DESIRE

DESIRE
Bab 97



Mona tengah berbaring menyamping berhadapan dengan Arthur, dan menjadikan lengan pria itu sebagai bantalnya.


Arthur menyingkirkan anak rambut Mona yang menutupi wajah cantik itu. Keduanya masih polos tanpa sehelai benang pun dan hanya tertutup selimut, setelah percintaan mereka tadi.


Mona nampak memejamkan matanya, dan menikmati belaian prianya itu.


"Apa kau lelah, hem?" tanya Arthur dengan lembut.


"Ehm… tidak kok," sahut Mona malas.


Dia pun kemudian membuka matanya yang terlihat begitu sendu.


"Ada apa denganmu, Mona? Apa aku boleh tau?" tanya Arthur dengan lembut.


"Ehm… sebelum itu, aku mau minta tolong sesuatu sama Kakak," pinta Mona.


"Minta tolong apa, hem?" tanya Arthur.


"Aku mau Kakak memerintahkan seseorang untuk mengintai Shasa, salah satu ladies di Heaven valley," ucap Mona.


"Ehm ... Shasa? Kenapa harus mengintai dia?" tanya Arthur lagi yang belum mengerti maksud Mona.


"Ehm … sebenarnya, dia orang yang udah menjebak ku, waktu di grand moon," ungkap Mona.


Arthur terperanjat hingga mengangkat sedikit kepalanya. Namun, Mona menahan pundak pria itu agar kembali berbaring di sampingnya.


"Kenapa kau tak mengatakan dari kemarin-kemarin? Aku bisa membantumu untuk membereskan dia, Mona. Apa kau tak percaya padaku?" tanya Arthur yang merasa kecewa dengan Mona


"Bukan, Kak. Bukan begitu. Aku cuma ingin menyelesaikannya sendiri saja. Kan ini juga urusan sesama ladies-nya Mommy. Jadi aku cuma mau menyelesaikannya dengan cara kami, cara para ladies," jelas Mona yang mencoba memberi pengertian kepada Arthur.


Pria itu pun kembali melembut. Dia mengusap pipi Mona yang masih nampak sendu.


"Lalu, apa sekarang semua sudah selesai?" tanya Arthur.


Mona menggeleng pelan.


"Mungkin masalah grand moon sudah, tapi masalah intinya belum sama sekali. Aku rasa, Shada hanya orang suruhan."


"Menurut apa yang dikatakan Ema, malam itu juga ibunya Shasa mendapatkan operasi dengan biaya yang tidak sedikit. Kemungkinan, orang yang ada di balik semua ini, mengiming-imingi uang atau mungkin malah mengancam Shasa dengan ibunya."


"Aku cuma ingin memancing orang yang selalu ingin mencelakai ku, dengan Shasa sebagai umpannya. Entah kenapa, aku merasa kalau orang ini akan mendatanginya lagi karena dia sudah gagal mencelakai ku," seru Mona.


Arthur paham apa yang disampaikan Mona. Namun, dia sendiri tak ingin jika wanitanya kembali berurusan dengan orang yang sudah dengan sengaja mencelakainya.


"Kenapa kamu masih mau peduli dengan orang seperti itu? Harusnya, kamu biarkan saja dia. Mau dia diburu mereka, mau dia diancam, itu bukan urusanmu, Sayang." Arthur menatap lekat kedua mata bening Mona.


Arthur seolah tau, maksud wanitanya meminta dirinya untuk mengintai, bukan hanya sekedar untuk mencari tau dalang di balik semua ini, melainkan juga untuk melindungi wanita bernama Shasa itu.


"Aku tak peduli padanya. Aku hanya mau memanfaatkan dia saja," sahut Mona mencoba meyakinkan Arthur.


Arthur tak menyahut. Dia hanya menarik Mona agar masuk ke dalam dekapannya.


Hah… kenapa ratu es ku mendadak jadi ibu peri baik hati seperti ini? batin Arthur.


"Kak, jawab dulu. Bisa tidak?" rengek Mona dalam pelukan prianya.


"Ehm… kalau aku tak mau, memang kamu mau bagaimana?" goda Arthur.


"Ya sudah, aku coba minta tolong sama Gerald saja. Dia kan baik hati," sindir Mona.


Arthur seketika mengurai pelukannya dan menjauhkan Mona darinya. Dia menatap tajam ke arah wanitanya itu, dengan kedua tangan yang mencengkeram pundak Mona. Namun Mona yang ditatap, justru mengul*m senyumnya karena melihat Arthur yang sedang dilanda cemburu.


"Jangan sebut-sebut nama pria menyebalkan itu lagi, Mona. Aku sangat tidak suka," ucap Arthur penuh penekanan.


"Lagipula… siapa suruh Kakak perhitungan sekali sama aku," ledek Mona yang justru menahan tawanya saat melihat raut wajah marah Arthur.


Si*lan! Dia sudah bisa menguasai ku sampai seperti ini, batin Arthur.


"Jadi, kau mau main-main dengan ku, hem," ucap Arthur yang tahu jika wanitanya hanya memancing kecemburuannya saja.


Dia pun merenggangkan cengkeraman di bahu Mona, dan turun ke pinggang wanita itu. Dia menggelitik si ratu es, hingga Mona menggeliat-liat karena kegelian.


"Hahahahha… ampun, Kak… Sudah… hahahha… kak…," teriak Mona yang tak kuat dengan gelitikan Arthur


Namun, tiba-tiba Mona memekik keras seolah ia tengah kesakitan, tetapi Arthur terus saja membuatnya tertawa geli.


"Aaaaaaahhhhhh…," pekik Mona.


"Tidak usah pura-pura. Pokoknya tak ada ampun ya…," ucap Arthur yang tak percaya dengan kesakitan yang sedang dialami oleh Mona.


Akan tetapi, Mona yang terus mendekap perutnya, dan keringat yang mulai bermunculan di pelipis wanita itu, Membuat Arthur menghentikan aksinya.


"Mona, kamu kenapa? Aku… apa aku sudah nyakitin mu? Maaf, sayang," ucap Arthur yang merasa khawatir dengan wanitanya yang terus merintih kesakitan.


"Kak, rumah… sakit… tolong…," pinta Mona lirih.


Arthur mendadak kebingungan. Dia ingin segera membawa Mona ke rumah sakit, tetapi tidak mungkin karena kondisi mereka saat ini yang sedang telanj*ng bulat.


Akhirnya, Arthur pun memakai kembali celananya yang tadi ia pakai, dan mengambil kaos oblong yang ada di lemari.


Sementara Mona, dia hanya memakaikan wanita itu sebuah dress terusan selutut, tanpa memakaikan pakaian d*lamnya.


Dia buru-buru menggendong tubuh wanita tersebut hingga ke parkiran. Arthur mendudukkan Mona di kursi depan, dan pria itu pun segera memutar dan masuk ke kursi kemudi.


Arthur melajukan mobilnya secepat yang ia bisa, sementara Mona terus saja merintih dengan keringat yang semakin mengucur deras dan membuat Arthur semakin panik.


"Kamu yang kuat yah. Kita sebentar lagi sampai," ucap Arthur sambil menggenggam tangan Mona yang masih mendekap perutnya.


Sekitar lima belas menit kemudian, lebih cepat sepuluh menit dari biasanya, mereka telah sampai di rumah sakit.


Arthur sengaja langsung menuju ke pintu gawat darurat, agar Mona segera diberi pertolongan.


"Ada apa, Tuan?" tanya salah seorang perawat yang melihat kedatangan Arthur.


"Cepat bawakan kursi roda atau apapun. Ada pasien yang kesakitan," perintah Arthur yang terdengar panik.


Dia buru-buru menuju ke tempat Mona berada dan membuka pintunya. Pria itu kemudian menggendong wanitanya dan meletakkan di atas ranjang pasien yang dibawakan oleh perawat tadi.


"Sakit... Kak...," rintih Mona.


"Sabar, Sayang. Sebentar lagi kamu akan mendapat bantuan," ucap Arthur yang ikut berlari bersama para perawat yang mendorong brangkar tersebut.


Sesampainya mereka di depan ruang UGD, salah satu perawat menahan Arthur agar tetap berada di luar.


"Maaf, Tuan. Sebaiknya Anda tetap di sini. Biarkan kami yang menangani pasien," ujarnya.


"Tapi… tapi tolong sembuhkan dia. Pastikan dia baik-baik saja." Arthur masih mencoba melihat ke dalam, akan tetapi terus dicegah oleh perawat itu.


"Baik. Mohon kerjasamanya, Tuan," ucap perawat itu yang kemudian masuk dan menutup pintu rapat-rapat.


Arthur masih berdiri sambil mengusap wajahnya kasar. Dia begitu khawatir dengan Mona. Dia takut jika sesuatu yang buruk terjadi akibat ulah konyolnya.


Tak berselang lama, seorang dokter yang terlihat familiar, berlari menuju ke ruang UGD. Dia pun segera melakukan pemeriksaan terhadap Mona sesampainya di dalam sana.


Tak berselang lama, sekitar tiga puluh menit kemudian, dokter keluar dan menghampiri Arthur yang masih menunggu di luar.


Melihat sang dokter keluar, Arthur pun segera berjalan mendekat.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Arthur cemas.


"Anda sebagai suami kenapa sangat ceroboh seperti ini? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan keduanya?" cerocos dokter wanita dengan rambut sebahu itu kepada Arthur.


Arthur pun hanya mampu mengerutkan kedua alisnya dan mencoba memahami perkataan sang dokter.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih