DESIRE

DESIRE
bab-7



Di sebuah bandara xxxx, terlihat beberapa orang berpakaian serba hitam berjejer, mereka menyambut seseorang yang baru saja keluar dari mobil.


Seorang laki laki keluar dari mobil ferrari berwarna hitam, laki laki berpakaian jas warna hitam itu berdiri menatap di sekitarnya lalu menggandeng seorang gadis yang juga baru keluar dari mobil.


"Welcome to Indonesia mr. Kaivan and Mrs. Jesslyn" sambut Barga sambil membungkuk


Kaivan melepas kacamata yang bertengger di hidung mancung nya, laki laki tampan itu menghirup udara sambil menutup matanya


Shanum, Rajen, kalian dimana?


"Kakak senang kembali ke indonesia?" tanya Jesslyn yang masih menggandeng lengan Kaivan


Kaivan menatapnya dan hanya menjawab anggukan kecil. Kaivan kembali berjalan sambil menggandeng Jesslyn di ikuti Barga dan para pengawal


"Kau pergilah bersama Barga, aku akan ke Mansion kakek lebih dulu" ucap Kaivan setiba di mobil


"Baiklah, kakak hati hati"


Kaivan mengusap rambut Jesslyn lalu masuk kedalam mobil. Sedangkan Jesslyn mengikuti Barga menuju mobilnya..


Beberapa menit kemudian Jesslyn dan Barga tiba di perusahaan H. Barga membuka pintu untuk Jesslyn lalu mereka masuk kedalam, mereka masuk ke ruangan yang sudah di isi beberapa orang, Barga yang menjabat sebagai CEO di perusahaan itu memperkenalkan Jesslyn.


"Selamat siang, perkenalkan gadis cantik di samping saya, Nona Jesslyn Antonio Prayoga beliau adalah pemimpin perusahaan PG group, beliau akan melaunching produk terbaru, dan akan di iklankan oleh model kita Rajen Tanaka" Barga mempersilahkan Rajen berdiri


Rajen berdiri lalu bersalaman dengan Jesslyn, laki laki itu tersenyum menatap wajah cantik di depannya


"Selamat datang di perusahaan H, nona Jesslyn, semoga kita bisa bekerja sama" ucap Rajen


"Tentu tuan Rajen"


Setelah bersalaman keduanya kembali duduk dan melanjutkan kembali meeting, dan selama itu pula Jesslyn tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Rajen.


Pukul lima sore Rajen telah selesai dengan pekerjaannya, laki laki itu berjalan bersama Julia yang selalu berada di sampingnya.


"Huh, hari ini benar benar membuat ku lelah Julia" keluh Rajen sambil memijit tengkuknya


"Apa kau butuh pijitan? Eh maksudku apa kau mau pergi ke spa, agar kau bisa di pijit" ucap Julia gugup ia merasa malu dengan perkataannya


"Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat, karena tidak lama lagi aku akan pergi ke kota A"


"Kamu mau ngapain di sana?" tanya Julia


"Hem aku mau menemui kedua orang tua Shanum dan..."


Ucapan Rajen terhenti ketika ia bertemu dengan Jesslyn yang berjalan bersama Barga..


"Selamat sore Nona Jesslyn" sapa Rajen sambil mengangguk


"Sore juga, apa kau ingin pulang?" tanya Jesslyn


"Iya Nona, kalau anda?"


Jesslyn mengangguk " kalau begitu aku duluan tuan Rajen"


Jesslyn masuk kedalam mobil dan meninggalkan area parkir. Barga yang tadinya mengantar Jesslyn berjalan ke arah Rajen dan Julia


"Hem, besok jam 1 siang Nona Jesslyn ingin bertemu denganmu Rajen" ucap Barga


Rajen mengerutkan keningnya "Kenapa dia tidak menghubungi Julia?"


"Dia hanya langsung memberitahuku dan aku harap kau tidak mengecewakannya" setelah mengatakan itu Barga menepuk pelan bahu Rajen lalu pergi


"Dasar orang kaya sombong, bisa bisanya dia tidak membuat janji dulu sama aku" gerutu Julia sambil memperbaiki letak kacamata nya.


Rajen tersenyum mengelus kepala gadis yang selalu berada di sampingnya itu "Jangan marah nanti cantik mu hilang"


Wajah Julia memerah bak kepiting rebus, meskipun ini bukan yang pertama kalinya Rajen menggoda nya, tetapi setiap laki laki yang disukainya memperlakukannya manis, Julia seakan lupa caranya untuk bernafas


"Kalau begitu aku akan mengantar mu pulang" ucap Rajen membuka pintu mobil untuk Julia "Silahkan tuan putri"


"Kau tidak harus melakukan ini Rajen, kau adalah atasan ku"


"Masuk saja" Rajen mendorong pelan tubuh Julia masuk kedalam mobilnya lalu menutup kembali


...............


Di kota A...


Seorang gadis sedang duduk di kursi ayunan yang berada di taman kecil samping rumahnya, gadis itu sesekali tersenyum entah karena apa


"Ehem"


Shanum menoleh melihat sang mama yang berdiri tak jauh darinya


"Mama perhatikan semenjak kamu pulang dari rumah Rajen, sikapmu jadi berubah Shanum. Seperti sekarang kamu terlihat lebih pemalas sukanya duduk seharian sambil tersenyum, hem ada apa ini?"tanya Mama mencoba menggoda Shanum


Shanum tersenyum malu ia berdiri sambil menyelipkan rambutnya kebelakang telinga


"Tidak ada apa apa mama, aku hanya lagi malas aja"


Mama menarik tangan Shanum membuat gadis itu kembali duduk di sampingnya


"Sayang, kamu tidak bisa menyembunyikan apa apa dari mama, mama yang mengandung kamu selama sembilan bulan, jadi apapun yang kamu rasakan mama juga akan rasakan sayang, katakan ada apa?" tanya Mama lembut


Shanum menunduk "Aku jatuh cinta ma"


Mama tersenyum mendengar ucapan putri semata wayangnya "Wajar kalau putri mama jatuh cinta, usia kamu sudah dua puluh lima, mama juga sudah sangat mengharapkan seorang cucu yang bisa mama ajak bermain di rumah ini, tapi bisa kamu katakan siapa laki laki beruntung itu sayang"


"Kak Rajen" jawab Shanum


Shanum menggeleng pelan "Belum, aku malu mengatakannya ma"


Mama menarik Shanum kedalam pelukannya "Tenang saja jika memang kalian berjodoh mama yakin kamu dan Rajen bisa bersatu"


.................


"Terima kasih atas pertemuannya Nona Jesslyn" ucap Rajen yang saat sedang berada di sebuah restoran bersama dengan Jesslyn dan jangan lupa Julia yang sayangnya harus duduk berjauhan dari Rajen


"Sama sama, hem bisa tidak tuan Rajen hanya memanggilku Jesslyn saja?"


Rajen tersenyum "Baiklah, kalau begitu kamu juga harus menyebut ku Rajen saja"


Jesslyn mengangguk lalu berdiri "Kalau begitu aku pamit dulu Rajen, untuk pemotretan selanjutnya aku akan menghubungi asisten mu"


"Biarkan aku yang mengantar mu Jesslyn" tawar Rajen


"Tapi, apa tidak merepotkan?"


"Tentu saja tidak, aku justru merasa senang bisa mengantar seorang pimpinan perusahaan seperti kamu"


"Kamu bisa saja"


Rajen berjalan ke arah Julia yang sedari tadi memperhatikannya


"Julia, aku akan mengantar Jesslyn pulang kerumahnya, kamu juga lebih baik pulang dan istirahat, besok pagi kita ketemu" pamit Rajen mengelus kepala Julia lalu pergi


"Tapi Rajen..." ucapan Julia berhenti karena Rajen sudah pergi bersama Jesslyn, membuat gadis itu mengepalkan tangannya


Sepanjang perjalanan Rajen dan Jesslyn mengobrol, Jesslyn terlihat nyaman berada di dekat Rajen. terkadang Jesslyn hanya menatap wajah tampan itu jika Rajen kembali fokus menyetir


Beberapa menit kemudian mereka tiba di kediaman Jesslyn. Rajen keluar dan membuka mobil untuk Jesslyn


"Terima kasih, apa kau mau mampir?" tawar Jesslyn


"Lain kali saja, aku harus pergi masih ada yang harus aku lakukan" Rajen mengangguk pamit lalu masuk kedalam mobilnya


Jesslyn masih menatap mobil milik Rajen sampai mobil itu menghilang dari pandangannya, setelah itu ia berjalan memasuki mansion. Dan seorang penjaga membuka pintu untuk Jesslyn


"Di mana kakak dan Kakek ku?" tanya Jesslyn pada seorang pelayanan


"Tuan muda belum pulang Nona, kalau tuan besar berada di kamarnya, beliau sedang istirahat"


Jesslyn kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamar sang kakek.


Tok! Tok! Tok!


Setelah mengetuk pintu Jesslyn masuk ke kamar Kakek ia berjalan perlahan. Lalu duduk di samping laki laki yang sudah berusia 70 tahun itu


"Jesslyn kau kah itu?" Tanya Javier dengan suara lemahnya


"Iya Kakek, gimana kesehatan kakek?"


"Seperti yang kau lihat sayang, kakek hanya bisa baring dan duduk di kursi roda sialan itu, tubuh renta ini sudah tidak seperti dulu lagi" ucap Javier ia kemudian menggenggam tangan Jesslyn "Apa kau betah tinggal di sini?"


"Tentu saja, apalagi kakak juga berencana menetap di Indonesia"


"Lalu dimana anak itu?"


"Jesslyn tidak tau kek, mungkin saja kak Kai ada urusan di luar sana"


"Beri tau dia kakek ingin bertemu dengannya"


"Baiklah, kalau begitu kakek istirahat dulu" Jesslyn memperbaiki letak selimut Javier lalu mencium keningnya "Selamat istirahat Kakek"


.............


"Tuan, Nona Jesslyn tadi menelfon ia meminta anda untuk segera kembali ke mansion" ucap Martin sang asisten atau tangan kanan Kaivan


Kaivan yang sedang berdiri menatap bangunan di depannya yang di penuhi anak anak kecil tidak bergeming, ia masih menatap anak anak yang sedang bermain di sekitar panti


Dimana aku harus mencari kalian berdua? Shanum apa kau sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik?


Kaivan menghela nafas kasar memikirkan keadaan kedua sahabatnya membuat nya lemah, ia sangat ingin bertemu, hanya saja Kaivan tidak tau bagaimana wajah kedua orang yang ia sayangi itu.


Setelah merenung beberapa saat Kaivan pergi tanpa mengucapkan apapun, ia meninggalkan area panti asuhan yang pernah jadi tempat tinggal nya bersama Rajen dan Shanum, meskipun tempat itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


...............


Kaivan Danendra



Rajen Tanaka



Shanum Diya Shakyra



Jesslyn Antonio Prayoga



Jesika