DESIRE

DESIRE
Bab 45



Arthur terus mendekap erat tubuh yang penuh dengan bau alkohol itu, meski punggungnya seperti remuk karena terus mendapat pukulan keras dari Mona.


"Kau … ja... hat! Kau…." Mona semakin melemah, seiring dengan efek alko*hol yang telah menguasai kesadaran sepenuhnya.


Teriakannya yang memaki-maki Arthur, kini semakin menghilang seiring dengan suara dengkuran halus yang keluar dari mulut wanita itu.


"Maaf... Maaf... Maaf...." Arthur terus merapalkan kata itu, seolah ia ingin menebus kesalahannya, juga kesalahan keluarganya yang telah pergi tanpa peduli pada kondisi Mona saat itu.


Dia terus mendekap Mona, bahkan saat wanita itu telah lelap tertidur. Perlahan, ia naik ke atas ranjang, dan memposisikan dirinya di samping Mona agar bisa terus memeluknya dalam tidur.


Arthur membelai lembut surai coklat terang Mona, dan terus mengecupi pelipis wanita itu.


Begitu posesifnya Arthur terlihat saat itu, hingga ia tak membiarkan Mona bergerak sedikitpun, bahkan untuk sekedar menggeliat.


Madame Queen lalu menutup rapat pintu kamar tersebut, dan menggantungkan tanda merah di handle-nya.


"Ell, kembali ke bar mu." Madame Queen lalu berjalan pergi kembali ke kantornya di lantai dua.


Elliott yang semakin penasaran dengan hubungan kedua orang di dalam pun, terpaksa menuruti perintah sang bos.


Di seberang kamar, tanpa ada yang tau, seseorang pun turut mendengarkan apa yang terjadi di tempat itu.


"Jadi, tamu VVIP ini memang disiapkan hanya untuk Mona," ucapnya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Keesokan paginya, Mona bangun masih dalam dekapan Arthur. Ia menggeliat, dan merasakan sesak.


"Ehm…," Mona berusaha sadar dan hendak bangun.


Namun, ia merasakan sebuah tangan kekar tengah menindih perutnya. Ia pun berusaha membuka mata yang masih terasa berat.


Siapa? batinnya.


Dia betanya-tanya akan sosok yang saat ini ada di sampingnya.


Karena gerakan Mona yang terus menggeliat, Arthur pun terusik dan mulai terbangun.


"Ehm… kau sudah bangun?" tanya Arthur, saat ia melihat wanita di sampingnya itu mengucek matanya.


Netra Mona seketika membulat, kala ia melihat siapa yang tengah memeluknya saat tidur.


"HEI!" teriak Mona sambil mendorong tubuh Arthur agar menjauh dari dirinya.


"Apa yang sedang Anda lakukan, Tuan?" Mona segera meringsut bangun, dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sampai ke leher.


Sementara Arthur yang baru saja bangun, masih sempoyongan saat dirinya didorong dengan kuat hingga hampir terjatuh dari tempat tidur.


"Lis… ehm… Mons, kau tenanglah dulu. Aku tidak melakukan apapun padamu. Percayalah," sahut Arthur yang tampak bingung harus berbuat apa.


Wanita malam di hadapannya bertingkah bak seorang perawan, yang kedapatan tidur dengan seorang pria asing.


"Apa yang Anda lakukan saat saya tidak sadarkan diri, hah? Cepat mengaku," cecar Mona yang begitu aneh dan sehisteris itu.


Arthur nampak gugup. Dia berkali-kali mencoba mendekati Mona dan hendak menjelaskan yang sebenarnya.


Namun, Mona terus saja melemparinya dengan benda apapun yang ada di sekitarnya.


"Breng*sek! Kurang ajar! Mesum! Maniak!" maki Mona sambil terus melempari Arthur dengan bantal hingga ornamen yang ada di atas nakas.


Kegaduhan di dalam, terdengar hingga ke luar. Teriakan Mona, bahkan bisa menembus lapisan kedap suara yang memang terpasang di setiap kamar cinta di Heaven Valley itu.


Seorang cleaning service yang tengah mengepel lantai di depan kamar tersebut, mencuri dengar sambil mendekatkan telinga ke daun pintu.


Seorang rekannya yang melihat pun ikut dibuat penasaran, akan apa yang tengah dilakukan oleh temannya.


"Hei, apa yang sedang kau lakukan?" tanya petugas kebersihan yang baru datang.


"Ssssstttt! Di dalam sedang ada keributan. Tadi aku mendengar, si wanita berteriak-teriak. Sepertinya, di dalam sedang ada pertengkaran," sahut cleaning service yang sedari tadi menguping.


"Ah kau ini. Bukankah ini memang tempatnya bertempur. Mereka hanya sedang baku hantam sajai. Saling menjepit dan menusuk, seperti itu... hahahha...," kelakar si rekan cleaning service.


Seorang lagi petugas kebersihan, datang dan ikut bergabung dengan dua orang yang tengah mencuri dengar apa yang sedang terjadi di dalam sana.


"Dengarlah. Ada suara sesuatu yang pecah bukan," seru cleaning service yang pertama.


"Memangnya, apa yang terjadi di dalam sana?" tanya yang baru saja datang.


Tanpa mereka bertiga sadari, Madame Queen tengah berjalan ke arah ketiganya. Wanita tua itu melihat petugas kebersihan di tempat hiburan tersebut berkumpul, dan menempelkan telinga mereka masing-masing di pintu kamar yang saat ini ditempati oleh Mona dan juga Arthur.


"Ehem!" Madame Queen pun berdehem untuk membuat ketiganya menyudahi aksi tersebut.


"Eh… Bos. Selamat pagi, Bos," sapa salah satunya dengan canggung, sambil menggaruk belakang tengkuknya yang tak terasa gatal.


"Sedang apa kalian di depan sana, hah?" tanya Madame Queen dengan gaya bossy-nya.


"Ehm… anu, Bos. Itu tadi di dalam seperti ada keributan," sahut cleaning service pertama.


"Mereka bermain dengan ganas, Bos," timpal yang kedua.


"Lalu, apa urusannya dengan kalian? Ingat baik-baik, saya membayar kalian hanya untuk membersihkan tempat ini, bukan untuk mengurusi urusan orang lain. Lagipula apapun yang mereka lakukan di dalam sana, sama sekali tak ada hubungannya dengan kalian. Sekarang bubar, dan kembali bekerja!" perintah Madame Queen.


Ketiganya pun memisahkan diri dan kembali ke masing-masing pekerjaan mereka.


Sang mucikari masih berdiri di depan pintu, dan melihat ke sekeliling. Setelah dirasa tak ada siapapun, wanita tua itu lalu masuk ke dalam kamar, yang pintunya memang tak terkunci sejak semalam.


Ketika baru saja menyembulkan kepala dari balik pintu, Madame Queen di buat kaget dengan sebuah sticky note yang terlempar ke arahnya, namun meleset dan mengenai dinding di sampingnya.


Madame Queen membulatkan netranya, kala melihat seisi kamar telah kacau balau bak kapal pecah. Ia pun segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat.


"MONA!" panggil Madame Queen dengan suara keras, yang membuat Mona dan juga Arthur menoleh ke arahnya seketika.


"Apa-apaan kalian ini?" tanya Madame Queen menatap ke arah dua orang di hadapannya.


"Mom, dia itu breng*sek! Dia sudah berani-beraninya memeluk ku saat aku sedang mabuk. Pasti dia sudah memanfaatkan keadaanku yang tak sadarkan diri," adu Mona.


"Tidak, Nyonya. Aku berani bersumpah, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya memeluk dia saja semalaman," elak Arthur.


"Ba*ji*ngan! Masih tidak mau mengaku, hah?" maki Mona yang tak percaya dan masih menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.


"Benar, Mona. Aku berani bersumpah bahwa aku tidak berbohong." Arthur terus membela diri.


Madame Queen dibuat pusing oleh ocehan keduanya. Ia memijat pangkal hidungnya sembari berkacak pinggang.


"STOOOOOOOPPP!" pekik Madame Queen yang membuat Mona dan Arthur terdiam.


"Tuan, seharusnya kalau Anda ingin memeluk dia, mintalah ijin terlebih dahulu. Atau kau bisa bangun lebih dulu sebelum dia tau apa yang sudah terjadi," ucap Madame Queen kepada Arthur.


"MOM!" keluh Mona yang merasa omongan Madame Queen yang sama sekali tak membelanya, namun Arthur justru tertunduk karena ia merasa bersalah.


"Dan kamu, Mona. Bukankah kamu sudah terbiasa dengan para pria hidung belang. Bahkan bukan hanya pelukan, teripang darat mereka pun sudah pernah masuk ke dalam milikmu. Kenapa kau sangat meributkan hanya karena masalah tidur berpelukan? Seperti gadis perawan saja," ucap Madame Queen sarkastik.


Arthur mengulum senyumnya, melihat wajah Mona yang cemberut karena omongan sang mucikari yang sangat telak mengenai harga dirinya.


"Tidak perlu ditutup dengan selimut. Lagipula pakaianmu juga masih lengkap," tutur Madame Queen yang membuat Arthur dan Mona saling pandang, dan kemudian menatap Madame Queen.


"Kenapa Anda bisa tahu?" tanya Arthur.


"Kenapa Mommy tau?" tanya Mona serempak dengan Arthur.


Keduanya kembali saling pandang. Namun Mona segera memalingkan wajahnya.


"Karena semalam, kalian itu lupa menutup pintunya. Mommy yang menutupnya untuk kalian. Jadi sekarang, Mommy juga bisa masuk tanpa perlu kunci cadangan," ucap Madame Queen yang membuat Mona dan Arthur malu seketika.


Mona kembali melempar benda terakhir ke arah Arthur, sedangkan pria tersebut menghindarinya sembari memegangi kening.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih