
Seperginya Madame Queen dan Elliott, Mona kini sendirian di ruang rawatnya. Dia masih dalam posisi duduk bersandar di atas ranjang.
Wanita itu terdengar menghela nafas panjang, sambil menoleh ke arah laci yang ada di bawah nakas, di samping kanannya.
Mona kembali membuang nafas berat, dan meraih sebuah anggur merah yang berada di dalam keranjang yang dibawakan oleh Gerald.
Ia mengangkat buah kecil itu tinggi-tinggi, dan Mona menatapnya seolah tengah menerawang di bawah cahaya lampu.
"Apa sekecil ini?" gumamnya.
Dia merebahkan tubuhnya, lalu kemudian mengarahkan buah mungil itu ke atas perutnya yang rata, dan meletakkan di sana.
Mona menatap lurus ke arah buah yang ada di atas tubuhnya itu dengan tatapan berbeda. Seperti ada rasa kasih tetapi juga tersirat kesedihan di matanya.
"Jadi, kamu sudah datang dan sekarang ada di dalam sana?" ucapnya lirih sambil terus memandangi buah mungil itu.
"Tenang… aku sama sekali tak menyesal bahkan tak benci juga. Aku justru senang dengan kehadiranmu. Maaf kalau tadi siang aku menangis." Mona mengulas senyum simpul ke arah buah anggur yang masih betah berada di atas perutnya.
"Aku hanya berpikir, bagaimana kalau nasibmu berujung sama sepertiku? Bagaimana kalau pria itu tidak mau menerima kehadiranmu?" Mona membuang pandangannya, dan menatap ke arah pintu.
Helaan nafas yang dalam kembali terdengar dari mulut wanita tersebut.
"Dia memang mengatakan cinta pada ku, tapi entah kenapa aku ragu untuk memberitahunya tentang adanya kau di dalam sana. Aku takut dia tak mau percaya jika kau adalah miliknya."
"Yah… kau bisa salahkan aku untuk hal ini. Itu karena pekerjaanku yang selalu berhubungan dengan banyak pria. Jadi, wajar saja kalau dia ragu untuk mengakui mu. Maafkan aku yah," ucap Mona yang seolah tengah berdialog dengan seseorang, namun pandangannya kembali tertuju pada anggur itu.
"Tapi kau tenang saja. Aku akan tetap menjagamu hingga besar. Aku tak keberatan untuk merawatmu, karena aku dulu juga punya seorang ibu hebat, yang bisa membesarkan ku seorang diri," serunya dengan senyum getir.
"Abaikan ayah ku yang ternyata hanya ayah tiri. Dia sama sekali tak menganggap ku ada. Jadi, kalau memang ternyata pria itu tak menginginkanmu, maka aku janji tak akan mencari pria lain untuk menjadi ayahmu. Kita hanya akan hidup berdua, saling menjaga dan menyayangi satu sama lain. Kau setuju bukan," tanya Mona yang masib menatap lekat buah anggur kecil dia atas perutnya.
Mona mengambil buah anggur itu, dan meletakkan kembali di dalam keranjang bersama buah-buah lainnya. Tangannya perlahan terulur dan meraba perutnya yang langsing.
Dia mengusapnya lembut, lalu lama kelamaan, dia memeluk perutnya sendiri seakan tengah mendekap sesuatu.
"Aku akan selalu melindungi dan menjagamu. Aku janji," ucapnya.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Malam telah larut. Jam menunjukkan sudah pukul setengah sepuluh malam. Mona masih terjaga dan makanan yang diantar oleh perawat sama sekali tidak disentuhnya.
Jatah sarapan dan makan siang sebelumnya, dimasukkan ke dalam kantong plastik kemudian dibuang Arthur ke tempat sampah depan. Sehingga petugas kebersihan tak akan menemukan sisa makanan itu.
Sangat tidak sopan bukan, jika tidak memakan sesuatu yang sudah disiapkan dengan baik, dari segi komposisi dan nilai gizinya.
Namun karena Mona tetap bersikeras tidak mau, jadi apa boleh buat.
Mona menyalakan TV flat berukuran 40 Inch yang tertanam di tembok sebelah kirinya. Sebuah berita ekonomi dan bisnis tengah diputar oleh salah satu stasiun televisi swasta.
Saat itu, berita yang disiarkan adalah tentang pergantian pemimpin pada salah satu perusahaan brand fashion ternama di dunia yang berpusat di tanah air.
"Itu kan, perusahaan Joshua," gumam Mona sambil terus menyaksikan berita tersebut.
Pembaca berita mengungkapkan jika pengganti mendiang Joshua, adalah sang istri yang bernama Valeria Chou.
Saat itulah, visual Valeria ditampilkan dengan sangat jelas di layar kaca lebar tersebut. Mona seketika mengernyitkan kedua alisnya, seolah memikirkan sesuatu.
Dia berusaha mengingat-ingat lagi di mana dirinya pernah bertemu dengan wanita itu.
"Di rumah sakit? Ya, aku pernah melihatnya. Tapi seperti bukan saat itu. Pemakaman? Ehm… sepertinya juga bukan. Seolah sudah lama sekali kejadiannya. Tapi kapan yah?" tanya Mona pada dirinya sendiri, sambil mencoba menggali memorinya.
"Ah… tapi apa iya. Itu tidak mungkin. Paling aku hanya melihat dia sekilas di TV. Bukanlah dia istri pengusaha kaya, tak mungkin kan kalau tak pernah sama sekali tampil di situ," pikir Mona sambil mencibir wanita yang muncul di TV tadi.
Tak berselang lama, pintu dibuka dan Arthur muncul dari sana. Mona seketika menoleh dan tersenyum menyambut kedatangan pria tersebut.
Arthur pun membalas senyum Mona dengan berpura-pura tenang di depan wanitanya. Namun, mata Mona yang jeli bisa menangkap sesuatu yang salah di dalam tatapan mata prianya.
Pria itu berjalan menuju ke sofa, dan terlihat meletakkan sebuah tas belanjaan besar yang dia bawa dari luar. Dia pun kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa, sambil menyandarkan punggung dan tengkuknya yang terasa kaku.
"Capek ya? Ada masalah di kantor?" tanya Mona seketika.
"Ehm… tidak. Biasa lah, William selalu saja heboh jika aku tak ada," kilah Arthur yang mendongak ke atas.
Pria itu kemudian bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Mona. Dia kini telah ada di samping wanita itu. Arthur mengusap lembut puncak kepala Mona, dan mengecup kening ratu esnya dalam-dalam, menghirup aroma rambut Mona hingga memenuhi rongga dadanya.
"Kamu belum makan?" tanya Arthur yang melihat sekilas jatah makan dari rumah sakit yang masih dalam kondisi tertutup rapat.
"Memangnya aku bisa makan apa? Itu? Tidak mau," rengek Mona sambil menunjuk makanan rumah sakit yang ada di atas nakas.
"Ehm… kalau begitu aku mandi dulu sebentar. Setelah itu, kita turun ke kantin. Aku dorong kau dengan kursi roda. Bagaimana?" ajak Arthur.
"Benerkah boleh keluar? Asiiikk… kebetulan aku juga bosan di kamar terus seharian, Kak," sorak Mona begitu senang.
"Tentu saja boleh… nanti aku tegur kalau ada yang melarang," ucap Arthur dengan sombongnya.
"Ehmm… yang sok bossy," ledek Mona.
Pria itu pun terkekeh. Dia lalu kembali ke arah sofa, dan mengambil sebuah handuk yang berada di dalam tas belanja yang dibawanya masuk.
"Kakak dari apartemen?" tanya Mona.
"Tidak. Aku hanya meminta tolong William untuk mencari baju ganti dan peralatan mandi," sahut Arthur sambil berlalu ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Arthur keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya. Dia kembali mengambil sesuatu dari dalam paper bag tadi dan masuk ke dalam kamar mandi lagi.
"Aneh. Kenapa tidak dibawa sekalian. Kau lihat, dia sengaja mau menggoda ku. Ayahmu memang selalu begitu," gerutu Mona.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih