
Arthur melepas pagutannya, dan mulai menyusuri leher jenjang Mona, sambil sesekali menyesap di beberapa bagian.
"Eeehhhhmmmm… Kak… aaaahhhh…," Mona semakin menggila saat puncak merah mudanya dimainkan oleh Arthur dengan bibir pria itu.
Mona terus merem*s rambur belakang Arthur sambil membenamkan wajah pria itu di dadanya yang membusung.
"Oh… cantik sekali, Mona… ehm…," ucap Arthur saat menyesap ujung mungilnya.
"Kak… aaaahhhh…," Mona semakin menggelinjang.
Tangan Arthur mulai merayap, menyusuri perut Mona, dan sampailah di padang rumput hitam wanita itu.
Ia belai dengan perlahan bulu-bulu yang ada di sana, hingga membuat Mona semakin melenguh terbawa hasr*tnya.
"Uh… basah, Sayang… kau sudah basah… eeehhhmmmm…," ucap Arthur saat menyentuh lembah Mona yang terasa berlendir.
Ia meraba ke dalam, dan memainkan buah kecil yang terjepit di antara lembah, hingga Mona terus gelisah dan menendang-nendang sprei yang ada di sekitar kakinya.
"Eeeehhhmmmm… Kak… aaaaahhhhh… jangan…," cegah Mona yang seketika menahan tangan Arthur agar tak melesak masuk ke miliknya.
Pira itu pun mengangkat kepalanya yang sedari tadi terbenam di dada Mona, dengan tatapan sayu yang dipenuhi oleh kabut g*irah.
"Kenapa, Sayang? Apa kau tak menginginkannya, hem?" tanya Arthur dengan nafas yang terdengar memburu.
Mona pun sama, dadanya naik turun karena nafasnya yang tak beraturan akibat ulah Arthur.
"Jangan dengan itu, Kak… ehm… langsung aja…," ucap Mona.
Arthur menyeringai, dan naik ke atas. Dia membisikkan sesuatu di telinga Mona.
"Kau jadi tidak sabaran, hah," bisiknya dengan sebuah gigigan kecil yang membuat Mona kembali mengerang lirih.
"Eeeeehhhhhmmmm… tapi tolong kali ini pelan sedikit," ucap Mona lirih hingga hampir berbisik.
"Kenapa? Bukankah kau suka yang kasar-kasar, hem," sahut Arthur yang kembali meng*lum cuping telinga Mona dan membuat wanita itu kegelian.
"Aku… aku baru keluar dari rumah sakit. Tidak lucu bukan jika tiba-tiba pingsan lagi," jawab Mona yang memalingkan wajahnya karena malu.
Arthur tersenyum dan mengecup pelipis Mona agak lama.
"Ya sudah. Kalau begitu kau istirahat saja," ucap Arthur tersenyum dan hendak bangkit dari posisinya saat ini.
Namun, Mona segera menahannya dan kembali menarik leher pria itu hingga mereka berciuman. P*gutan mereka lambat laun kian dalam dan liar, sambil saling melepas pakaian yang menempel di tubuh masing-masing.
Arthur tak melepaskan p*gutannya, bahkan saat ia menyatukan miliknya dengan Mona.
"Eeeehhhhmmmm…," lenguhan Mona dengan mulut yang masih terbungkam, menandakan penyatuan mereka dimulai.
Sesuai permintaan Mona, Arthur melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Membiarkan semua h*srat mereka terurai sedikit demi sedikita hingga mengantarkan mereka pada puncaknya.
"Aaaaaahhhh… Kak, aku… eeeehhhhmmm…," rintih Mona.
"Ehm… kau sudah sampai?" tanya Arthur.
Mona mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Matanya terbuka separuh dan hanya terlihat bagian putihnya saja.
"Ohh… lepaskan saja, Mona… lepaskan, Sayang… aaaahhhh…," sahut Arthur.
Pria itu sedikit mempercepat pacuannya, dan membuat Mona sampai pada pelepasannya.
"Kak… aaaahhhhh… aaaaaahhhhh…," ******* panjang menandai pelepasan Mona, dan membuat Arthur semakin memacunya hingga dia pun sampai dipuncaknya.
"Aaaarrrgghhhh… Aaaarrrrghhh… Eeehhhhmmmm…." Arthur menjatuhkan dirinya di samping wanita itu, dan menarik Mona masuk ke dalam dekapannya.
"I love you," ucap Arthur sambil mengecup kening wanita esnya.
"Ehm… aku tau itu," sahut Mona yang membalas pelukan Arthur.
Tak ada selimut yang menutupi tubuh polos mereka, hingga lambat laun pendingin ruangan membuat mereka menggigil.
"Kak, dingin." Mona semakin mengeratkan pelukannya pada pria tampan itu.
"Ehm… kau benar. Ayo kita pindah ke kamar saja," ajak Arthur
"Kak, antarkan aku ke toilet," pinta Mona.
Setelah sampai di atas, Arthur membawa Mona menuju ke toilet dan membiarkan wanita itu membersihkan dirinya terlebih dulu.
Tak berselang lama, Mona keluar dan segera menuju tempat tidur. Dia merebahkan diri di samping Arthur, dan masuk ke dalam selimut.
"Kau lelah bukankan? Sebaiknya kita segera tidur," ajak Arthur sambil menuntun kepala Mona agar menjadikan lengan kekarnya sebagai bantalan.
"Ehm… cukup lelah," sahut Mona sambil memeluk prianya dari samping.
"Istirahatlah, Sayang." Arthur mengecup kening Mona sekilas, dan mereka pun terlelap bersama.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Keesokan harinya, Arthur seperti biasa begitu sibuk mencari pengganti Gerald untuk menjalankan rencana ekspansi bisnisnya ke tanah Eropa.
Tak semudah membalikkan telapak tangan, pria itu mengalami kesulitan karena dari sekian arsitek yang mengikuti sayembara di perusahaannya, hanya sedikit yang mengenal area tempat pembangunan. Malah mungkin, hanya Gerald seorang yang tau dengan rinci setiap hal yang ada di sana.
Hal itulah yang membuat Arthur pusing mencari ke sana kemari pengganti pria bernama belakang Holes itu, untuk menangani proyeknya.
Mona pun bisa merasakan kekalutan prianya dalam menghadapi masalahnya kali ini. Selama beberapa saat menemani Arthur, dia belum pernah melihat pria itu nampak melamun memikirkan urusan kantor.
Hal itulah yang membuat Mona berinisiatif untuk membantu prianya agar bisa lepas dari masalahnya kali ini.
Siang itu, Mona mempunyai sebuah rencan, yang sebenarnya ia pun ragu untuk melakukannya. Namun demi membantu Arthur, Mona pun tetap melaksanakan rencannya tersebut.
"Halo," sapa Mona saat sambungan telepon terhubung.
"Halo, Mona. Sebuah kejutan kau menelepon ku. Ada apa?" sahut orang di seberang.
"Gerry, aku ingin mengucapkan terimakasih pada mu atas pertolonganmu tempo hari. Apa kau ada waktu hari ini?" ucap Mona.
"Aku selalu ada waktu untukmu, Mona." Gerald terdengar sangat senang karena tau jika Mona akan mengajaknya bertemu.
"Bagaimana jika kau jemput aku sekarang. Kita makan siang bersama. Aku yang traktir. Apa kau mau?" ajak Mona.
"Apa Tuan Peterson akan ikut atau menyusul?" tanya Gerald.
"Tidak. Dia sangat sibuk akhir-akhir ini. Jadi, apa kau mau?" jawab Mona meyakinkan.
"Baiklah. Aku akan sampai dalam dua puluh menit," sahut Gerald.
"Oke. Aku tunggu," ucap Mona yang kemudian mematikan teleponnya.
Mona pun bersiap-siap untuk pergi. Dia memilih dress terusan selutut dengan lengan sesiku, agar tak terkesan terlalu seksi. Dengan corak floral yang membuatnya tampil segar dan pas untuk suasana siang hari yang cerah.
Seperti yang dikatakannya, dua puluh menit kemudian, Gerald sudah tiba di gedung Royal Rose. Dia tak tau lantai mana Mona tinggal, sehingga Gerald memilih menunggunya di lobi.
Tak berselang lama, Mona keluar dari lift dan menghampirinya.
"Hai, Gerry. Maaf menunggu," sapa Mona.
"Tidak. Aku baru beberapa menit duduk di sini. Pergi sekarang?" ajak Gerald.
"Ayo," sahut Mona.
Gerald mempersilakan wanita itu berjalan mendahuluinya beberapa langkah menuju ke parkiran depan di mana mobil Gerald berada.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih