DESIRE

DESIRE
Bab 81



"Mulutmu mengatakan jangan, tapi tubuhmu mengatakan silakan. Nona, kau munafik sekali," ucap seorang pria yang sudah bersiap di bawah sana.


Dia membuka lebar kedua kaki Mona dan menekuknya ke atas. Ia meraih kain segi tiga yang tersisa, dan hendak menariknya hingga robek.


Kak, tolong aku! teriak Mona dalam hatinya.


Tepat saat itu, pintu di dobrag oleh seseorang, dan semua yang berada di dalam sana nampak terkejut.


Terlihat dua orang pria menerobos masuk, dan memukul semua yang ada di dalam sana hingga babak belur dan tak bisa berkutik lagi.


"Beraninya kalian menyentuh wanita ku," teriak pria yang tak lain adalah Arthur, yang datang bersama Gerald ke Grand moon setelah mendapat informasi dari Ema.


Kedua pria itu seakan tak memilik ampun untuk mereka yang telah melecehkan Mona. Pukulan dan tendangan terus dilayangkan ke arah tujuh pria yang dalam keadaan telanjang bulat, dan hampir saja memperkosa Mona beramai-ramai.


Mereka semua jatuh tersungkur, dengan luka lebam di wajah dan tubuhnya, hingga tak bisa berkutik lagi. Amarah Arthur dan Gerald seolah menambah kekuatan tempur mereka, yang sanggup mengadapi lawan dengan jumlah yang tak seimbang.


Gerald terlihat terengah-engah setelah menghajar beberapa pria, dan menoleh ke arah Mona berada bermaksud melihat kondisinya. Namun, ia segera memalingkan wajahnya, kala melihat tubuh Mona yang hampir telanjang dalam kondisi terlentang begitu menantang di atas ranjang.


Arthur seakan terbakar, kala melibat Lisanya diperlakuakan kurang ajar seperti itu. Dia maju dan mendekati Mona. Pria tersebut menutupi tubuh si ratu es yang hampir polos dengan selimut, hingga menutupi seluruhnya.


"Sebaiknya, kau bawa di ke rumah sakit sekarang juga. Biar aku yang membereskan semuanya di sini," ucap Gerald dengan terus memalingkan pandangan.


Tanpa menyahut, Arthur pun mengangkat tubuh Mona yang telah tergulung selimut tebal, dan membawanya menuju ke depan, di mana mobilnya terparkir.


Tepat saat itu, William datang setelah mendapat panggilan dari Arthur sebelumnya, untuk datang ke Grand moon dengan membawa serta anak buahnya.


"Bereskan tempat ini. Urus semua yang terlibat atas kejadian di sini," perintah Arthur.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Arthur mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga membuat para pengemudi lain mengeluh akibat ulahnya yang mengebut di jalanan.


"Tolong... panas...," erangan lirih Mona, terus membuatnya menginjak pedal gas semakin dalam.


Brengs*k! Beraninya mereka melakukan hal mengerikan seperti ini kepada Lisa, batin Arthur yang terus merutuki semua yang menimpa Mona malam ini.


Arthur bisa saja membantu Mona agar dia tak merasa tersiksa lagi saat itu juga. Namun, dia tak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, memanfaatkan kondisi Mona hanya untuk sekedar kepuasan.


Dia lebih memilih wanitanya kesakitan sebentar lagi, dan bisa ditangani dengan baik oleh tim medis. Terlebih, pria itu ingin agar Mona mendapat keadilan atas semua kejadian malam ini yang telah menimpanya.


Sesampainya di rumah sakit, Arthur langsung menggendong Mona keluar dari mobil, dan masuk ke dalam ruangan IGD.


"Cepat tolong dia. CEPAT!" Pekik Arthur kepada seorang perawat yang berada di depan ruang IGD.


"Anda sebaiknya menunggu di sana. Kami akan segera melakukan penanganan terhadap pasien," ucap sang perawat.


"Tapi, saya minta yang menangani adalah dokter perempuan. Ini demi kehormatannya," ucap Arthur.


Perawat itu mengerutkan keningnya dan melihat sekilas ke arah pasein yang baru saja datang. Ia pun mengerti saat mendengar rintihan Mona, terlebih kondisinya yang terbalut rapat oleh selimut.


"Baik. Kami akan panggilkan seorang dokter perempuan kemari. Silakan Anda tunggu di luar," ucapnya.


Arthur pun kemudian bersedia menunggu di luar, hingga seorang dokter wanita berkaca mata nampak berlari menuju ke ruangan gawat darurat tersebut.


Dari kaca tembus Pandang, pria itu bisa melihat jika Mona tengah mendapatkan penanganan medis.


Di sela waktu menunggunya, seorang perawat keluar dan menghampiri Arthur yang masih betah berdiri mengawasi Mona dari luar ruangan.


"Maaf. Pasien sudah berhasil ditangani. Untuk pemulihannya, dia akan dipindahkan ke ruang rawat. Silakan Tuan urus administrasinya agar pasien bisa segera dipindahkan," ucap sang perawat.


Cukup lama, sekitar tiga puluh menit kemudian, nampak perawat keluar dan mendorong brangkar dengan Mona yang berada di atasnya.


Arthur yang baru saja kembali dari bagian administrasi pun, mengikuti ke mana mereka membawa wanitanya.


Sesampainya di sana, para perawat yang membawa Mona, menyetel peralatan yang digunakan agar sesuai dengan yang di butuhkan oleh pasien.


Selang infus, dan juga selang oksigen menempel di tubuh wanita itu. Alat EKG pun tak luput bertebaran di dada Mona.


Wanita yang sebelumnya hampir telanjang, kini telah mengenakan pakaian rumah sakit, di bantu oleh para perawat yang menanganinya.


"Pasien sudah tenang. Biarkan dia istirahat. Kami permisi dulu. Jika ada apa-apa, silakan segera tekan tombol biru di samping tempat tidur," seru perawat tadi.


"Baik. Terimaksih," ucap Arthur.


Sepeninggal para perawat itu, Arthur pun duduk di kursi yang ada di samping Mona. Ia menatap wanitanya itu dengan tatapan sendu. Ada rasa sesal di hatinya, karena tak bisa datang menyelamatkan Mona lebih cepat.


Pria itu meraih tangan Mona, dan menggenggamnya erat. Sesekali, dia mengecup punggung tangan wanita esnya dengan lembut.


Dia terus menunggu Mona bangun, dan satu jam setelah Mona dipindahkan, William datang bersama dengan Gerald, yang juga ikut pergi untuk melihat kondisi Mona.


"Tuan, mereka semua sudah diamankan. Kita tinggal tunggu perkembangan dari pihak yang berwajib," ujar William melaporkan kondisi terakhir Grand moon dan orang-orang yang telah mencelakai Mona.


"Bagus. Kau boleh pulang sekarang, Will." Arthur tak menoleh sedikit pun dengan nada datar.


Dia terus saja memandangai wajah wanita yang kini tengah terpejam.


"Bagaimana kondisinya? Apa yang dokter katakan?" tanya Gerald yang juga khawatir dengan Mona.


"Hasil fisumnya belum keluar. Tapi, dia sekarang sudah baik-baik saja. Sebaiknya, Anda juga pergi dari sini," ucap Arthur datar.


"Ijinkan aku tetap di sini, setidaknya sampai hasil pemeriksaannya keluar. Aku hanya ingin memastikan dia benar-benar tidak apa-apa," pinta Gerald.


Arthur diam tak merespon. William yang merasakan ketegangan di antara dua orang itu pun, memilih untuk pergi.


"Ehm... kalau tidak ada perlu lagi, saya pamit dulu, Tuan. Selamat malam… Selamat malam, Tuan Holes," pamit William kepada dua orang pria tersebut.


Setelah William pergi, Gerald pun duduk di sofa yang ada di dalam kamar rawat Mona. Karena tak mendapat respon dari Arthur, dia menyimpulkan sendiri jika tak apa bila dirinya menunggu sebentar di sana.


Tak lama berselang, dokter wanita yang menangani Mona sebelumnya, masuk dan menghampiri Arthur yang berada di dekat pasien, sambil membawa sebuah map berisi berkas laporan pemeriksaan kondisi Mona.


Gerald yang melihat pun bangkit dan menghampiri mereka.


"Bagaimana, Dok?" Tanya Arthur yang hanya menoleh sekilas, dengan tangan yang terus menggenggam erat tangan wanitanya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like πŸ‘, komen πŸ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih