
Mona berjalan ke arah tempat parkir, di mana mobil pemberian dari Joshua terparkir rapi di sana.
Sebuah mobil sport merah dengan segala fitur mewahnya, diberikan secara cuma-cuma untuk wanita yang telah ia renggut kesuciannya.
Mona memasuki mobil mewah tersebut, dan melajukannya keluar dari area apartemen The royal blossom.
Wanita itu mengemudi memecah hiruk pikuk jalanan ibu kota, yang sarat dengan kemacetan.
Ia berkendara dengan kecepatan sedang, dan menuju ke sebuah tempat perawatan tubuh langganannya.
Sesuai instruksi Madame Queen, Mona akan mendapatkan tamu VVIP, yang dengan sendirinya memilih sang primadona untuk melayaninya.
Masih ada waktu empat hari lagi untuk bersiap, namun Mona telah memulai jadwal perawatan tubuhnya.
Hari ini, dia ingin mengganti warna rambutnya, yang baru saja ia hitamkan sepulang dari Negara K.
Setibanya di salon langganannya, Mona langsung disambut oleh seorang stylist profesional. Dia bukan pria, bukan juga wanita, melainkan seorang Lady men. Namun, Mona biasa memanggilnya Miss Donita.
"Mona, sayang. Apa kabar? Kau semakin cantik saja," sapa Miss Donita dengan ritual cipika cipikinya.
"Kabarku baik. Terimakasih atas pujiannya," sahut Mona sambil membalas ramah tamah itu.
"Mau apa lagi kau kemari, hem? Meni cure, pedi cure, curly, atau...," tanya Miss Donita, khas dengan gaya kaumnya.
"Tidak semuanya. Aku hanya ingin mengganti warna rambut ku saja," jawab Mona.
"Mau warna yang seperti apa, Hem? Bukankah beberapa hari yang lalu kau baru saja menghitamkan rambutmu? Apa akan ada sesuatu yang spesial?" cecar Miss Donita sambil membelai rambut Mona.
"Hanya ingin terlihat lebih garang saja. Bukankah itu sangat cocok dengan image-ku. Menurut mu, warna apa yang cocok untuk ku?" tanya Mona sambil bercermin, dan menyibak-nyibakkan rambutnya ke belakang.
"Ehm… biar lebih kelihatan garang bukan? Bagaimana kalau blonde saja?" saran Miss Donita.
"Ehm… No! Big no! Ku rasa lebih baik coklat cerah saja kali. Akan lebih mirip surai singa, benar bukan," sahut Mona.
"Tentu. Lagipula kau ini sudah cantik dan menawan. Mau warnai apapun akan cocok untuk mu. Apa tidak mau sekalian di keriting atau di blows," saran Miss Donita.
"Oke, kita coba dulu saja. Tapi kalau tidak cocok, kau harus langsung meluruskannya lagi," seru Mona.
"Baiklah. Aku tahu apa yang harus ku lakukan," sahut Miss Donita.
Dia pun mengajak Mona untuk mencuci rambutnya terlebih dulu, sebelum memulai proses pewarnaan dan juga curling.
Setelah lima jam berlalu, kini Mona telah selesai merubah gaya rambutnya. Kini rambut hitamnya berubah pirang dengan sedikit dibuat keriting.
"Waw!" Mona nampak puas dengan model rambut barunya.
"Bagus bukan. Kau itu sudah cantik dari lahir. Semua gaya rambut akan sangat cocok untuk mu," ucap Miss Donita.
Mona terus menyentuh rambutnya, dan menyibak-nyibakkannya ke belakang. Senyum terus menghiasi wajah cantiknya.
Dia terlihat lebih segar dengan gaya rambut tersebut.
"Thanks, Beib," ucap Mona.
"Sama-sama. Semoga kau cepat bosan lagi. Hahahaha…," sahut Miss Donita dengan kelakarnya.
Mona pun ikut tertawa mendengar perkataan stylist rambutnya barusan.
Wanita itu pun lalu menyelesaikan pembayarannya di kasir, dan berjalan ke arah tepi jalan, di mana mobilnya telah terparkir.
Ia menerima kunci dari tukang parkir yang bertugas saat itu, setelah mengambilkan mobil Mona dari tempat parkir.
Mona kembali berkendara untuk pulang ke apartemennya.
Hari mulai senja, dan ia harus segera bersiap bekerja di Heaven Valley.
Sesampainya di tempat parkir bawah tanah The royal bloosom, Mona segera memarkirkan mobilnya di tempat ia biasa meninggalkannya.
Wanita itu lalu menuju lift, untuk pergi ke lantai di mana unitnya berada.
Ketika sampai di lantai satu, atau tepatnya area lobi apartemen, pintu lift terbuka karena ada yang akan ikut naik ke atas.
Ketika pintu mulai terbuka, Mona secara spontan segera bergeser ke samping kiri, dengan pandangan yang masih tertuju pada lantai lift. Ia sama sekali tak melihat siapa yang masuk dan bersamanya saat itu.
"Apa kau baru kembali dari luar?" ucap orang tersebut.
Netranya membola ketika mendapati seorang pria, yang telah membuat dirinya kesal ketika waktu makan siang tadi, tengah bersamanya hanya berdua saja di dalam lift saat ini.
"Kau...," pekik Mona yang terkejut dengan keberadaan Arthur di sampingnya.
Mona memicingkan matanya menatap pria itu.
Baru saja dia ingin bertanya, namun pintu sudah lebih dulu terbuka, sehingga Mona memutuskan untuk segera keluar dari sana dan meninggalkan pria tersebut sendirian.
Mona berjalan dengan cepat menuju unitnya, namun ia merasa jika seseorang terus mengikuti dari belakang.
Ketika dia hampir mencapai pintu apartemennya, Mona berbalik dan hampir saja bertabrakan dengan orang yang berjalan di belakangnya itu.
Mona membeku sesaat, ketika tabrakan hampir saja terjadi antara keduanya.
Dia mendongak, dan menatap tajam ke arah orang yang tak lain adalah Arthur, pria yang selalu membuatnya kesal.
"Maaf, Tuan. Kenapa Anda terus saja mengikuti ku? Apa Anda ini seorang penguntit? Stalker? Aku bisa saja melaporkan Anda ke polisi atas tindakan tak menyenangkan atau penguntitan," serang Mona dengan mencecar pria tersebut lewat kata-katanya.
Namun, Arthur justru menatap datar ke arah Mona, sambil mengeluarkan tangan dari saku celana, dan melipatnya di depan dada.
"Apa tadi kau mengatakan bahwa aku adalah seorang penguntit? Aku… menguntit mu? Hah... ternyata kau lebih percaya diri dari yang ku kira," ucap Arthur sambil menunjuk dirinya, dan lalu menunjuk ke arah Mona secara bergantian, dan membuat wanita itu semakin dibuat kesal.
"Jaga bicara Anda, Tuan Peterson. Sudah jelas bukan bahwa sedari tadi Anda terus mengikuti ku," bentak Mona sengit.
"Apa satu gedung apartemen ini hanya milik mu seorang, hah? Aku hanya ingin pulang saja. Apa tidak bisa?" cecar Arthur sambil berjalan melalui Mona yang masih kesal.
"Pulang? Hah... Jangan bercanda, Tuan. Aku sudah lama tinggal di sini dan…," Mona tiba-tiba terdiam.
Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Netranya membola, dengan mulut yang hampir terbuka sepenuhnya.
Arthur tengah berdiri di depan pintu unit yang berada tepat di sebelahnya, dengan daun pintu yang telah berhasil ia buka dengan kunci yang ada di tangan.
What?! Jadi, tetangga barunya adalah dia? Oh, God, batin Mona tak percaya.
"Kau lihat? Aku bukan seorang penguntit. Aku hanya ingin pulang. Paham?" ucap Arthur dengan sudut bibirnya yang terangkat sebelah, seolah sedang mengejek wanita itu.
"Ta… tapi, Ba… bagaimana…," ucap Mona terbata, karena masih terkejut dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui.
"Bagaimana bisa aku tinggal di sini?" tanya Arthur.
Karena masih terkejut, Mona sampai hanya bisa menjawab dengan anggukan saja.
"Tentu saja membelinya dengan uang. Pertanyaan b*doh macam apa itu," ucap Arthur ketus, sambil berlalu masuk ke dalam unitnya, meninggalkan Mona yang masih mematung di tempat.
Sesaat setelah pria itu menghilang di balik pintu, Mona pun kembali tersadar dari mode bingungnya. Ia menyadari betapa wajahnya sangat terlihat b*doh saat itu.
"AAAARRRGHHHH!"
Mona mengacak-acak rambutnya, sesaat setelah Arthur menutup pintu apartemen miliknya.
"Si*alan! Kenapa dia tiba-tiba bisa menjadi tetangga ku? Ini sama sekali tidak lucu! INI TIDAK LUCU! AAAAARRRGGGHHH!" teriak Mona yang merasa kembali dibuat malu oleh pria itu.
Sedangkan di dalam apartemennya, Arthur terus memperhatikan tingkah tetangga barunya dari lubang di pintu, yang biasa di pakai untuk mengintip ke arah luar.
Pria tersebut dengan susah payah menahan tawanya, ketika menyaksikan Mona bereaksi di luar dugaannya.
Ia meletakkan kepalan tangan di depan mulut, untuk menahan tawanya agar tidak sampai pecah.
"Kau lucu sekali Lisa. Benar-benar lucu. Aku jadi ingin terus mengerjai mu. Hehehehe…," ucap Arthur yang terkekeh lirih.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih