
Saat melihat Mona ketakutan dan cemas seperti itu, Arthur pun segera memanggil Dokter Anderson untuk datang ke apartemennya.
"Apa dia punya trauma?" tanya Dokter senior itu.
"Entahlah. Aku tak begitu tau kehidupannya selama ini," jawab Arthur yang masih setia memeluk wanita itu.
"Sebaiknya, Anda coba bawa dia ke psikiater," ucap Dokter Anderson yang merasa kesulitan saat memeriksa Mona, karena wanita itu terus saja menempel dan tak mau lepas dari Arthur, hingga pria itu tak bisa bergerak bebas.
"Apa kau pikir kalau dia ini gila, hah!" hardik Arthur kepada Dokter Anderson.
"Psikiater bukan hanya dikunjungi oleh orang gila, Tuan. Tapi, orang dengan gangguan kecemasan seperti yang dialami Nona ini pun, perlu untuk pergi ke sana," ucap sang dokter.
Arthur pun menatap wanitanya yang terus saja gemetar ketakutan, dan merasa iba dengan apa yang dialami oleh Mona saat ini.
"Saya akan berikan obat penenang kepada Nona Mona, agar dia bisa istirahat," ucap Dokter Anderson sambil menyiapkan alat suntik yang akan ia gunakan.
"Eh, tunggu! Dia sedang hamil. Kau jangan sembarangan memberinya obat penenang," cegah Arthur.
Dokter Anderson terlihat menghentikan tindakannya, dan dia pun memasukkan kembali botol kecil yang tengah ia pegang.
"Baiklah. Saya akan memberikan cairan yang aman untuk ibu hamil," ucap sang dokter sambil mengambil kembali botol obat yang lain.
Dokter senior itu lalu meraih sebelah tangan Mona, dan menyuntikkan cairan bening itu ke dalam tubuhnya.
"Berapa bulan kandungannya?" tanya sang dokter.
"Ehm… mungkin sebulan," jawab Arthur ragu.
Dokter Anderson pun mengernyitkan alisnya mendengar jawaban yang keluar dari mulut Arthur.
"Jawaban macam itu, Tuan? Harusnya Anda sebagai calon ayah, lebih bisa paham akan hal ini," ucap Dokter Anderson.
Dia telah selesai menyuntikkan obat itu, dan berjalan kembali ke arah tasnya.
"Tapi, apa Anda yakin itu benar-benar milik Anda?" tanya Dokter Anderson.
Arthur mendadak diam. Dia pun sebenarnya ragu, mengingat pekerjaan Mona yang adalah seorang pelacur. Namun, dia segera menepis jauh-jauh pikiran buruk itu, dan meneguhkan hatinya jika anak dalam kandungan Mona adalah miliknya.
"Tentu saja aku yakin. Memang milik siapa lagi?" ucap Arthur yang terus memeluk erat wanitanya.
Kalau ragu, pasti aku sudah tes DNA kan, batin Arthur.
Namun sesungguhnya, perkataan Dokter Anderson membuat pria itu sedikit ragu dengan anak yang dikandung Mona. Tapi, melihat wanitanya yang dalam kondisi tertekan seperti ini, mambuatnya enggan untuk memikirkannya lebih jauh.
"Kalau kau sudah selesai, pergilah!" usir Arthur.
"Hah… kelakuan mu tidak pernah berubah, Tuan. Baiklah, kalau begitu saya permisi," ucap Dokter Anderson yang telah siap berkemas, dan pergi keluar sendiri dari apartemen, karena Arthur tak bisa mengantarkannya.
Sementara itu, obat yang diberikan mulai bereaksi. Mona pun terlelap dan mulai melepaskan pelukannya dari Arthur.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Malam menjelang, dan Mona baru saja terbangun dari tidurnya. Arthur masih setia menemaninya, namun tentu saja pria itu sudah mandi dan berganti pakaian saat wanita itu sedang terlelap.
"Ehm…." Mona mengerang lirih.
Dia menggeliat dan mulai meregangkan badannya. Tak sengaja, dia memukul ringan kepala Arthur, hingga Mona pun seketika membuka matanya karena terkejut.
"Hah… Kakak?" pekik Mona sembari menoleh.
"Selamat malam putri tidur," sapa Arthur.
"Ehm… sejak kapan aku ketiduran?" tanya Mona.
Dia pun bangkit dan duduk bersandar di head board. Mona meraih tali rambut yang biasa ia simpan di laci nakas, dan kemudian menguncir rambutnya.
"Lho… aku baru sadar. Bukannya aku di kantor Kakak yah? Kenapa tiba-tiba bisa di sini?" tanya Mona yang nampak kebingungan.
Dia pun melihat ke sekeliling, dan menyadari jika hari sudah gelap. Arthur pun ikut bangun dan melihat Mona yang kebingungan.
Apa dia tidak ingat kejadian tadi siang? tanya Arthur dalam hati.
"Ehm… ini sudah pukul setengah sepuluh. Apa kau lapar? Mau aku bikinkan pasta?" tawar Arthur yang juga mencoba mengalihkan perhatian Mona.
Mona pun meraba perutnya. Tiba-tiba, terdengar bunyi aneh yang membuat wanita itu malu.
"Sepertinya, lil baby minta makan," goda Arthur.
"Hehehe… iya, Kak," sahut Mona tersipu.
"Ya sudah. Kamu sebaiknya cuci muka dulu, lalu ganti baju. Habis itu, susul aku ke bawah yah," seru Arthur.
"Oke," sahut Mona.
Wanita itu pun beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Arthur masih tertegun di tempatnya dan memandangi pintu yang sudah tertutup rapat.
"Apa yang sudah terjadi padamu, Mona?" gumam Arthur yang bertanya-tanya perihal keanehan yang dialami oleh Mona.
Pria itu pun kemudian beranjak dari posisinya dan turun ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Sementara itu, Mona yang bermaksud mencuci muka saja, justru memilih mandi sekalian karena merasa badannya sangat lengket.
"Ehm… sangat tidak nyaman. Padahal aku hanya tidur aja. Kenapa rasanya seperti selesai berolah raga?" keluh Mona.
Wanita itu pun melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya, dan memasukkannya ke dalam keranjang cuci.
Dia lalu melangkah menuju ke bawah shower, dan memutar keran airnya. Guyuran air yang seperti hujan, mulai membasahi dirinya.
Mona menumpukan kedua lengannya ke dinding yang ada di hadapannya, sambil memandangi dirinya di cermin yang telah berembun.
Tiba-tiba, sekelebat bayangan muncul diingatannya. Kejadian saat dirinya pulang ditengah guyuran hujan deras, lima tahun lalu.
Tubuh Mona menegang. Hawa dingin mulai terasa di sekitarnya. Hingga, ia merasakan jika ada seseorang yang tengah berdiri di belakang tubuh tel*njangnya.
"Aku sudah kembali, Lisa," bisik sebuah suara yang entah datang dari mana.
Bulu kuduk Mona meremang. Dia pun seketika menoleh, namun tak ada seorang pun yang ada di belakangnya. Nafasnya memburu. Pandangannya terus beredar ke seluruh penjuru kamar mandi.
"Tak ada siapa-siapa. Tapi, kenapa tadi rasanya nyata sekali yah?" gumam Mona.
Wanita itu pun segera menyelesaikan mandinya. Dia buru-buru keluar dengan mengenakan bathrobe, dan sebuah handuk kecil yang ia sampirkan di atas kepalanya.
Ia pun duduk di kursi yang berada di depan meja rias. Mona mulai mengeringkan rambutnya dengan handuknm kecil yang berada di atas kepalanya.
Namun, saat dia melihat pantulannya di cermin, dia seakan teringat dengan sosok bertudung yang sempat muncul di dalam mimpinya. Dia pun kembali gemetar. Matanya bergerak ke kanan dan kiri dengan cepat seolah mencari keberadaan sosok yang membuatnya ketakutan.
Tidak! Sudah selama ini dia menghilang, dan aku sudah bisa hidup tenang. Tak mungkin dia tiba-tiba muncul begitu saja, batin Mona yang terus berusaha agar tak mempercayai mimpinya.
Dia bangkit berdiri, dan buru-buru keluar dari kamar. Sangkin paniknya, dia sampai lupa jika dia masih mengenakan bathrobe dan handuk yang juga masih bertengger di atas kepalanya.
Mona berlari ke arah dapur dan menghampiri Arthur yang tengah menyelesaikan masakannya.
Serta merta, Mona segera memeluk punggung pria itu dari belakang, dan mencoba mencari ketenangan di sana.
"Mona," panggil Arthur lirih saat merasakan wanitanya memeluk dengan tubuh yang kembali gemetar.
Dia pun berbalik, dan menangkup kedua pipi si ratu es. Dia kembali melihat ekspresi ketakutan dan cemas di wajah cantik itu. Mata Mona terus bergerak ke kanan dan kiri tak beraturan.
"Dia kembali… dia kembali, Kak… dia kembali! Aku takut!" Seru Mona yang semakin membuat Arthur, cemas terlebih air matanya yang mulai mengalir dengan derasnya.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih