
Kini, ia telah sampai di hotel bintang lima, di mana terdapat sebuah restoran negeri kincir angin yang sangat terkenal di area rooftop hotel tersebut.
William membimbing Mona untuk menuju ke tempat pertemuannya. Namun, saat telah tiba di depan pintu, William berhenti dan mempersilakan Mona untuk masuk seorang diri.
"Tugas saya mengantar Anda hanya sampai di sini, Nona. Silakan Anda masuk ke dalam," ucap William.
"Tapi, bukankah aku belum tau seperti apa bosmu, Will. Bagaimana kalau aku salah orang?" tanya Mona.
"Ah... benar. Maaf, saya hampir lupa. Nomor meja Anda adalah 17, silakan Anda pergi ke meja dengan nomor tersebut," ucap William.
Mona pun mengangguk. Dia kemudian berjalan mendekati pintu masuk, di mana seorang pelayan menyambut kedatangannya.
Pelayan itu membukakan pintu kaca yang berornamen classic gold, dan terkesan mewah untuk Mona.
"Terimakasih," ucap Mona sambil mengulas senyumnya.
Wanita cantik itu berjalan masuk, dan melihat ke seluruh penjuru ruangan, mencari di mana tempat yang telah disiapkan untuknya.
Netranya tertuju pada sebuah meja yang terletak paling ujung, tepat di samping pagar pembatas yang terbuat dari kaca, dan berhias lampu-lampu taman yang berkelap-kelip serta tanaman sulur yang membuat tempat itu tampak asri.
"Itu meja tujuh belas bukan." Mona berjalan menuju meja yang sempat diberitahukan oleh William sebelumnya.
"Wah… sepertinya dia pria yang cukup romantis. Tempat yang ia pilih pun lumayan bagus dan berkelas," gumam Mona saat tiba di depan mejanya.
Pemandangan malam kota metropolitan, yang beratapkan langit malam penuh bintang dengan bulan yang bertahta di atas sana, menambah kesan romantis di tempat tersebut.
Mona pun duduk tanpa bertanya lagi. Akan tetapi, dia tak mendapati siapapun di sana.
"Bukankah Will bilang, bosnya sudah nunggu. Tapi di mana dia? Sejak tadi tak ada orang di sini," ucap Mona seraya menoleh ke kanan dan ke kiri, sambil meletakkan tasnya di atas meja.
Mona duduk sembari menumpukan kedua sikunya di atas meja, dengan kedua tangan yang mengepal ke atas dan menjadi tumpuan dagunya.
"Kira-kira, seperti apa tamu spesial ini? Kata Mommy, dia masih sangat muda." Mona sebenarnya sangat penasaran dengan orang yang sudah mem-booking-nya itu.
Namun, ia menutupi rasa ingin tahunya dengan sikap yang elegan, dan terkesan acuh.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba saja seseorang duduk di hadapannya. Mona pun langsung tersadar dari lamunan, dan menatap lurus ke depan.
"Hei... Sedang apa Anda di sini?" tanya Mona yang merasa kesal dengan kehadiran orang itu, yang secara tiba-tiba duduk tanpa permisi di mejanya.
"Hei, Nona. Ini restoran. Memangnya mau apa lagi aku ke sini, kalau bukan untuk makan. Kau ini aneh sekali," ucap pria yang selalu saja bertingkah menyebalkan di depan Mona.
"Tuan Peterson, sebaiknya Anda pergi dari meja saya, karena saya sedang ada janji dengan orang yang sangat penting," ucap Mona datar.
"Wah… sepenting apa memangnya?" tanya Arthur yang seperti tengah menyelidiki.
"Anda tidak perlu tahu," ucap Mona dingin.
Di tengah ketegangan yang terjadi di antara mereka, seorang pelayan mengantarkan pesanan, yang sudah dipesan terlebih dulu, bahkan sebelum Mona datang.
Pelayan itu meletakkan hidangan di depan keduanya, masing-masing seporsi menu pembuka berupa Ratatouille, sebuah olahan yang terbuat dari sayur-sayuran yang dibumbui lalu kemudian dipanggang.
Makanan yang pada jaman dahulu dikenal sebagai makanan para petani ini, kini digemari oleh banyak orang, dan disajikan dengan roti, kentang tumbuk, nasi dan diolah dengan bumbu yang semakin bervariasi.
Tak lupa, red wine turut menemani hidangan pembuka itu di atas meja.
"Silakan dinikmati," ucap pelayan tersebut.
"Terimakasih," sahut Mona kepada si pelayan yang kemudian pergi.
Saat Mona kembali menoleh ke depan, ia kembali dibuat kesal oleh pria yang ada di hadapannya itu.
Arthur menyantap makanan itu dengan lahapnya, tanpa menawari Mona terlebih dulu. Apalagi, Mona yang sangat geram karena merasa pria itu akan membuat pertemuannya dengan si tamu istimewa menjadi kacau.
"Tuan Peterson. Apa Anda tidak punya sopan santun sama sekali? Ini meja saya, dan ini hidangan yang sudah dipesan oleh tamu saya. Kenapa Anda dengan seenaknya memakan semua itu? Benar-benar tidak tau malu," sarkas Mona.
"Ehm… ah… makanan ini sangat lezat. Apa lagi dipadu dengan anggur merah yang berkualitas ini. Apa kamu tidak akan memakannya? Sayang sekali," ucap Arthur sambil terus menyantap makanannya.
"Tuan Peterson!" bentak Mona dengan suara lebih keras, sambil berdiri dari duduknya.
Arthur mendongak dan menatap datar ke arah Mona.
"Nona, apa kau mau mempermalukan dirimu sendiri seperti ini? Duduklah dengan tenang. Kita nikmati saja makanan yang sudah disiapkan ini," seru Arthur dengan tatapan tajam, dan nada bicara yang dingin.
"Lebih baik saya pergi, dari pada harus malu di depan tamu saya karena kelakuan Anda," ujar Mona sembari meraih tasnya yang ada di atas meja.
Saat Mona berbalik dan hendak pergi, Arthur menjentikkan jarinya beberapa kali, dan pintu depan restoran terbuka.
Tampak seorang pria dengan setelan jas hitam, masuk dengan membawa sebuah amplop coklat.
Mona melihat orang tersebut, dan menghentikan langkahnya. Seketika, ia menatap ke arah pria berjas yang sedang berjalan lurus itu.
Pria berjas tersebut berpapasan dengan Mona dan menyapanya.
"Nona Mona, kenapa Anda berdiri di sini?" tanyanya.
"Will, Aku sudah menunggu lama di sini. Tapi dimana bosmu?" tanya Mona.
"Ehm… maaf, Nona. Bukankah sejak tadi, Anda sudah bertemu dengan beliau?" tanya William yang membuat Mona bingung.
"Aku? Kapan aku…," perkataan Mona terhenti, dan seketika dia menoleh ke belakang, melihat ke arah pria menyebalkan itu.
Arthur tersenyum miring, sembari menatap lurus ke arah Mona.
"Kau?!" pekik Mona yang terkejut dengan apa yang baru saja ia ketahui.
"Will, perintahkan dia untuk duduk," seru Arthur.
"Mari, Nona." William mengajak Mona untuk duduk kembali di tempatnya.
"Maaf, saya menolak permintaan Anda," ucap Mona dan kembali berbalik hendak berjalan pergi.
"Tunggu," panggil Arthur yang membuat Mona kembali berhenti.
"Will, beritahu dia poin pertama di dalam kontrak itu," perintah Arthur kepada asistennya.
"Pihak pertama, yaitu Nona Mona, bersedia mematuhi apapun perintah dari dari pihak kedua, yaitu Tuan Arthur Peterson. Jika pihak pertama tidak bersedia melakukannya setelah penandatanganan surat kontrak ini, maka pihak pertama harus bersedia menerima hukuman apapun yang akan diberikan oleh pihak kedua, atau membayar denda sebesar satu miliyar,"
Itu adalah bunyi poin satu di dalam surat perjanjian yang telah ditanda tangani oleh Mona.
Mona menoleh dan menatap nyalang ke arah Arthur.
"Anda sangat licik," hujat Mona.
"Sebutkan peraturan nomor tiga, Will," perintah Arthur lagi.
"Peraturan nomer tiga, yaitu Pihak pertama harus bersedia untuk makan bersama dengan pihak kedua, setiap pagi, siang dan juga malam, kecuali jika pihak kedua tidak menginginkannya" ucap William yang langsung membuat Mira memejamkan mata dan mendengus kesal.
"Sudah dengar bukan? Aku yakin kau tidak membacanya dengan menyeluruh, karena kamu adalah seorang wanita tipe pembangkang. Apa tebakan ku benar, Nona Mona?" ujar Arthur dengan seringainya.
Arthur kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan kedua siku yang bertumpu pada meja.
"Aku yakin, satu miliyar itu jumlah yang sangat besar untukmu. Jadi sekarang, silakan pilih, menemaniku makan dengan tenang, atau mendapat hukuman, hem?" seru Arthur yang membuat Mona bertambah emosi.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih