
"Eehm...,"
Sebuah erangan lirih keluar dari bibir seorang gadis yang terbaring lemah di ranjang pasien, dengan selang infus dan transfusi darah yang menancap ke dalam lengannya.
"Lisa... Nak... kamu sudah sadar?" seru seorang wanita paruh baya yang nampak khawatir dengan keadaan gadis itu.
Pelan-pelan, Lisa mulai mengerjapkan matanya, menyesuaikan pupilnya dengan cahaya terang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Ibu…," ucapnya lirih sambil menoleh ke arah wanita tadi, yang tak lain adalah ibunya.
"Lisa, Kamu sudah sadar, Nak," Wanita itu segera menekan tombol darurat yang ada di sebelah ranjang pasien.
Dengan mata berkaca-kaca namun tersenyum, ia memandangi wajah sang putri yang telah terbaring tak sadarkan diri selama lebih dari tiga hari di rumah sakit.
Lisa mengalami luka yang cukup parah. Luka tusukan itu sangat dalam, dan mengenai sebagian ginjalnya, sehingga dia pun harus menjalani operasi darurat.
Selama ia tak sadarkan diri, hanya ibunya lah yang selalu berada di sisinya, dengan perasaan cemas jika sang anak tidak akan pernah bangun lagi.
Namun, hari ini dia bisa bernafas lega, karena putri kecilnya telah membuka mata kembali.
Setelah melakukan berbagai macam pemeriksaan, dokter mengatakan jika Lisa bisa pulih dalam waktu satu minggu, dengan syarat, gadis itu jangan banyak bergerak dulu dan tetap di tempat tidur, kecuali jika ada keperluan khusus seperti pergi ke toilet.
"Tapi ada satu hal yang harus saya beritahukan kepada wali dan juga pasien, bahwa luka yang diderita pasien ini cukup dalam dan lebar, sehingga akan meninggalkan bekas luka yang cukup besar. Tapi, hal itu bisa diatasi dengan operasi plastik atau pengangkatan keloid. Jika berkenan, kami bisa agendakan hal tersebut dengan dokternya," kata sang dokter.
"Operasi plastik?" gumam Lisa lirih.
"Iya, operasi plastik untuk menghilangkan bekas luka mu nanti," tambah dokter yang mendengar gumaman Lisa.
"Be… berapa biayanya?" tanya Lisa.
"Untuk hal itu, kamu tidak perlu khawatir, karena semua sudah…," jawab Dokter.
"Cukup," potong Ibu Lisa dengan sedikit membentak, hingga dokter seketika terdiam dan tak meneruskan perkataannya.
"Cukup, Dokter. Saya rasa masalah bekas luka tidak terlalu penting. Apa lagi, masih bisa ditutupi dengan pakaiannya. Benarkan, Nak?" ucap Ibunda Lisa dua arah, kepada dokter dan juga kepada sang putri.
Dokter menatap tajam bola mata wali pasiennya, dan wanita itu pun membalas tatapan sang dokter sembari menggelengkan kepalanya pelan.
Terdengar hembusan nafas yang terasa cukup berat dari mulut dokter yang menangani Lisa tadi.
"Baiklah, kalau memang begitu keputusannya. Saya permisi dulu," kata sang dokter yang kemudian berjalan pergi keluar dari ruang rawat Lisa.
Setelah dokter pergi, Ibu Lisa kembali duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur putrinya.
Wanita itu membelai lembut puncak kepala sang putri, dan Lisa pun tersenyum karena merasa nyaman berada di dekat sang ibu.
"Ibu sangat bersyukur kamu sudah bangun, Nak." Ibu Lisa tersenyum penuh kelegaan.
Lisa pun memejamkan mata sejenak, lalu membukanya, sebagai ganti menganggukkan kepala.
Tiba-tiba, ia teringat akan Arthur. Pemuda yang sudah ia lindungi dengan merelakan tubuhnya sebagai tameng.
"Bu, Kak Arthur dimana? Dia tidak apa-apa bukan? Dia baik-baik aja bukan?" tanya Lisa beruntun.
Sang Ibu yang sedari tadi tersenyum, tiba-tiba diam. Wajahnya berubah dingin dan datar.
"Mulai sekarang, jangan pernah ungkit-ungkit lagi soal keluarga itu. Anggap saja kamu tidak pernah mengenal mereka, bahkan jangan pernah menganggap mereka ada. Lupakan mereka, Nak," seru sang ibu, dengan suara yang seolah menahan emosi.
Lisa mengerutkan kedua alisnya. Dia tak paham sama sekali dengan maksud perkataan ibunya.
"Kenapa harus dilupakan, Bu? Jessy adalah temenku, dan Kak Arthur sangat baik pada ku, begitu pun kedua orang tua mereka. Jadi, kenapa aku harus sekejam itu?" cecar Lisa yang masih terbaring lemah.
"Karena mereka juga sudah kejam, membiarkan kau kritis di tengah jalan sendirian, tanpa peduli kau akan mati atau tidak di sana," tutur sang ibu geram.
"Bu...," panggil Lisa lirih.
"Nak, tolong kamu dengarkan Ibu. Jangan pernah lagi kamu dekat dengan orang-orang dari kelas atas. Kita ini tidak selevel dengan mereka. Sekeras apa pun kita menyesuaikan diri, pada akhirnya tetap kembali ke asal, dan hanya tersisa luka dan penghinaan saja." Ibu Lisa mulai meledakkan emosinya, karena ingin agar putrinya menuruti kata-katanya.
Lisa hanya terdiam, memandang sang ibu dengan penuh tanda tanya.
Kenapa ibu sangat marah? Memangnya apa yang sudah terjadi? Bahkan, saat aku melakukan kesalahan pun, Ibu tak pernah semarah ini. Apa benar mereka meninggalkan ku sendirian di tempat itu, dalam kondisi kritis? tanyanya dalam hati.
Tangan tua nan kasar itu terulur dan menyentuh pipi sang putri kecil.
"Nak, lupakan mereka. Ibu mohon. Buka lagi lembaran hidup baru mu tanpa mereka. Anggap semua itu tak pernah terjadi. Anggaplah, bekas luka yang tertinggal di punggungmu itu, sebagai penanda luka yang telah mereka tinggalkan padamu. Apa kau mengerti?" Ibu Lisa berbicara dengan nada melembut, dan tatapan yang meredup.
Lisa masih tak paham. Namun, dia terpaksa mengangguk dan mengulas senyum ke arah sang Ibu, setidaknya agar beliau merasa tenang.
Seminggu berlalu, dan kondisi Lisa pun semakin membaik. Luka di punggungnya hampir sembuh sepenuhnya, dan dokter sudah memperbolehkan gadis itu untuk pulang, dan melakukan cek up setiap tiga hari hingga benar-benar sembuh.
Selama masa penyembuhannya, Lisa diliputi banyak pertanyaan.
Kenapa aku bisa di operasi? Apa mungkin Ibuku berhutang? Ya, itu bisa saja. Tapi kenapa aku harus tinggal di ruang rawat kelas 1, dengan semua fasilitas yang serba mewah? Kalau pun berhutang, Ibu berhutang sebanyak apa? Dan lagi, kenapa tak ada satupun keluarga Jessy yang datang menjengukku, atau hanya sekedar menanyakan kabarku? Apa benar kalau mereka tak pernah peduli padaku? batin Lisa penuh sesak dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan itu.
Hari di mana dia keluar dari rumah sakit pun tiba, dan sang ibu segera membawanya pulang dengan menggunakan bus.
Wajah Lisa masih terlihat sedikit pucat, namun dia bersikeras untuk tetap pulang hari itu juga.
Sesampainya di rumah, Ibu meminta Lisa untuk beristirahat di dalam kamarnya, sedangkan beliau harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah lama ditinggalkan.
"Ibu ke belakang dulu. Kau istirahat saja di sini. Kalau butuh sesuatu, kamu bisa panggil ibu kapan saja," pesan sang ibu.
Lisa hanya mengangguk mengiyakan perkataan ibunya.
Hari berikutnya, Lisa melihat sang ibu sedang mengemas pakaian-pakaian bersih ke dalam plastik, dan akan mengantarkannya kepada pelanggannya sendiri.
Lisa lalu menghampiri sang ibu, dan duduk di hadapannya.
"Bu, biar aku saja yang mengantarkan," ucap Lisa.
Wanita itu seketika menghentikan gerakannya, dan menatap lekat wajah sang putri.
"Kalau kau ke sana, ibu yakin pasti kau akan ke rumah itu lagi. Benar bukan?" terka sang ibu.
"Tidak, Bu. Aku hanya ingin membantu Ibu saja. Biar aku saja, hem," ucap gadis itu lagi.
Terdengar helaan nafas kasar dari mulut sang ibu, kemudian membuang pandangannya dari sang anak.
Sepersekian detik kemudian, dia kembali menatap Lisa, dan menyelesaikan apa yang tengah ia kerjakan.
"Baiklah. Tapi kau harus janji jangan pernah pergi ke sana. Ibu tidak mau kau sampai terluka lagi. Mengerti?" perintah sang ibu.
"Ehm…." Lisa mengangguk sambil tersenyum.
Maaf, Bu. Aku terpaksa melanggar janjiku. Aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi, batin Lisa.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih