DESIRE

DESIRE
Bab 79



Malam itu, Arthur pulang lebih awal. Sekitar pukul tujuh, dia sudah sampai di apartemennya. Namun, tempat itu nampak gelap dan sepi.


Dia menyalakan semua lampu, dan mencari keberadaan Mona di apartemen tersebut.


"Mona," panggil Arthur sambil berjalan naik ke atas.


Apartemennya begitu sepi, hingga suara detak jarum jam dinding pun sangat jelas terdengar. Sesampainya di kamar, dia pun tak mendapati keberadaan Mona.


"Mona," panggilnya sambil melihat ke kamar mandi.


Ia kemudian mencarinya di dalam walk in closet serta balkon. Arthur bahkan pergi ke apartemen sebelah, berharap siapa tau si ratu es sedang berada di sana.


Namun, semuanya nihil. Mona tak menampakkan dirinya sama sekali.


"Di mana kau, Mona?" gumam Arthur.


Dia pun bergegas keluar dari tempat itu, dan kembali ke apartemennya sendiri. Ia mengambil ponsel yang ada di dalam tas kerja, yang ia letakkan di sofa.


Arthur nampak buru-buru mencari nomor wanita itu, dan segera melakukan panggilan.


Tut! Tut! Tut!


Panggilannya sama sekali tidak terhubung. Nomornya sedang tidak aktif, dan hanya mesin penjawab otomatis dari provider layanan seluler saja yang menjawabnya.


"Kamu di mana sih?" gumam Arthur semakin merasa gelisah.


Di tengah kebingungannya, dia teringat sebuah tempat yang mungkin saja Mona datangi.


"Heaven valley. Yah, aku harus ke sana, siapa tau dia ada di tempat itu," gumamnya.


Tanpa berganti pakaian, Arthur seketika itu juga berlari menuju lift, dengan hanya membawa ponsel dan kunci mobilnya.


Setelah sampai di parkiran, dia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke tempat yang mungkin didatangi oleh Mona.


Butuh waktu lima belas menit lebih cepat dari biasa untuk sampai di Heaven valley dari The royal blossom. Kini, Arthur segera memasuki tempat hiburan malam tersebut.


Ia nampak memperhatikan satu persatu setiap wanita yang ada di sana, terlebih yang memiliki ciri-ciri sama dengan Mona.


"Mona... Maaf, permisi." Arthur membalikkan badan setiap wanita-wanita, dan kemudian dia meminta maaf karena telah salah orang.


Lagi dan lagi, sampai Elliott, seorang ladies, serta seorang pria muda yang tengah berada di bar pun memperhatikan tingkah Arthur yang cukup aneh.


"Ell, bukankah itu pria yang mem-booking si Mona?" tanya Ema kepada Elliott.


"Ehm... ya... kau benar." Elliott sekilas melirik ke arah pria yang juga memperhatikan sikap Arthur yang terbilang aneh.


Dia tak enak jika harus mengiyakan pertanyaan Ema di depan pria tersebut, mengingat dia yang belum kenal siapa Mona sebenarnya.


"Booking Mona? Apa maksudnya?" tanya pria itu kepada Elliott dan juga Ema.


"Anda orang baru ya, sampai mengenal siapa Mona," ucap Ema yang kemudian melambaikan tangannya dan memanggil Arthur.


"Hei, Tuan. Kau cari Mona?" Teriaknya.


Arthur seketika mencari sumber suara itu, dan melihat seorang wanita yang duduk di depan meja bar bersama seorang pria yang sangat ia kenal.


"Gerald Holes? Sedang apa dia di sini? Jangan-jangan, Mona pergi ke sini bersama dengan dia," gumam Arthur dengan kepalan tangan yang telah mengeras.


Pria itu berjalan mendekat dan segera mencengkeram kerah baju Gerald yang sedari tadi duduk di depan bar Elliott.


"Di mana Mona?" Tanya Arthur geram.


Gerald terkejut dengan serangan mendadak yang dilakukan oleh pria tersebut.


"Aku tidak tau di mana dia," sahut Gerald.


"Tidak usah ngelak! Kalau tidak dengan Mona, lalu untuk apa kau di sini, hah?" ucap Arthur dengan geram dan semakin merem*s kerah Gerald.


"Ini tempat umum, Bro! Tempat hiburan malam. Semua orang bebas datang kemari," jawab Gerald yang semakin menyulut emosi Arthur.


"Hehโ€ฆ wanitamu? Memang kau siapaโ€ฆ Monaโ€ฆ," ucapnya terjeda.


Niat hati ingin memprovokasi, tetapi dia seketika tersadar dengan perkataan Ema, yang mengatakan jika pria yang tengah mencengkeram bajunya, adalah orang yang telah mem-booking Mona.


"Jadi kau... mem-booking Mona?" tanya Gerald tak percaya dengan kenyataan itu.


Dia sempat mengira jika Mona dan pria di hadapannya adalah pasangan, tetapi hal mengejutkan justru terungkap.


"Bukan urusanmu. Cepat katakan di mana Mona," bentak Arthur.


"Ehm... Tuan. Sepertinya Anda salah paham. Tuan ini sejak tadi sendirian di sini. Kalau kau mencari Mona, cari saja dia di Grand moon," ucap Ema dengan santainya sambil menyesap minumannya.


Namun, hal itu justru membuat Elliott tersentak kaget, hingga membuat pahatan es di tangannya terjatuh, saat mendengar nama tempat yang disebutkan ladies tersebut.


Cengkeraman Arthur di baju Gerald pun mengendur, dan seketika ditepis dengan kasar oleh pria bermarga Holes itu.


"Grand moon? Tempat apa itu?" tanya Arthur, sambil menoleh ke arah Ema.


"Itu adalah tempat yang sangat mengerikan. Tempat di mana para maniak **** berkumpul. Mereka sangat kasar, dan selalu melakukan pesta," ucap Ema.


"Kenapa Mona datang ke tempat seperti itu? Di mana alamatnya?" tanya Arthur.


"Di pinggiran kota, di sebelah barat. Sisi paling gelap ibu kota, di mana wanita yang pergi ke sana akan hancur dalam semalam," ucap Ema.


Tanpa berkata lagi, Arthur seketika berlari keluar dan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan lobi.


Setelah mendengar perkataan Ema, dan melihat reaksi Arthur, Gerald seolah tau hal buruk mungkin akan terjadi pada Mona. Dia pun segera menyusul Arthur untuk pergi ke tempat tersebut.


Sementara di dalam klub, Elliott menatap tajam ke arah Ema, yang justru nampak biasa-biasa saja.


"Jujur padaku. Dari mana kua tau Mona pergi ke tempat itu?" tanya Elliott kepada ladies tersebut.


Wanita itu menyesap minumannya, dan melipat kedua lengan di atas meja bar.


"Kebetulan saja aku tau, dan kali ini aku ingin dia berhutang budi padaku," ucapnya sambil tersenyum menang.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Di tempat lain, di Grand moon.


Sebuah tempat penginapan yang terletak di pinggiran ibu kota bagian barat. Tempat yang terkenal dengan pesta ****, yang hanya bersama seorang wanita saja, atau istilah lainnya adalah gang-bang. Sebuah penyimpangan s*ksual, di mana beberapa pria (lebih dari dua), bercinta dengan seorang wanita.


Tempat di mana wanita akan hancur dalam semalam. Yang bertahan akan mengalami trauma berat, bahkan tak jarang dari mereka meregang nyawa di tempat. Banyak wanita malam yang silih berganti datang ke tempat itu, karena tergiur dengan bayaran yang tinggi. Namun, tak satu pun dari mereka yang akan sanggup kembali lagi, karena terbayang akan keganasan para maniak di sana.


Mona baru saja turun dari taksi, dan berjalan menuju ke lobi depan tempat mengerikan itu. Suasana mencekam seketika itu terasa.


Beberapa pria nampak tengah duduk-duduk di kursi tamu. Banyak mata yang memandangi dirinya, tetapi Mona terus saja berjalan menuju ke meja resepsionis.


"Maaf, kamar 305 di mana?" tanya Mona kepada bagian resepsionis.


"Kamar 305 ada di lantai dua. Itu adalah VIP room. Silakan ikut saya," ucap pria petugas resepsionis tersebut.


Petugas itu berjalan mendahului Mona. Namun, ekor matanya seakan memberi isyarat kepada seseorang untuk melakukan sesuatu. Hal itu pun tertangkap mata oleh Mona, dan perempuan itu pun mulai curiga jika ada yang tak beres.


Aku harus segera meminta bantuan Kakak, batinnya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐Ÿ‘, komen ๐Ÿ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih