DESIRE

DESIRE
Bab 35



Arthur nampak tegang, dan menggigiti kuku jarinya, sembari melihat Dokter Anderson yang tengah memeriksa kondisi Mona saat ini.


Dokter itu melakukan beberapa pengecekan, seperti cek tensi darah, cek detak jantung dan pernafasan, serta respon pupil terhadap cahaya.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan sederhana, Dokter senior itu kembali menyimpan peralatan medisnya ke dalam tas.


Melihat pemeriksaan itu telah selesai, Arthur pun berjalan mendekati dokter pribadinya, dan menanyakan kondisi Mona.


"Bagaimana kondisinya, Dok? Dia baik-baik saja bukan?" cecar Arthur.


"Boleh saya tahu, kenapa Nona ini bisa sampai pingsan?" tanya Dokter Anderson.


"Dia diserang oleh seseorang, dan sempat di bekap dari belakang. Kemungkinan orang tersebut menggunakan obat bi*us yang dioleskan ke atas sapu tangan itu," ungkap Arthur sambil menunjuk sebuah sapu tangan, yang tergeletak di atas meja, di seberang ranjangnya.


"Hem… wanita secantik ini memang sangat berbahaya, jika dibiarkan berkeliaran seorang diri di luar. Sebaiknya, Anda menjaganya lebih ketat lagi, Tuan," ucap Dokter Anderson kepada Arthur.


"Kenapa aku yang harus menjaganya? Memangnya dia siapaku?" sahut Arthur tak terima ketika mendapat perintah seperti itu.


"Bukankah dia sangat istimewa untuk Anda, Tuan? Saya baru kali ini melihat ada seorang wanita yang bisa membuat Anda panik bukan main. Bahkan, dia pun sekarang tengah berbaring di atas ranjang Anda. Seingatku, belum pernah ada wanita yang pernah naik ke atas sini sebelumnya? Kecuali ibu dan adik Anda," seru Dokter Anderson yang membuat Arthur terdiam seketika.


Ia tak menyadari jika reaksinya sepanik itu, kala mendapati Mona yang tengah dalam bahaya, hingga membuat wanita tersebut tak sadarkan diri.


Apa benar aku menganggapnya begitu berharga? batinnya.


Dokter Anderson memperhatikan ekspresi Arthur yang terkesan kebingungan dengan dirinya sendiri, ditambah penuturannya perihal penilaian terhadap hubungan antara Arthur dan wanita yang masih tak sadarkan diri itu.


Dokter senior itu pun lalu beranjak dari duduk, dan menenteng tas kerjanya. Ia berjalan menghampiri Arthur, dan menyerahkan selembar kertas berisi resep obat, yang harus diberikan kepada Mona setelah wanita itu bangun.


"Dia tidak apa-apa. Anda tidak perlu khawatir. Cukup pastikan dia minum minuman hangat ketika bangun nanti, dan ini resep obat yang harus Anda berikan kepadanya, untuk mengurangi efek dari obat bi*us yang sempat masuk ke dalam tubuhnya," pesan Dokter Anderson panjang lebar.


Arthur pun menerima resep obat itu dari Dokter tersebut, dan mengantarkan dokter senior itu menuju ke pintu keluar.


"Terimakasih atas bantuannya, Dok." Arthur mengulurkan tangan yang kemudian di sambut oleh Dokter Anderson.


"Sama-sama. Saya permisi," sahut dokter itu.


Setelah Dokter Anderson keluar, Arthur pun segera menutup pintu apartemennya, dan menelepon seseorang.


"Will, apa semuanya sudah dibereskan?" tanyanya langsung.


"Sudah, Tuan. Meskipun ada beberapa anggota dewan yang sempat marah akibat pembatalan rapat ini," sahut William.


"Sudah, biarkan saja. Aku ada tugas lagi untuk mu," ucap Arthur.


"Apa itu, Tuan?" tanya William.


"Tolong belikan aku obat yang ada di resep. Nanti resepnya akan ku foto dan ku kirimkan padamu," tutur Arthur.


"Obat? Apa Anda sakit, Tuan?" tanya William yang nampak khawatir dengan kondisi tuannya.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Ini untuk orang lain. Cepat belikan saja, dan antar ke apartemen baruku," seru Arthur.


"Baik, Tuan," sahut William.


Sambungan pun terputus, dengan William yang nampak heran dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Membeli obat untuk orang lain? Aneh sekali. Kenapa tiba-tiba dia peduli dengan orang lain? Apa dia baik-baik saja? Atau... jangan-jangan tempat baru itu ada hantunya, yang bisa merubah sifat orang jadi berbeda seperti ini?" gumamnya setelah teleponnya terputus.


William pun lalu hanya mengedikkan kedua bahunya, dan bergegas menuju ke apotik terdekat, setelah mendapat pesan dari Arthur, yang berisi foto resep obat dari Dokter Anderson untuk Mona.


Kembali ke apartemen Arthur, dimana saat ini pria tersebut sudah kembali ke dalam kamarnya, dan duduk di bibir ranjang tepat di samping perut Mona.


Ia menatap wanita itu dengan tatapan yang susah diartikan, sembari tangannya bersedekap di depan dada.


"Hah… ada apa sebenarnya denganmu?" terdengar helaan nafas yang cukup berat keluar dari mulut pria tersebut.


Pria itu pun lalu berjalan ke arah pintu depan, dan mendapati sang asisten yang telah sampai di sana, dengan membawa kantung berisi obat pesanannya.


"Ini pesanan Anda, Tuan." William menyerahkan bungkusan kantung plastik itu kepada Arthur.


"Thanks, Will. Kau boleh kembali sekarang," seru Arthur.


"Ehm… memangnya siapa yang sakit, Tuan?" tanya William sambil mencoba melihat ke dalam tempat itu.


"Bukan urusan mu. Kau pergilah... atau... kau sedang mengharapkan tugas lembur dari ku, hem?" ucap Arthur yang membuat sang asisten seketika menggeleng cepat.


"Eh… ti… tidak, Tuan. Baik, saya akan pergi. Permisi," ucap William yang kemudian buru-buru pergi dari sana.


Setelah William pergi, Arthur segera menutup pintu dan kembali ke lantai atas, kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Saat ia baru saja melangkah ke dalam, pandangannya tertuju pada Mona yang mulai tersadar, dan menggeliat dengan mata yang masih terpejam.


Wanita itu mengerang, dan lengannya terangkat ke atas menutupi separuh wajahnya.


"Eng…," gumamnya.


Arthur yang melihat itu, sontak menghampiri Mona, dan duduk di sampingnya.


"Apa kau sudah bangun? Bagaimana kondisimu? Apa yang kau rasakan? Apa semuanya baik-baik saja?" cecarnya seraya menyentuh kening, pipi dan bagian di bawah telinga wanita itu.


"Ehm…," perlahan, Mona mulai membuka mata, menyesuaikan pupilnya dengan cahaya yang berpendar di penjuru ruangan itu.


Setelah bisa membuka matanya, Mona mulai mengedarkan pandangan ke semua sudut kamar.


"Ehm… dimana aku?" tanyanya dengan suara yang masih terdengar lemah.


Ia merasa asing dengan tempat itu, sehingga Mona pun memutuskan untuk bangun. Namun, rasa pusing yang ia alami cukup berat, akibat efek dari obat bi*us sebelumnya. Sehingga membuat wanita cantik itu tak mampu untuk bangun.


Arthur yang melihat Mona kesulitan pun, lalu menahan bahu wanita itu agar tetap berbaring di ranjangnya.


"Sebaiknya, kau berbaring dulu saja di sini. Aku akan ambilkan minuman hangat untuk mengurangi pusing mu. Tunggu sebentar," ucap Arthur yang lalu berjalan keluar dan menuju dapur.


Mona sama sekali belum sadar, jika orang yang telah merawatnya adalah Arthur, si tetangga menyebalkannya.


Di dapur, Arthur mengambilkan air hangat yang dicampurkan dengan lima sendok madu dan dua irisan lemon ke dalamnya.


Kemudian, pria itu buru-buru membawanya ke atas untuk diminumkan kepada Mona.


Sesampainya di kamar, pria tersebut berjalan menuju nakas, dan meletakkan gelas berisi minuman itu di sana.


Dia pun kemudian duduk di bibir ranjang, tepat di samping kepala wanita itu.


"Apa kau sudah bisa bangun?" tanya Arthur dengan suara lembut.


"Ehm…," Mona hanya bergumam dan mengangguk pelan.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih