam kantornya.


Ia memandang ke seberang dinding kaca yang menyekat ruang kantor dan udara di luar sana.


Tangannya menggenggam erat ponsel pintarnya yang telah ia matikan sesaat sebelumnya. Gurat wajahnya mengisyaratkan sebuah kerinduan dan kekhawatiran akan sesuatu.


Hari telah gelap dan waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun pria itu masih betah berlama-lama di dalam kantornya.


"Tuan Chou, apa ada yang Anda perlukan lagi?" tanya seorang pria yang tak lain adalah sekretaris pribadinya.


Pria yang ternyata adalah Joshua itu pun berbalik, dan melihat sang sekretaris yang berdiri di ambang pintu.


"Tidak ada. Kau boleh pulang sekarang," serunya.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi," ucap sang sekretaris.


Setelah kepergian sekretarisnya itu, Ia pun berjalan menuju meja kerjanya dan hendak mengambil jas yang tersampir di belakang kursi. Ia berencana akan pergi dari tempat itu dan beristirahat.


Namun, ketika ia sampai di meja kerjanya, terdengar dering dari telpon yang ada di dalam saku celananya.


Ini adalah ponsel lain, selain yang sedari tadi ia pegang dan pandangi.


Ia segera menggeser tombol hijau ke kanan, dan menerima panggilan itu.


"Halo, Tuan. Ada masalah apa malam-malam begini menelpon? Apa ini tentang wanita es itu?" tanya Joshua langsung.


"Apa dia menghubungi mu?" tanya orang di seberang.


"Aku melakukan kesalahan dengan mengungkit masa lalunya, dan dia marah. Dia mengatakan jika akan membayar denda satu miliyar, dan aku yakin dia akan memintanya darimu, Tuan Chou," tutur Arthur.


"Hah… bukankah sudah pernah ku katakan, dia sangat membenci masa lalunya. Lalu, apa yang harus ku lakukan sekarang, Tuan?" tanya Joshua.


"Anda jangan melakukan apapun. Diamlah seperti sekarang ini. Biarkan aku yang menyelesaikan semuanya," ucap Arthur.


"Baiklah. Aku titipkan Mona padamu. Mungkin, aku sudah tak bisa lagi berada dekat dengannya, dan aku yakin dia akan merasa sangat kesepian. Jadi ku mohon, tetaplah di sisinya, Tuan," pinta Joshua.


"Tenang saja, Tuan Chou. Aku akan selalu menjaganya, apapun yang terjadi." Arthur kemudian mengakhiri panggilannya.


sementara itu, Joshua yang tadinya hendak pergi, kini kembali duduk di kursi kerjanya, dan menyandarkan punggungnya sambil memijat pangkal hidungnya.


"Hah… semua ini gara-gara ulah wanita gila itu. Aku terpaksa harus menjauhimu demi keselamatanmu, Mona. Maafkan aku," gumam Joshua, yang tak terasa menitikkan air dari sudut matanya.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Seorang wanita yang tengah memakai setelan piyama bermotif my little pony, terlihat turun dari sebuah taksi online.


Ia berjalan memasuki tempat hiburan malam, dengan nama Heaven valley yang sangat besar tertulis di papan nama bagian depannya.


Ia bejalan masuk, dan tak mempedulikan pandangan aneh yang dilemparkan orang-orang di sana kepadanya.


Ia pun menuju ke depan bar, yang biasa menjadi tempat transitnya sebelum menjalankan pekerjaan.


"Hah… beri aku sebotol whiskey dan es," pinta wanita yang tak lain adalah Mona.


"Ppppfffttt! Mona… kau... Kenapa kau bisa berubah wujud seperti anak rumahan?" tanya Elliott yang menyadari kehadiran Mona, dengan pakaian yang dirasanya lucu.


"Diem kau, Ell. Ambilkan saja yang aku minta," gerutu Mona.


Elliott pun tak berani bertanya lagi, karena melihat gelagat Mona yang seperti tengah emosi. Wanita yang selalu memesan minuman dengan kadar alkohol sangat ringan, kali ini justru meminta yang sangat tinggi.


Sebotol whiskey dengan gelas lengkap beserta es batu di dalamnya, di sajikan di atas meja bar, tepat di depan Mona.


Elliott bermaksud menuangkan minuman tersebut untuknya, namun wanita itu segera meraih botol yang tengah dipegang olehnya, sesaat setelah tutup berhasil dibuka.


Dia langsung menuangkannya ke dalam gelas, dan meneguk habis minuman keras itu dengan sekali teguk.


"Ah…." Mona meletakkan gelas ke atas meja dengan kasar, dan kembali meraih botol whiskey-nys.


Merasa tak puas, ia menenggaknya langsung dari mulut botol.


Elliott yang melihat hal tersebut, begitu keheranan. Pasalnya, Mona yang selama ini ia kenal adalah wanita yang begitu dingin dan datar.


Dia sangat jarang sekali, bahkan mungkin tidak pernah menunjukkan ekpresi yang sesungguhnya. Entah ia sedang marah, senang, kesal, sedih, atau apapun, tak pernah ia perlihatkan sekalipun dihadapan orang lain.


Dia aneh sekali. Baru kali ini dia terlihat sekacau ini. Apa ini karena tamu VVIP-nya yang baru itu? batin Elliott bertanya.


Mona terus meneguk minumannya, yang seketika membuat wajahnya memerah. Reaksi alkohol yang mengalir di dalam darahnya, membuat tubuhnya seketika memanas, dan mengganggu kerja otak serta sarafnya.


Setelah puas minum hingga mabuk, Mona lalu turun dari kursinya dengan gentayangan, seakan kakinya tak berpijak dengan benar di atas tanah.


Mona kesulitan untuk berjalan, bahkan berdiri pun ia berkali-kali hampir terjatuh, hingga sebuah tangan kekar menangkap tubuhnya yang berjalan sempoyongan dan mengangkatnya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like πŸ‘, komen πŸ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih