
Kaivan membersihkan tubuhnya setelah selesai mengeksekusi seorang laki laki yang telah berani mengusik keluarganya. Ia membasuh wajahnya dengan handuk kecil lalu tiba tiba sebuah tangan melingkar dari belakang memeluk dirinya
"Makasih ya kak" ucap seorang perempuan yang memeluk Kaivan
Kaivan berbalik lalu menarik dagu sang adik "Apapun untuk mu princess"
"Aku kesel sama dia, berani beraninya dia nolak cinta aku, dia pikir dia siapa" ucap gadis itu cemberut
"Aku berjanji tidak akan ada lagi yang akan menyakiti hati adik kesayangan seorang Kaivan" ucap Kaivan datar
Jesslyn tersenyum bahagia ya apapun yang dia inginkan akan dia dapatkan hanya dengan menunjukkan jarinya, apalagi kakak angkatnya begitu memanjakannya, semenjak mommy nya meninggal lima tahun yang lalu membuat Kaivan begitu overprotektif terhadap Jesslyn, ia berjanji pada Jesika jika akan menjaga dan menyayangi Jesslyn seperti adik kandung nya sendiri.
Laki laki malang yang telah di bunuh Kaivan adalah Bryan. laki laki Tampan yang di sukai Jesslyn tapi sayang Bryan memiliki tunangan yang sangat di cintai nya, maka dari itu Bryan menolak cinta Jesslyn, tapi nasib berkata lain ia harus mati di tangan Kaivan karena membuat adik kesayangan nya sakit hati.
"Siapapun yang berani melukai perasaan kamu, bilang sama kakak ok" ucap Kaivan tegas
Jesslyn mengangguk ia kembali memeluk Kaivan, gadis cantik itu tersenyum miring mengingat kematian Bryan yang pastinya menjadi luka besar untuk tunangan Bryan.
............
Pagi pagi sekali Shanum menyiapkan sarapan untuk Intan dan juga Rajen, gadis cantik itu tersenyum melihat sarapan yang ia buat sudah tersaji di atas meja.
"Ya ampun Shanum, kamu bikin sarapan sepagi ini?" tanya Intan yang baru datang ia sudah bersiap pergi ke rumah sakit dengan balutan jas dokternya
"Ya bu, hari ini kak Rajen ada pemotretan pagi, jadi aku bangun lebih awal buat bikin sarapan"
Intan tersenyum ia mengelus pipi Shanum, dalam hatinya berharap jika suatu saat Rajen dan Shanum bisa bersama sebagai suami istri.
"Kamu rajin banget sih sayang, ibu jadi nggak enak kalau kamu repot begini"
"Sudahlah bu, aku seneng kok bisa masakin ibu sama kak Rajen, malah aku sedih kalau ibu nggak izinin aku buat mengurus kalian" ucap Shanum lembut
"Baiklah kalau gitu bisa ibu minta satu hal lagi sama kamu?" tanya Intan
"Apa bu?"
"Bangunin Rajen, kamu tau kan kalau anak itu susah di bangunin, ibu mau sarapan duluan dulu, ada operasi pagi yang menunggu ibu" ujar Intan
Shanum mengangguk lalu pergi ke kamar Rajen, sementara Intan tersenyum penuh arti menatap punggung gadis ber daster rumahan itu.
Tok! Tok! Tok!
"Kak Rajen! Bangun kak" Shanum mengetuk pintu Rajen beberapa kali tapi tidak ada jawaban, gadis itu kemudian membuka pintu perlahan yang ternyata tidak terkunci
Shanum menghela nafas "Katanya mau pergi pagi, dasar kebo" gerutu Shanum
Shanum membuka tirai membuat Rajen mengerenyitkan dahinya karena silau cahaya matahari
"Kak Rajen, bangun ini udah pagi" Shanum menepuk pelan lengan Rajen
"Ish, kak Rajen bangun" Shanum mulai kesal dengan Rajen yang begitu susah di bangunkan ia kemudian berbalik hendak meninggalkan pangeran tidur itu
Tapi sebelum Shanum melangkahkan kakinya tangannya di tarik membuat tubuhnya tidak seimbang dan jatuh menimpa tubuh kekar Rajen
Keduanya saling menatap dengan posisi Shanum berada di atas tubuh Rajen, wajah mereka hanya berjarak beberapa centi membuat Rajen bisa menghirup aroma mawar dari tubuh Shanum, tangan Rajen yang semula berada di punggung Shanum kini beralih mengelus pipi mulus gadis itu
Perlahan Rajen memiringkan kepalanya untuk menyentuh bibir ranum berwarna peach itu dan...
"Rajen! Shanum! Ibu duluan ya" Teriak Intan dari lantai bawah membuat Rajen dan Shanum tersentak
Shanum buru buru bangun dengan wajah memerah bukan dia tidak tau jika tadi Rajen ingin menciumnya.
"Ibu, udah mau berangkat, kak Rajen juga buruan mandi katanya ada pemotretan pagi gimana sih" gerutu Shanum menyembunyikan rona merah di wajahnya lalu meninggalkan Rajen yang masih berbaring dengan wajah kesal karena keinginannya tidak tercapai
"Sial banget sih, padahal tadi tinggal sedikit lagi" Rajen mengacak rambutnya kesal lalu pergi ke kamar mandi
Shanum yang masih merasa panas di wajahnya masih berusaha menyembunyikan wajahnya ia hanya menunduk menata makanan yang sudah rapi di atas meja
"I- iya hm kak Rajen makan ya, a- aku mau ke kamar dulu" belum Rajen menjawab Shanum sudah melarikan diri
Rajen merasa heran dengan tingkah gadis itu, tapi karena buru buru dia melanjutkan sarapannya.
"Kok aku deg degan sih" Shanum menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamar ya
Tok! Tok! Tok!
"Sha, aku pergi dulu ya, kamu baik baik di rumah" pamit Rajen membuat Shanum terkejut
"Iya! Kak Rajen hati hati" jawab Shanum dari dalam
Rajen lagi lagi bingung dengan tingkah Shanum, jika saja dia tidak sedang terburu buru Rajen akan masuk kedalam kamar gadis itu dan bertanya.
Shanum menempelkan telinganya di pintu berharap Rajen sudah benar benar pergi, entah kenapa dia merasa malu untuk bertemu laki laki itu. Shanum bernafas lega saat mendengar suara mobil Rajen meninggalkan rumah
Setelah tiba di studio Rajen memarkirkan mobilnya dan bertepatan itu Julia juga sudah tiba
"Selamat pagi bos Rajen" sapa Julia tersenyum
"Pagi Julia, bagaimana jadwal hari ini untuk pertemuan dengan pak Barga?" tanya Rajen
"Em pertemuan dengan pak Barga jam 10 pagi, sekarang kamu ada pemotretan produk xxx, tapi sebelum itu kamu sarapan dulu, aku udah buatin roti lapis buat kamu" Julia memberikan kotak makan berwarna biru kepada Rajen
"Maaf Julia, aku udah sarapan, Shanum bangun pagi buatin aku sama ibu sarapan" ujar Rajen
Julia merubah raut wajahnya ia merasa kesal mendengar Rajen begitu menyanjung gadis kampung itu. Kemudian Rajen berjalan terlebih dahulu meninggalkan Julia yang masih merengut.
Setelah selesai pemotretan Rajen istirahat sejenak laki laki tampan itu duduk lalu mengambil hp nya, ia menelfon seseorang yang sedari tadi mengganggu pikirannya
"Halo Sha, kamu lagi ngapain?"
"Em aku mau siap siap kak"
"Kamu mau kemana?"
"pulang"
Rajen merasa jantungnya berdetak lebih cepat mendengar Shanum akan kembali pergi membuatnya gelisah
"Tapi Sha, kamu kan baru semalam nginap di rumah" suara Rajen tiba tiba merengek membuat jantung gadis yang di telfon nya berdetak kencang
Shanum mengigit bibir bawahnya entah kenapa ia merasa gemas mendengar rengekan Rajen.
"A- aku maksud nya, papa udah nyuruh aku pulang. Katanya papa butuh bantuan di bengkel, hari ini bengkel lagi ramai kak" Ucap Shanum meskipun ia tidak berbohong tetapi alasan kepulangan nya, karena ia merasa tiba tiba tidak ingin bertemu Rajen sementara waktu, jantungnya selalu berdetak lebih cepat entah karena apa
Rajen terdiam. Ia ingin pulang untuk menghentikan Shanum, tetapi pertemuan nya dengan rekan kerjanya sebentar lagi.
"Baiklah kamu boleh pulang, setelah pekerjaan ku selesai aku akan mengunjungi mu" ucap Rajen lemah
"Kak Rajen nggak marah kan? aku pulang?" tanya Shanum polos
Rajen merasa gemas dengan pertanyaan Shanum, andai saja pertemuannya dengan rekan kerjanya bisa di tunda ia ingin sekali menemui gadis itu dan mengurungnya di dalam kamar.
"Pergilah Shanum, dan tunggu aku"
Shanum mengerutkan keningnya karena Rajen tiba tiba mematikan hp nya.
"Ish kok di matiin sih, terus maksudnya aku tunggu dia, apa?" Shanum menggaruk pelipisnya merasa bingung