DESIRE

DESIRE
Bab-1



Di sebuah pusat pembelanjaan terlihat segerombolan orang orang tengah mengejar anak laki laki yang baru saja mencopet seorang ibu yang sedang berbelanja.


"Kejar anak itu!" teriak seorang bapak bapak


Mereka berhenti untuk mengatur nafas masing masing sambil mencari kemana larinya anak laki laki itu.


"Hah hah dia sangat cepat, saya sudah capek" keluh seorang remaja yang juga ikut membantu


Seorang ibu yang di ketahui pemilik tas yang telah di copet mendekat ke arah mereka


"Bagaimana pak? Apa kalian sudah menangkap pencopet itu?"


"Kami minta maaf bu, sepertinya kami kehilangan jejak anak itu, dia sangat cepat berlari" ucap bapak yang berkumis sambil mengatur nafasnya


Ibu paruh baya itu menghela nafas kecewa, meskipun begitu dia tetap mengucapkan terima kasih pada mereka...


Sementara itu di sebuah gang kecil, anak laki laki yang telah berhasil mencopet tas ibu paruh baya tadi, duduk menyandar di dinding. Ia membuka tas berwarna biru navi di tangannya dan membongkar seluruh isi di dalamnya


Anak laki laki berusia 12 tahun itu tersenyum miring melihat hasil copetan nya. Terlihat uang pecahan seratus ribuan berjumlah lima lembar dan uang lima puluhan yang jumlahnya cukup banyak.


Sepertinya ibu paruh baya tadi adalah orang kaya.


"Wah gue beruntung hari ini, dapat uang sebanyak ini" ucap Kaivan


Ya Kaivan Denandra, seorang anak laki laki berusia 12 tahun yang telah menjadi seorang pencuri, dirinya melakukan pekerjaan haram itu karena terpaksa, ia hidup di lingkungan para preman yang telah membawanya dua tahun lalu saat ia terlantar di jalanan, namun siapa sangka para preman yang membawanya justru menjadikan dirinya seorang pencuri kecil.


Kaivan membuang tas branded di tempat sampah dekatnya lalu meninggalkan gang kecil itu. Ia berjalan sambil bersenandung pasalnya baru kali ini ia mendapat hasil yang jauh dari perkiraannya.


Di kepala anak laki laki itu telah tersusun rapi rencana yang akan ia buat selanjutnya.


"Sebentar lagi, sebentar lagi gue bakal pergi dari tempat jahanam itu, semoga Shanum dan Rajen senang dengan kabar yang bakal gue kasi tau" ucapnya sambil berjalan menuju rumah yang tidak terlalu besar


Rumah bercat putih yang terletak jauh dari kota tempat Kaivan mencari uang, rumah di mana para anak anak jalanan tinggal. Entah itu mereka di culik atau senasib dengan Kaivan yang terlantar di jalanan hingga berakhir di rumah itu.


Para anak anak yang tinggal di rumah itu harus bekerja, ada yang menjadi pencopet sama seperti Kaivan, mengemis di jalanan atau menjadi korban kekejaman para preman dengan menjual organ tubuhnya, jika ada orang kaya yang memerlukan organ tubuh anak anak untuk kebutuhan mereka.


Kaivan masuk kedalam rumah lalu menuju ruangan dimana bos para anak anak ada didalam.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


Kaivan membuka pintu dan masuk kedalam, ia melihat seorang laki laki duduk sambil memangku seorang wanita yang sudah setengah telanjang.


"Lo keluar dulu" titahnya pada wanita di pangkuannya


Wanita itu tersenyum tipis lalu mencium bibirnya" Gue tunggu di kamar"


Kaivan memutar bola matanya malas melihat adegan dewasa di depannya, ia sudah sering melihat bos nya bermesraan dengan wanita.


"Bagaimana dengan hasil kerja lo? Jam segini lo udah Pulang" tanya Beni kepada Kaivan


Kaivan mengeluarkan beberapa uang dari kantong bajunya dan meletakkannya di atas meja, Beni tersenyum melihat hasil kerja Kaivan yang cukup banyak hari ini


"Bagus, hari ini sepertinya lo dapat mangsa yang lumayan" puji Beni pada Kaivan


"Gue istirahat dulu ya bos, gue capek habis lari" ucap Kaivan


Beni mengangguk dan hanya menggerakkan telunjuknya, sambil menghitung hasil kerja Kaivan


Kaivan keluar dari ruangan itu dan masuk kedalam kamarnya, Kaivan duduk di atas ranjang dan membuka sepatu bututnya.


Kaivan mengeluarkan uang yang ia sembunyikan dari Beni, ia ingin menggunakan uang itu untuk melarikan diri.


"Uang ini akan menjadi bekal gue, setelah lari dari tempat ini" Ucap Kaivan


Seorang anak laki laki yang berusia sama dengan Kaivan tiba tiba masuk membuat Kaivan dengan cepat menyembunyikan uangnya di bawah bantal


"Lo udah pulang Kai?" tanya Rajen


"Hem, Shanum mana?"


"Dia langsung masuk kamar, katanya kepalanya pusing, makanya gue langsung bawa dia pulang dari terminal tadi" jawab Rajen


Kaivan langsung berdiri dan keluar dari kamarnya dengan tergesa, ucapan Rajen membuatnya tidak tenang.


Kaivan langsung masuk kedalam kamar milik Shanum ia melihat gadis kecil sedang meringkuk di atas ranjang. Kaivan duduk di samping gadis kecil yang berusia 10 tahun itu.


"Sha, lo kenapa?" tanya Kaivan lirih ia merasa sesak melihat Shanum sakit sakitan, karena setiap hari harus mengemis di jalan bersama Rajen


Shanum membuka matanya perlahan, mata bulat dengan warna hazel yang sangat cantik menatap kedua mata elang milik Kaivan


"Kak Kai, Shanum nggak apa apa, Shanum cuma kecapean"


"Gue janji sebentar lagi gue bakal bawa lo dan Rajen pergi dari tempat terkutuk ini" ucap Kaivan tersirat amarah di dalamnya


Shanum tersenyum yang membuat wajahnya semakin cantik dan menggemaskan, hanya saja tubuhnya semakin kurus karena ia sering sakit sakitan karena setiap hari harus pans panasan untuk mengemis di jalan bersama Rajen


Malam hari semua anak anak yang ada di rumah itu berkumpul untuk makan malam, mereka memakan makanan sederhana, hanya ada tempe dan juga nasi putih, ya meskipun mereka berjuang bekerja seharian. Beni tidak memberikan mereka


"Makan yang banyak Sha, lo harus cepet sembuh" ucap Rajen memberikan jatah tempe nya kepada Shanum


"Kak Rajen kok kasih tempenya ke Shanum?"


"Iya, kamu butuh banyak makan, supaya cepat sembuh" Rajen tersenyum sambil mengusap kepala Shanum


"Makasih kak"


Kaivan yang baru datang langsung duduk di samping Rajen.


"Lo kok telat Kai?" tanya Rajen


Kaivan melirik para penjaga yang berdiri memperhatikan para anak anak yang sedang makan


"Gue habis mempersiapkan rencana untuk melarikan diri Jen" bisik Kaivan pada Rajen


"Apa!?" Rajen terkejut dengan perkataan Kaivan membuat para penjaga mendekati mereka bertiga


"Hei! Ngapain kalian ha!?" bentak salah satu penjaga


"E- enggak kak, Rajen cuma kaget karena nggak percaya kalau hari ini gue dapat hasil yang lumayan banyak" jawab Kaivan berbohong


"Ehm ya udah lanjutin makan kalian, habis itu tidur, besok pagi pagi sekali kalian harus kembali bekerja" ucap penjaga


"Baik kak" jawab Kaivan bersama anak anak


Pukul 2 malam Kaivan bangun dari tidurnya, ia pun membangunkan Rajen yang tidur di sampingnya


"Jen, Rajen bangun"


"Em apa sih Kai, gue ngantuk" Rajen hanya bergumam lalu membelakangi Kaivan


"Lo nggak mau ikut gue kabur?" tanya Kaivan


Rajen seketika bangun dan duduk "Lo serius pengen kabur dari sini?"


"Iya, emangnya lo pengen tinggal seumur hidup disini?"


Rajen mengusap matanya yang masih berat "Tapi caranya gimana Kai? lo tau sendiri kan tempat ini di jaga ketat"


Kaivan terdiam ia kemudian berdiri dan membuka jendela dan memeriksa keadaan.


"Gue udah lama sering perhatiin keadaan kalau tengah malam kayak gini, dan para penjaga yang di suruh bos Beni buat jaga pada tidur Jen"


"Tapi"


"Udah ayok buruan, semakin kita mengulur waktu semakin susah buat kabur dari sini" Kaivan kemudian keluar duluan lalu di ikuti Rajen


Mereka berdua berjalan mengendap menuju kamar Shanum. Kaivan merasakan jantungnya berdetak kencang saat melihat dua penjaga sedang tidur di sofa dekat kamar Shanum.


"Kai, gue takut" bisik Rajen


"Udah lo tenang aja"


Dengan sangat pelan Kaivan membuka pintu kamar Shanum dan masuk kedalam. Setelah mereka berhasil masuk Kaivan bernafas lega meskipun tujuannya belum tercapai ia kemudian mendekati Shanum yang terlelap bersama teman perempuan nya.


"Sha, Shanum bangun Sha" Kaivan menggoyang kan lengan Shanum


Perlahan gadis kecil itu membuka matanya


"Kakak" ucap Shanum serak


"Ssst, jangan berisik nanti Risa bangun" bisik Kaivan


Shanum mengangguk lalu duduk karena Kaivan menarik kedua tangannya.


"Kita mau kemana kak?" tanya Shanum pelan takut membangunkan Risa


"Kita akan pergi dari sini Sha, kamu mau kan ikut kakak dan Rajen?" tanya Kaivan


Shanum berkedip lalu menatap Rajen yang berdiri di dekat pintu.


"Tapi Shanum takut kak"


"Nggak usah takut, kamu hanya perlu ingat jangan pernah lepas tangan kakak, ok" ucap Kaivan


Shanum mengangguk lalu mengikuti Kaivan.


"Tunggu" Tahan Rajen


"Ada apa lagi Jen?" tanya Kaivan kesal


Rajen berjalan mengambil switer rajut milik Shanum dan memakaikannya kepada gadis kecilnya.


"Shanum sedang sakit Kai, dia harus tetap hangat" ucap Rajen