
Di dalam kantor bos Heaven Valley, Mona , Shasa dan gadis kecil yang ternyata bernama Moli, kini tengah berdiri di hadapan sang mu*cika*ri, serta seorang pria yang tengah duduk sembari memandangi wanita, yang sedari tadi membuang mukanya sambil melipat kedua lengan.
Moli nampak tertunduk sembari memegangi pipinya yang masih terasa perih akibat tamparan Mona, serta Shasa yang terlihat begitu acak-acakan dengan lebam di wajahnya.
"Hah…," terdengar helaan nafas berat dari mulut wanita tua nan menor itu.
"Mona, kau di sini yang paling dewasa. Harusnya, kalau kau melihat hal semacam itu, segera beritahukan pihak keamanan agar bisa menghentikan masalah ini, bukan malah ikut nimbrung begitu. Apa kau sengaja ingin ikut tawuran, hah?" bentak Madame Queen.
Mona yang pada dasarnya adalah seorang pembangkang pun merasa tak terima. Ia segera menoleh ke arah sang mucikari dan mengurai kedua lengannya yang sedari tadi terlipat di depan dada.
"Mom! Kenapa malah aku yang disalahkan? Ini biang keroknya, si Moli ini, anak kecil kurang waras. Dia yang cari gara-gara lebih dulu dengan Shasa. Kalo aku memanggil Hawkin dan yang lain lebih dulu, bisa-bisa Shasa habis dikeroyok mereka," jawab Mona bersungut-sungut.
Ia kembali melipat kedua lengannya di depan dada, dan membuang mukanya, untuk menghindari tatapan pria yang masih duduk sambil terus memandangi dirinya.
"Kamu kan bisa meminta tolong sama Ema yang jelas-jelas ada di sana juga, Mona." Madame Queen, sambil memijat pangkal hidungnya mendengar ocehan Mona yang membela diri.
"Dan kau Moli. Ada masalah apa kau dengan Shasa, hah? Kenapa sampe main keroyokan seperti itu dengan ladies ku?" tanya Madame Queen kepada Moli, si gadis pembuat rusuh.
"Dia... pelacur ini… dia sudah berani menggoda kekasih ku," serunya sambil menunjuk ke arah Shasa yang masih tertunduk.
"Apa benar begitu, Sha?" tanya Madame Queen memandang tajam ke arah Shasa.
Shasa sontak mengangkat wajahnya, dan menggeleng cepat ke arah sang mucikari.
"Tidak, Mom. Aku tidak pernah menggoda siapa pun. Aku berani bersumpah. Aku hanya bermain dengan laki-laki saat bekerja di tempat ini. Percayalah, Mom," ucap Shasa membela diri.
"Hei... kau tidak usah mengelak. Jelas-jelas aku melihat sendiri, kalau kau sengaja duduk di pangkuan kekasih ku kemarin. Lantas apa kalau bukan menggoda?" tuding Moli tepat di depan hidung Shasa.
"Hei, bocah si*lan. Memangnya dimana kau melihat di menggoda kekasih mu, hah? Di mana?" tanya Mona mendorong sedikit bahu Moli, karena ikut geram melihat tingkah gadis kecil itu.
"Di depan. Di salah satu bilik di bawah," jawab Moli dengan sengit gegara terpancing dengan perlakuan Mona.
"Hah… hahahahahaha…," Mona tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, tak peduli dengan semua orang yang ada di dalam sana.
"Hei... pelacur si*alan. Memang ucapanku itu lelucon, hah!" bentak Moli yang kesal dengan tingkah Mona yang menertawakannya.
"Heh... bocah aneh. Kua tau bukan kalau ini tempat apa? Tempat hiburan malam. Tempatnya para pelacur seperti ku dan teman ku ini bekerja, dan kau tahu bukan apa pekerjaan kita, hah." Mona berjalan mendekat ke arah Moli, dengan masih melipat kedua lengannya di depan dada, hingga tubuh mereka saling bersinggungan.
"Jadi menurut ku, bocah seperti kau ini, lebih baik pulang saja, lalu belajar supaya jadi orang yang berguna. Bukan malah membuat keributan di sini." Mona menatap tajam ke arah Moli, begitu pun dengan gadis kecil itu.
Di tengah ketegangan antara Mona dan Moli berlangsung, tiba-tiba datang seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun, bahkan lebih tua dari pria yang sedari tadi duduk sambil terus menatap Mona, masuk ke dalam ruangan diantarkan oleh Hawkin.
"Moli, kamu sedang apa di sini? Mom, aku minta maaf jika dia sudah membuat salah satu ladies-mu terluka," ucap Pria itu kepada Moli dan juga Madame Queen.
"Sayang, kenapa kau malah minta maaf padanya? Jelas-jelas dia yang sudah menggoda mu. Aku lihat semuanya kemarin di bawah," keluh Moli yang berjalan ke arah si pria dan bergelayut manja di lengannya.
"Ohhhhhh… rupanya dia kekasih mu yang luar biasa itu? Jangan katakan kalau kau ini seorang bayi gula," tanya Mona dengan ekspresi mengejeknya.
"Bayi gula? Apa maksud mu sugar baby?" tanya Madame Queen.
Sedangkan Shasa, dia terus saja tertunduk, dan pria yang duduk sambil menatap Mona, masih terus diam. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi.
"BERISIK!" bentak Moli.
"Heh, Bocah. Mungkin service mu kurang memuaskan, atau mungkin papa gula mu itu sudah bosen, karena terlalu sering bermain dengan bocah aneh seperti mu. Jadi, dia berpikir lebih baik mencari yang bisa dicicipi sebentar dan tidak terlalu banyak menuntut, hahahaha…," Mona kembali berkelakar.
"Hah… sudah-sudah! Kau, bawa pergi anak kecil ini dari sini, dan jangan membuat keributan lagi di tempat ku. Ganti rugi juga biaya pengobatan ladies-ku yang menjadi korban anak kecil itu," ucap Madame Queen kepada pria yang bersama Moli.
"Baik, Mom. Nanti akan saya transfer uangnya. Ayo, Moli. Kita pulang. Memalukan," seru pria itu kepada Madame Queen, dan kemudian menarik Moli pergi dari kantor wanita tua menor tersebut.
Setelah itu, pria yang sedari tadi duduk diam, kini bangkit berdiri, dan mengancing jasnya.
"Baiklah, karena masalah di sini sudah selesai, sekarang giliran saya yang akan menyelesaikan masalah dengan ratu es ini," ucap pria itu yang membuat Mona menoleh dan melotot ke arahnya.
"Memangnya masalah apa yang sudah ku buat, Tuan? Aku tidak merasa punya masalah apapun dengan Anda," keluh Mona kesal.
Namun, pria itu tak menjawab, dan langsung mengangkat tubuh Mona, dan memanggulnya di atas pundak, serta membiarkan wanita itu terus meronta dan memukuli punggung si pria tadi.
"Tuan Peterson, turunkan saya. Hei... turunkan saya," pekik Mona yang semakin terdengar menjauh dari ruangan Madame Queen.
"Hah… dasar anak-anak jaman sekarang. Ada-ada saja," gumam Madame Queen, sembari memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Mom, boleh aku keluar sekarang?" tanya Shasa yang sedari tadi tertunduk.
"Yah... kau keluarlah. Ambil cuti saja beberapa hari sampai lukamu sembuh. Biaya pengobatannya akan ku transfer nanti," ucap sang mucikari sambil berbalik menuju kursi kebesarannya.
Mona pun dibawa keluar menuju mobil Arthur, yang sedari awal terparkir di depan lobi. Pria itu lah yang memanggil bantuan Hawkin dan rekan-rekannya, untuk menghentikan perkelahian di antara Mona dan juga Moli.
Arthur menurunkan Mona dari pundaknya, dan membukakan pintu untuk wanita itu.
"Masuk!" perintah Arthur.
"Cckk!" Mona mencebik kesal seraya menghentakkan kakinya ke tanah, namun dia berbalik dan menuruti perintah pria tersebut.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih