
Tak berselang lama, Arthur kembali bersama seorang perawat dan juga dokter. Mereka terkejut melihat Mona yang tengah duduk bersimpuh di depan washtafle.
Pria itu pun segera berlari menghampirinya.
"Mona, kamu kenapa duduk di sini? Apa kamu jatuh? Apa ada yang terluka?" tanya Arthur yang terlihat panik.
Mona masih diam. Namun, bisa dilihat jelas jika dia gemetar.
"Mona, kamu kenapa?" tanya Arthur lagi.
Wanita itu kemudian menoleh. Matanya seketika berembun, kala melihat wajah Arthur di hadapannya.
Ada rasa sesak di dalam hatinya, saat melihat wajah pria itu.
Bagaimana ini? Dia ingin aku menjadi istrinya. Tapi aku sangat menjijikan seperti ini, batin Mona sedih.
"Tuan, sebaiknya cepat angkat pasien kembali ke tempat tidur," seru dokter wanita yang menangani Mona sebelumnya.
Arthur pun langsung mengangkat tubuh Mona, dan membawanya dalam gendongan. Wanita itu mengalungkan lengannya di leher Arthur, dan merebahkan kepala di dada prianya.
Pria itu kemudian meletakkan Mona kembali ke atas tempat tidur.
Dokter lalu mengambil alih, dan memeriksa kondisi Mona. Beberap tes pun dilakukan untuk memastikan jika Mona sudah baik-baik saja.
"Rasa pusing yang dialami itu hal wajar. Semua diakibatkan karen efek obat yang teralu kuat. Namun, semuanya sudah tidak apa-apa. Untungnya, obat yang diberikan bisa dinetralkan dengan suntikan penenang otot dan syaraf. Sekarang, Anda hanya perlu beristirahat beberapa hari, dan akan kembali pulih," ucap dokter.
Perawat yang datang bersama tadi pun kemudian berinisiatif membetulkan baju Mona yang terbuka di bagian atasnya.
Seketika, Arthur tersadar kenapa Mona terlihat begitu terpukul. Bahkan, tadi dia sempat merasakan jika tubuhnya bergetar.
Jadi, kau melihatnya, batin Arthur.
Setelah dokter dan perawat itu pergi, Arthur berjalan mendekat dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang.
Ia meraih tangan wanita itu, dan mengecup ruas-ruas jarinya dengan lembut dan dalam.
Mona menatap prianya itu dengan tatapan sendu.
Kenapa aku sekarang cepat sekali sedih jika menyangkut soal pria ini? Apa aku mulai melibatkan perasaan? batin Mona.
Arthur pun menatap Mona, dan menemukan genangan yang mulai terkumpul di pelupuk mata wanita tersebut.
Dengan lembut, pria itu mengulurkan tangannya, dan menyentuh pipi mulus Mona.
"Lupakan semuanya. Anggap tidak ada yang terjadi, hem," ucap Arthur.
"Apa kau tak merasa jijik menyentuhku? Setelah apa yang Kakak lihat tadi malam," tanya Mona.
Air mata lolos, turun menyusuri pipinya.
Arthur pun bangkit dan memeluk Mona. Isaknya semakin keras terdengar, dan tubuhnya terasa kembali berguncang.
"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya. Mau seperti apa kau, mau bagaimana hidupmu, apa pun pekerjanmu, masala lalu mu, semuanya aku sama sekali tidak peduli."
"Aku mencintaimu, Mona. Asal kau berjanji tetap bersamaku, menjadi milikku, aku akan selalu ada untukmu dan melindungimu," ucapnya.
Tangis Mona seketika pecah, mendengar penuturan Arthur yang begitu tulus dan menghangatkan relung hatinya.
Arthur semakin mengeratkan pelukannya, sambil mengusap lembut punggung wanita itu.
"Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri, Sayang. Aku sakit mendengarnya. Seolah kau tak percaya jika aku benar-benar tulus padamu," lanjut Arthur.
Mona mendongak ke atas, membuat Arthur merenggangkan pelukannya.
"Tapi, kejadian semalam...," ucap Mona.
"Sssttt... sudah ku katakan, tidak ada yang terjadi," sahut Arthur yang menempelkan ujung telunjuknya di bibir wanita cantik itu.
"Tapi, aku lihat...," perkatan Mona kembali terpotong.
"Hanya sampai di situ. Mereka tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi. Kau pasti bisa merasakan kalau tubuhmu baik-baik saja bukan," tutur Arthur.
Mona pun mengernyitkan kedua alisnya hingga hampir menyatu, dan mencoba merasakan kondisi badannya.
"Benarkah, Kak? Benarkah mereka tak melakukan itu pada ku?" tanya Mona dengan tatapan penuh harap.
Arthur menangkup kedua pipi Mona, dan memandanginya dengan tatapan yang begitu teduh.
"Nyaris… aku nyaris terlambat," ucapnya.
Mona mengembangkan senyumnya, dan kembali masuk ke dalam pelukan prianya itu.
"Tidak, Kak. Tidak ada yang namanya nyaris. Kamu tetap sudah menolongku. Terimakasih," ucap Mona yang semakin mengeratkan pelukannya.
Pagi itu, Arthur memutuskan untuk tetap berada di rumah sakit menemani Mona.
"Halo, Will. Aku hari ini akan menemani Mona. Jika ada hal penting atau berkas yang perlu ku setujui, bawakan saja ke mari," ucap Arthur dari sambungan telepon.
"Baik, Tuan." Sang asisten pun menyahut.
Seorang perawat masuk sambil mendorong troli berisi sarapan untuk Mona. Dia meletakkan semuanya di atas nakas. Tak lupa juga obat yang harus dikonsumsi oleh wanita tersebut.
"Jangan lupa obatnya diminum setelah makan," pesan perawat itu.
"Baik, terimakasih," ucap Arthur mewakili Mona.
Setelah perawat itu pergi, Arthur yang sedari tadi duduk di samping Mona, kini bangkit dan berjalan menuju ke arah nakas yang ada di seberangnya.
Nampak beberapa makanan yang sudah di sediakan, seperti nasi, sup, lauk, buah potong dan juga jus buah yang baik untuk mengusir pusing.
"Mau yang mana?" tanya Arthur.
Mona melihat sekilas, namun ia mencebik tak suka.
"Cckk... tak ada yang ku inginkan," keluh Mona sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tapi kau harus makan, Sayang. Makan yah," bujuk Arthur dengan lembut.
"Tidak mau yang itu, Kak. Tak ada yang enak. Sopnya juga pasti hambar," rengek Mona.
"Bukankah belum di coba. Coba dulu yah," rayu pra itu lagi.
"Tidak mau, Kak. Belikan yang lain saja," pinta Mona.
"Memang kau mau makan apa?" tanya Arthur.
"Apa saja yang penting jangan itu. Aku tak suka makanan rumah sakit," rengek Mona.
"Hah… ya sudah. Tapi kau diam saja ya. Jangan banyak gerak apa lagi jalan-jalan keluar sendirian. Mengerti," seru Arthur memperingati.
"iya… iya… cerewet. Sudah sana belikan," rengek Mona.
"Tapi janji dulu," ujar Arthur.
"Iya aku janji tidak akan kemana-mana sendirian," ucap Mona.
"Good." Arthur tersenyum sambil mengusap puncak kepala Mona dengan lembut.
Hah… kalau saja William titidak sibuk, mending ku suruh dia saja. Tapi, ya sudah lah, hanya sebentar, batin Arthur berjalan keluar meninggalkan Mona.
Sepeninggal Arthur, Mona memilih untuk kembali berbaring. Namun, pandangannya tertuju pada stopmap yang ada di atas meja di seberang tempat tidurnya.
"Apa itu?" gumamnya.
Dia pun mengurungkan niatnya untuk berbaring, dan bangun dari tempat tidur. Mona berjalan menuju ke arah sofa dan duduk di sana.
wanita itu meraih map yang tergeletak begitu saja di atas meja, dan mulai membukanya satu demi satu lembar kertas yang ada di dalamnya.
"Laporan hasil fisumku," gumamnya.
Ia terus membaca hasil laporan itu dengan seksama. Muncul reka adegan yang terbentuk otomatis di dalam kepalanya atas kejadian semalam yang tidak ia ketahui.
"Jadi, semalam memang nyaris yah. Kalau dia terlambat sedetik saja, mungki… ah, sudah lah." Mona mengusir jauh-jauh pikiran-pikiran yang muncul dalam benaknya tentang kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi tadi malam.
Dia terus membaca satu per satu, hingga sampailah dia di lembar terakhir. Sebuah laporan, yang disertai dengan foto hitam putih, yang menunjukkan hasil pemeriksaan organ dalam dua dimensi.
Nampak sebuah bulatan yang sangat kecil di tengah-tengahnya. Mona tak mengerti sama sekali maksud gambar itu.
"Foto apa ini? Apa ini jantung?" gumam Mona yang mengira jika bulatan kecil itu adalah organ jantungnya.
Wanita itu kemudian membaca keterangan di lembar kertas terakhir. Netranya membulat seketika kala mendapati sebuah kenyataan yang mengejutkan tentang kondisi dirinya saat ini.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih