DESIRE

DESIRE
Bab 127



Suara dering dari ponsel, membangunkan pria yang tengah menemani wanitanya tidur di rumah sakit.


"Ehm…," erangan lirih keluar dari mulut pria itu.


Dia mengangkat kepalanya yang sedari tadi ditelungkupkan di samping Mona. Pria itu menoleh ke kanan kiri, dan menangkap benda pipih yang tergeletak di atas sofa ruang rawat itu.


Arthur pun berjalan sambil memegangi kepalanya yang terasa goyang karena kantuk yang masih tersisa.


Dia melihat nama yang tertera di layar. Nampak nama sang asisten di sana. Arthur pun membawa ponselnya itu dan berjalan ke arah luar kamar rawat itu.


"Halo, Will. Ada apa pagi-pagi telepon?" tanya Arthur.


"Maaf, Tuan. Tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan," ucap William.


"Apa? Cepat katakan," seru Arthur.


"Kami berhasil menemukan alat penyadap di apartemen Anda. Bukan hanya satu, tapi lebih dari lima, dan itu ada di setiap sudut ruangan yang Anda tempati itu," ungkap William.


"Apa?!" pekik Arthur.


Pria itu terkejut mendengarkan penuturan sang asisten.


"Apa kau yakin itu alat penyadap?" tanya Arthur memastikan.


"Saya yakin, Tuan," sahut William.


Penyadap? Untuk apa dia memasang banyak penyadap di apartemenku? Ada apa ini? batin Arthur.


"Ehm … Will, kamu coba sisir lagi, jangan sampai ada yang tertinggal satu pun di sana," perintah Arthur.


"Baik, Tuan," sahut William.


Sambungan pun terputus. Arthur nampak masih diam di tempat. Pikirannya terus mencerna informasi yang baru saja ia terima dari sang asisten.


"Apa sebenarnya yang dia cari? Penyadap? Untuk apa?" gumam Arthur.


Dia pun kembali ke dalam ruang rawat dan melihat jika Mona masih tertidur, begitu pun dengan Ema.


"Hah…," Arthur nampak mengusap kasar wajahnya, dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Dia tenggelam dalam pikirannya yang mencoba mencari jawaban dari banyaknya pertanyaan yang terlintas di dalam benaknya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Dua hari kemudian, Arthur mendapatkan telepon dari William, jika ada sebuah perusahaan yang hendak berinvestasi untuk proyek Eropanya, dan berencana membuka salah satu gerai mereka di sana.


"Benarkah? Kapan mereka meminta bertemu?" tanya Arthur yang terlihat begitu antusias.


"Siang ini ,Tuan. Saya sudah mencoba mengajukan diri sebagai wakil Anda, namun mereka hanya mau untuk bertemu dengan Anda secara langsung," tutur William.


"Baiklah. Aku akan ke sana," sahut Arthur.


Dia pun memutus sambungan teleponnya.


"Ada kabar bagus apa, Kak?" tanya Mona yang sedang duduk di samping Ema.


Wanita itu menyuapi rekannya yang masih mengeluh sakit jika banyak bergerak.


Arthur berjalan mendekat dan membingkai wajah wanitanya, kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir Mona.


"Ada yang mau berinvestasi di proyek Eropaku, Mona!" ucap Arthur yang terlihat begitu bersemangat.


"Wah… benarkah, Kak?" tanya Mona memastikan.


Wanita itu pun terlihat sangat senang mendengar jika proyek Arthur mengalami kemajuan yang baik.


"Iya, dan siang ini akan ada pertemuan dengan pihak investor itu. Kamu Tidak papa kan kalau aku tinggal? Aku akan minta anak buah Will untuk…," ucap Arthur bersemangat.


"Tidak usah!" potong Mona langsung.


Arthur menganggkat kedua alisnya dan meMonaingkan sedikit kepalanya menatap Mona


"Aku sudah Tidak papa. Lagipula Kak Jeffrey sudah tertangkap kan," lanjut Mona.


"Mona, di iyakan saja sih. Kalau ada apa-apa, Aku audah Tidak bisa bantu kamu lagi. Tidak lihat hah, badan masih sakit semua," seru Ema.


"Ish! Sudah Tidak papa. Tenang saja, Aku bisa jaga diri kok. Asalkan buka Kak Jeffrey, Aku berani," sahut Mona.


"Tetap saja, nanti aku akan meminta Will untuk mengirim anak buahnya ke sini dan berjaga-jaga di depan," seru Arthur.


Arthur terkekeh dan membelai lembut puncak kepala wanitanya itu.


Siang hari, Arthur telah pergi dan meninggalkan Mona dalam penjagaan anak buah William yang bersiaga di depan kamar rawat Ema.


Saat itu datanglah seorang dokter bersama dengan perawat laki-laki menuju ke arah kamar rawat yang dijaga dua orang berpakaian hitam itu.


"Permisi, saya mau memeriksa Nona Mona," ucap pria berpakaian dokter itu.


Kedua penjaga yang ditempatkan di depan ruang rawat Ema, saling memandang dan kembali menatap kedua pria berpakaian medis di hadapan mereka.


"Tolong buka maskernya," seru salah satu penjaga.


Nampak pria berjubah dokter membuka masker, namun pria satunya lagi segera mematahkan leher salah satu penjaga, disusul dengan pria berjubah dokter yang juga menyerang penjaga yang lainnya.


Setelah kedua penjaga itu tumbang, mereka berdua masuk ke dalam dengan memperbaiki letak penutup wajah yang sempat dilepas tadi.


Nampak kedua wanita itu tengah berselancar di dunia maya menggunakan ponsel masing-masing.


Pria berseragam perawat mendekati Ema dan menyuntikkan sesuatu ke dalam cairan infusnya.


"Lho, Dok. Tidak terlalu cepat ya visit-nya?" tanya Ema yang mulai hapal dengan jadwal kunjungan dokter yang menanganinya.


Namun, tak ada satu pun yang menyahut pertanyaan Ema, hingga wanita itu merasa aneh. Dia pun menatap ke arah kedua pria itu dan menangkap kejanggalan pada diri mereka.


Sepatu boot? Sejak kapan petugas medis memakai sepatu boot? batin Ema.


Pria berpakaian dokter itu lalu mendekati Mona yang juga tengah berbaring di ranjangnya. Dia meraih lengan wanita itu dan hendak menyuntikkan sesuatu di sana.


"Lho, Dok. Saya Tidak butuh suntikan," ujar Mona.


Ema yang melihat keanehan itu pun berusaha bangkit dari tempat tidur, namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing.


Gawat! Obat apa yang dia masukin ke infus ku, batin Ema.


Mona yang melihat rekannya sempoyongan pun semakin panik.


"Kalian apakan teman ku? Lepaskan Aku! Tolooong! TOLOOOONG!" pekik Mona.


Pria yang menyuntikan sesuatu padanya, akhirnya membuka penutup wajahnya. Mata Mona membulat saat melihat wajah gang begitu ia kenal.


"Hai, Lisa," sapanya sambil menyeringai.


"Kak… Kak Jeffrey?" gumam Mona.


"Kau … kau bukannya …," ucap Ema yang semakin merasa pusing dan akhirnya jatuh pingsan, setelah sempat melihat wajah Jeffrey.


"Ema! Bangun, Ema! Kak, kau apakan teman ku?" ronta Mona.


Jeffrey melepaskan tangan Mona dan membiarkan wanita itu menghampiri Ema yang sudah tergeletak di lantai.


"Ema, bangun. TOLOOOOONG! TOLOOOOONG!" teriak Mona.


Namun, tak ada seorang pun yang mendengar. Justru, Jeffrey dan komplotannya semakin keras menertawakan Mona yang terlihat sangat ketakutan.


Semakin lama, Mona melemas, dan tak sadarkan diri.


"Bawa masuk kursi rodanya," seru Jeffrey kepada rekannya.


Tak berselang lama, pria itu masuk dan mendorong sebuah kursi roda. Jeffrey mengangkat Mona yang telah pingsan dan mendudukannya di atas benda tersebut.


"Ayo kita bawa dia kepada wanita itu," seru Jeffrey.


Mona pun dibawa pergi oleh kedua pria yang menyamar itu, meninggalkan Ema yang masih tergeletak di lantai.


Mereka mendorong Mona yang berada di atas kursi roda, dan memakaikannya penutup wajah serta selimut yang menutupi badannya. Mereka membawanya hingga ke tempat parkir, di mana sebuah mobil van terlihat telah menunggu kedua pria itu.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih