
Malam hari di heaven valley,
Nampak pengunjung sudah mulai berdatangan, dan bahkan beberapa sudah ada yang mem-booking ladies yang ada di sana.
Waktu baru menunjukkan pukul delapan malam. Masih sangat sore untuk sebuah tempat hiburan malam yang semakin larut semakin ramai.
Di dalam base camp para ladies, Ema nampak keluar dari dalam toilet, dan berjalan ke arah meja rias. Ruangan itu begitu sepi, tetapi ada yang janggal di sana.
Tirai penutup ruang ganti, terlihat tertutup rapat. Padahal di sana tak ada siapapun, selain Ema dan juga Shasa, yang tengah memoles lipstik merah di bibirnya.
"Cepat juga kau kerjamu. Masih sangat sore tapi sudah dapet mangsa saja," sindir Ema yang baru saja tiba di depan meja rias.
"Biasa saja, Ema. Bukankah sejak Mona tidak ada, kita semakin bisa dapat banyak pelanggan," jawab Shasa dengan tenang.
"Sepertinya, kau senang sekali si Mona tak datang ke sini lagi," cibir Ema.
"Apa yang kau bicarakan. Aku merasa biasa saja kok," sahut Shasa.
Ladies itu memasukkan semua make up-nya ke dalam tas, dan kemudian bersiap pergi dari sana.
Ema tak menghiraukannya, dan dia tetap mendandani dirinya, karena kebiasaan Ema selalu berdandan saat sudah berada di Heaven Valley, sangat berbeda dengan Mona yang sudah siap sejak dari apartemen.
Saat Shasa selesai berkemas, dan dia hendak berbalik pergi, Ema melirik sekilas ke arah pantulan rekanya itu.
"Bagaimana kabar ibu mu, hem?" tanya Ema.
Shasa seketika diam di tempat. Dia seolah mematung. Namun, tak lama kemudian menoleh dan kemudian tersenyum ke arah Ema.
"Tumben kau bertanya tentang ibu ku? Dia baik-baik aja kok. Memang kenapa?" ucap Shasa balik bertanya.
"Bukan apa-apa, hanya bertanya saja," sahut Ema datar.
"Oh… oke," ucap Shasa yang kembali berbalik hendak pergi.
"Aku dengar, minggu lalu dia dioperasi bukan?" tanya Ema lagi.
Shasa seketika menoleh. Dia nampak mengernyitkan kedua alisnya dan memandangi pantulan rekan kerjanya tersebut.
"Kenapa? Kau kaget kenapa aku bisa tau?" lontar Ema.
Shasa masih diam, dan mencoba tetap tenang.
"Kok bisa kebetulan sekali yah, kenapa bisa pas begitu harinya dengan kejadian yang menimpa si Mona," lanjut Ema lagi.
Shasa seketika tersentak kaget. Kedua matanya membola dan dia kesulitan menelan saliva. Tubuhnya mulai gemetar ketakutan.
Tidak… Tidak mungkin dia dengar pembicaraan ku dengan orang itu, batin Shasa.
Ema berbalik, dan berjalan sambil bersedekap menuju ke arah Shasa yang masih berdiri diam.
"Aku penasaran, bagaimana reaksi ibu mu saat dia tau… kau … Sudah menjual temen mu sendiri demi membayar biaya operasinya," ungkap Ema dengan penuh penekanan, sambil menunjuk tepat di depan wajah rekannya itu.
Gawat… dia benar-benar tau masalah ini, batin Shasa mulai resah.
Kedua bola matanya berlarian ke kanan dan kiri, seolah menghindari tatapan tajam Ema.
"Gila ya… aku tak nyangka kalau kau tega melakukan hal kotor seperti itu pada teman mu sendiri. Apa lagi, dia yang selalu menolong mu. Ckk … Kasian sekali si Mona. Dia terlalu b*doh, sampai bisa percaya pada orang seperti mu … hahahah … Hah … benar-benar bodoh sekali dia," ejek Ema terus, sambil berbalik dan berjalan kembali ke arah cermin rias.
Shasa nampak mengepalkan kedua tangannya, merasa geram dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut Ema.
Kurang ajar… beraninya dia mengolok ku, batin Shasa geram.
"Ema… Ema… Kau tak perlu bersikap munafik seperti itu. Berpura-pura peduli pada si Mona. Bukankah kau yang paling tak suka sama dia. Kalian selalu saja berselisih bukan. Jadi tak usah menyudutkan ku seperti itu."
"Lagipula, semuanya juga merasa senang kalau Mona tak ada. Secara otomatis, pendapatan mereka juga meningkat karena 'si dominan' sudah tak ada," kilah Shasa yang mencoba menutupi kekesalannya dengan tameng orang lain.
"Hahahha… aku dengan Mona tak pernah akur, itu benar. Tapi, aku dan yang lainnya tak pernah sama sekali menusuk dia dari belakang. Aku ehm… apa yah… Ehm… kagum… heran… apa takjub… oh, aku tau. Aku salut padamu, jiwa pejuang mu itu luar biasa. Sudah menjual diri, menjual teman, setelah itu apa lagi yang mau kau jual, hah? Jangan-jangan, kau bakal menjual ibu mu sendiri," cibir Ema.
"Jaga mulut lu ya," bentak Shasa sambil melangkah menghampiri Ema.
Seketika Ema pun berbalik, dan menghadap Shasa dengan posisi menantang, saling membusungkan dada.
"Brengs*k kau, Ema!" Shasa maju dan hendak menampar Ema.
Namun, ladies itu dengan sigap menangkis tangan Shasa, dan menghempaskannya dengan kasar.
"Apa? Mau memukul ku? Berani kau dengan ku, hah?" bentak Ema sambil melangkah ke depan, dan mendorong-dorong tubuh Shasa hingga terdorong ke belakang.
"Diam kau!" hardik Shasa yang semakin gemetar menghadapi Ema.
"Tidak... aku tidak akan siam. Aku akan beri tau semua orang, kalau kau akan menjual ibu mu demi uang!" ejek Ema.
PLAK!
Sebuah tamparan kali ini tepat mengenai pipi Ema. Mata Shasa membulat dan merah. Dia begitu geram dengan omongan rekannya itu.
"Aku memang sudah menjual Mona,tapi aku tak sejahat itu untuk menjual ibu ku sendiri. Puas kau!" pekik Shasa yang sudah tak bisa menahan emosinya kepada Ema.
Namun, Ema justru menatap Shasa dengan senyum mengejek.
"Aku… sangat… puas," ucap Ema penuh penekanan di setiap kata-katanya.
PROK! PROK! PROK!
Terdengar sebuah tepukan tangan dari balik tirai, yang menutupi ruangan yang biasa dipakai sebagai tempat berganti pakaian.
Shasa menoleh ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya saat tirai dibuka, rupanya di sana sudah ada beberapa orang ladies. Terlebih lagi, seseorang yang sedari tadi menjadi bahan cekcok antara dirinya dan Ema, telah berada di sana.
Ya, Mona berada di antara para ladies yang bersembunyi di balik tirai, dan bertepuk tangan saat Shasa mengakui semuanya di depan semua orang.
Bahkan, Madame Queen pun turut menyaksikan semua itu, dan dia tengah menatap tajam ke arah Shasa.
Mona nampak melangkah keluar dari dalam ruang ganti, dan menghampiri tempat Shasa dan Ema berdiri.
"Luar biasa. Jadi begini wajah aslimu, hah? Busuk juga ternyata," ejek Mona langsung di depan ladies itu.
Shasa mundur selangkah. Dia gemetar menghadapi Mona yang berdiri tepat dihadapannya.
"Mona… aku … aku …," Shasa gentar.
"Kau tak perlu bicara apa-apa lagi, Sha. Kita semua sudah tau siapa kau sebenernya. Dan satu hal lagi, terimakasih untuk semua yang sudah kau lakukan padaku."
"Tenang saja, aku akan keluar dari sini. Jadi, selamat bekerja keras mengumpulkan uang buat ibu mu, dan jangan pernah cari aku lagi," ucap Mona.
Wanita cantik itu pun beranjak pergi dari tempat itu, namun suara Shasa menahan langkahnya.
"Kau jangan pernah berlagak baik padaku, Mona. Kau tak usah munafik. Aku tau kalau kau menganggap ku hanya seorang pengganggu, yang terus menempel padamu. Dan kalian semua, kalian juga menganggap Mona sebagai penghalang kalian saja bukan. Karena setiap ada Mona, pendapatan kalian berkurang."
"Kau tak usah bersikap seolah-olah jadi yang paling dipuji-puji di sini. Asal kau tau, semua ladies di sini iri padamu. Kenapa cuma kau yang bisa mendapat tamu VIP seperti Tuan Chou dan Tuan Peterson. Kenapa kita tak bisa?"
"Semuanya benci padamu, bukan hanya aku. Karena semenjak kau pergi, semua tamu yang tak bisa menemui mu, selalu saja mengasariku. Aku lelah terus ada di dalam bayang-bayang mu, Mona."
"Tapi, syukurlah kau kau memang mau pergi. Aku bisa tenang sekarang," ungkap Shasa.
Wanita itu seolah mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya saat itu juga, hingga membuat Mona nampak mengepalkan tangannya.
.
.
.
.
Gengs, aku ada rekomendasi novel bagus, bisa cek lapak othornya langsung ya kalo ini nggak kaleng2😁
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih