
Setelah mengetahui kehamilan Mona, Arthur jarang sekali berangkat bekerja terlalu lama di kantor. Dia selalu ingin dekat dengan wanita dan calon anak mereka. Ini bahkan sudah hari ke lima, dan Arthur masih betah menemani Mona di apartemennya.
Pria itu lebih memilih untuk meminta William mengantarkan pekerjaan ke tempatnya, agar ia bisa selalu memberikan perhatiannya untuk wanita yang sangat ia cintai itu.
Sesuai janjinya, dia baru akan menikahi Mona setelah proyek di benua biru sudah berjalan. Jadi, Mona pun memahami hal itu dan bersabar menunggu hari baik mereka tiba.
"Kamu benar tak apa?" tanya Arthur di suatu pagi, saat mereka masih bermalas-malasan di atas tempat tidur.
"Aku tak apa kok, Kak. Lagipula, jaman sekarang banyak kok yang menikah saat setelah mereka sudah memiliki anak," ucap Mona dengan entengnya.
"Tidak … aku tak mau seperti itu. Cukup tunggu aku beberapa bulang lagi, dan aku pastikan kamu akan sah menjadi Nyonya muda keluarga Peterson," seru Arthur sambil mendekap erat tubuh Mona.
"Ehm… senangnya jadi istri sultan. Hehehehe…," tutur Mona seraya terkekeh.
Arthur gemas melihat tingkah wanitanya yang selalu saja ceplas ceplos, hingga ia pun menarik hidungnya sampai Mona memekik keras.
"Kaaaaak! Sakit," gerutu si ratu es.
"Hehehe… habis gemas sama Mommy-nya lil baby," ucap Arthur yang membuat Mona mendongak dan mengerutkan alisnya.
"Apa lil baby? Anakku tak kecil ya, dia itu super, produk premium, bibit unggulan, bukan asal-asalan," ujar Mona.
"Idih… Mommy cemberut…," ledek Arthur yang tak kuat dengan level gemasnya kepada Mona.
"Kak! Sakit… ih…," keluh Mona karena Arthur lagi-lagi mencubit pipinya.
"Hehehe… aaahhhh… aku senang sekali. Akhirnya sebentar lagi kita bisa terus bersama, Mona." Arthur kembali mendekap erat tubuh wanitanya itu.
"Ehm…," gumam Mona sambil mengangguk kecil mengiyakan perkataan Arthur.
Aku juga berharap begitu, Kak. Dan semoga itu bukan cuma angan-angan kita saja, batin Mona yang kembali sendu.
"Kak, bagaimana kalau nanti Mommy mu tak setuju dengan hubungan kita?" tanya Mona kemudian.
Arthur pun merenggangkan pelukannya dan menatap lekat wajah Mona. Dia membingkai wajah itu dengan kedua tangannya, dan mengecup kening Mona dengan perasaan yang dalam.
"Aku tak peduli kalau ada yang tak setuju sama kita, sekalipun itu keluargaku sendiri, Mona. Kamu adalah harta ku yang paling berharga. Apalagi, sekarang sudah ada lil baby," ucapnya yang kemudian mengusap lembut perut rata Mona.
Mona pun meraih tangan Arthur, dan kedua tangan mereka berada di atas perutnya.
"Tapi, aku mau kita coba minta restu mereka, Kak." Mona kembali berucap dengan mengulas senyum, yang membuat hati Arthur bergetar.
"Pasti. Kita akan mencoba mendapatkannya. Tapi kalau mereka tetap kolot dan keras kepala, aku akan tetap memilihmu, dan anak kita," ucap Arthur.
Mona tersenyum tipis mendengar ucapan prianya itu.
Aku mohon, jangan terus mengumbar janji padaku, Kak. Aku takut. Takut kalau itu cuma mimpi, batin Mona.
Arthur mengecup singkat bibir Mona, dan kembali mendekap erat wanitanya.
"Mona," panggil Arthur.
"Ehm…," gumam Mona menyahuti panggilan pria itu.
"Kenapa namamu ganti menjadi Mona. Aku lebih suka nama Lisa," ucap Arthur sambil mengusap-usap lengan atas Mona yang masih nyaman berada dalam pelukannya.
"Ehm… tanya saja pada Josh," sahut Mona.
"Oh… jadi nama itu dari Joshua," gumam Arthur.
"Iya, soalnya dia waktu itu sangat ingin tau tentang ku. Mungkin karena virgin effect," ungkap Mona.
"Yah, dia memang pernah bilang, kalau dia yang sudah mengambil milikmu yang berharga," sahut Arthur lirih.
Ada rasa sesak di dadanya karena dia tak bisa menjaga wanita yang begitu ia sayangi, hingga hal buruk itu bisa menimpanya.
"Kak, sesak." Mona mengeluh karena pelukan Arthur yang begitu erat hingga membuatnya kesulitan bernafas.
"Oh… maaf, aku terlalu takut jauh dari mu," seru Arthur.
"Ih… omong kosong," keluh Mona.
"Tidak. Ini benar, aku tak bisa jauh dari kamu, Mommy-nya lil Baby," seru Arthur dengan membelai lembut surai hitam Mona yang masih betah membenamkan wajahnya di dada bidang Arthur.
"Kak, kenapa semua orang memanggil Kakak dengan nama Peterson, bukan Arthur?" tanya Mona sambil mendongak melihat wajah prianya.
"Oh… itu kan memang nama keluargaku. Arthur Peterson. Masa kamu lupa," sahut Arthur menatap mata Mona.
"Bukan itu maksudku, Kak. Tapi, kenapa bukan pakai nama Arthur saja. Bukankah sejak dulu, Kakak dipanggil dengan nama depan," tanya Mona lagi.
"Ehm… mungkin begini penjelasannya, nama Arthur itu hanya dipakai oleh Ibu, Ayah dan Jessy saja. Sama satu lagi, kamu…," jawab Arthur sambil mencubit hidung wanita di sampingnya.
"Kalo Peterson? Siapa saja yang pakai?" tanya Mona.
"Kalo nama itu, nama yang dipake semua orang. Kalo kamu mencari ku di kantor dengan nama Arthur, itu dianggap tidak sopan, atau kalau kau keluar negeri dan bilang Arthur adalah pimpinan PS group, mereka pasti akan bilang kau gila," ucap Arthur menjelaskan
"Oh… jadi gitu. Berarti, aku termasuk orang-orang dekat kamu ya, Kak," seru Mona.
"Jelas. Kau kan calon ibu dari anak-anakku." Arthur kembali mendekap erat Mona dan mengecup kening wanitanya itu.
Keduanya masih betah berlama-lama di atas ranjang, meski tak melakukan hal panas yang biasa mereka lakukan setiap malam.
Arthur benar-benar menjaga Mona dari h*sratnya agar wanita itu dan anak yang dikandung oleh Mona, tak lagi mengalami gangguan seperti tempo hari, akibat dirinya yang terlalu bersemangat bercinta dengan si ratu es.
"Ehm… Kak. Aku boleh pergi ke tempat temanku tidak?" tanya Mona.
"Teman? Teman yang mana?" tanga Arthur merenggangkan pelukannya.
Kesempatan ini diambil Mona untuk merebahkan badannya pada posisi terlentang seraya meregangkan otot tangannya yang kaku, karena Arthur yang terus memeluknya sedari tadi.
Dia kemudian bangkit duduk bersandar di head board lalu meraih ponselnya, dan membuka sebuah aplikasi chating yang sedang populer.
Mona kemudian membuka kanal status pribadi seseorang, dan melihat sebuah foto keakraban sebuah keluarga kecil, di mana ada ibu, ayah dan seorang anak perempuan, yang terlihat begitu bahagia.
"Kak, lihatlah." Mona menunjukkan potret itu kepada Arthur, yang ikut bangun dan duduk di samping Mona.
"Siapa mereka?" tanga Arthur meraih ponsel Mona.
"Ini temanku. Namanya Luzy. Ini suami dan putri kecilnya," sahut Mona sambil menjelaskan satu persatu orang yang ada di dalam foto itu.
"Ehm… kita juga nanti bisa seperti ini. Tapi, nanti kita dapatnya boy atau girl yah?" ucap Arthur.
"Apa saja. Yang penting anak kita sehat dan lengkap," sahut Mona sambil bergelayut manja di lengan ayah dari anak yang ada dalam kandungannya, dan menyandarkan kepalanya di pundak Arthur.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih