
Malam hari, Mona terbangun dan melihat Arthur masih menemaninya di tempat itu, dan sudah berpindah tertidur di atas sofa kamarnya.
Dia bangkit dan duduk bersandar di head board sambil memeluk lututnya. Mona mengusap wajahnya dan berakhir di tengkuk.
Kerongkongannya terasa kering. Ia hendak bangun dan berdiri, namun tangannya menyenggol sesuatu yang berada di atas nakas, sehingga menimbulkan suara gaduh.
Arthur pun terbangun, dan buru-buru menyadarkan dirinya. Dia terkejut melihat Mona yang telah bangun dan hendak pergi.
"Mau ke mana kau?" tanyanya sambil menghampiri Mona.
"Aku hanya haus," sahut Mona datar.
"Biar aku yang mengambilkan," ucap Arthur.
Pria itu pun berjalan keluar menuju dapur, untuk mengambilkan air minum untuk Mona.
Disamping itu, Mona berjalan menuju balkon, dan duduk di tempat favoritnya. Ia mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan memeluk erat kedua lututnya.
Ia meletakkan kepalanya di atas lutut, dengan posisi miring ke arah kiri di mana pintu geser berada.
Tak lama, Arthur memasuki kamar dan tak mendapati Mona di ranjangnya. Ia lalu melihat pintu balkon terbuka, dan buru-buru ke tempat itu dengan tergesa-gesa.
Dia seketika menghela nafas lega, kala melihat wanita itu berada di sana, duduk termenung dengan tenang.
Arthur kemudian menghampirinya, dan menepuk punggung Mona pelan.
"Bukankah kau haus. Ini minumlah," ucap Arthur sambil menyodorkan segelas air putih kepada Mona.
wanita itu pun mengangkat kepalanya, dan menerima gelas berisi air tersebut. Dia lalu meneguknya hingga tinggal separuh.
Mona mengulurkan kembali gelas, dan di terima oleh Arthur. Wanita itu kembali merebahkan kepalanya di atas lutut yang tertekuk.
Arthur meletakkan gelas itu di atas meja yang berada di samping kanan Mona. Ia lalu berlutut dengan bertumpu pada sebelah lututnya yang tertekuk menyentuh lantai, dan yang satunya tertekuk ke atas menempel pada dada bidangnya.
Ia meraih tangan Mona yang memeluk erat lututnya sendiri, dan mengusap lembut punggung tangan wanita itu.
"Di sini dingin. Kau bisa masuk angin nanti," ucap Arthur yang merasa iba dengan kondisi Mona saat ini.
Mona terllihat tak berekspresi. Sangat berbeda dari Mona yang ia lihat siang tadi. Jika sebelumnya Mona histeris dan terus menangis, kini dia cenderung diam dan datar.
Justru sikapnya yang seperti itu, semakin membuat siapa pun yang melihatnya ikut merasakan kesedihan yang di alaminya.
Sikapnya kembali dingin dan datar, seperti saat dia ditinggalkan oleh keluarga Jessica dan Arthur di masa lalu.
Begitulah ekspresinya saat ini, ketika Arthur berusaha untuk menghiburnya.
Melihat Mona masih diam, Arthur semakin merasa khawatir dengan kondisi mental wanita itu. Ia sangat tau jika rasa kehilangan yang ia alami sangatlah besar.
"Ku dengar, besok dia akan dimakamkan," ucap Arthur yang membuat Mona menggerakkan bola matanya, dan memandang ke arah pria di hadapannya.
"Istirahatlah. Jika kau berjanji menurut, aku akan bawa kau ke sana besok," lanjut Arthur.
Arthur pun bangkit berdiri, dan mengulurkan tangannya ke arah Mona. Namun, perempuan itu bangun sendiri dari duduknya, dan berjalan begitu saja melewati pria itu.
Arthur pun hanya bisa menggenggam telapak tangannya sendiri, dan berjalan mengikuti Mona masuk ke dalam.
Mona terlihat berjalan menuju ke arah kamar mandi, dan menutup rapat pintunya. sedangkan Arthur, pria itu memilih untuk merebahkan dirinya kembali di atas sofa.
Tak berselang lama, Mona keluar dari kamar mandi, dan kemudian beralih menuju ke walk in closet. Ia pun lalu mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang pernah diberikan oleh Arthur.
Mona tak ingin pria itu justru tergoda, disaat dirinya sangat tidak menginginkan melakukan hal membosankan itu. Meski jujur, Mona tak pernah menolak setiap sentuhan yang Arthur berikan padanya.
Wanita itu lalu berjalan ke arah tempat tidur, dan naik ke atasnya. Ia pun menarik selimut dan membaringkan tubuhnya di sana.
Ia sama sekali tak mempedulikan Arthur yang semenjak tadi terus mengawasi gerak geriknya.
Dia seolah tak peduli seberapa khawatirnya Arthur terhadapnya. Di pikirannya saat ini, adalah rasa bersalahnya atas apa yang telah menimpa Joshua.
...๐๐๐๐๐...
Pagi hari, mendung menggelayut, membuat mata terasa berat untuk terbuka dan menatap dunia. Suasana begitu suram, sesuram hati Mona.
Wanita itu tengah duduk di depan meja riasnya dengan pakaian serba hitam, perpaduan antara brokat dan satin. Polesan make up tipis dan lipstik berwarna peach, menghiasi wajah cantiknya hari itu.
Mona menyanggul kasar rambutnya ke atas, dengan anak rambut yang menjuntai di sisi kiri dan kanannya. Dia tak menambahkan aksesoris apapun, namun Mona tetap terlihat anggun dan cantik.
Terdengar suara ketukan dari arah luar apartemennya. Mona pun dengan malas bangkit dan berjalan, sambil menyambar tas selempang hitam bertali rantai putih yang berada di atas meja, lalu berjalan menuju ke bawah.
Ketukan kembali terdengar, dan Mona pun membukakan pintu.
Tampak di sana Arthur telah menunggunya, dengan mengenakan setelan hitam, sama seperti Mona. Hari ini, mereka akan menghadiri upacara pemakaman Joshua.
"Apa kau sudah siap?" tanya Arthur kepada Mona.
Namun, Mona tak menyahut. Wanita itu hanya berjalan keluar apartemen, dan mengunci pintunya.
Arthur lagi-lagi hanya bisa menghembuskan nafas kasar, karena sikap Mona yang semakin sulit ia gapai. Gunung es itu telah bertambah tinggi dan kokoh.
Mona berjalan mendahului Arthur, sambil mengenakan kaca mata hitamnya. Arthur pun menyusul, dan berdiri di samping Mona yang tengah menunggu lift datang.
Tak ada percakapan atau adu mulut seperti biasanya. Suasana sangat kaku, dingin dan muram. Tak ada lagi perdebatan bodoh di antara keduanya, tak ada lagi teriakan Mona yang kesal dengan keisengan Arthur, dan tak ada lagi gerutuan yang keluar dari mulut wanita cantik itu.
Arthur begitu sedih melihat Lisa kecilnya seperi itu. Kehangatannya yang selama ini ia ciptakan, dan perlahan mencairkan kebekuan hati Mona, kini justru terlihat sia-sia saat Mona kembali menutup diri, karena terus menerus menyalahkan dirinya atas kematian Joshua.
Setibanya di pemakaman, Arthur membiarkan Mona berjalan di depan, agar ia bisa menjaganya dari belakang. Mona melihat iring-iringan mobil pembawa jenazah telah sampai di sana.
Namun, ketika Mona melihat peti jenazah di bawa ke dalam area pemakaman, langkah kakinya terhenti. Dia tiba-tiba lemas, hingga limbung. Beruntung, Arthur dengan sigap menangkapnya, dan menopang tubuh lemah Mona.
"Kau baik-baik saja? Apa kita sebaiknya pulang?" tanya Arthur yang merasa khawatir kepada kondisi wanita itu.
Namun Mona menggeleng. Dia berusaha untuk berdiri dengan kakinya sendiri. Wanita tersebut melihat dari kejauhan, bagaimana prosesi pemakaman berlangsung.
Air matanya kembali bergulir dari balik kaca mata hitamnya.
Arthur pun menyadari hal tersebut. Namun, dia hanya diam dan membiarkan Mona meluapkan perasaan sedihnya yang terakhir kali untuk Joshua.
Hujan tiba-tiba mengguyur para pelayat yang datang. Mereka mulai membuka payung yang dibawa masing-masing.
Begitu pun Arthur yang senantiasa menemani Mona, meski punggungnya basah terkena hujan. Namun ia terus memayungi wanita di depannya, agar dia tak kehujanan.
Pemakaman berjalan lancar di bawah guyuran hujan yang cukup deras. Para pelayat mulai membubarkan diri, begitu pun istri Joshua yang juga pergi meninggalkan tempat pemakaman sang suami, setelah semuanya selesai.
Saat telah sepi, Mona berjalan menembus hujan, sambil tetap dipayungi oleh Arthur dari belakangnya. Ia mendekati makam Joshua yang masih terlihat sangat baru.
Mona berdiri di sampingnya, dan membuka kaca mata hitam yang sejak tadi dipakai.
"Hai, Josh. Apa kau senang di sini? Aku harap kau bahagia di tempat baru mu. Aku akan tetap melanjutkan hidupku, meski tidak ada lagi orang yang peduli padaku seperti dirimu," ucapnya.
Aku janji, akan selalu peduli pada mu, Mona. Aku janji atas nama Joshua, batin Arthur yang terasa perih mendengar penuturan Mona barusan.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐, komen ๐, atau beri dukungan lainnya
terimakasih