
Mona menoleh ke kanannya karena silau dengan lampu mobil, dan tiba-tiba sebuah tangan menariknya hingga dia berputar dan terjatuh.
Dia jatuh tepat di atas Arthur yang memeluk tubuh Mona dengan erat.
"ARRGHHH…," pekik Arthur saat tubuhnya terbentur lantai trotoar, dengan menahan tubuh Mona agar wanita itu tak terbentur tanah.
Sementara kedua orang itu jatuh, mobil tersebut terlihat berhenti sejenak dan kemudian kembali melaju dengan kencang meninggalkan keduanya.
Mona yang sempat merasakan terhempas pun sempat kebingungan. Namun saat mendengar suara kesakitan Arthur, dia pun tersadar dan segera mencoba bangun dari atas pria itu.
Setelah Mona telah duduk disampingnya, Arthur pun bangun. Namun dia merakan nyeri di bagian belakangnya, dan Mona melihat jika baju yang dipakainya pun terkoyak.
"Punggungmu…," pekik Mona yang terkejut melihat bagian belakang pria itu berdarah.
Lengan kanannya pun ikut robek dan nampak luka yang cukup besar.
"Ssshhh…," desis Arthur saat melihat sikunya yang berdarah.
Mona mendadak panik melihat Arthur yang terluka seperti itu demi menolongnya dari tertabrak mobil tadi.
"Aku tidak apa-apa," ucap Arthur sambil mencoba berdiri.
"AARRRGHHH…," pekik pria itu lagi saat merasa kakinya yang juga terasa sakit.
"Kenapa?" tanya Mona yang seketika ikut bangun dan menghampiri Arthur, dan memegangi lengannya.
"Aku tidak apa-apa," ucap Arthur datar sambil menyingkirkan tangan Mona dari lengannya pelan.
Mona tertegun melihat pria itu yang tiba-tiba bersikap dingin padanya. Padahal beberapa waktu yang lalu, Arthur bersikap begitu lembut pada dirinya.
Wanita itu terus memperhatikan Arthur yang berjalan terpincang-pincang dengan baju bagian belakangnya yang terkoyak cukup lebar, dengan luka yang lumayan banyak.
Mona menitikkan air matanya, namun buru-buru ia menyekanya, dan berjalan menyusul Arthur. Dia memegangi lengan pria itu, dan mencoba membantunya berjalan.
Namun, lagi-lagi Arthur menyingkirkan tangan Mona dari tubuhnya.
Mona terdiam melihat sikap Arthur yang mendadak mengacuhkannya. Namun, bukan Mona namanya jika dia langsung berhenti saat mendapatkan sebuah penolakan.
Dia kembali mengikuti Arthur, dan memegangi lengannya dan membantu pria itu berjalan, meski Arthur berkali-kali menyingkirkan tangan Mona.
Arthur berjalan menuju mobil, sambil hendak memasukkan kunci ke lubangnya. Namun, Mona segera merebut kunci itu, dan masuk terlebih dulu di kursi kemudi.
"Keluar," perintah Arthur.
Namun, Mona sama sekali tak peduli. Dia tetap duduk diam di sana.
Melihat itu, akhirnya Arthur pun kembali berjalan menuju gedung apartemen yang berjarak tinggal beberapa meter lagi dari tempatnya saat itu.
Mona yang menyadari jika pria tersebut tak juga masuk pun akhirnya menoleh ke belakang, dan mendapati jika Arthur telah berjalan menjauh dari mobilnya.
Mona pun lalu keluar dari dalam mobil, dan mengejar kembali Arthur dan memegangi lengan pria itu lagi.
Mereka berjalan hingga akhirnya sampai di apartemen.
Tak ada perbincangan di antara keduanya. Hingga mereka tiba di depan pintu apartemen Mona, Arthur menghentikan langkahnya.
"Pulanglah," ucap Arthur datar.
"Biar ku bantu mengobati lukamu," ucap Mona yang masih khawatir dengan kondisi Arthur.
"Aku bisa sendiri," sahut Arthur sambil melepaskan tangan Mona dan kembali berjalan menuju apartemennya.
"Biarkan aku membantumu," seru Mona.
Arthur terus berjalan dan membuka pintu apartemennya. Saat pintu baru saja terbuka, Mona buru-buru menerobos masuk mendahului Arthur.
Pria itu hanya menghela nafas panjang melihat kelakuan Mona yang tak pernah mau menurut.
Akhirnya, Arthur pun masuk dan menutup pintu. Ia berjalan menuju kamarnya, sementara Mona menuju dapur dan memanaskan air.
"Di mana kotak obatnya?" tanya Mona.
"Di atasmu," sahut Arthur singkat dan berjalan ke atas.
Mona mendongak dan melihat lemari yang menempel di dinding, lalu mengambil kotak obat dari sana, kemudian melihat isi di dalamnya.
Dia mencari alkohol untuk mensterilkan luka Arthur dan obat merah untuk mengobati luka-luka di punggung dan siku pria itu.
Dia juga mencari salep untuk meringankan kaki terkilir dan perban serta plester.
Setelah air matang, Mona memasukkannya ke dalam wadah kemudian mencampurnya dengan air dingin agar menjadi hangat. Tak lupa, ia pun mengambil kain bersih yang akan dipakai untuk membersihkan luka.
Mona lalu membawa wadah berisi air serta kotak obat, dan berjalan ke kamar Arthur.
Mona buru-buru meletakkan wadah air dan kotak obat di atas nakas, lalu berniat hendak membantu pria tersebut.
Mona mengulurkan tangannya dan kemudian memegangi baju Arthur yang koyak.
"Jangan sentuh!" hardik Arthur yang membuat Mona seketika menarik kembali tangannya.
"Hah… biarkan ku bantu, Tuan," ucap Mona yang kembali meraih kemeja Arthur.
"JANGAN SENTUH!" bentak Arthur.
"Kenapa? Apa salahnya membantu? Anda juga kesusahan membukanya bukan," seru Mona tak kalah keras.
"Dengan tangan kotormu? Dengan badanmu yang bau itu? kau mau membuat lukaku infeksi? Mandi dulu sana! Bersihkan badanmu, baru kau boleh membantuku," ucap Arthur tanpa menoleh sedikitpun ke arah Mona.
"Oke!" sahut Mona sambil beranjak dari samping Arthur, menuju ke dalam kamar mandi.
Aaarrrggghhh… gara-gara kau merajuk terlalu lama, jadi begini kan akhirnya! Coba kita pulang dari tadi, pasti tak akan ada kecelakaan, gerutu Arthur dalam hati.
Mona mandi dengan cepat, karena ia ingin segera membantu Arthur. Sekitar lima belas menit, dia telah selesai mandi dan keluar dengan mengenakan bathrobe. Itu adalah rekor tercepat mandi dari seorang Mona.
Saat dia keluar, Mona melihat jika Arthur telah berhasil membuka kemejanya, dan kini tengah bersusah payah membersihkan luka dengan air hangat, yang sudah disiapkan oleh Mona sebelumnya.
Wanita itu berjalan mendekat, sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil.
Ia lalu membungkus semua surainya, dan melilitkan handuk di atas kepala. Mona kemudian meraih kain lap yang Arthur pegang dan duduk di depan pria tersebut.
"Aku sudah bersih. Sekarang, biarkan aku membantumu," ucap Mona menatap langsung ke dalam mata Arthur.
"Pakai bajumu dulu," perintah Arthur dengan nada datarnya.
"Tidak perlu. Baju ku sudah kotor. kalau ku pakai lagi, nanti kau akan bilang tidak steril. Mau pakai baju Anda, nanti dibilang menggoda. Sudahlah, Anda sebaiknya sekarang hadap sana saja," gerutu Mona yang selalu tak bisa menurut.
Arthur tak menyahut. Dia lalu berbalik dan membiarkan Mona melihat punggungnya yang penuh dengan luka.
Wanita itu menatap punggung kekar yang kini berwarna merah kehitaman itu dalam diam.
Mona kemudian menggeser wadah berisi air ke sampingnya. Dia mencelupkan kain lap, dan memeras air, lalu kemudian mulai membersihkan luka-luka itu.
Sesekali, terdengar suara desisan dari mulut Arthur yang menahan sakit, ketika Mona menyentuh lukanya dan menimbulkan rasa perih di sana.
Wanita itu terus menyeka luka-luka itu perlahan hingga akhirnya selesai. Setelah semua luka bersih, kini Mona mulai mengoleskan cairan alkohol tujuh puluh persen untuk mensterilkan luka-luka tersebut.
"Ssssshhhhh…." Arthur mendesis berkali-kali dengan tangan yang mere*mas bantal di depannya kuat-kuat, karena rasa perih yang ditimbulkan oleh alkohol saat menyentuh lukanya.
"Tahan," ucap Mona dengan suara yang terdengar bergetar.
Arthur tertegun mendengar suara wanita itu. Ia hendak menoleh dan memastikan apa yang dia dengar.
"Hadap ke sana!" seru Mona sambil mendorong pipi Arthur yang baru saja hendak berbalik.
Mona kembali melakukan tugasnya, dan kemudian ia mengolesi semua luka itu dengan obat merah. Luka yang ada di siku dan punggung, Mona biarkan terbuka agar cepat kering.
Wanita itu lalu turun dari ranjang, dan berjongkok di lantai. Ia meraih kaki Arthur yang tadi sempat terkilir.
Mona kemudian mengoleskan krim otot dan memberinya sedikit pijatan.
"AAARRGGHHHH!" pekik Arthur saat merasakan sakit, ketika Mona meluruskan pergelangan kakinya.
"Tahan sebentar," ucap Mona yang masih memijat bagian itu.
Setelah selesai, dia menempelkan koyo di atas pergelangan kaki Arthur.
"Selesai," ucap Mona.
Arthur menarik kakinya dan meluruskan keduanya di atas kasur, sedangkan tubuhnya ia tulungkupkan di atas sebuah bantal yang berada di antara perut dan pahanya.
"Terimakasih sudah membantu. Sekarang, kau pulang lah," ucap Arthur datar.
Namun, Mona yang masih tertunduk, terlihat menyeka wajahnya dengan punggung tangan, dan hal itu pun tak luput dari perhatian Arthur.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih