
Di tengah kepanikannya, Ema terus meniti tangga yang cukup membuatnya kelelahan. Dia lupa jika Mona berada di unit di lantai dua puluh empat.
"Mampus aku. aku lupa kalau si Mona unitnya di lantai dua empat. Mending aku keluar cari lift saja deh," ucap Ema.
Dia merasa tak sanggup lagi jika harus berlari menaiki anak tangga yang jumlahnya puluhan.
Wanita itu pun kemudian keluar dari pintu darurat, dan berjalan menuju ke arah di mana lift berada. Beruntung, saat itu lift cepat datang dan membuatnya bisa segera naik ke atas.
Karena sempat berlama-lama di dalam tangga darurat, Ema butuh waktu yang lumayan panjang untuk sampai di lantai dua puluh empat.
"Semoga kau tidak kenapa-napa, Mon. Mati aku kalau kau sampai diapa-apain oleh orang itu. Bisa digantung aku sama si Arthur itu," racau Ema yang terus berharap agar rekannya baik-baik ssaja.
Begitu pintu lift terbuka tepat di lantai dua puluh empat, Ema segera berlari menuju unit Mona, tanpa mempedulikan sekitarnya lagi.
BRAK! BRAK! BRAK! BRAK!
"Mona! Mona! Mona, INI AKU EMA. BUKA PINTUNYA, MONA. BUKA," teria Ema yang begitu ketakutan seandainya terjadi sesuatu dengan Mona.
Orang-orang suruhan William pun melihat hal itu, dan salah satu dari mereka menghampiri Ema yang terlibat panik dan terus menggedor pintu apartemen Arthur.
"MONA! MONA, BUKA! INI AKU EMA! MONA…," teriak Ema yang terus berusaha mmemanggil-manggil rekannya yang ia tinggalkan di dalam.
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dari belakang, dan membuat wanita itu terperanjat. Ema pun menoleh dan melihat seorang pria berjaket kulit tengah berdiri dibelakangnya.
"Siapa kau? Kau komplotan orang di dalem juga?" tanya Ema serta merta.
"Maaf, saya ditugaskan untuk menjaga tempat ini. Tolong jangan buat kegaduhan di sini," ucap pria itu.
"Eh… siapa yang menugaskan mu hah? Apa jangan-jangan benar, kau itu komplotan mereka, iya?" tuduh Ema.
"Apa maksud Anda. kami hanya diperintahkan untuk menjaga tempat ini, beserta isinya. Jadi, keamaan dan kenyamanan mereka pun prioritas kami," ucap pria itu lagi.
"Aku tanya, siapa yang memerintah mu, hah? JAWAB!" penik Ema.
"Tuan William, atas permintaan Tuan Arthur," jawab pria tersebut.
"Kalau begitu, cepat bantu buka pintu ini. Mona dalam bahaya. Si peneror ada di dalam. dia menyamar jadi tukang ledeng tadi," tutur Ema.
"Apa kau yakin? Dia baru saja masuk lift saat Anda keluar dari sana tadi," sahut pria itu yang merasa terkejut dengan penuturan Ema.
Dia menekan sesuatu yang menempel di telinganya, dan berbicara pada seseorang.
"Hentikan tukang ledeng yang baru saja keluar. Kemungkinan, dia adalah si peneror," ucap pria tersebut.
Di samping itu, Ema terus saja menggedor pintu hingga tangannya memerah.
"MONA! BUKA, MONA! INI A … KU…," teriak Ema.
Dia seketika diam, saat pintu terbuka dan terlihat bahwa orang yang sedari tadi dia panggil, tengah berdiri di hadapannya.
"Kau kenapa sih teriak-teriak begitu,seperti orang gil…," keluh Mona.
Perkataannya terhenti saat tiba-tiba Ema menghambur dan memeluknya erat.
"Syulurlah, Mon. aku kira kau …," ucap Ema terhenti.
Tidak! Sebaiknya aku tidak usah ngomong apa-apa sama si Mona. Nanti dia kena serangan panik lagi seperti kemarin-kemarin, batin Ema.
Wanita itu pun melepas pelukannya dan merengkuh pundak Mona. Ema mencoba meneliti semuanya dari ujung rambut hingga kaki, bak mesin scanning yang tengah memindai benda di depannya.
Syukurlah dia tidak kenapa-napa, batin Ema.
"Em, kau kenapa sih? Kerasukan setan apa lagi sih hah?" keluh Mona yang merasa risih dipandang seintens itu oleh sesama wanita.
"Tidak papa. Tukang ledeng itu sudah pergi kan?" tanya Ema cepat.
Dia sempat mendengar perkataan pria berjaket tadi dengan rekannya yang menyatakan jika si tukang ledeng alias peneror itu telah pergi.
"Ya habisnya, kkau lama sekali buka pintunya. aku kan cuma khawatir," sanggah Ema.
Kedua wanita itu pun melanjutkan perdebatan mereka di dalam apartemen. Mona tak sempat melihat pria berjaket yang bersama Ema sebelumnya.
Ema pun berusaha mengerti jika orang berjaket tadi diminta mengawasi secara diam-diam agar Mona tak ikut panik.
Sekarang, yang bisa aku lakukan hanya menjagamu, dan tidak bicara soal tadi padamu, supaya kau tidak tremor lagi seperti kemarin, batin Ema.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Di kantor Arthur, William nampak berjalan terburu-buru menuju ke ruangan atasannya.
"Tuan, maaf saya langsung masuk," ucap William yang masuk begitu ssaja tanpa permisi.
"Ada apa, Will?" tanya Arthur yang nampak tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Tadi, baru saja saya mendapat kabar, kalau si peneror sempat masuk ke dalam apartemen Anda, tuan," lapor William.
Arthur seketika bangun dari duduknya karena begitu terkejut mendengar berita tersebut.
"Apa?" pekiknya.
"Maaf, Tuan. Ruapanya, dia menyamar menjadi tukang ledeng yang hendak memperbaiki pipa air di unit milik Anda. Bahkan, Ema sempat diminta keluar meninggalkan Nona Mona berdua dengan si peneror itu," lanjut William.
"Keterlaluan. Kenapa wanita itu sembarangan sekali meninggalkan Mona seorang diri sih. Cepat kita pulang. Aku ingin memastikan kalau Mona baik-baik saja, dan memberi perhitungan dengan wanita bernama Ema itu," ucap Arthur.
Pria itu pun berjalan keluar meninggalkan semua pekerjaannya, diikuti oleh William yang bertugas sebagai supirnya.
Sesampainya di apartemen, Arthur menghampiri kedua wanita yang tengah duduk-duduk santai di depan TV.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Ema. Arthur merasa geram dengan perbuatan Ema yang dengan seenaknya meninggalkan Mona berdua dengan orang asing di dalam apartemen.
"Kak! Kenapa kamu pukul Ema? Memangnya dia salah apa?" tanya Mona yang terkejut dengan sikap Arthur yang tiba-tiba memukul rekannya.
"Salah dia? Dia sudah seenaknya membiarkan kamu berdua dengan orang asing di sini. Itu salahnya, Mona. Dan kamu Ema, kamu tau jelas akan hal itu kan," ucap Arthur kepada Mona dan Ema.
"Ya, Tuan. Aku sadar aku salah. Aku minta maaf," sahut Ema yang hanya bisa diam dan menerima perlakuan Arthur padanya.
"Tan, kamu tidak salah kok. Lagipula, kau kan hanya mau ke swalayan depan saja untuk membeli lem pipa kan," ungkap Mona.
"Lem pipa?" tanya Arthur tak mengerti.
"Iya, Tuan. Dia minta dibelikan lem pipa karena lupa bawa. Awalnya aku menolak, tapi tidak ada cara lain, jadinya mau bagaiamana lagi. Aku juga buru-buru balik lagi kok … saat tau kalau tukang ledeng itu hanya samaran …," ucap Ema yang dilanjut dalam hati.
"Hah … ini peringatan terakhir uuntuk kamu, Ema. Kalau kamu sampai teledor lagi, aku pastikan kamu tidak akan dapeat apa-apa. Kamu boleh pergi sekarang!" seru Arthur.
Tanpa menyahut, Ema segera meraih tasnya dan berjalan keluar dari apartemen itu. Ada rasa bersalah pada Mona yang hampri ssaja celaka karena keteledorannya, dan juga rasa kesal akan sikap Arthur yang tak mendengarkan dulu duduk permasalahannya.
"Dasar orang kaya suka semena-mena" gerutu Ema.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih