DESIRE

DESIRE
Bab 26



FLASHBACK...


Hari sebelumnya, tepatnya saat Mona dan juga Joshua baru saja sampai di tanah air.


Saat itu, mereka berdua tengah tertidur di apartemen Mona.


Joshua merasa sedikit gelisah. Ia tak bisa tidur nyenyak, hingga pria paruh baya itu memutuskan untuk bangun lebih awal sebelum Mona.


Dia duduk di balkon, sambil berkirim pesan dengan seseorang.


[Kapan Anda akan kemari? Sepertinya, waktu ku tak banyak lagi.]


Begitulah isi pesan Joshua, yang dikirim kepada seseorang di luar sana.


Sesaat kemudian, sebuah pesan balasan datang.


[Baiklah. Aku akan percepat jadwalnya menjadi minggu depan.]


Nampak, Joshua bernafas lega ketika membaca pesan balasan itu.


[Terimakasih. Aku mohon, jaga dia.]


Pesan terakhir dari Joshua, yang tak mendapatkan kembali balasan.


Pria berperut rata di usia yang gak muda lagi itu kemudian duduk bersandar di kursi santai Mona yang hanya ada satu, karena wanita itu memang sengaja agar waktu bersantai di tempat favoritnya tak diganggu orang lain.


Joshua menoleh ke arah dalam, dan memandangi Mona yang masih tidur bersembunyi di balik selimut tebalnya.


Sebuah senyum ia berikan, kala melihat gadis yang dulu pernah sangat takut kepadanya, kini justru menjadi orang yang paling dekat dengan dirinya, bahkan melebihi sang istri.


Saat melintas kata istri di kepalanya, senyum itu tiba-tiba menghilang. Ekspresi Joshua berubah menjadi sangat aneh. Ada semacam kekhawatiran dan kemarahan di sana.


Hal ini berawal ketika ia tengah memeriksa laporan perusahaan, sebuah surel masuk dan memberitahukan jika selama ini, sang istri telah mengirimkan mata-mata untuk mengikuti ke mana pun ia pergi.


Ia sangat geram dengan ulah istrinya tersebut.


Joshua pun lalu segera bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Pria paruh baya itu memilih untuk mencuci mukanya, dan bersiap-siap untuk pergi dari tempat ini.


Tak berselang lama, Joshua telah selesai berganti pakaian dan siap dengan kopernya. Ia berjalan mendekat ke arah Mona yang masih tertidur nyenyak.


Sepertinya wanita itu sangat kelelahan, bukan hanya fisiknya tapi juga jiwanya.


Joshua berdiri di samping tempat tidur, dan perlahan membungkukkan badannya, dan mengecup sekilas kening wanita yang lebih pantas menjadi anaknya itu.


"Aku akan tinggalkan mimpi indah untukmu, dan membawa pergi mimpi burukmu, Sayang." Joshua berdialog dengan diri sendiri, kemudian kembali berdiri tegak dan berbalik.


Ia berjalan menuju kopernya, dan sekali lagi menoleh ke arah Mona. Ia mengulas senyumnya ke arah wanita itu.


Tanpa berkata lagi, Joshua pun pergi dari tempat tersebut.


Dia berjalan menuju pintu masuk lobi The Royal Blossom, di mana sang supir telah menunggunya.


Joshua adalah tipe orang yang tidak suka menyetir kendaraan sendiri. Dia lebih memilih menggunakan jasa driver pribadi untuk setiap keperluan akomodasinya.


Pria itu lebih suka menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, bahkan pada saat berada di dalam perjalanan. Namun, itu berbeda ketika dirinya tengah bersama Mona.


Wanita itu seperti memiliki magnet yang sangat kuat, dan selalu menarik dirinya agar terus memperhatikan Mona. Mungkin benar yang dikatakan oleh Madame Queen, bahwa Joshua bisa saja terkena Virgin effect dari Mona.


Dia masih ingat dengan jelas, ketika dirinya pertama kali meniduri wanita itu saat masih gadis, empat tahun lalu. Ketika nama 'Lisa' masih ia gunakan. Usianya saat itu baru menginjak dua puluh tahunan.


Pada waktu itu Joshua tengah dalam pengaruh alkohol, dan tak sadar dengan siapa dia tengah bersama di dalam sebuah kamar.


Yang dia tahu, wanita yang bersamanya sama saja dengan wanita-wanita lain yang biasa ia pesan di tempat itu. Tempat hiburan malam milik Madame Queen.


Namun, setelah teripang daratnya melesak masuk, ia merasakan sebuah keanehan. Sesuatu yang tak biasa ia rasakan, ketika bercinta dengan wanita bayaran lainnya.


Namun, hasrat yang sudah menguasainya, membuatnya meneruskan apa yang telah ia mulai.


Tak ada suara des*han terdengar, hanya rintihan menahan sakit dan perih yang keluar dari bibir wanita yang tengah digagahinya.


Saat semuanya telah usai, baik Joshua dan juga si wanita yang tak lain adalah Lisa remaja, seorang gadis yang baru saja kehilangan perawannya, tertidur karena kelelahan.


Pada pagi hari, Lisa bangun lebih awal, dan merasakan sakit yang teramat di area intimnya. Ia terlihat kesusahan saat harus berjalan ke sekeliling tempat tidur, dan memunguti pakaiannya yang berserakan.


Saat itu, Joshua pun terbangun dengan sakit kepala yang begitu hebat menghantam dirinya. Ia bangkit dan duduk bersandar di head board, dan sekilas matanya menangkap sosok gadis kecil dalam keadaan te*lan*jang bulat, tengah memunguti pakaian-pakaiannya.


Pria paruh baya itu mengusap kasar wajah, dan menjambak rambut depannya.


"Apa yang telah ku lakukan?" gumamnya.


Pria itu terlihat sangat menyesali apa yang telah ia perbuat kepada gadis kecil itu.


Ia melihat nanar ke arah Lisa, yang berjalan tertatih menuju ke kamar mandi. Joshua pun kemudian bangkit dan segera melilitkan handuk di pinggangnya.


Pria itu mengangkat tubuh polos Lisa, dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi, lalu kemudian mendudukkannya di atas closet duduk.


"Bisa mandi sendiri kan?" tanya Joshua dengan suara yang terdengar dingin.


Lisa hanya mengangguk pelan.


Joshua lalu meraih pakaian-pakaian yang ada di dalam pelukan gadis itu, dan membawanya keluar dari kamar mandi.


Tak berselang lama, dia kembali lagi dan membawakan jubah mandi untuk Lisa.


"Mandilah, dan pakai ini." Joshua menggantung benda itu di hanger yang berada di sudut, kemudian ia kembali pergi meninggalkan Lisa di kamar mandi.


Pria itu menjejerkan pakaian sang gadis malang yang ia ambil, dan tertulis nama sebuah swalayan di sana.


Sepertinya, Lisa saat itu tengah bekerja di swalayan tersebut, sebelum kemudian seseorang membawanya ke tempat sesat itu.


Joshua duduk di bibir ranjang. Ia merutuki kesalahannya sendiri yang telah merusak seorang gadis polos.


Gemericik air mulai terdengar. Joshua menduga, pasti saat ini gadis kecil itu tengah menangis, meratapi nasib buruk yang telah menimpanya.


Pria itu segera menghubungi Madame Queen, orang yang menyediakan jasa wanita malam untuknya.


"Kenapa kau memberiku seorang gadis yang masih polos, Cameela? Bukankah kau sangat tahu kalau aku anti dengan perawan. Itu hanya akan membawa sial pada ku," keluh Joshua.


Madame Queen yang memiliki nama asli Cameela Ma itu terkejut mendengar penuturan Joshua barusan. Ia tidak merasa memberinya seorang gadis perawan.


"Aku rasa pasti ada kesalah pahaman di sini. Aku ingat memberimu seorang ladies ku seperti biasa, bukan seorang perawan. Apa kamu tidak salah masuk kamar, Joshua?" seru Madame Queen.


"Datanglah sendiri kemari," perintah Joshua yang langsung memutuskan teleponnya.


Tak berselang lama, Madame Queen tiba di kamar tempat Joshua berada.


"Ini bukan kamarmu, Josh. Aku memerintahkan ladies ku untuk datang ke kamar di seberang sana," serunya setiba di sana.


"Tapi aku ingat betul, kalau kamar di seberang, sedang dipakai oleh orang lain," sanggah Joshua.


"Tapi, aku juga yakin betul jika semalam telah memerintahkan ladies ku untuk menemui mu," sahut Madame Queen.


"Tapi dia masih sangat kecil, Meela" tepis Joshua.


"Lalu, di mana anak itu sekarang?" tanya Madame Queen.


"Tunggulah. Dia sedang di kamar mandi," jawab Joshua menunjukkan dengan ekor matanya.


Madame Queen mengikuti arah yang diberikan oleh mata Joshua, dan ia pun lalu duduk di kursi kayu yang ada di samping tempat tidur.


Selang beberapa saat kemudian, ketika kedua orang itu menunggu dengan saling diam, Lisa keluar dari kamar mandi, dengan memakai jubah mandi yang diberikan Joshua sebelumnya.


Sementara bajunya, pria itu letakkan di atas tempat tidur.


Madame Queen seperti mengenal anak ini. Ada rasa tak asing ketika melihat wajahnya. Bagai melihat seseorang yang pernah ia kenal di masa lalu.


Aku seperti mengenalnya. Tapi siapa?


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐Ÿ‘, komen ๐Ÿ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih