DESIRE

DESIRE
Bab 118



Malam hari, selepas menyuapi ratu esnya dan menenangkan Mona, Arthur bangkit dari tempat tidur dan memeriksa tab-nya.


Ia mendapatkan sebuah surel dari William, berisi beberapa rekaman vidio CCTV yang ada di perusahaannya.


Arthur seketika tahu, perihal apa vidio tersebut. Pria itu pun kemudian segera memutar rekaman yang dikirimkan sang asisten.


Terlihat jelas, seseorang yang mengenakan jaket hitam, mengendap-endap dan masuk ke dalam kedung PS Group melalui pintu darurat, dan naik hingga ke lantai di mana kantor Arthur berada.


Dia bisa dengan mudah mengecoh keamanan, meskipun saat itu masih siang hari. Saat rekaman tersebut telah selesai, Arthur berlanjut ke vidio selanjutnya, saat orang itu tengah mengintai di balik pintu taman rooftop, tepat setelah Mona masuk ke sana.


Namun tak lama kemudian, orang asing itu pergi dan kembali ke luar melewati rute yang sama.


Arthur pun kemudian berjalan menuju ke ruang bawah. Dia hendak menelepon sang asisten, dan membiarkan Mona untuk beristirahat sendirian di kamar, agar tak terganggu dengan obrolannya.


"Halo, Will!" sapa Arthur.


Pria itu duduk di sofa ruang tengah, sambil menyandarkan punggung hingga tengkuknya ke sofa.


"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sahut William.


"Kenapa semuanya tak jelas? Apa tak ada satu pun yang menampilkan wajah orang aneh itu?" tanya Arthur yang merasa pusing dengan masalah kakak tiri Mona ini.


"Maaf, Tuan. Sepertinya, orang ini sengaja menghindari kamera pengawas, agar wajahnya tidak terlihat," sahut William.


Pria itu memijit pangkal hidungnya, karena merasa pening.


Sepertinya dia profesional. Sebenarnya, siapa kakak tiri Mona, hingga bertindak seperti ini hanya untuk meneror adiknya sendiri, batin Arthur.


"Aku ada dua hal lagi untuk kau lakukan segera. Pertama, perintahkan beberapa orang untuk mengawasi Mona dari jauh, dan jangan sampai dia tau jika dia sedang diawasi. Kedua, coba cari rekaman CCTV di lantai apartemen ini siang tadi, dan cari jejak pria asing itu," seru Arthur.


"Baik, Tuan," sahut William.


Sambungan pun terputus. Arthur meletakkan ponselnya di atas sofa, tepat di sampingnya. Sebelah lengannya terangkat ke atas dan menutupi kedua matanya.


Aku penasaran, seperti apa kakak tiri Mona ini, batinnya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Sudah seminggu sejak kedatang pria yang di duga Jeffrey ke apartemen Mona yang ditemui oleh Ema, kini ladies itu hampir setiap hari saat Arthur pergi ke kantor, selalu datang menemani rekannya yang sudah berhenti dari profesinya sebagai kupu-kupu malam.


"Eh, Mon, pesan makan dong. Apartemen mu menyiksaku sekali. Dari kemarin-kemarin tak pernah ada yang namanya makanan. Adanya cuma minuman sama buah saja. Masa iya orang kaya tak sedia cemilan di rumah sih," cerocos Ema.


"Eh, Nona. Kau di sini sudah dibayar sama pria ku. Kalo mau makan, pesan sendiri saja," ucap Mona yang sedari tadi duduk berama Ema di depan TV.


"Dih… yang sudah mengklaim hal milik. Manis sekali, sampai aku diabetes. Hoek!" ejek Ema.


Mona menoyor kepala Ema hingga wanita itu terhuyung sedikit ke samping.


"Menyebalkan," gerutu Mona.


"Hem… eh, Mona. Kata mu si Tuan Peterson itu punya asisten?" tanya Ema sambil kembali mencondongkan wajahnya ke hadapan Mona.


Si ratu es hanya mengangguk pelan, tanpa menoleh ke arah rekannya tersebut.


"Kamu bisa lah minta dia belikan makanan yang enak, habis itu, minta antarkan ke sini," ucap Ema.


"Eh, Kucing liar. Dia itu asistennya Tuan Peterson, bukan asisten ku. Asisten ku kan kamu, jadi, kau saja yang beli sana. Hahahaha…," kelakar Mona.


"Si*lan. Mana ada pesuruh secantik aku. Sembarangan saja," gerutu Ema.


"Hahahaha… Cantik? Dari mananya? Dari lubang sedotan? Pe de sekali Anda," ucap Mona.


"Iisshh… terserah kau saja, Mona. Terserah," keluh Ema yang sudah enggan menanggapi kelakar rekannya itu.


Tiap hari, hubungan Mona dan Ema semakin dekat. Keduanya pun semakin saling mengerti satu sama lain yang belum pernah mereka tahu sebelumnya.


Siang itu, saat keduanya tengah memperdebatkan sesuatu hal yang tidak penting sama sekali, tiba-tiba pintu depan diketuk oleh seseorang.


Seketika, Mona yang sedari tadi berkelakar dan mengejek Ema, mendadak bungkam. Tubuhnya beringsut mundur merapat ke sofa, dan menekuk lututnya hingga menutup dada. Dia pun memeluk kedua lutut erat, sambil menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.


"Kau diam di sini ya. Biar aku yang lihat siapa di luar," seru Ema.


Wanita itu pun beranjak meninggalkan Mona yang masih meringkuk ketakutan. Dia berjalan menuju ke arah pintu depan.


Ema mencuri lihat terlebih dahulu melalui lubang intip yang ada di pintu. Namun sayang, dia tak melihat seorang pun di depan sana.


"Tak ada orang? Apa orang iseng yah?" gumam Ema.


Wanita itu pun berbalik dan berjalan kembali ke arah Mona. Tapi tiba-tiba, sebuah ketukan membuatnya melompat kaget.


"Eh, Si*lan! Mengagetkan saja. Tadi tak ada orang lho, sekarang kenapa mengetuk lagi. Bikin merinding saja. Masa siang-siang ada hantu," gerutu Ema.


Dia pun memberanikan diri untuk mendekat kembali ke arah pintu. Dia mengintip sekali lagi dari lubang di sana.


"Wah… pria tampan siapa tuh? Tadi perasaan tak ada orang? Kenapa tiba-tiba ada pangeran berkuda putih?" gumam Ema.


Dia pun kemudian membenahi dirinya sejenak dan kemudian membuka pintu lebar-lebar.


"Ehm… cari siapa ya?" tanya Ema dengan semanis mungkin.


"Maaf, saya William. Asisten Tuan Peterson. Saya ke mari untuk mengantarkan makan siang untuk Nona Mona, sesuai perintah Tuan," ucap pria yang ternyata adalah asisten Arthur.


"Oh… ehm, kalau begitu, silakan masuk," seru Ema.


William pun masuk ke dalam dan diikuti Ema yang mengekorinya sambil memperhatikan pria tersebut.


Mona nampak lega saat mengetahui jika yang datang adalah William. Dia pun kembali tenang dan bersikap biasa saja.


"Selamat siang, Nona. Saya bawakan pesanan Anda," ucap William.


"Ehm… terimakasih, Will. Maaf sudah merepotkan," ucap Mona.


William berjalan menuju ke meja makan, dan dan meletakkan semua barang bawaannya di sana. Ema masih saja mengekor dan memperhatikan William.


"Ehm… maaf, Tuan William…," ucap Ema.


"Will. Panggil saya will saja, Nona," sela William.


"Oh, baiklah, Will. Aku Ema, dan jangan panggil Nona," sahut Ema.


"Baiklah, Ema," awab William.


"Maaf ya, Will. Aku tadi lama membukakan pintu untukmu. Soalnya, pas aku lihat di lubang pintu, tidak ada orang di sana, jadi ku biarkan saja," ujar Ema.


"Aku? Tidak kok. Aku baru saja ketuk pintu sekali, dan kamu langsung membukanya. Makanya tadi aku sempat terkejut," tutur Will.


Ema seketika membulatkan matanya mendengar perkataan William barusan.


"Ja… jadi, kamu baru saja sampai dan baru mengetuk pintu tadi yang langsung kubuka?" tanya Ema.


William mengangguk. Ema dan Mona saling melempar pandangan. Kedua wanita itu tiba-tiba meremang mendengar penuturan sang asisten tersebut.


Itu pasti dia. Pasti, batin Mona.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih