
Sore hari, Mona yang sedari tadi siang berada di kedai, kini tengah menunggu kedatangan Arthur yang akan menjemputnya.
"Apa dia sudah jalan ke sini?" tanya suami Luzy.
"Sudah, Kakak ipar. Dia tadi sempat mengirimkan pesan chat padaku," jawab Mona yang masih betah menemani Joy bermain.
"Tapi dia benar akan menyusul mu ke sini kan? Jangan sampai kamu pulang sendirian lho," tutur Luzy yang sedari tadi berada di balik meja kasir.
Sore itu, pengunjung kedai lumayan banyak, sehingga pasangan itu pun tak sempat menemani putrinya bermain. Jadi lah Mona yang seharian menemani anak kecil itu bermain di sudut kedai, yang memang disiapkan sebagai tempat bermain untuk Joy.
"Aunty, kata mama, aku akan punya keponakan yang lucu yah?" tanya Joy dengan polosnya.
"Ehm… Mama Joy bilang kapan?" tanya Mona sambil melirik ke arah Luzy. Sedangkan yang dilirik, hanya mengedikkan bahu saja sambil tersenyum.
"Tadi, waktu Joy minta gendong sama Aunty. Tapi tidak diijinkan Mama. Terus Mama bilang kalau Aunty mau kasih Joy keponakan yang lucu. Jadi Joy tidak boleh rewel. Begitu, Aunty," tutur Joy.
Mona pun tersenyum, dan mengusap puncak rambut gadis kecil itu.
Tak berselang lama, seorang pria yang mengenakan kaus abu-abu polos berlengan pendek, dengan celana jeans biru, masuk ke kedai tersebut.
"Selamat datang!" Luzy dan yang lainnya pun menyambut layaknya pelanggan yang lain.
Namun,
"Kakak?" panggil Mona saat menyadari siapa yang datang itu.
Wanita itu kemudian berdiri dan menghampiri pria tersebut, dan memeluknya.
"Lama yah?" tanya pria itu yang tak lain adalah Arthur.
"Ehm… tidak kok." Mona begitu tersihir dengan aroma tubuh prianya itu, dan seolah tak mau jauh-jauh jika sudah berada di dalam dekapan Arthur.
"Oh iya… sini aku kenalkan pada mereka, Kak." Mona menarik lengan Arthur dan berjalan menghampiri pasangan pemilik kedai itu.
"Ini Kak Luzy, ini suaminya, dan ini si cantik Joy… dan ini Kak Arthur," sebut Mona satu persatu saling memperkenal orang yang ada di sana.
"Hai, senang bertemu denganmu," sapa Arthur kepada mereka semua.
"Jadi, ini pria yang sudah membuatmu jadi penurut?" sindir Luzy.
"Apa sih, Kak!" gerutu Mona yang mendapat sindiran dari seniornya.
Mereka pun kembali berbincang. Arthur duduk bersama suami Luzy, dan juga Joy yang masih asik dengan krayon dan buku gambarnya, sedangkan Mona dan Luzy berada di dapur tengah membuat minuman untuk kedua pria istimewa mereka masing-masing.
Malam mulai menjelang, dan Mona juga Arthur pun pamit undur diri.
"Kapan-kapan main ke sini lagi yah," seru Luzy.
"Oke, Kak. Joy, Aunty pulang dulu yah," pamit Mona kepada si kecil Joy.
"Oke, Aunty. Nanti ke saat kesini lagi, ajak keponakan lucu Joy juga yah," ucap Joy dengan polosnya.
Mona dan Arthur pun bertukar pandangan, dan mereka tersenyum kaku di depan pasangan pemilik kedai.
"Ehm… Joy, keponakan lucunya masih lama boleh mainnya. Joy tunggu saja yah," ucap Mona kepada gadis kecil itu.
"Joy, Uncle dan Aunty pulang dulu yah," seru Arthur sambil melambaikan tangannya ke arah Joy.
"Oke, Uncle. Hati-hati ya," sahut Joy.
Luzy yang sedari tersenyum melihat interaksi antara anaknya dan juga pasangan calon orang tua itu, kini tiba-tiba menghilang. Dia memicingkan matanya, dan menatap tajam ke arah seberang jalan.
Nampak seorang pria asing tengah memandangi kedainya. Pria yang sama dengan yang tadi siang mengintai tempatnya dari dekat.
Siapa dia? batin Luzy.
Saat Mona dan Arthur hendak masuk ke mobil, Luzy tiba-tiba memanggil juniornya dan menggandengnya, lalu mengajaknya berbalik membelakangi jalan.
"Kita foto selfy dulu yuk. Untuk koleksi di papan buletin," ucap Luzy.
"Oh… ku kira ada apa," gumam Mona.
Mereka berdua pun berswafoto dengan latar bagian atas mobil Arthur, karena Luzy dengan sengaja ingin mengambil gambar sosok si pengintai itu.
"Sayang, kenapa tidak pakai latar kedai kita saja?" tanya suami Luzy.
"Oke, Kak," sahut Mona.
Mona dan Arthur pun beranjak dari kedai Luzy.
Sementara itu, Luzy tak langsung masuk ke kedai. Dia terus memperhatikan sosok misterius itu.
Kenapa dia terus mengikuti ke mana arah Mona pergi? Apa jangan, sasarannya adalah Mona? batin Luzy yang seketika membuat bulu kuduknya berdiri.
Dia pun segera masuk ke dalam kedai dan bergabung bersama dengan suami dan anaknya.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Di sebuah gang sempit, yang berada di antara gedung perkantoran yang ada di pusat ibu kota, tampak seorang pria yang memakai jaket hoodie hitam, tengah dipegangi oleh dua orang bertubuh besar, dan seorang lagi berdiri di hadapannya.
"Heh, Broga! Kau gak usah pakai cara seperti ini. Aku juga sudah tau tugas ku," keluh pria berhoodie itu kepada Broga, pelayan setia Valeria.
"Aku hanya menjalankan perintah dari Nyonya Chou, karena beliau sudah terlalu lama menunggu kabar darimu," sahut Broga.
"Cih… tidak sabaran sekali wanita itu. Lepaskan aku, dan bawa aku ke tempat majikan mu," seru pria berhoodie yang tak lain adalah Jeffrey, kakak tiri Mona.
Broga pun memerintahkan kedua anak buahnya untuk menyeret Jeffrey dan memasukkannya ke dalam mobil yang sengaja terparkir tepat di depan mulut gang.
Mereka lalu melaju pergi ke tempat di mana Valeria berada, yaitu mansion Joshua.
Sesampainya di sana, Jeffrey kembali dibawa oleh kedua orang yang berjalan di belakang Broga, menuju ke ruangan yang menjadi tempat pertemuan antara Jeffrey dan juga Valeria sebelumnya.
"Tunggu di sini," perintah Broga kepada kedua anak buahnya.
Pria itu mengetuk pintu terlebih dahulu, dan menunggu sahutan dari dalam.
"Siapa?" tanya sebuah suara yang tak lain adalah milik Valeria.
"Ini saya Broga, Nyonya," sahut Broga.
"Ada apa?" tanya Valeria lagi.
"Saya membawa Jeffrey kemari," tutur Broga
"Bawa dia masuk!" perintah Valeria.
Broga pun membawa pria itu masuk dengan tetap dikawal oleh kedua anak buahnya.
"Cih… katamu akan melepasku. Tapi kalian masih menyeret gue begini," keluh Jeffrey saat memasuki ruang kerja itu.
Nampak Valeria tengah berdiri di ambang jendela, sembari memegangi gelas wiskey di tangannya.
"Informasi apa yang kau bawa?" tanya Valeria.
"Bisa tolong kau suruh mereka melepaskanku dulu?" pinta Jeffrey.
Valeria pun memberi isyarat mata kepada Broga untuk melepaskan mantan narapidana itu. Jeffrey pun seketika dilepaskan.
"Ah… sakit sekali lengan ku. Ini harusnya ada uang ganti ruginya kan," gerutu Jeffrey yang mencari kesempatan untuk meraup keuntungan dari janda kaya itu.
"Cepat katakan saja apa informasinya. Kau bukan yang berkuasa di sini. Jadi, jangan coba-coba untuk memerintahku," hardik Valeria.
"Baiklah. Adik kecil ku itu sekarang sedang hamil muda, dan pria yang tinggal dengannya adalah ayah dari anak yang dikandungnya," ucap Jeffrey.
"Hamil muda? Hem… menarik. Sepertinya aku punya ide brilian. Hahahahaha…," ucap Valeria dengan tawanya yang terdengar begitu mengerikan.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih