
Dua hari berlalu sejak pertemuan rahasia antara Mona dan juga Gerald. Kini, pria itu nampak tengah berdiri di depan gedung Shine group, di mana Arthur sedang berada di kantornya.
"Permisi, saya Gerald Holes. Saya ada keperluan dengan Tuan Peterson," ucap Gerald kepada resepsionis di lantai bawah.
"Baik. Silakan tunggu sebentar," sahut si resepsionis.
Gerald mengangguk, dan dia pun menunggu di depan meja resepsionis tersebut. Tampak petugas tadi sedang menelpon seseorang, dan menanyakan perihal kesediaan atasannya untuk bertemu dengan tamu tak di undang itu.
Tak berselang lama, sang petugas resepsionis kembali berbicara kepada Gerald dan menyampaikan pesan dari sang atasan.
"Maaf, Tuan Holes. Tapi, Tuan Peterson sekarang sedang sangat sibuk. Mohon datang lagi lain kali, dan buat janji terlebih dahulu," ucapnya.
"Oke. Baiklah. Ini memang salahku yang tiba-tiba saja datang. Terimakasih," sahut Gerald yang kemudian berjalan menuju kursi tunggu yang ada di area lobi.
Dia nampak mengeluarkan ponselnya dari dalam tas tangan yang ia bawa.
[ Aku beri kau satu kesempatan lagi. Temui aku di restoran yang ada di seberang kantormu, sekaligus bawa kontrak kerja sama kita. Jika kau menyia-nyiakan kesempatan ini, maka aku akan benar-benar meminta Mona darimu,] pesan Gerald yang ia kirimkan ke nomor William.
[ Tolong sampaikan pesan tadi kepada bosmu, Tuan William,] lanjutnya memberi arahan kepada si empunya nomor.
Gerald tak memiliki nomor Arthur sebelumnya. Satu-satunya orang yang biasa ia hubungin selama mengikuti sayembara adalah sang asisten, William.
Tak berselang lama, ponselnya berdering. Gerald melihat siapa yang melakukan panggilan ke nomornya.
"William?" gumamnya.
Dia pun kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"Hal …,"
"Apa maksud pesanmu tadi, hah?" bentak suara di seberang yang terdengar begitu marah.
Arthur? batin Gerald yang merasa mengenal suara tersebut.
"Oh… rupanya Tuan Peterson sendiri yang bicara. Suatu kehormatan untuk saya yang hendak menemui Anda," sahut Gerald dengan santainya.
Rupanya, setelah William menyampaikan pesan dari Gerald, Arthur memintanya untuk segera melakukan panggilan kepada pria itu.
"Apa maksud pesanmu tadi, Br*ngsek?" tanya Arthur yang masih emosi atas permintaan Gerald tempo hari.
"Yah… seperti yang ku tulis di sana, aku telah mengganti syaratnya dari makan malam menjadi makan siang, dan bukan dengan Mona melainkan dengan mu, Tuan Peterson," papar Gerald.
"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Apa rencanamu sebenarnya?" tanya Arthur yang tak mau percaya begitu saja kepada rival cintanya itu.
"Yah… anggap saja ini hadiah selamat datang untuk keponakanku," sahut Gerald dengan senyum getirnya.
"Apa maksudmu? Jangan coba membuat alasan yang aneh," seru Arthur yang masih tak mau percaya akan perubahan sikap Gerald kepadanya.
"Terserah kau saja. Intinya, aku sudah berbaik hati. Jika kau lewatkan kesempatan ini, maka selanjutnya aku akan benar-benar meminta Mona sebagai syartanya. Aku tunggu di restoran depan, setengah jam dari sekarang. Lewat dari itu, tawaran ku tadi tak berlaku lagi," ucap Gerald yang kemudian memutus sambungan telepon.
Pria bermarga Holes itu pun kemudian berjalan keluar menuju ke restoran, yang ada di seberang gedung PS Group.
Ia memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela, agar saat Arthur datang dia bisa menyiapkan diri.
Sejujurnya, berat bagi Gerald untuk mengalah pada Arthur. Namun, semua yang diucapkan Mona tempo hari, tak ubahnya sebuah deklarasi bahwa dirinya hanyalah milik Arthur seorang.
Meski pria itu tak mau menerimanya kelak, maka tak akan ada pria lain di hidupnya.
Gerald pun dengan berat hati merelakannya, dan hanya bisa mendoakan agar wanita yang sudah mencuri hatinya sejak pertemuan pertama itu, bisa bahagia bersama pria yang dicintai.
Hampir setengah jam sudah, Gerald menunggu. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan jika waktu yang diberikannya kepada Arthur tinggal lima menit lagi.
Namun di saat-saat terakhir, pimpinan PS Group itu pun muncul dari pintu masuk gedung, dan tengah berjalan menuju ke tempat dirinya berada.
Gerald pun mempersiapkan dirinya, untuk kembali menghadapi pria arogan yang pencemburu tersebut.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Sementara itu, di apartemen The Royal Blossom, Mona tengah berbincang dengan seseorang di telepon.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Ema," ucap Mona yang rupanya tengah berbicara dengan teman sekaligus rivalnya di Heaven Valley.
"Oke... Aku akan menceritakan padamu, full version. Mau bertemu di mana?" sahut Ema.
"Lupakan dulu urusan itu. Aku sangat mengenalmu, dan aku percaya bahwa kau tak terlibat dalam semua ini," tutur Mona.
"Oh ya? Wah… hebat sekali kau bisa langsung percaya padaku seperti itu. Kau tak takut kalau aku yang sudah menjebak mu, heh?" ucap Ema memprovokasi.
"Ya… ya… analisis mu lumayan juga. Jadi, apa mau mu menelepon ku, hah?" tanya Ema.
"Aku butuh bantuan mu," seru Mona.
Dia pun mengatakan rencananya untuk mengungkap siapa orang di balik peristiwa mengerikan yang hampir menimpa dirinya di Grand moon beberapa hari yang lalu.
Mona ingin semua orang tau, siapa yang sudah mencoba bermain kotor dengan dia, dan memberikan efek jera agar orang itu tak lagi melakukan hal sekotor itu, apapun alasannya.
"Paham bukan?" taya Mona setelah selesai menjelaskan rencananya.
"Iya, aku tak seb*doh itu sampai tak paham," sahut Ema.
"Oke, aku tunggu aksi mu," seru Mona.
Sambungan pun terputus. Mona kini tengah duduk di balkon apartemen Arthur, dan menatap lurus ke cakrawala luas.
"Kita lihat, wujud apa yang ada di balik topeng polos mu itu," gumam Mona dengan tatapan tajamnya.
Malam ini, Mona bermaksud untuk pergi ke Heaven valley. Dia ingin mengungkap kenapa temannya dengan tega menjebak dirinya.
Sore itu, Mona menghubungi Arthur dan meminta ijin untuk pergi ke tempat Madame Queen.
"Halo, Kak. Apa kau sibuk?" tanya Mona seketika saat sambungan terhubung.
"Hai, Mona. Aku tidak sibuk. Hanya sedang menyiapkan proyek yang akan dimulai dalam waktu dekat. Kenapa, Sayang?" sahut Arthur.
"Wah… apa kau sudah dapat arsiteknya, Kak?" tanya Mona yang pura-pura tak tau.
"Tidak. Masih arsitek gila itu. Dia tadi siang tiba-tiba datang dan setuju dengan kerja samanya," jawab Arthur.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Mona lagi.
"Entahlah. Mungkin kepalanya terbentur sesuatu," jawab Arthur sekenanya.
"Hahahaha… Kakak, ada-ada saja," sahut Mona.
"Apa kau menelpon ku hanya ingin menanyakan hal itu?" tanya Arthur.
"Oh… tentu tidak. Aku ingin meminta ijin, nanti malam aku akan pergi ke Heaven valley. Boleh yah," rengek Mona seperti biasa.
"Mau apa lagi ke sana? Tebar pesona lagi?" sindir Arthur.
"Tentu tidak. Untuk apa aku tebar pesona. Tidak perlu ditebar pun mereka semua sudah terpesona dengan auraku, Kak. Hehehe… aku hanya becanda. Boleh ya," bujuk Mona.
"Iya tapi mau apa dulu ke sana?" tanya Arthur lagi.
"Ya hanya kangen saja dengan semuanya. Bukankah terakhir kali ke sana, belum sempet menyapa dan sudah ditarik pulang lebih dulu olehmu, Kak. Apa kau lupa?" keluh Mona kesal.
"Tapi tidak ada dekat-dekat dengan pria lagi," perintah Arthur tegas.
"Iya janji. Tidak ada kontak fisik dengan pria lain, tidak ada mabuk, tidak ada tebar pesona. Sudah?" ucap Mona.
"Ya sudah. Tapi nanti aku jemput," seru Arthur.
"Oke, Tuan Peterson… dasar posesif," gumam Mona di akhir kalimat.
"Aku denger, Mona," ujar Arthur.
"Hehehe… iya, Kakak sayang. Sudah yah, aku mau siap-siap dulu. Dah, Kakak," kata Mona sambil menutup sambungan teleponnya.
"Saatnya beraksi." Mona menyunggingkan sebelah sudut bibirnya dan berjalan menuju ke dalam kamar mandi.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih