DESIRE

DESIRE
Bab 27



Aku seperti mengenalnya. Tapi siapa? batin Madame Queen saat menatap gadis yang masih mematung di depan pintu kamar mandi, karena melihat ada orang lain lagi yang berada di sana.


"Kau sudah selesai?" tanya Joshua, yang membuat kedua wanita beda generasi itu tersadar dari pikiran masing-masing.


Lisa hanya merespon dengan anggukan. Sedangkan Madame Queen, ia segera melakukan sebuah panggilan, setelah mengkonfirmasi keberadaan gadis itu di tempatnya.


"Halo, Luzy. Di mana kau sekarang?" tanya Madame Queen kepada seseorang bernama Luzy di ujung telepon.


Nampak dia tengah mendengar jawaban dari seberang.


"Datanglah ke mari sekarang juga. Aku tunggu kau di atas," perintah Madame Queen.


Sambungan pun terputus, dan snag mucikari menoleh ke arah pintu, di mana sudah ada seorang penjaga keamanan yang selau bertugas di tempat hiburan itu.


"Hawkins, cepat carikan pakaian yang layak untuk anak ini," perintah Madame Queen.


Wanita itu begitu peka, ketika melihat pakaian sang gadis kecil yang telah robek-robek di beberapa bagian, akibat perbuatan tak sadar dari seorang Joshua Chou.


"Kau sebaiknya membersihkan dirimu juga, Josh. Biarkan aku yang mengurus gadis kecil ini," ucap Madame Queen.


Joshua pun bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju kamar mandi. Pria itu melewati Lisa yang masih diam mematung di depan pintu.


"Pergilah dengan wanita itu. Dia akan membantumu," ucap Joshua kepada Lisa yang masih tertunduk, ketika ia telah mencapai ambang pintu.


Sekilas, Joshua mencuri lihat ekspresi wajah Lisa yang terus tertunduk ke bawah. Namun, ia seolah tak menangkap gurat kesedihan. Yang ia tangkap justru wajah datar dan dingin tanpa ekspresi.


Apa mungkin dia seterpukul itu? batin Joshua.


Pria itu pun lalu masuk ke kamar mandi, dan menutup pintunya rapat-rapat.


Di luar, Madame Queen terus menatap ke arah Lisa.


"Kau… kemarilah," panggilnya.


Lisa mengangkat wajahnya, dan menatap lurus ke arah Madame Queen.


Tatapan mata itu…, lagi-lagi, sang mucikari dibuat terkejut oleh gerak gerik Lisa.


"Ehem… ikut aku. Ayo," perintah Madame Queen lagi, yang menyadarkan dirinya dari pikiran lain.


Lisa pun perlahan mendekati Madame Queen, mencoba berjalan dengan se normal mungkin, sambil menahan sakit yang teramat di pangkal pahanya.


"Duduk lah di situ." Madame Queen menunjuk ke arah bibir ranjang, yang tadi sempat di duduki oleh Joshua.


Lisa pun menurut.


"Siapa nama mu?" tanya Madame Queen.


Namun, Lisa hanya diam dengan wajah yang tertunduk.


"Apa kau ingat, bagaimana caranya gadis kecil seperti mu bisa sampai berada di tempat seperti ini?" tanya Madame Queen lagi.


Namun, Lisa tetap diam bergeming sedikit pun.


Mucikari tua itu menghela nafas berat, karena merasa tak direspon sama sekali oleh gadis kecil di hadapannya.


Tak berselang lama, penjaga keamanan bernama Hawkins, datang dengan membawa sebuah tas belanja.


"Sudah kau dapatkan?" tanya Madame Queen.


"Sudah, Bos," jawab Hawkins, seraya menyerahkan tas itu kepada bosnya.


"Aku akan membawa dia ke ruangan ku. Saat Tuan Chou selesai, minta dia untuk ke atas juga." Madame Queen lalu bangkit dari duduknya, dan menarik lengan Lisa.


Gadis itu hanya bisa menurut dan mengikuti Madame Queen dengan patuh, namun masih diam seribu bahasa. Mereka menuju ke ruang pribadi wanita tua tersebut.


Selang beberapa saat, ketika Lisa telah selesai berganti pakaian, Luzy datang dan disusul di belakangnya oleh Joshua dan juga Hawkins.


"Ada apa, Mom?" tanya Luzy yang melihat begitu banyak orang tengah berada di sana.


Pandangannya seketika tertuju pada gadis kecil, yang tengah duduk dengan wajah tertunduk.


Sedangkan Joshua, dia memilih untuk duduk di seberang Lisa, dan Madame Queen duduk di samping gadis tersebut.


"Ada apa, Mom. Apa ada masalah serius, sampai aku dipanggil sepagi ini?" tanya Luzy yang semakin penasaran, terlebih ketika melihat ekspresi bosnya yang terasa berbeda saat itu.


"Semalam, aku menyuruhmu untuk masuk ke kamar yang dipesan Tuan Chou, bukan?" tanya Madame Queen.


"Maksud Anda, kamar yang berada paling ujung, bukan?" jawab Luzy.


"Benar. Apa kau pergi ke sana?" tanya Madame Queen.


"Iya, aku memang pergi ke sana. Tapi di sana bukan tempat Tuan Chou, melainkan pria lain," ungkap Luzy.


Madame Queen mengerutkan kedua alisnya. Sedangkan Joshua, dia hanya diam. Pandangan pria itu fokus ke arah Lisa yang terus diam. Bahkan, badannya tak terlihat gemetaran sedikit pun.


"Apa maksudmu?" tanya Madame Queen.


"Saat aku pergi ke sana, ada seorang pria yang sedang menelepon seseorang, tepat di depan kamar seberang…,"


Luzy menceritakan, jika ada seorang pria yang sedang berdiri di depan kamar, yang berada tepat di seberang kamar yang akan dia masuki, atau kamar yang sudah dipesan oleh Joshua.


Pria itu nampak tengah menerima panggilan telepon, namun karena suara bising dari musik DJ yang begitu keras, pria itu pun lalu pergi keluar dan melanjutkan pembicaraannya.


"Saat sampai di depan pintu, tiba-tiba aku langsung di tarik ke dalam oleh seseorang, dan itu adalah kamar yang telah Mommy sebutkan sebelumnya. Tapi maaf, pria itu bukan Tuan Chou," tutur Luzy.


"Tapi, itu kamar yang aku sebutkan, bukan?" tanya Madame Queen memastikan.


"Benar, Mom. Tapi di sana tidak ada Tuan Chou melainkan orang lain," jawab Luzy.


"Tunggu sebentar," Madame Queen berdiri, dan berjalan menuju ke arah meja kerjanya.


Dia melihat laporan bisnisnya semalam, terutama bagian penyewaan kamar. snag mucikari memijat pangkal hidungnya, dengan sambil berkacak pinggang.


"Ada yang sudah berani bermain-main di tempatku," gumamnya.


Dia pun lalu membawa laporan itu, dan berjalan menuju tempat di mana semua orang berada.


"Josh, perlu ku perjelas jika ini bukan salah ku, dan bukan juga salah mu. Seperti yang kau tahu, kalau kamar paling ujung adalah kamar kelas VVIP, dan hanya beberapa orang yang bisa masuk ke sana, tentu dengan tarif yang sangat tinggi,"


"Lihat baik-baik. Menurut laporan, tadi malam hanya ada tiga orang yang memakai kedua kamar itu, dan yang terakhir adalah kau."


"Aku memang tak memberitahukan kamar yang mana, karena sesuai kebiasaan di tempat ini, semua kamar dalam keadaan tertutup. Tanda 'jangan diganggu' yang menggantung di handle pintu adalah pembedanya, antara mana kamar yang kosong dan yang berpenghuni."


"Aku sangat yakin, sebagai langganan di sini, kamu pun tahu benar akan hal itu, sampe kau pun masuk ke kamar di seberangnya yang belum memiliki tanda. Bukan begitu, Josh?"


Joshua hanya mengangguk mendengar analisis dari Bos Heaven valley itu.


"Jika gadis ini ada di salah satu kamar tersebut, berarti sudah ada yang memasukkannya secara ilegal ke sana. Bisa jadi, yang semalam bersama Luzy adalah orang yang seharusnya bersama dengan dia, dan mungkin si penelepon yang dilihat Luzy, hendak memberitahukan jika tempatnya berubah, karena tahu kalau kamar itu telah dipesan oleh orang lain, dari tanda di handle pintunya," lanjut Madame Queen.


"Wah… itu sangat mengerikan, Mom," seru Luzy tiba-tiba.


"Memangnya ada apa?" tanya Madame Queen.


"Pria itu adalah seorang maniak, Mom. Dia sangat kasar dan brutal. Aku yang sudah biasa saja kepayahan dibuatnya, apa lagi gadis kecil ini. Pasti dia akan mengalami trauma berat setelahnya," ungkap Luzy.


Madame Queen memandangi gadis, yang sedari tadi nampak diam. Namun kali ini, jemarinya saling bertaut, pertanda jika dirinya mulai merespon perbincangan itu.


Bahunya terlihat bergetar. Sepertinya dia ketakutan mendengar penuturan Luzy.


"Hah… Baiklah. Jadi memang ada yang sudah main-main di tempat ku. Josh, kau bisa pergi sekarang. Masalah gadis ini, biar aku yang urus. Karena bagaimana pun, kasus ini ada di tempat ku," ucap Madame Queen.


Sejak kejadian itu, entah kenapa Joshua merasa terikat dengan Mona, dan seolah memiliki kewajiban terhadap wanita itu. Hingga ia tak lagi menyentuh wanita lain, selain gadis kecilnya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih