
Disebuah toilet umum di salah satu swalayan yang masih berada di kawasan The Royal blossom, tampak seorang pria berpakaian petugas perawatan saluran air, tengah mencuci tangannya.
Dia melepas topi serta penutup wajah, dan membasuh muka yang terlihat berdebu. Pria itu memandangi wajahnya di cermin dengan sebelah sudut bibir yang terangkat ke atas.
"Hah... semewah itu hidup mu sekarang, Lisa. Oh atau, harus kupanggil juga dengan nama Mona?" Gumamnya pada pantulan dirinya sendiri di cermin.
Beberapa saat yang lalu,
"Tidak profesional sekali sih! Harusnya dicek dulu alat-alatnya. Lengkap apa tidak. Jangan malah dibuka dulu seperti itu. Kan yang repot aku juga," gerutu Ema.
"Kenapa sih?" tanya Mona.
"Aku keluar sebentar. Kau diam di dalam saja ya," seru Ema.
Seperginya Ema, Jeffrey yang saat itu menyamar menjadi tukang ledeng, menyunggingkan senyumnya. Dia pun kemudian melepaskan pipa yang sedari tadi memang tidak pernah dicopot sama sekali.
Pria itu berjalan mendekat ke arah Mona yang sedari tadi tengah duduk sambil menonton TV, dan tidak menyadari jika Kakak tirinya ada bersamanya di dalam apartemen.
Jeffrey nampak mengulurkan tangannya, dan hendak meraih pundak Mona. Namun, wanita itu terlebih dulu berbalik dan tersentak kaget dengan keberadaan tukang ledeng yang sudah berdiri di sampingnya.
"Mau apa kamu?" tanya Mona terkejut.
"Maaf, Nona. Apa ada cotton bud?" tanyanya.
"Hahโฆ kukira apa. Tunggu sebentar, biar aku cari dulu," sahut Mona sambil mengusap-usap dadanya, menetralkan degupan jantungnya karena terkejut tadi.
Mona pun beranjak dari duduknya dan meninggal Jeffrey yang menyamar, tetap dalam posisnya. Wanita itu naik ke atas dan masuk ke dalam kamar.
Jeffrey terus memperhatikan adiknya itu hingga menghilang di balik pintu.
"Bagus. Saatnya beraksi," gumam Erik.
Dia pun kemudian berkeliling di seluruh ruangan apartemen tersebut, dan menempelkan beberapa benda hitam bulat dan kecil di tempat-tempat yang tersembunyi.
Hampir setiap sudut sudah Jeffrey jamah, hanya tinggal ruang atas. Dia berencana mengendap-endap naik ke atas, dan menempelkannya di kusen pintu.
Namun, belum sempat ia naik, Mona sudah lebih dulu keluar dari kamarnya.
Br*ngsek. aku tidak bisa menaruh ini di sana, batin Erik.
Pria itu pun memilih kembali ke dapur dan berpura-pura membetulkan saluran air yang sama sekali tidak bermasalah.
Dia sudah merencanakan hal ini sebelumnya dan menyumbat aliran air yang menuju ke unit milik Arthur, hingga membuat semua ini seolah kebetulan.
"Ini," ucap Mona sambil menyerahkan sekotak cotton bud kepada tukang ledeng yang tak lain adalah Jeffrey.
"Terimakasih," sahut Jeffrey.
Mona kembali berjalan menuju ruang tengah. Melihat sang adik tiri sudah menjauh, Jeffrey pun kemudian menekan sesuatu di telinganya dan nampak berbicara pada seseorang.
"Buka penyumbatnya. aku udah selesai," ucapnya.
Tak lama kemudian, air pun kembali mengalir.
"Nona, airnya sudah kembali normal," panggil tukang ledeng gadungan itu.
Mona bangun dan menghampiri Jeffrey di dapur, dan melihat bahwa air sudah bisa mengalir lagi.
"Lalu, tadi teman ku bagimana? Kenapa disuruh beli lem pipa segala?" keluh Mona.
"Maaf, Nona. Ternyata tadi saya mengantonginya. Jadi, pas cek di tas tidak ada. Hehehhe โฆ maaf, yah," ucap Jeffrey.
"Hah โฆ ya sudah lah. Sdah selesaikan?" ujar Mona.
"Sudah, Nona. kalau begitu, saya permisi dulu," pamit tukang ledeng tersebut.
Jeffrey pun berjalan keluar diantar oleh Mona. Seperginya tukang ledeng gadungan itu, si ratu es yang merasa ingin buang air kecil dari tadi pun segera naik ke atas menuju toilet.
Sedangkan di luar, Jeffrey nampak berjalan santai seperti biasa, dan berpura-pura tak menyadari keberadaan orang-orang suruhan William yang menjaga tempat tersebut.
Jeffrey segera memalingkan wajahnya, dan menutupi sebagian dengan topi yang dikenakan. Tepat saat itu, lift yang ditunggu datang dan dia pun buru-buru pergi dari lantai dua puluh empat, meninggalkan semua kehebohan yang dibuat oleh Ema.
Pria itu segera menuju ke tempat di mana komplotannya sudah menyiapkan pakaian ganti untuk menyingkirkan penyamarannya.
Saat sudah selesai berganti pakaian, dia nampak keluar dari toilet dengan membawa tas punggung berisi peralatan menyamarnya. Wajahnya masih tetap memakai penutup muka untuk menghindari sorotan CCTV.
Dia nampak menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Misi selesai. Siapkan bayaran uuntuk ku, Broga," ucap Jeffrey.
"Asal pekerjaanmu beres, Nyonya tidak akan lupa untuk memberimu jumlah yang sesuai," sahut orang yang tak lain adalah Broga, pengawal pribadi Valeria.
Panggilan berakhir. Jeffrey pun berjalan menuju mobil van yang sedari tadi terparkir di pelataran swalayan. Dia masuk ke dalam kendaraan tersebut dan melaju pergi.
Waktumu akan segera berakhir, Lisa. Kita lkhat, apakah keberuntunganmu masih berlaku sampai sekarang, batin Jeffrey.
...๐๐๐๐๐...
Beberapa hari semenjak kejadian tukang ledeng gadungan itu, Arthur memutuskan untuk terus berada di apartemen, menjaga sendiri wanitanya yang hampir celaka tempo hati. Dia meminta William, sang asisten, untuk membawakan semua pekerjaan yang bisa ia handle dari kediamannya.
"Kak, tidak pergi ke kantor lagi?" tanya Mona yang duduk di samping Arthur, sambil menggonta ganti siaran TV di depannya.
"Ehm โฆ aku sudah menyuruh Will uuntuk membawa semuanya ke sini. Aku sedang iengin menjaga mu saja," sahut Arthur yang saat itu berbaring dengan kepala yang berada di atas paha Mona.
"Ehmโฆ kamu masih marah pada Ema? Kasihan lho dia, Kak. Kakak jahat sekali tiba-tiba memukul dia seperti itu," keluh Mona yang merasa sikap Arthur kemarin itu terlalu berlebihan.
"Aku hanya tidak suka dia seenaknya, Mona. Kalau tukang ledeng itu macam-macam padamu bagaimana?" ujar Arthur.
"Tapi kan kamu bisa lihat sendiri kalau aku tidak papa, Kak," sanggah Mona.
"Tetap saja itu bahaya," tukas Arthur.
"Ishh โฆ," desis Mona kesal.
Tiba-tiba, sebuah ketukan terdengar. Mona seketika memasang sikap siaga dan hal itu pun membuat Arthur segera bangkit berdiri dan menghampiri pintu.
Dia mengintip dari lubang yang ada di sana.
"Siapa dia?" gumam Arthur.
Nampak seorang pria paruh baya dengan gaya yang formal, tampak memegang tas koper kecil, tengah berdiri di depan pintu apartemennya.
Arthur pun membuka pintu dengan mode waspada. Takut-takut jika orang itu salah satu komplotan si peneror yang selama ini membuat Mona cemas.
"Permisi, apa benar Nona Mona tinggal di sebelah?" tanyanya.
"Maaf, Anda siapa?" tanga Arthur.
"Apa mungkin Anda Tuan Peterson?" tanya pria itu balik.
"Ya, saya sendiri. Tolong jawab, Anda siapa?" cecar Arthur.
"Perkenalkan, saya Ricard Moris. Pengacara Tuan Joshua Chou," ucap pria itu.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐, komen ๐, atau beri dukungan lainnya
terimakasih