
Sirine terdengar meraung-raung, seiring dengan lampu rorator yang terus berputar, di atas sebuah van ambulan yang saat itu tengah membelah jalanan ibu kota di malam hari, dan membuat kehebohan di jalan raya.
Nampak seorang wanita terbujur di atas tandu dengan tubuh bersimbah darah. Seorang pria yang duduk di sampingnya, terus menggenggam erat tangan wanita itu, dengan wajah yang begitu pucat.
"Kuatlah. Aku mohon, kuat lah," ucap pria itu.
...๐๐๐๐๐...
Bebebepa saat yang lalu, di sebuah gudang tua, terjadi pertempuran antara anak buah William dan anak buah Valeria, yang berakhir dengan terdesaknya Valeria.
Berkat kelicikan Jeffrey, janda Joshua itu mampu membalikkan keadaan, dan membuat Arthur terluka parah dengan beberapa sayatan di tubuhnya dan sebuah luka tembak di kaki.
Saat Jeffrey berhasil dikalahkan, Valeria maju dan membidikkan senjata ke arah Arthur. Namun, belum sempat wanita itu melepas pelatuknya, Mona yang masih tJeffreyat di kursi pun melompat menimpa janda itu, bermaksud menolong Arthur dari tembakan senjata api milik Valeria.
Namun nahas, pelatuk yang sudah terlanjur ditarik itu pun, terlepas dan meluncurkan sebuah proyektil keluar dari moncongnya.
DOOOR!
Terdengar sebuah tembakan. Suasana mendadak hening. Semua orang saling pandang, dan meraba tubuh masing-masing. Arthur dan Mona pun saling pandang seolah bertanya siapa yang tertembak.
"Eenngggg โฆ,"
Namun, tiba-tiba suara erangan lirih keluar dari mulut Mona. Keningnya berkerut seperti tengah menahan sakit.
Arthur pun melihat wanitanya dari ujung kepala hingga kaki memindai tubuh Mona. Hingga tiba lah dia tepat di perut Mona, yang mulai mengeluarkan darah.
"Tidak! Tidak! MonaAAA!" jerit Arthur.
Pria itu pun segera merangkak ke arah wanitanya yang terguling di dekat Valeria dengan posisi masih menempel di kursi.
William yang menyadari hal tersebut pun, segera memberi perintah kepada anak buahnya agar maju menyerang.
Dalam sekejap, semuanya bisa dibekuk beserta Valeria dan juga Jeffrey.
Tak berselang lama, ambulance dan polisi datang ke tempat kejadian. Arthur terus membuat Mona tersadar, hingga bantuan berdatangan.
"Kamu harus kuat, Mona. Kamu harus kuat!" seru Arthur sambil terus menekan kuat perut Mona agar pendarahannya bisa diminimalisir.
"Sa โฆ kit โฆ kak โฆ," rintih Mona.
Ikatannya sudah berhasil dilepas, dan kini dia sedang berbaring di depan prianha. Arthur sudah tak peduli lagi dengan semua luka yang dideritanya. Dia hanya memikirkan Mona yang tengah merasakan kesakitan, tapi dia tak bisa melakukan apapun untuk mengurangi sakitnya.
"Tuan, tim medis sudah datang. Biarkan mereka mengambikl alih Nona Mona," ucap William yang datang dengan para medis.
"Aku akan ikut dia ke rumah sakit. Kau urus semuanya sampai tuntas. Mengerti!" seru Arthur.
"Baik, Tuan," sahut William.
Para medis mulai mengangkat tubuh Mona ke atas tandu dan salah seorang yang lain menekan kuat luka tembak di perut sebelah kirinya.
Arthur pun ikut berlari mengikuti tim medis dan turut masuk ke dalam ambulance.
"Tuan, Anda juga terluka. Sebaiknya, kita obati dulu luka Anda," seru salah seorang perawat yang turut masuk ke dalam bagian belakang ambulance menemani Arthur dan juga Mona.
"Jangan pedulikan aku. Cepat urus dia dulu. Dia dan bayinya yang lebih penting," ucap Arthur.
"Nona ini sedang hamil?" tanya petugas medis.
"Ya, usia kandungannya hampir empat bulan," jawab Arthur.
Pria itu terus menggenggam erat tangan wanitanya, dan terus memohon dalam hati agar Mona baik-baik saja.
Jarak dari tempat kejadian ke rumah sakit cukup memakan waktu, hingga Mona pun kehabisan banyak darah.
Perawat yang tengah menekan luka di perut Mona, berteriak ke arah depan, dan menyerukan sesuatu.
"Hubungi rumah sakit. Kita butuh banyak suplai darah," serunya.
"Apa golongan darahnga?" tanya orang di depan.
"Tuan, apa Anda tau golongan darahnya?" tanya perawat itu.
"B โฆ golongan darahnya B," awab Arthur mantap.
"Apa Anda yakin?" tanya perawat itu.
"Ya, aku sangat yakin," sahut Arthur mantap.
"Golongan darahnya B," seru perawat itu kepada rekannya di depan.
Setibanya di rumah sakit, Mona segera dibawa ke ruang operasi, di mana semua dokter yang bertugas sudah bersiap di tempat.
"Tolong selamatkan dia dan bayinya, dok!" seru Arthur di tengah kekalutannya.
"Kami akan usahakan yang terbaik. Anda tunggu dulu di sini," ucap salah satu dokter yang terakhir masuk ke dalam.
"Tuan, mari ikut saya ke UGD. Anda juga membutuhkan penanganan segera," seru seorang perawat yang bertugas merawat luka Arthur.
Saat turun dari ambulance tadi, Arthur sudah terlihat berjalan dengan terpincang-pincang karena memaksakan kakinya ya g terluka untuk terus bergerak.
Soerang perawat yang menyadari hal itu pun, mendorong serta sebuah kursi roda dan mengikuti pria tersebut hingga ke ruang operasi.
Awalnya, Arthur bersikeras untuk tetap menunggu hingga Mona selesai di operasi. Namun, bujukan dari beberapa tim medis akhirnya membuat pria keras kepala itu mau menurut dan mengobati lukanya yang hampir terinfeksi karwena terlalu lama dibiarkan.
Setelah menerima beberapa jahitan di lengan dan beberapa bagian tubuh lainnya, serta mengeluarkan peluru yang bersarang di kaki, kini Arthur kembali dibawa ke depan ruang operasi, dibantuboleh seorang perawat yang mendorong kursi rodanya.
Waktu berjalan sangat lambat menurut Arthur. Sudah hampir tiga jam Mona di dalam dan belum ada kabar sama sekali dari sana.
"Kenapa lama sekali?" tanya Arthur kepada perawat yang masih setia berdiri di belakangnya.
"Tenanglah, Tuan. Tim dokter pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk menolong pasien. Anda berdoa saja agar pasien bisa kembali lagi di tengah-tengah kita," ucap sang perawat.
Arthur pun mulai berdoa dalam hati. Pria yang bisa dibilang sangat jauh dari kata agamis itu, dengan ragu mulai meminta kepada tuhannya, agar memberinya kesempatan untuk membahagiakan wanita yang sudah menolongnya dua kali.
Kenapa harus terjadi lagi seperi ini? Dulu pun kejadiannya sepeti ini. Kau terluka karena melindungiku, dan aku hanya bisa menunggumu di depan sini dengan cemas, batin Arthur.
Enam jam sudah Arthur menunggu, dan akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Nampak rombongan dokter yang bertugas satu persatu keluar, dan salah satunya berjalan menghampiri Arthur yang terlihat begitu cemas.
"Bagaimana, Dok? Apa dia baik-baik saja?" tanya Arthur dengan cepat.
"Syukurlah, karena pasien masih bisa selamat. Sekarang, dia hanya perlua dipantau dalam sekali dua puluh empat jam, untuk melihat apakah operasinya memiliki efek samping atau tidak," jawab dokter itu.
"Syukurlah โฆ la โฆ lalu, bagaimana dengan bayinya? Di โฆ dia juga baik-baik saja kan, Dok?" tanya Arthur penuh harap.
Namun, sang dokter tertunduk sambil menggeleng pelan. Arthur seolah tahu ada hal buruk yang terjadi dengan calon anaknya.
"Maaf, Tuan. Pendarahan hebat yang terjadi, sudah menurunkan suplai oksigen ke janin. Ditambah lagi, benturan yang cukup keras pada bagian pinggulnya, membut kandungan pasien, tak bisa di selamatkan. Kami pun terpaksa mengeluarkannya dari sana," ungkap sang dokter.
Arthur seketika lemas mendengar penjelasan itu.
A โฆ anakku, batin Arthur.
Tanpa terasa, air mata luruh begitu saja dari mata pria itu.
...๐๐๐๐๐...
Beberapa hari kemudian, setelah Mona sadar, kabar itu pun sampai ditelinga wanita malang tersebut. Dia benar-benar terpukul atas hilangnya janin yang beberapa bulan ini hidup di dalam dirinya.
"Anakku...," tangisnya dalam pelukan Arthur.
"Tenanglah. Mungkin ini yang terbaik untuknya. Yang terpenting sekarang, semuanya sudah selesai," ucap Arthur mencoba menenangkan wanitanya.
Tak mudah untuk Mona menerima semua ini, terlebih dia kembali kehilangan orang yang dicintai karena Valeria, orang yang sama yang telah merenggut semuanya dari wanita itu.
"Kak, bisakah kau membawaku jauh dari sini sekarang juga?" pinta Mona.
"Apa kau yakin?" tanya Arthur.
"Aku lelah, Kak. Aku ingin meninggalkan semuanya di sini. Aku yakin kau akan membuat orang-orang jahat itu membayar semuanya. Jadi, ayo kita pergi," ucap Mona.
"Ehm... baiklah jika itu yang kau mau. Kita akan pergi," sahut Arthur.
Meski berat baginya, namun bayang-bayang masa lalu membuat dada Mona terasa begitu sesak.
Ibu, Ayah, Josh, akhirnya semua sudah berakhir. Orang jahat itu sudah mendapatkan hukumannya. Sekarang, aku ingin menitipkan anakku... maaf, aku harus meninggalkan kalian di sini. Aku harap, kalian sudah bahagia di sana, batin Mona.
.
.
.
.
TAMAT