DESIRE

DESIRE
Bab 25



"Lima dalam semalam?" seru Mona terkejut.


Sang ladies hanya mengangguk.


"Wait. Jangan katakan kalau kemarin kau melakukan three*some juga? Atau mungkin malah gang-bang?" tanya Mona tanpa tedeng aling-aling.


"Lima sekaligus maksudmu? Yang benar saja. Aku belum berani sebanyak itu sendirian. Hanya TS, itu pun yang paling terakhirku layani. Memang kenapa?" sahut ladies tadi.


"Apa mereka masuk lewat belakang juga?" tanya Mona lagi.


"Tentu saja. Bukankah kalau TS memang biasanya depan belakang penuh semua. Kamu ini bagaimana? Seperti tidak pernah aja," jawab sang ladies ketus.


"Pantas saja kau mengalami sembelit. Jalan keluarnya saja sempat tersumbat bukan," gerutu Mona.


"ah... kau benar. Kenapa aku tak berpikir sampai sana," seru sang ladies yang mulai sadar.


"Kau ini seperti orang baru saja. Hal seperti ini kenapa kau tak bisa menyadarinya,hah?" keluh Mona yang justru ditanggapi kekehan oleh ladies tadi.


"Lebih baik kau meminta ijin untuk tidak berkerja dulu saja. Dari pada kau memaksakan diri seperti ini dan tidak fokus bekerja. Mommy pasti akan mengerti situasi mu," saran Mona.


"Tapi, aku sedang membutuhkan banyak ua g sekarang. Adikku meminta ku mengirimkan uang sekolah untuknya. Dia mengatakan bahwa minggu depan sudah akan ujian tengah semester. Itulah kenapa aku berani menerima tamu yang meminta TS tadi malam," kata ladies itu, sambil terus memegangi perutnya.


"Hahโ€ฆ lagi-lagi karena uang. Kenapa semua orang selalu bingung kalau sudah berurusan dengan uang? Aku benar-benar heran," gerutu Mona.


"Mona, tak semua orang seperti dirimu, yang memang tidak memiliki beban tanggungan apapun. Kau itu manusia paling bebas yang pernah ku kenal. Aku pribadi saja sampai tak percaya, kalau orang seperti mu bisa masuk ke dunia kotor seperti ini," sahut ladies tadi.


Mona hanya mengedikkan bahunya, sambil melengkungkan kedua sudut bibirnya ke bawah, dengan sedikit memajukan bibirnya.


Namun tiba-tiba, dia menjentikkan jemarinya sambil membuka mulut seolah menemuka ide bagus atas masalah rekan kerjanya itu.


"Aku ada ide. Bukankah malam masih panjang, dan pasti akan ada lagi tamu yang ingin memakai jasaku. Aku akan membagi separuh pendapatan ku malam ini untuk mu. Bagaimana?" tawar Mona.


"Kau seriusr? Kau tidak sedang berbohong bukan?" tanya sang ladies memastikan.


"Kapan aku pernah berbohong?" sahut Mona dengan berbalik tanya.


"Heheheโ€ฆ entahlah, but thanks for advanced. Aku tertolong," ucap ladies itu, sambil menggenggam kedua tangan Mona.


"Ya sudah, kalau begitu cepatlah temui Mommy dan ajukan ijin padanya," perintah Mona.


"Oke, cantik. Muah...," seru ladies bernama Marcella itu girang, sambil mengecup sebelah pipi Mona.


Wanita itu pun lalu berjalan keluar dari toilet dengan masih memegangi perut dan pinggangnya.


Mona hanya menggelengkan kepalanya melihat kepergian Marcella. Dia kembali berbalik dan menghadap cermin, lalu membasuh wajahnya lagi dengan air agar terasa segar.


Wanita itu kemudian berjalan keluar dan menuju meja rias. Dia mulai merapikan dandanannya yang berantakan tadi.


Setelah selesai dengan riasan, dia pun merapikan rambutnya, dan tak lupa juga menyemprotkan parfum ke tubuhnya agar bau sisa-sisa bercinta tadi hilang.


Saat dia sedang memasukkan parfum ke dalam tas, tiba-tiba Ema muncul dan duduk tepat di sampingnya. Wanita itu pun tampak baru saja selesai dengan tamunya. Hal itu bisa dilihat dari lipstiknya yang agak pudar, dan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Ternyata benar dugaan ku, kalau kau memang sudah menargetkan pria tadi," ucap Ema tanpa menoleh ke arah Mona, dan sibuk memulas kembali lipstik di bibirnya.


"Ehmโ€ฆ yah... aku hanya coba-coba saja memancingnya, siapa tahu bisa ku dapatkan. Lagipula, dia yang lebih dulu memperhatikan ku tanpa berkedip. Jadi kurasa, apa salahnya kalau aku meresponnya," sahut Mona sambil menyimpan kembali barang-barang miliknya ke dalam tas.


"Dasar narsis. Kau kira kau itu sangat cantik, hah?" seru Ema yang lalu berjalan ke arah toilet.


Mona hanya mengedikkan bahunya, mendengar perkataan teman seprofesinya itu.


Dia kemudian berjalan keluar dan menuju ke lantai satu untuk kembali bekerja, menghabiskan malam panjang, dengan menemani para pria hidung belang.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Saat itu, terdengar suara bising dari arah balkon sampingnya. Mona berjalan mendekat, dan melihat ke apartemen yang berada tepat di sebelahnya.


"Sepertinya akan ada tetangga baru," gumamnya yang mendengar suara-suara perkakas beradu, seperti sedang merenovasi.


Tak jelas terlihat para pekerja yang tengah berada di dalam apartemen tersebut, namun dari suaranya sudah sangat jelas jika mereka sedang merenovasi tempat itu.


Mona pun lalu memutuskan untuk masuk ke dalam, dan membersihkan diri.


Di kamar mandi, wanita itu menatap dirinya yang telah polos tanpa busana, dari pantulan cermin besar yang menempel di dinding.


Dia menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Bahunya naik turun, seolah ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.


Ada perasaan lelah dari raut wajahnya yang selalu datar dan dingin. Meski dia selalu mengulas senyum kepada setiap tamunya, namun dalam hati, dia merasa bosan dengan kehidupannya saat ini.


Pernah suatu waktu dia ingin berhenti, namun Mona gamang, dan akhirnya menghilangkan keinginannya itu. Dia tak tau harus melakukan apa setelah keluar dari Heaven valley, karena belum ada tujuan pasti.


Dia tak ingin jika akhirnya hanya keluar masuk klub malam saja, karena belum ada rencana masa depan yang bisa ia rancang.


Saat ini, dia bisa menikmati segala kemewahan pun berkat kebaikan Joshua yang mau menjadi pendukungnya. Jika tidak, Mona akan sama saja dengan pe*la*cur jalanan lainnya.


Mona kembali menghela nafas berat, dan perlahan memutar keran shower. Tetesan air mulai membasahi tubuh mulusnya, dan menciptakan embun yang menutupi permukaan cermin yang sedari tadi ia pandangi.


Wanita itu pun lalu berbalik dan membelakangi benda yang sudah tertutup rintik air tersebut, dan melanjutkan kegiatan mandinya.


Seusai mandi, Mona lalu berjalan menuju walk in closet, dan memilih pakaian santai yang akan dia gunakan di waktu senggangnya.


Ia melihat-lihat semua koleksi bajunya, dan pilihannya jatuh pada sebuah kemeja kotak-kotak berwarna ungu putih, dengan ujung bagian depannya yang panjang, yang bisa ia ikat simple. Dipadu dengan celana blue jeans panjang press body.


Dengan inner atasan putih, dia memakai kemeja tanpa menautkan kancingnya, dan hanya mengikat ujungnya saja.


Rambutnya ia ikat satu ke atas menyamping, dengan anak rambut yang dibiarkan menjuntai bebas, dan poni yang dijepit ke atas.


Anting lingkaran besar, ia gunakan untuk menunjang penampilan santainya, dan make up flawless dengan polesan lipstik yang berwarna terang, membuat tampilannya tetap mempesona siapa pun yang melihatnya.


Setelah siap, dia mengambil dompetnya dan keluar menuju lantai dasar, di mana ada sebuah restoran yang terkenal enak dengan pastanya.


Ia berencana untuk sarapan yang sudah sangat telat, bahkan makan siang pun sudah terlewat jauh. Dia duduk sendiri di salah satu meja yang ada di sudut restoran tersebut.


Di sampingnya, terdapat kaca besar yang menampilkan pemandangan di luar gedung apartemen, di mana orang-orang tengah berlalu lalang, serta deretan mobil yang terparkir di sisi-sisi jalan.


Mona duduk bertopang dagu, sambil menyaksikan hiruk pikuk keadaan di luar sana. Kegiatan yang selalu ia lakukan ketika tengah berada di dalam kendaraan yang berjalan pun ia lakukan di tempat itu.


Wajahnya yang biasa terlihat dingin dan datar, saat itu nampak begitu tenang dan damai. Hingga orang yang belum mengenalnya, tak akan pernah menyangka jika wanita itu begitu dingin sedingin es, dan bisa membekukan orang-orang yang berada di sekitar dengan pesonanya.


Dari sudut lain restoran, seorang pria tengah menikmati pemandangan indah itu, dan tersenyum tipis melihat wajah lain dari Mona.


"Akhirnya, kita berjumpa lagiโ€ฆ Lisa."


.


.


.


.


Mohon maaf, di bab ini ada beberapa istilah yang vulgar dan mungkin kurang nyaman dibaca ๐Ÿ™


Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐Ÿ‘, komen ๐Ÿ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih