DESIRE

DESIRE
Bab 72



"Ehm ...," Mona menggeliat dan mengerjapkan matanya karena terusik oleh sinar mentari yang telah menerangi kamar Arthur.


"Selamat pagi putri tidur," ucap Arthur dengan tersenyum ke arah wanita yang baru saja bangun itu.


Arthur saat ini tengah berbaring dengan posisi menyamping. Sebelah lengannya tertekuk dan menopang kepalanya, sambil terus memandangi wajah Mona yang masih terlihat kelelahan.


"Pagi...," ucap Mona yang membalas senyum Arthur.


"Apa tidurmu nyenyak, hem?" tanya Arthur sambil mengusap lembut pipi wanita di depannya.


"Kak, apa aku pingsan semalam?" tanya Mona yang tiba-tiba merona.


"Maaf ya. Aku terlalu bersemangat untuk menghukummu," sahut Arthur dengan sebuah kecupan di kening.


"Jangan ingatkan lagi," keluh Mona sambil menyembunyikan wajahnya dalam dada Arthur.


Wanita itu meringsek masuk ke dalam pelukan Arthur dengan sendirinya, membuat sang casanova tergelak.


"Akhirnya, aku bisa mengalahkan si pel*cur yang tak bisa mendes*h, hahahaha…," ucap Arthur yang membuat Mona semakin mengeratkan pelukannya.


"Menyebalkan," gerutu Mona.


Pagi yang indah untuk mereka berdua. Mona merasa badannya remuk, seakan semua tulang lepas dari tempatnya.


Bahkan, untuk berjalan ke kamar mandi pun, pinggangnya serasa lemas hingga membuatnya hampir terjatuh.


Arthur merasa khawatir melihatnya, namun ia pun tak bisa menahan senyumnya kala melihat hasil perbuatannya semalam.


Dia pun kemudian bangun dan membopong Mona ke dalam kamar mandi, lalu mendudukkannya di atas closet duduk.


"Apa kau bisa sendiri?" tanya Arthur.


"Iya, Kak. Aku bisa mandi sendiri," jawab Mona yang masih terlihat lemas.


"Benarkah? Aku bantu saja yah. Aku takut kau pingsan lagi," tawar Arthur.


"Tidak apa. Sudah sana kau keluar saja, Kak," seru Mona sambil mendorong Arthur yang terus berdiri di hadapannya.


"Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, panggil aku. Mengerti," ucap Arthur pada akhirnya.


Mona pun mengangguk, disusul dengan Arthur yang menutup pintu kamar mandi.


Cukup lama Mona mandi, sekitar setengah jam, hingga akhirnya wanita itu membuka pintu.


Arthur segera berjalan cepat menghampiri Mona yang terlihat kesusahan berjalan.


"Bukankah sudah ku katakan, kalau ada apa-apa panggil aku saja," keluh Arthur sambil menggendong Mona menuju ke depan meja rias, dan mendudukkannya di kursi.


Arthur mengambil sebuah handuk kering dari lemari, dan mengelap rambut wanitanya yang masih basah.


"Aku bisa sendiri, Kak," ucap Mona yang berusaha meraih handuk dari tangan Arthur.


"Sudah, biarkan aku saja. Kau cukup diam sambil memandangi wajahku dari cermin," sahut Arthur yang tersenyum ke arah pantulan Mona.


Wanita itu pun kemudian diam dan menikmati perlakuan lembut prianya pagi ini. Sungguh tak pernah ia duga sebelumnya, jika dirinya bisa merasakan kehangatan dan perhatian dari seseorang.


Sempat terbersit di benak Mona, akankah masa indah ini berlalu suatu hari nanti. Tiba-tiba, raut wajahnya berubah muram. Namun ia cepat-cepat menepis pikiran itu dari otaknya.


Nikmati saja yang ada sekarang. Bukankah hubungan ini dari awal juga sebatas pekerjaan, batin Mona yang terasa perih saat mengingatnya kembali.


Arthur meletakkan handuk di meja, dan meraih hair dryer yang ada di dalam laci. Ia menyambungkan kabelnya ke stop kontak, dan menekan tombol On. Dengan begitu telaten, pria itu mengeringkan surai hitam Mona.


"Selesai," ucap Arthur saat berhasil menyelesaikannya.


Mona mengulas senyum tipis, dan memandang ke arah pantulan Arthur di cermin.


"Kau mandi lah. Aku bisa lanjutkan sendiri," ucapnya.


"Baiklah. Kalau begitu aku mandi dulu. Tapi kau harus cepat panggil aku jika terjadi sesuatu. Mengerti," seru Arthur.


Mona pun hanya mengangguk sembari tersenyum.


Beberapa saat kemudian, setelah mereka selesai membersihkan diri, kini keduanya tengah berada di meja makan.


Hari ini, Mona meminta ijin kepada Arthur untuk datang ke Heaven valley.


"Mau apa kau pergi ke sana?" tanya Arthur di sela-sela sarapan mereka.


"Aku hanya rindu dengan mereka, Kak. Mereka pasti khawatir dengan ku. Boleh yah, Kak. Eeehhhhmmmm...," rengek Mona dengan memasang wajah semanis mungkin.


"Ehem! Tidak boleh! Nanti ada yang menggoda mu lagi di sana. Lalu bukankah, kau masih lemas gara-gara semalam," tolak Arthur sambil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.


Mona berdiri, dan berjalan menuju ke tempat pria itu duduk. Dia memegangi pundak Arthur, sambil memberikan sedikit pijatan kecil di sana.


"Kaaaak, boleh yaaa. Eeeehhmmm…," bujuk Mona dengan cara yang sangat licik dan menggoda.


Arthur sampai dibuat meremang dengan suara wanita seksi itu. Dia pun menghentikan gerakan tangannya dan membeku seketika.


Mona tersenyum dengan mengangkat sebelah bibinya. Wanita itu lalu memutar, dan duduk di pangkuan Arthur, sambil melingkarkan lengannya bergelayut manja di leher pria itu.


"Kak…," panggil Mona yang kembali membuat Arthur semakin terhipnotis.


Mona mengulum senyumnya, kala merasakan pangkal paha Arthur mengeras dan terasa menonjol di antara bok*ngnya.


****! Dasar licik. Kalau hari ini tidak ada rapat penting, aku pasti akan langsung memakanmu sekarang juga, batin Arthur menggerutu.


Dia terpaksa menahan hasr*tnya yang telah bangkit, karena ulah nakal Mona yan terus menggodanya.


"Ehem… ba… baiklah. Kau boleh pergi. Ehem…," ucap Arthur dengan suara yang terdengar serak karena n*fsunya yang sudah naik.


Mona berusaha menahan senyumnya melihat perilaku menggemaskan prianya itu.


"Benarkah?" tanya Mona memastikan sambil menyentuh anak rambut yang berada di belakang telinga Arthur, dan menjalari hingga ke rahang bawah dan dagu pria itu.


"Ya… Ehem… yah, kau boleh pergi, dan aku akan menjemputmu jika sudah selesai dengan urusanku," ucap Arthur yang berusaha menekan gair*hnya yang sengaja dipancing oleh Mona.


"Oke," seru Mona senang dan seketika bangun dari pangkuan Arthur dan berjalan menjauh dari pria yang masih berdebar itu.


"Tapi, kau tidak boleh terlalu banyak minum, atau kau akan ku hukum lagi seperti semalam," ucap Arthur dengan tatapan tajam sambil menyeringai.


"Ya… ya… dasar maniak," gumam Mona.


"Aku mendengarnya, Mona." Arthur kembali dibuat kesal oleh sikap Mona.


"Ups… sorry," ucap Mona.


Arthur hanya menggeleng melihat tingkah Mona yang selalu saja seenaknya sendiri. Namun entah kenapa, dia justru terpikat dengan hal itu.


Selesai sarapan, Mona mengantar Arthur yang akan pergi bekerja ke depan pintu.


"Aku berangkat dulu ya. Jangan nakal selama aku tidak ada," pesan Arthur sebelum ia pergi.


"Baiklah, Kak. Aku ini gadis penurut, kau tau," ucap Mona sambil mengerlingkan sebelah matanya kepada pria itu.


Arthur tersenyum dan secepat kilat menyambar tengkuk Mona dan memberikan ciuman di bibir wanita esnya.


"Eeeehhhhmmmm…,"


Mona melenguh karena ciuman Arthur tak juga usai dan semakin dalam.


Wanita itu sampai mendorong Arthur dengan kuat, dan berkali-kali menepuk-nepuk pundak pria besarnya agar melepaskan pagutan.


"Hah… hah… Kak, aku hampir kehabisan nafas. Curang sekali memberi ku serangan tiba-tiba begbegitu," keluh Mona sambil memegangi dadanya.


"Itu hanya hukuman kecil karena kau sudah berani menggodaku pagi-pagi," ucap Arthur sambil mencolek ujung hidung Mona yang mancung.


Arthur pun tertawa melihat ekspresi mengeluh Mona. Wanita itu semakin kesal dibuatnya.


"Cepatlah kau berangkat," seru Mona sambil mendorong Arthur agar cepat pergi.


"Iya… iya… baiklah, aku akan berangkat," ucap Arthur sembari mengecup singkat kening Mona, dan mengusap lembut puncak kepala wanita itu.


Mona pun seketika tersipu. Ada rasa yang nyaman saat Arthur memperlakukannya seperti tadi.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih