DESIRE

DESIRE
Bab 89



Malam hari, Mona sengaja memasak makan malam untuk dinikmati bersama dengan Arthur. Dia sudah selesai mengerjakan semua dan menghidangkannya di atas meja makan.


"Tinggal menunggu dia pulang," gumam Mona sambil melihat jam dinding.


Saat itu waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Mona ingat betul jika akhir-akhir ini Arthur akan pulang sedikit larut, jadi dia sengaja memasak sedikit malam.


Kini, dia sedang menonton TV di ruang tengah, sambil tidur menyamping di atas sofa. Tak berselang lama, pintu depan terbuka dan Arthur muncul dari sana.


Mona pun bangun dan menghampiri pria itu.


"Baru pulang, Kak?" tanya Mona sambil meraih tas kerja prianya


"Ehm… kamu belum tidur?" tanya Arthur sambil mengusap surai Mona dan mengecup singkat puncak kepala wanitanya.


"Aku menunggu kakak. Kau pasti belum makan bukan? Aku sudah memasak makanan yang spesial lho. Mandi dulu, setelah itu kita makan bersama," seru Mona yang berjalan di samping Arthur.


Pria itu hanya menimpalinya dengan sebuah senyuman yang sangat terlihat jelas begitu dipaksakan.


Dia naik ke atas hendak membersihkan diri setelah seharian berusaha menyelesaikan permasalahan yang tengah dihadapi perusahaannnya.


Sedangkan Mona, dia meletakkan tas kerja Arthur di atas meja sofa, dan menuju ke dapur untuk menghangatkan lagi makanannya.


Setengah jam kemudian, Arthur turun dan terlihat lebih segar, namun wajahnya masih saja terlihat muram.


Mereka makan malam dalam diam, karena sikap Arthur yang terus saja tenggelam dalam pikirannya, membuat Mona seketika menerka ada sesuatu hal yang serius sedang terjadi antara Arthur dan juga Gerald.


Selesai makan, Mona dan Arthur duduk di ruang tengah sambil menonton TV. Mona duduk di samping Arthur dengan menyandar di bahu kekar pria tampan itu.


"Wah… indah sekali ya, Kak. Ini tempat bulan madu artis yang kemarin menikah bukan?" tanya Mona yang nampak antusias dengan tayangan di depannya.


"Wah… sejak kapan kau mengikuti berita artis terkini?" tanya Arthur yang terheran dengan pengetahuan baru Mona seputar dunia hiburan tanah air.


"Empat hari di rumah sakit, bosen, hanya bisa nonton TV saja. Scroll hand phone pun hanya bisa melihat sosmed, malas sekali. Bagaimana tak paham soal seperti itu?" gerutu Mona.


"Oh… pantas," sahut Arthur.


"Ehm… Oh iya, Kak. Kakak pernah mengatakan ingin menikahi ku bukan. kapan itu?" tanya Mona tiba-tiba.


"Ehm… kenapa memangnya? Sudah tak sabar kah," goda Arthur sambil mencubit ujung hidung Mona.


"Isshhh… bukan begitu. Hanya bertanya saja. Lagipula bukanlah momennya sangat pas. Kita sedang melihat pengantin baru yang bulan madu," kilah Mona.


"Oh… jadi sudah ingin seperti itu," goda Arthur lagi.


"Bukan… iiihhhh…," seru Mona kesal sambil memukul kecil dada Arthur.


Pria itu pun terkekeh mendengar wanitanya kesal dan merajuk. Dia kemudian memeluk Mona dengan sedikit erat, sambil matanya tetap menatap ke depan.


"Tunggulah sampai aku bisa mewujudkan impianku?" jawab Arthur.


Terdengar sebuah kekhawatiran dari ucapannya, dan Mona bisa merasakan hal itu.


"Memang apa impian Kakak?" tanya Mona yang terus mencoba mencari informasi mengenai perselisihan antar prianya dengan Gerald.


"Ada satu proyek besar yang aku rencanakan untuk PS group, yang bisa membuatku untuk tetap dapat menetap di sini bersamamu," ucap Arthur sembari menoleh ke bawah menatap Mona.


"Apa itu, Kak?" tanya Mona yang juga mendongak dan menatap wajah prianya.


"Melebarkan sayap PS department store ke benua eropa, dan rencana itu akan dimulai di Paris-Perancis," ungkap Arthur.


"Wah… jadi, calon suami ku ini akan tambah kaya raya lagi rupanya. Terus sudah sampai mana progress-nya, Kak?" tanya Mona.


Pria itu tak tau jika Mona sudah mengetahui persoalannya dengan Gerald mengenai kerja sama mereka. Namun, yang Mona belum tau adalah, masalah apa yang mendasari hal tersebut terjadi.


"Memang kendalanya apa, Kak?" tanya Mona.


"Ehm… arsiteknya sedikit gila. Apa masuk akal, saat dia memintaku untuk mengatur makan malamnya dengan seorang wanita. Apa dia pikir aku ini germ*. Yang benar saja," tutur Arthur yang terlihat sangat kesal.


Apa wanita yang diminta Gerald itu aku? Tapi kalau bukan aku, tak mungkin Kakak sampai mau pusing-pusing mencari alternatif lain, batin Mona.


"Jadi, Kakak sedang mencari gantinya? Sudah dapet belum?" tanya Mona yang terus mengorek informasi.


Arthur menggeleng pelan, dan nampak jelas wajahnya menunjukkan ekspresi lelah.


"Tak semudah itu. Terlebih lagi, yang sangat tau tentang letak, topografi, kontur tanah, bahkan kondisi sekitar adalah si arsitek gila ini," ungkap Arthur.


"Ehm… jadi begitu. Oh iya, Kak. Gerald juga seorang arsitek bukan. Mau ku tanyakan padanya? Siapa tau dia… Aaahhh…," Mona tiba-tiba mengaduh.


Arthur mendorongnya kuat dan mencengkeram kedua pundak wanita itu hingga membuat Mona kesakitan.


"Jangan sebut-sebut nama dia lagi. Aku bisa mencari orang lain sendiri, Mona. Jangan pernah berpikir untuk meminta bantuannya," ucap Arthur yang terdengar begitu emosi.


Benar. Sepertinya Gerald meminta ku sebagai syarat kerja sama ini, batin Mona menerka.


"Oke… oke," ucap Mona sambil melingkarkan kedua lengannya di leher Arthur.


Pria itu pun mengendurkan cengkeramannya di pundak Mona, dan menyisakan bekas merah akibat kekuatan tangannya yang besar.


"Ehm… Kak. Tapi, kalau misal si arsitek ini tiba-tiba dengan sendirinya menyetujui kerja sama dengan mu, apa kau masih mau menerimanya?" tanya Mona.


"Asalkan dia mencabut permintaan gilanya itu," ucap Arthur dengan tegas.


Mona tersenyum, dan menarik tengkuk Arthur hingga mendekat ke arahnya. Ia menyambar bibir pria itu dan menciumnya dengan lembut.


Arthur pun membalas perlakuan Mona, dan membalas ciuman itu. Mona menjulurkan lidahnya hingga masuk ke dalam rongga mulut pria tersebut, dan membelit lidah lawannya.


Baiklah. sepertinya aku memang harus bertindak. Maaf, Kak. Tapi aku hanya ingin memberimu sedikit bantuan untuk masalah kecilmu itu, batin Mona di tengah ciumannya dengan Arthur yang semakin dalam dan panas.


Arthur semakin menindih tubuh Mona hingga wanita itu terkungkung olehnya. Dia pun menarik tuas di belakang kursi yang bisa digapai tangannya, dan membuat sandaran sofa turun. Seketika benda itu berubah menjadi sebuah tempat tidur berukuran sedang.


Bibir mereka saling memagut, menyesap dan gigitan kecil menambah panasnya malam itu.


Tangan Arthur tak bisa diam. Dia sudah masuk menelusup hingga berhasil membuka pengait br* Mona, dan membuat dua gunungnya terbebas dari belenggu yang mengekang.


"Eehhhmmm…," lenguhan terdengar dari bibir Mona yang masih terbungkam oleh ciuman panas yang semakin liar dari Arthur, saat tangan pria itu merem*s salah satu gundukan sintal miliknya.


Arthur melepas pagutannya, dan mulai menyusuri leher jenjang Mona, sambil sesekali menyesap di beberapa bagian.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih