DESIRE

DESIRE
Bab 19



Lisa berangkat menuju hunian tersebut, dan segera menyerahkan apa yang dibawanya kepada sang pemilik.


Setelah itu, seperti biasa, ia akan pulang dengan membawa kembali pakaian kotor, untuk kemudian diberikan kepada sang ibu.


Namun, sebelum ia pulang, Lisa berjalan menuju rumah besar itu berada, tepat di ujung jalan komplek yang sepi.


Ia kini telah sampai di depan gerbang besar, yang terbuat dari perpaduan besi dan kayu itu. Namun dari tempatnya berdiri, dia bisa merasakan jika rumah itu sangat sepi.


Bahkan, ia tak lagi melihat penjaga yang selalu mencegatnya masuk. Taman bunga yang kemarin masih terlihat segar dan indah, kini nampak ada beberapa bunga yang mulai layu.


Halaman pun terlihat kotor, dan kolam ikan yang biasanya selalu penuh, kini sangat jelas terlihat telah kering.


Rumah itu nampak seperti telah ditinggalkan oleh pemiliknya.


"Kau mencari siapa, Nak?"


Terdengar sebuah suara dari arah belakang. Lisa menoleh dan melihat jika ada seorang pria tua, yang mengenakan topi rajut hitam dengan celana bahan panjang yang robek di bagian lutut, serta kaus putih yang dilapisi sweater coklat tua, berjalan menghampirinya.


Lisa diam tak merespon. Dia sama sekali tak mengenal orang tersebut, bahkan melihatnya pun tak pernah.


"Kau sedang mencari siapa, Nak?" tanya pria tua itu lagi.


"A... aku cari penghuni rumah ini, Kek," sahut Lisa ragu, sambil terus memperhatikan pria tua tersebut.


Si kakek justru balik memperhatikan Lisa, yang menurutnya tak mungkin mengenal para penghuni rumah besar itu.


Dilihat dari penampilannya, Lisa lebih mirip seperti dirinya, seseorang dari kalangan bawah.


"Apa kamu yakin tidak salah alamat?" tanya pria tua itu.


"Tidak, Kek. Aku memang sedang mencari penghuni rumah ini. Tapi sepertinya di dalam sangat sepi. Biasanya ada penjaga dan tukang kebun. Tapi, kali ini tidak ada siapa-siapa," ucap Lisa panjang lebar.


"Rumah ini sudah kosong sejak seminggu yang lalu. Kudengar, mereka semua pindah ke luar negeri, dan akan segera menjual rumah ini," tutur sang kakek.


Lisa begitu terkejut mendengar penuturan pria tua yang berdiri di hadapannya itu.


Pergi? Seminggu yang lalu? Bukankah itu saat aku tertikam pisau, batin Lisa mulai menyusun keping demi keping kemungkinan yang terjadi.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini, karena ini kawasan pribadi. Kamu bisa terkena masalah kalau sampai terlihat mondar mandir di sini tanpa ijin. Jika kau memiliki nomor telepon mereka, lebih baik hubungi saja," ucap si pria tua itu.


"Iya, Kek. Terimakasih," sahut Lisa lirih.


Gadis itu pun kembali berjalan gontai, dengan kepala yang dipenuhi berbagai macam pikiran, tentang semua kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu.


Alasan kenapa sang ibu memintanya untuk melupakan keluarga Jessy, dan kenapa keluarga itu pindah saat dirinya justru telah menyelamatkan putra mereka, mulai tersusun satu persatu di benaknya.


"Apa karena mereka pergi dan tak bertanggung jawab, jadi Ibu marah dan memintaku melupakan mereka?" terka Lisa kemudian.


Tanpa sadar, air mata kembali lolos dari netra beningnya. Dia menyeka lelehan itu dengan punggung tangannya, lalu kemudian menghirup nafas dalam-dalam, dan mencoba mengurai sesak di dada.


Ia kembali berjalan pulang, dengan setumpuk pertanyaan dan juga dugaan-dugaan tentang Keluarga Jessy.


Sesampainya di rumah, dia menemukan jika ayahnya tengah berada di sana. Pria itu nampak sedang mencecar sang istri dengan berbagai macam pertanyaan.


"Uang dari mana kau sampai bisa mengoperasi anak haram itu, hah?" tanyanya.


"Jaga bicara mu. Bagaimana jika Lisa sampai dengarnya?" seru Ibu Lisa.


"Ah... persetan. Lagi pula, cepat atau lambat, dia akan tau siapa dirinya yang sebenarnya bukan. Jadi, ayo katakan, dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu untuk operasinya?" bentak sang ayah.


"Aku mendapatkan bantuan dari lembaga sosial. Mereka yang sudah mau menanggung biaya rumah sakit Lisa. Puas kau," jawab Ibu Lisa tak kalah lantang.


"Lembaga sosial? Hah... Kau pikir aku bo*doh. Mana mungkin lembaga sosial memberikan fasilitas kelas satu untuk orang miskin macam kalian. Pikir, Eliza. Pikir," cecar sang suami.


Saat itu lah, Lisa masuk dan menginterupsi pertengkaran tersebut. Sepertinya, gadis itu sudah bisa menebak dari mana sang ibu mendapatkan biaya pengobatannya.


"Cukup, Ayah. Kalau Ayah kemari hanya ingin membuat keributan, lebih baik Ayah tidak usah datang lagi selamanya," ucap Lisa, yang kemudian berlalu pergi begitu saja dari hadapan kedua orang tuanya.


Namun belum sempat ia masuk ke kamarnya, sang ayah kembali bersuara.


"Lihat anak itu. Dia terlalu percaya diri bergaul dengan orang dari kalangan atas. Rasakan sendiri sekarang, kau hanya dimanfaatkan dan dijadikan tameng untuk melindungi pewaris mereka," ucap sang Ayah dengan berteriak.


Mendengar penuturan pria itu, Lisa menghentikan langkahnya, dan kembali tertegun di depan pintu.


"Hah... kamu itu sama seperti ibu mu. Dirayu sedikit saja dengan barang-barang murah, langsung bisa luluh sepenuhnya dan menganggap mereka itu dewa. Sekarang lihat, mereka kabur entah ke mana, meninggalkan kamu yang sekarat begitu saja di sini. Lihat bo*doh," bentak sang Ayah yang seketika menggugurkan kembali tetesan bening dari pelupuk mata putrinya.


"CUKUP!" pekik sang ibu menghentikan ocehan sang suami.


Lisa segera membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Dia meringkuk di sudut ruangan, dengan kedua kaki tertekuk hingga lututnya menyentuh dada, dan ia peluk sekuatnya.


Sedangkan di luar sana, kedua orang tuanya masih sibuk beradu mulut hingga saling teriak.


Gadis itu terisak dalam diamnya, sambil sesekali memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak.


Saat itu, ia merasakan punggungnya kembali nyeri, dan panas.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Kembali ke masa sekarang.


Mona terperanjat, hingga membuyarkan lamunannya akan masa lalu, kala sebuah tangan menyentuh punggungnya tiba-tiba dari belakang. Ia seketika menoleh, dan mendapati bahwa Joshua telah berdiri di sana.


Terdengar helaan nafas panjang dari bibir wanita cantik itu.


"Kau mengagetkan ku, Josh," serunya.


Joshua kemudian memeluk Mona dari belakang, dan mengecup pundak mulusnya yang terekspose dengan indah.


"Aku menunggumu sejak tadi. Aku takut kau marah karena kata-kata ku," ucap pria paruh baya itu.


"Aku hanya sedang mengambil air. Kau juga bisa tidak mengagetiku ku seperti tadi bukan?" ujar Mona kepada pria, yang masih sibuk mencumbui leher dan pundaknya dari belakang itu dengan sedikit kesal.


Joshua mengangkat wajahnya yang sedari tadi terbenam di ceruk leher jenjang wanita tersebut, dan menghentikan aktifitasnya.


"Hei... aku sejak tadi sudah memanggil namamu, Mona. Tapi jangankan menoleh, menyahut 'Hem' saja tidak," tutur Joshua tak kalah kesal, sembari memandang wajah Mona dari pantulan cermin, yang ada di depannya.


"Hah... baiklah, terserah kau. Aku akan kembali ke kamar dan tidur. Apa kau masih ingin di sini?" ujar Mona.


"Kau duluan saja. Aku akan mengambil air minum terlebih dulu," sahut Joshua.


Mona hanya mengedikkan bahunya, dan mengurai pelukan pria itu. Dia lalu berjalan menuju lantai dua, di mana kamarnya berada.


Setelah mengenang masa lalunya, Mona kembali diliputi perasaan pilu, kala mengingat masa itu. Masa yang sudah susah payah ia lupakan, namun kini justru hadir kembali tanpa ia inginkan.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐Ÿ‘, komen ๐Ÿ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih